Archive for the People Category

Women of christianity

Posted in Leadership, People, Women on 12/08/2011 by Ribka Christ

http://www.womenofchristianity.com

“There is always something to be happy about if we look for it: ‘Two men looked through prison bars, The one saw mud, the other stars.”~Amy Carmichael

Amy Carmichael (1867-1951)
Amy Carmichael was an ordinary woman with extraordinary love for people. She was born in the small village of Millisle, County Down, Northern Ireland to David and Catherine, and was their first child of their seven children. Her parents were devout Presbyterians, deeply committed to Christ, who raised their children to love and serve God. Amy learned early on the discipline of sitting quietly and the importance of a total, unswerving devotion to Christ.

Amy was not pleased with her appearance. She had brown eyes, which she found very unattractive. While quite young, she remembered her mother’s teaching that if she asked God anything, He would surely grant her request. So, having spiritual stirrings at a young age, Amy proceeded to ask God to change her eye color, not realizing that sometimes His answer is no. Much to her disappointment, they remained brown. But, as the years unfolded, Amy came to realize the wisdom of God’s denial of her request. While serving the Lord in India, those brown eyes served her well and made her fit for service and accepted by the people she was to minister to where God had put her.
“One can give without loving, but one cannot love without giving.”

During her formative years, Amy became a very determined and well-disciplined girl. Her father had taught her to be “tough” and to never to give in to difficulty. Due to her father encouraging her “tomboy” spirit, Amy learned to deal with physical stress and strain and developed the determination and an obedience to spiritual principles that gave her the vitality she would need to serve God on the mission field. Because of living in a large family, she also developed a tender heart and was sensitive to the needs of others.

As she grew into adulthood, Amy felt called to missions. She answered that call with great joy and went as a missionary to Japan in 1892. Fifteen months later she fell seriously ill and was sent to China for treatment and then Ceylon (now known as Sri Lanka) to rest. In 1894 she went back to England. In 1895, Amy was commissioned by the Church of England Zenana Missionary Society to go to Dohnavur, India, where she served fifty-six years as God’s devoted servant without a furlough.

The fellowship would become a sanctuary for over one thousand children who would otherwise have faced a bleak future. A major part of her work there was devoted to rescuing children who had been dedicated by their families to be temple prostitutes. It was here that she realized God’s wisdom in His choice of her eye color.

Nearly without exception, Indians had brown eyes. Amy’s brown eyes and Indian dress made her more able to minister to women and girls in the field, appearing to them as one of their own. She herself dressed in Indian clothes, dyed her skin with dark coffee, and often traveled long distances on India’s hot, dusty roads to save just one child from suffering.

While serving in India, Amy received a letter from a young lady who was considering life as a missionary. She asked Amy, “What is missionary life like?” Amy wrote back saying simply,
“Missionary life is simply a chance to die.”

After Amy had lived in India for some time, she continued to be concerned about a distressing situation that existed in most of the pagan temples of India. Young girls were taken in, many times only as children, and made temple prostitutes. The girls had a horrible existence and Amy became deeply grieved for them. She became convinced that she must help these young girls wanting to escape their horrible life in the temples. While living in Dohnavur, India, with a band of women that had been converted to Christ, Amy founded the Dohnavur Fellowship which became a haven for homeless children, especially those girls who had escaped from temple prostitution. She was even given “temple babies”, infants that were born of the temple prostitutes, to raise in her “home.” While the Dohnavur fellowship began mainly as a haven for girls, later a home for boys was also built.

The Dohnavur Fellowship became Amy’s all-consuming ministry which she gave her life to, never even taking a furlough back to Europe. She wrote 35 books detailing her life in India that have been widely read in Christian circles. Her books included, Things as They Are: Mission Work in Southern India (1903), His Thoughts Said . . . His Father Said (1951), If (1953), Edges of His Ways (1955) and God’s Missionary (1957).

In 1931, Amy was badly injured in a fall, which left her bedridden much of the time until her death. She died in India in 1951 at the age of 83. She asked that no stone be put over her grave. Instead, the children she had cared for put a bird bath over it with the single inscription “Amma,” which means mother in the Tamil language.
Amy’s example inspired many to pursue a similar vocation and follow their call to the mission field, including Jim Elliot and his wife Elisabeth Elliot.

Pdt. Sammy Lee

Posted in People, Thoughts on 12/08/2011 by Ribka Christ

Di Ambang Akhir Sejarah Dunia
PENULIS: Pdt. Sammy Lee

Bahwa kita sedang hidup di Ambang Akhir Sejarah Dunia, tidak banyak orang yang dapat membantah. Para ahli sains yang bukan Kristen, pakar ekonomi, ekologi dan politik pun selalu mendengungkan kata-kata yang seolah-olah dikeluarkan dari mulut pendeta-pendeta Advent, yakni bahwa dunia ini sedang mendekati keambrukan.

Baik secara ilmu bumi, ilmu kesehatan, ilmu ekonomi, ilmu social, ilmu politik, apalagi ilmu teologi, semuanya menunjukkan bahwa kita sedang semakin hari semakin mendekati akhirnya sejarah dunia. Pemanasan udara, kekurangan bahan makanan dan air minum, penyakit yang semakin memuncak dan mengganas, kejahatan yang semakin marak, mala petaka dan bencana alam yang terus melanda dunia, semua ini tidak henti-hentinya mengamarkan kepada manusia bahwa kita sedang mendekati kiamat dunia seperti yang diramalkan Alkitab.

Nubuatan-nubuatan yang dipaparkan oleh Tuhan Yesus sendiri di dalam Matius 24 sedang digenapi dihadapan mata kita setiap hari.Hanya orang yang tidak waras saja yang akan membantah kenyataan bahwa kita sedang menghadapi kehancuran peradaban umat manusia. Semua peristiwa-peristiwa yang terjadi disekililing kita pada akhir-akhir ini hanyalah merupakan suatu gema khotbah dari pendeta-pendeta dan ulama-ulama di mimbar-mimbar gereja dan mesjid.

Tapi satu nubuatan yang sedang digenapi sekarang ini, ..(Pdt Sammy Lee)
Pemanasan global
Daripada Wikipedia,
Pemanasan global berkaitan dengan peningkatan suhu dunia. Suhu bumi telah meningkat dua darjah dan kadarnya berbeza mengikut benua dan kawasan tertentu. Kajian mendapati kawasan Artik lebih pantas menjadi panas berbanding kawasan lain. Perubahan iklim biasanya berlaku dalam tempoh 10,000 tahun tetapi kini perubahan iklim berubah dalam tempoh 100 tahun sahaja, jarak hanya 2 generasi sahaja.
Suhu bumi meningkat sejak tahun-tahun 90an. Kajian mendapati iklim panas melampau di Perancis, iklim lebih panas di rantau Siberiadan pencairan “permafrost” (lapisan tanah yang kekal beku di rantau paling sejuk) terutamanya di rantau Artik. Ahli sains meramalkan keseluruhan ais laut di Artik akan cair pada musim panas 2099. Litupan ais Greenland dan Antartika Barat akan mencair . Paras laut akan meningkat kira-kira 7 meter secara mendadak.

I can’t believe this…

Posted in Love, People, Prayers, Quotes, Wise Words on 12/05/2011 by Ribka Christ

I can’t believe that God plays dice with the universe.- Albert Einstein

“I live because I am a Warrior and because I wish one day to be in the company of [She] for whom I have fought so hard”

“In prayer it is better to have a heart without words than words without a heart. ”
“You have not lived today until you have done something for someone who can never repay you.”~ John Bunyan quotes

Wilbur Wright

Posted in Parenting, People, Testimonies on 11/30/2011 by Ribka Christ

Wilbur dan Orville adalah orang-orang genius yang dipakai oleh Tuhan.
Bishop Milton Wright menulis tentang anaknya Wilbur:

“Tidak seorangpun seperti dia .Secara intelektual dan ingatan.Dia cepat dan tekun.Dia boleh berkata dan menulis apa saja yang dikehendakinya.Dia bukan seorang yang suka banyak bicara.Kemarahannya susah untuk dibangkitkan.Dia menulis banyak.Dia dapat menyampaikan ucapan yang baik.Biarpun demikian,dia seorang yang rendah hati.”
Wilbur Wright,bersama adiknya merupakan pembuat sejarah dan legenda bagi penciptaan “kapal terbang yang pertama”.

Kapal terbang yang bersejarah ini merupakan “BUAH”daripada impian mereka.Selama hidupnya Wilbur menerima banyak pencapaian.Dia lahir 16 bulan April tahun 1867 di Millville,Indiana.Dia merupakan anak kepada pasangan hamba Tuhan Bishop Milton Wright dan Susan Chatherine Wright.Sewaktu muda kedua adik-beradik ini menjadikan kedua ibu bapa mereka pencetus idea dan ilham terhadap kemampuan mereka.Ayah daripada kedua adik beradik ini membawa pulang “buah tangan”berupa kapal terbang mainan saat pulang dari tugas pelayanan/perjalanannya di gereja.

Pembelajarannya di kolej terganggu tanpa penjagaan kerana ibunya jatuh sakit dan beberapa kesusahan.Namun,itu tidak menghalang dia untuk berjaya.

Saya percaya hampir semua orang mengenal mereka kecuali yang tidak tahu.Namun,saya amat tertarik membaca tentang kedua ibu bapa mereka.Sewaktu duduk merenungkan banyak tentang hamba-hamba Tuhan yang terdahulu.Saya berbicara kepada seseorang bahawa kebanyakan anak-anak para pendeta,pastors,hamba Tuhan ini diberi Tuhan pelbagai hikmat dan anugerah yang luar biasa.

Banyak daripada mereka yang mengubah dunia dengan pencapaian mereka.Itu satu hal yang nyata dalam temadun dan corak kehidupan yang lebih bermakna.Sewaktu berbicara dengan seorang teman Muslim,dia berkata,orang-orang Yahudi itu benar terkenal “genius”.Sewaktu Tuhan mulai memilih bangsa Israel sebagai umat pilihanNya.Dia memberi mereka pelbagai kemampuan yang menjadi kekaguman banyak orang,seperti Raja Salomo.Namun,saat ini lewat Yesus kita bangsa-bangsa lain berhak/layak menjadi orang-orang pilihan dan menjadi Israel rohani.Anda juga mampu menjadi orang-orang yang genius jika menerima karya pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai penebus anda dan membeli anda daripada tangan pemerintahan kuasa kegelapan untuk masuk dalam rencanaNya yang “INDAH”.Amen!

Amazing Grace

Posted in Holy Spirit, People, Testimonies on 11/27/2011 by Ribka Christ


Pada masa tuanya, JOHN NEWTON seringkali menyebutkan dirinya sebagai “Orang Afrika penghujat Tuhan” dan memang itulah dia sebenarnya.

Ibunya adalah seorang Kristen yang saleh yang berusaha untuk membesarkan anaknya sesuai dengan Alkitab pada abad ke 18 di Inggris. Namun wanita itu meninggal pada saat John baru berusia 7 tahun. Dengan demikian, pendidikannya menjadi tanggung jawab ayahnya yang sering melakukan perjalanan di laut dan ibu tirinya ternyata tak dapat meneruskan pendidikan spiritualnya. Di dalam mengadakan perjalanan laut dengan ayahnya membuatnya jatuh hati terhadap laut, sehingga ia pada akhirnya menjadi seorang kapten kapal. Namun justru kehidupan di luar tugasnya sehari-hari itulah yang membuat kekaguman sejarah.

Ia gemar sekali melibatkan diri dalam pesta-pesta yang berkelebihan dan kotor serta suka sekali ikut menghujat dan mengutuk Tuhan yang memang merupakan kebiasaan dari kehidupan di kapal dan dermaga. Dan ia senang sekali mengejek mereka yang ingin hidup beda, serta berusaha keras menyeret mereka kepada jalan yang sedang ia tempuh.

Memang kadang kala ia rindu untuk kembali kepada pendidikan Ibunya pada masa kecilnya dan berusaha mengubah sifatnya yang buruk itu. Namun setiap kali ia gagal dan ia kembali pada kehidupannya yang tak bernilai dan tanpa tujuan itu.

Bagian “Afrika”nya dari kehidupan John yang penuh dengan hujatan Tuhan adalah waktu ia menemukan dirinya terlibat di dalam perdagangan budak ketika ia masih muda.

Dalam perjalanan laut dari Afrika ke Inggris kapalnya hampir tenggelam karena diserang sebuah badai yang dahsyat. Ia menjadi begitu takut sehingga ia memohon kepada Tuhan agar ia diselamatkan, sambil membolak-balikan ayat-ayat Alkitab ketika kapalnya diombang-ambingkan dengan hebat di lautan Atlantik Utara.

Sebagai hasil dari pengalaman ini, John di kemudian hari menganggap kejadian itu sebagai titik konversinya dari hidup spiritualnya. Seluruh kehidupannya berubah. Ia meninggalkan hidupnya yang penuh dengan hujatan dan kecerobohan walaupun ia masih tetap terlibat dalam perdagangan budak sampai beberapa tahun kemudian. Pada perjalanan laut ke Afrika kemudian, ia terpaksa mengakui kehidupan spiritualnya yang serba dangkal dan sekali lagi berseru kepada Tuhan untuk pengampunan demi kasih setia-Nya. Setelah kembali ke Inggris, John Newton mulai dipengaruhi oleh khotbah-khotbah dari hamba-hamba Tuhan seperti George Whitefield dan Charles Westley. Tak lama kemudian ia sama sekali meninggalkan perdagangan budak dan kehidupan lautnya.

Seandainya kita dapat mewawancarai John Newton pada suatu masa dari hidupnya ketika ia masih berumur belasan tahun – misalnya ketika ia dipukuli dan diperlakukan seperti seekor anjing, dipaksa harus makan dari lantai oleh isteri seorang pedagang budak di Afrika yang kejam dan membeli John sebagai budaknya – kemudian bertanya kepadanya, “John, apakah tujuan hidupmu?”, kukira ia tak mudah untuk menjawabnya dengan positif karena hidupnya yang penuh dengan hujatan Tuhannya dan hidup moralnya yang bobrok dan kosong.

Namun, bila kita menemuinya pada kemudian hari, yaitu di pertengahan dari abad ke-18, kita akan menemui seorang John Newton yang hidupnya dipenuhi dengan tujuan yang positif. Ia belajar sendiri bahasa Ibrani, Yunani, Syria dan teologia dalam waktunya yang senggang. Kemudian ia ditahbiskan, setelah menjadi murid dan mempraktekkan berkhotbah, sebagai seorang hamba Tuhan di Gereja Anglikan. Khotbah-khotbah dan nasihat-nasihatnya demikian berharganya, sehingga banyak hamba-hamba Tuhan datang dari tempat-tempat yang jauh untuk mendengar John Newton berkhotbah atau meminta nasihatnya. Nasihatnya kepada William Willberfordlah, seorang anggota Parlemen, agar ia tetap berada di dalam Parlemen untuk memperjuangkan menghapuskan perbudakan sehingga akhirnya berhasil.

Dengan William Cowper, seorang penyair, Newton menerbitkan Olney Hymns pada tahun 1770, sejilid buku yang membuat banyak puji-pujian yang amat terkenal dalam sejarah Gereja. Lagu ciptaan John Newton “Amazing Grace” mungkin merupakan pujian yang paling terkenal dan disenangi oleh para orang percaya dan bukan orang percaya.

Adakah orang yang dapat menyangkal, bahwa hidup John Newton mempunyai tujuan yang mulia sejak ia meninggalkan keterlibatannya dalam perdagangan budak kemudian menyerahkan diri secara mutlak ke dalam Kristus dan menjadi hamba Tuhan? Juga pengarang puji-pujian, seorang penasihat untuk para pemimpin negara dan seorang teolog? Di manakah John Newton melintasi garis dari kehidupan yang tanpa tujuan dan kosong dan kemudian mempunyai kehidupan penuh dengan tujuan yang mulia? Dan di manakah Tuhan dalam proses ini? Apakah Tuhan mempunyai maksud bagi John Newton setelah ia meninggalkan kehidupannya di laut dan memilih kehidupan sebagai seorang hamba Tuhan? Ataukah Tuhan sudah terlibat di dalam kehidupannya sebagai seorang Afrika penghujat Tuhan sejak dari mula?

Suatu cara yang baik untuk mempertimbangkan pertanyaan ini adalah dengan menggunakan John Newton sebagai contoh untuk direnungkan: Bagaimana John Newton, sebagai pengarang lagu ini dapat menulis:

Amazing grace! How sweet the sound,That saved a wretch like me!

I once was lost but now am found,

Was blind but now I see.

(Kasih karunia yang menakjubkan, betapa manis suaranya,

Telah menyelamatkan seorang celaka dan malang seperti diriku

Aku pernah hilang, namun kini aku diselamatkan

Pernah buta, namun kini aku bisa melihat)

Padahal sebelumnya, ia adalah penghujat Allah dan seorang pedagang budak?

Kemampuannya untuk menyelam dalam-dalam di lautan kasih karunia yang menakjubkan dari Tuhan, hal itu hanya dapat dilakukan karena sebelumnya ia telah menyelam di kedalaman dari dosa dan kehinaan.

Dr. Robert A. Schuller

Great Woman

Posted in Partners, People, Testimonies on 11/15/2010 by Ribka Christ

Kecil-kecil cili api satu julukan yang agak luar biasa bagi seorang wanita bertubuh kecil molek tapi berjiwa kesatria.Demikianlah sedikit komen yang didapatkannya sewaktu menghadiri sebuah pertemuan yang dihadirinya  beberapa tahun yang lalu.Lahir dari keluarga bangsawan namun jiwanya tidak sedikitpun merasakan status sebagai orang terpandang  menghalangnya untuk bergaul dengan pelbagai ras,warna kulit,pendidikan dan kewarganegaraan.Saat dipanggil Tuhan untuk melayani,dia memilih untuk melayani beberapa golongan yang agak miskin,pendatang asing,dan sanggup masuk ke daerah-daerah penginjilan yang  dianggap sukar bagi orang lain.Tuhan membawa kepadanya orang-orang yang sukar hidupnya seperti  pelacur dan sebagainya.Mereka dilayani dengan baik seperti rakan dan anak sendiri.

Bercerita tentang imannya,kita mungkin berfikir dia lahir dari keluarga Kristen.Namun,tidak!Dia lahir dari keluarga yang menganut agama Buddha.Setelah menerima Kristus sebagai juruselamat peribadi dia mendapat tentangan yang hebat daripada kaum keluarganya dan menderita tekanan-tekanan daripada ibunya.Berkat  kegigihannya mendoakan keluarganya akhirnya mereka semua diselamatkan dan percaya kepada Yesus.

Beberapa tahun yang lalu beliau meninggalkan pekerjaannya di bidang perbankan untuk melayani Tuhan sepenuh masa.Kemudian,berhenti sejenak untuk menguruskan sebuah perniagaan restoran dengan suaminya.Namun,merasakan panggilan untuk melayani sepenuhnya menyebabkan dia akhirnya harus “menyerah”dan menjadi hamba Tuhan secara “full timer”.
(Margaret Wong)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.