Doors Are Opening

Nahum 2:6

Keengganan Taati Perintah Terakhir

Ratusan juta orang Kristian mengira bahawa Kisah Para Rasul yang ditulis oleh Lukas mencatat ketaatan kedua belas rasul pada Amanat Agung itu.Sebenarnya Kitab itu mencatat keengganan mereka untuk menaatinya.

Ketika kesebelas murid itu berdiri seakan-akan terpaku di puncak  bukit itu, sambil memandang Yesus menghilang dalam awan,apakah mereka sungguh-sungguh merasakan respon yang positif terhadap perintah yang terakhir itu.

 Mencairkan Segala Prasangka

Teladan Yesus yang menunjukkan rasa iba-Nya kepada seorang perwira Romawi,seorang  ibu dari Siro-Fenesia,seorang kusta dari Samaria,seorang yang dirasuk setan di Gadara,seorang panglima Siria seperti Naaman,seorang janda dari Sarfat,orang-orang Niniwe yang telah bertobat,dan orang-orang dari Sodom dan Gamora yang telah binasa tanpa mendapat ajakan yang jelas untuk bertobat-mestinya cukup untuk mencairkan segala prasangka dari hati mereka,menggantikan prasangka itu dengan “kesedaran akan bangsa-bangsa lain”dan menyebabkan mereka berangkat ke ujung-ujung bumi!

Pastilah penyelidikan-Nya yang luas terhadap Kitab Suci,diikuti oleh perintah-Nya yang langsung,yang mengungkapkan rencana Allah bagi seluruh dunia,semestinya memberi kepada murid-murid itu cukup motivasi!

Dan akhirnya,bukankah pemberian kuasa Roh Kudus yang telah dijanjikan itu dapat mengubah mereka menjadi prajurit-prajurit lintas-budaya yang dinamis?

Tetapi tunggu dulu-mengenai pemberian kuasa Roh Kudus itu-seandainya Allah telah memilih anda menjadi orang upahan-Nya sebagai ahli hubungan masyarakat guna merencanakan kejadian itu bagi-Nya!

Pengaturan Waktu

Seandainya Ia memberi Anda hanya satu saja perintah yang terperinci-maka hal itu harus terjadi begitu rupa sehingga murid yang paling bodoh pun akan mengerti dengan jelas,bahawa kuasa yang akan diberikan itu bukan hanya untuk berkat atau kemuliaan peribadi si penerima,melainkan juga untuk memungkinkan si penerima itu memberitakan Injil ke seluruh dunia,kepada semua bangsa!

Andaikan anda seorang konsultan hubungan masyarakat yang paling berbakat sekalipun di seluruh dunia,anda pasti tidak akan menemukan cara yang lebih jelas untuk menerangkan hal itu daripada cara yang berikut ini.

Ketika pada akhirnya Kuasa Roh Kudus turun ke atas murid-murid Yesus,pengaturan waktunya memang sempurna!

Orang-orang Yahudi yang saleh dari sedikitnya 15 daerah yang berbeda-beda dari Timur Dekat dan Timur Tengah telah berkumpul di Yerusalem untuk merayakan pesta yang disebut Pentakosta.

Selain pengenalan mereka yang umum tentang bahasa Ibrani dan bahasa Aram,orang-orang asing itu-yang sering kali disebut orang Yahudi diaspora”orang-orang yang tersebar”-mungkin memakai puluhan bahasa asing.

Kuasa Roh Kudus yang turun ke atas para rasul dan pengikut-pengikut setia yang lain dari Yesus,menyebabkan mereka berbicara secara ajaib dalam banyak bahasa asing yang dipergunakan oleh orang-orang Yahudi diaspora dan orang-orang percaya dari bangsa asing,yang pada waktu itu telah datang dengan berbondong-bondong ke Yerusalem.Mengapa?

Berkat Bagi Semua Bangsa

Bukan hanya untuk memberkati mereka yang sedang berbicara dalam bahasa-bahasa yang bukan Yahudi itu.Tidak akan ada gunanya apabila tujuannya hanya sebagai berkat bagi mereka sendiri!Dan juga,bukan hanya untuk memberkati orang-orang diaspora yang mengerti bahasa-bahasa itu.Kalau tujuannya hanya memperoleh manfaat bagi diri mereka sendiri,maka bahasa Ibrani atau bahasa Aram sudahlah cukup.Juga tujuannya bukan untuk mempertunjukkan kemampuan Roh Kudus dalam melakukan suatu ketrampilan yang mengagumkam.

Dilihat dalam konteks pelayanan Yesus dan rencana-rencana-Nya yang diuraikan secara jelas bagi seluruh dunia,maka pemberian kemampuan yang ajaib untuk berbicara dalam bahasa-bahasa asing itu hanya dapat mempunyai satu tujuan:untuk menerangkan secara jelas sekali bahawa Kuasa Roh Kudus telah dan sedang diberikan  dengan mengingat tujuan yang khas,yaitu pemberitaan Injil kepada semua bangsa!

Setiap usaha yang bermaksud  memanfaatkan Kuasa Roh Kudus untuk kesenangan atau kemuliaan peribadi,atau untuk mencari tanda-tanda dan mujizat-mujizat sebagai tujuan tersendiri,pasti dianggap oleh Allah sebagai salah-tanggap mengenai tujuan-Nya.

Ambang Pertama ke Ambang Terakhir

Meskipun begitu,kita kadang-kadang masih melihat orang-orang Kristen mencari kuasa dan tanda-tanda,tanpa mau menyerahkan diri untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa!

Tetapi marilah kita melihat lebih dahulu apakah angkatan pertama dari orang-orang Kristen itu menyadari arti penting dari pemberian-pemberian Roh Kudus itu secara lebih baik.

Dengan kuasa Roh Kudus yang bekerja dengan nyata dalam kesaksian mereka,para rasul itu segera melangkahi ambang pertama dari keempat ambang yang disebut oleh Yesus,yaitu menginjili Yerusalem,tanpa mengalami kesulitan! Para pengkritik mereka segera mengeluh,”. Kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu”. (Kisah Para Rasul 5:28).

Komentar yang berbunyi,”Jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak”(Kisah Para Rasul 6:7),juga segera dicatat.

Namun,pada akhir pasal 7 dalam kitab Kisah Para Rasul,kita mendapati bahawa semua rasul bersama ribuan orang yang mereka baptiskan masih berkumpul bersama di Yerusalem.

Dua puluh lima persen dari kitab Kisah Para Rasul sudah menjadi sejarah,dan sejauh yang ditunjukkan catatan itu,mereka malahan belum membuat rencana untuk menaati sisa dari perintah Yesus yang terakhir itu!

Ketidaksabaran Tuhan

Bahkan Allah pun mulai menjadi tak sabar,kalau kita mengerti benar-benar apa yang terjadi kemudian.Nampaknya,Allah bersedia untuk memakai tindakan-tindakan yang luar biasa untuk mencegah supaya pemberian Putra-Nya kepada seluruh umat manusia itu jangan akhirnya menjadi milik tersendiri satu bangsa saja-bangsa Yahudi.

Pemecahan Allah atas persoalan ini sangat sederhana meskipun menyakitkan:Orang-orang Kristen itu disebar-Nya ke mana-mana melalui penganiayaan.Musuh-musuh yang mengejar-ngejar para pengikut Yesus sama sekali tidak memimpikan bahawa mereka sedang memenuhi kehendak Allah:

 “Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem.Mereka semua,kecuali rasul-rasul,tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria”(Kisah Para Rasul 8:1).

Dipandang dari sudut perintah Yesus yang terakhir,bukankah setidak-tidaknya beberapa dari rasul itu patut merintis jalan?Nampaknya,bahkan penganiayaan pun tidak dapat melepaskan mereka dari pangkalan mereka.

“Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.Dan Filipus (bukan Rasul Filipus,melainkan salah seorang dari tujuh orang awam yang telah ditunjuk untuk melayani di meja makan bagi ribuan orang percaya di Yerusalem,lihat Kisah Para Rasul 6:5)pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ….Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu” (Kisah Para Rasul 8:4-8).

Pembekalan Roti Rohani

Setelah Filipus,yaitu “awam”yang sedang cuti kerja dari pelayanan membagi-bagi makanan di Yerusalem itu (lihat Kisah Para Rasul 6:1-5),merintis jalan bagi para rasul di Samaria,para rasul itu memutuskan untuk mengutus dua orang dari mereka  -Petrus dan Yohanes-supaya menambahkan berkat kepada pembangunan rohani yang sedang berkembang itu.

Pastilah misi tidak mudah bagi Petrus dan Yohanes,dan barangkali tidak mudah bagi Filipus juga.Kebudayaan mereka sendiri telah mendidik bangsa Yahudi untuk menjadi juara dalam menghindari orang Samaria;sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria”(Yohanes 4:9).Soalnya,orang Samaria hidup menurut persangkaan-persangkaan yang berbeda sekali.Mereka bahkan tidak mengakui bahawa Yerusalem Kota Suci bagi bangsa Yahudi itu-adalah Pusat Dunia!

Dan lagipula,darah mereka bercampur dengan darah bangsa asing!Mungkin orang Yahudi lebih mudah menerima bangsa asing yang asli,tetapi bangsa campuran…alangkah menjijikkan!

Sumeria,bahkan barangkali Siberia,mungkin merupakan tempat tugas yang lebih mudah bagi orang-orang berlatar-belakang Yahudi daripada Samaria yang mereka anggap hina itu.

Misi Lintas Budaya

Meskipun demikian,Petrus dan Yohanes mulai merasa antusias juga dengan pelayanan lintas-budaya di Kota Samaria itu.Mereka menjadi begitu antusias,sehingga “memberitakan Injil dalam banyak kampung di Samaria”segera setelah itu,tetapi hanya dalam perjalanan mereka kembali ke-coba teka ke mana?Yerusalem (lihat Para Rasul 8:25)

Sementara itu ,Filipus yang sangat bersemangat itu,telah berangkat sebagai seorang prajurit yang perkasa,yang berjuang bagi Roh Kudus,untuk melaksanakan misi lintas-budaya yang berikutnya!

Seorang malaikat Tuhan berkata kepada Filipus,”Berangkatlah ke sebelah selatan menuju jalan-jalan yang sunyi-yang turun dari Yerusalem ke Gaza.”

Lalu berangkatlah Filipus,dan dalam perjalanannya itu ia bertemu dengan seorang Etiopia,seorang sida-sida,pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake,ratu Negeri Etiopia.Orang itu pergi ke Yerusalem untuk beribadat (lihat ayat 26:27)Filipus yang sedang berjalan menuruni “jalan yang sunyi”yang merupakan jalan-raya –lintas pada zaman itu,melihat bahawa orang Etiopia itu “sedang duduk dalam keretanya sambil membaca kitab Nabi Yesaya.”

Petunjuk-Petunjuk

Kebetulan kitab Nabi Yesaya berisi sebuah petunjuk mengenai Tanah Kusy-Lembah Nil sebelah atas-yakni tempat di mana sida-sida Etiopia itu bertugas untuk Ratu Kandake:”

Pergilah,hai utusan-utusan yang tangkas,kepada bangsa yang jangkung dan berkulit mengkilap,”(orang Dinka di wilayah itu termasuk bangsa yang paling jangkung di dunia,dan suku Watusi dari Afrika Tengah yang tinggi-tinggi itu,konon juga berasal dari Tanah Kusy),kepada kaum yang ditakuti dekat dan jauh,yakni bangsa yang berkekuatan ulet dan lalim,yang negerinya dilintasi sungai-sungai!”(Yesaya 18:2,7)

Filipus,sepanjang pengetahuan kita,adalah “utusan tangkas”pertama yang hampir memenuhi petunjuk itu-petunjuk yang sangat nyata bersifat lintas-budaya yang ada dalam kitab yang sedang dibaca oleh orang Etiopia itu.

Namun,perhatian orang Etiopia itu sedang tertuju pada bagian lain,yang terdapat dalam ayat 7 dari kitab Yesaya 53:”Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian;dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya,demikianla Ia tidak membuka mulut-Nya”

(Kisah Para Rasul 8:32)

Orang Etiopia itu bertanya kepada Filipus,”Aku bertanya kepadamu,tentang siapakah sang nabi berkata demikian?Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?”Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya(Kisah Para Rasul 8:34,35).

Orang Etiopia itu percaya,dan minta dibaptis pada hari itu juga lalu, ia meneruskan perjalanannya dengan sukacita”(ayat 39)

Buka Jalan

Sejarah menunjukkan adanya kemungkinan bahawa dia berhasil merintis,jalan bagi didirikan ribuan gereja Kristen di Lembah Nil yang jauh itu.

Bagus sekali pekerjaan anda,Filipus!Setelah berpisah dari orang sida-sida itu,Filipus meneruskan usaha penginjilannya ke sebelah utara dari “jalan yang sepi”itu,dan ia berjalan melalui daerah itu serta memberitakan Injil di sepanjang pantai dari Asdod sampai ke Kaisarea…

Sepanjang pengetahuan kita,bahkan Filipus pun tidak pergi lebih jauh daripada itu.Tetapi,sebagaimana sebelum itu ia telah merintis jalan bagi Petrus dan Yohanes di Daerah Samaria,sekarang pun perjalanan-perjalanannya ke arah utara menyusuri pantai lewat Lida,Yopa,dan Kaisarea,nampaknya juga telah membuka jalan lagi bagi Petrus.

Sebab dalam Kisah Para Rasul 9:32 sampai 11:18,kita mendapatkan Petrus mengikuti lagi bekas jejak kaki Filipus.Memang,tak dapat disangkal bahawa Petrus melakukan pekerjaan yang besar,tetapi bagaimanapun juga,ia masih saja memberitakan Injil di tempat-tempat Kristus telah diperkenalkan lebih dahulu-dengan satu kekecualian yang menonjol.

Ketika Filipus berada di Kaisarea,nampaknya ia tidak berkesempatan untuk bertemu dengan seorang perwira Romawi bernama Kornelius,yang mencari Allah.Dengan demikian tugas untuk mengajak Kornelius supaya percaya kepada Kristus telah jatuh kepada Petrus.

Jesus Saves

Sungguh menyakitkan bagi orang Yahudi,bahkan bagi orang seperti Petrus pun yang dipenuhi Roh itu,untuk mengajak seorang Romawi supaya percaya kepada Yesus!

Suatu penglihatan yang diberikan oleh Tuhan kepada Petrus dengan maksud supaya menghilangkan segala prasangka anti-bangsa asing,perlu diulangi sampai tiga kali,sebelum Petrus memahaminya (lihat 10:9-23).

Pertemuannya setelah itu dengan Kornelius,merupakan kejadian yang tajam berkesan,di mana prasangka manusia lambat laun mencair hanya karena kebaikan Injil Yesus Kristus.

Petrus meringkaskan persiapannya untuk pertemuan dengan orang Romawi yang mencari Allah itu dengan berkata,”Sesungguhnya aku telah mengerti bahawa Allah tidak membedakan orang.Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.”(10:34,35)

Meskipun begitu,ketika ia mulai berkhotbah kepada Kornelius yang bukan orang Yahudi itu,serta keluarganya,Petrus sangat canggung,seakan-akan orang yang salah tingkah-ia berusaha untuk bersikap ramah tetapi sangat kikuk-kepada orang-orang yang begitu “berbeda’’.

Petrus menggambarkan Injil sebagai firman yang Allah suruh sampaikan kepada orang-orang Israel,yaitu “firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus”(ayat 36

Tuhan Bangsa-Bangsa

Tetapi ia tidak mengatakan juga apa yang telah diuraikan dengan begitu jelas oleh Yesus-yaitu bahawa firman itu merupakan berita yang baik pula bagi segala bangsa.Akan tetapi sesaat kemudian,barangkali karena dilihatnya wajah para pendengarnya dari bangsa asing itu menunjukkan kekecewaan,Petrus mengakui bahwa Yesus Kristus memang mempunyai hubungan dengan bangsa-bangsa yang bukan Yahudi.

Dia,demikian Petrus mengakui,adalah “Tuhan dari semua orang”(ayat 36)Setelah itu,Petrus menjelaskan perintah Yesus yang terakhir bagi para pendengarnya yang berasal dari bangsa asing itu;namun alangkah singkat Amanat Agung itu dibuatnya!”Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa.”(ayat 42).

Tidak begitu sulit bagi kita untuk menerka “bangsa”mana yang menurut naluri hatinya,dimaksudkan oleh Petrus.Kemudian,walaupun pada Petrus ada prasangka itu,akhirnya Roh Kudus berhasil juga menyuruh dia mengatakan,”Tentang Dialah semua nabi bersaksi,bahawa barang siapa (siapa saja) percaya kepada-Nya,ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena namaNya”(ayat 43).

Dan pada saat itu Roh Kudus memenuhi para pendengar Petrus yang berasal dari bangsa asing-yang sedang merindukan kebenaran itu-sebagaimana Ia memenuhi orang-orang Yahudi yang percaya pada hari Pentakosta dan juga orang-orang Samaria-orang-orang buangan-yang mula-mula dibangunkan rohaninya oleh pelayanan diaken Filipus.Tetapi sungguh sulit untuk menghayati pelajaran mengenai perintah Tuhan Yesus yang bersifat lintas-budaya dan meliputi seluruh dunia itu,bahkan juga bagi murid-murid-Nya yang telah dipilih-Nya sendiri dengan teliti!Dan bagi kita pun di zaman ini pelajaran itu masih sulit sekali kita kuasai.

Penerobosan Dalam Fikiran

Ketika Petrus kembali ke Yerusalem,ia dikecam oleh rekan-rekannya sesama orang Kristen yang berlatar-belakang Yahudi,dan memang ia sudah tahu sebelumnya bahawa mereka akan mengecamnya.

Mereka berkata,’’Engkau telah masuk ke rumah orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka.”(Kisah Para Rasul 11:3)

Setelah Petrus menerangkan bagaimana Allah seolah-olah memaksa dia supaya memasuki rumah tangga orang Roma itu,para pengecamnya berubah sikap dan berkata,”Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”(ayat 18)

Kita tentunya bertanya-tanya di hati-sebelum saat itu-apakah yang menurut tanggapan mereka menjadi tujuan Yesus dalam perintah-Nya yang terakhir itu!Atau bagaimanakah menurut pendapat mereka,perintah itu dapat ditaati “sampai ke ujung bumi’,jikalau seorang Yahudi tidak boleh makan bersama-sama orang-orang dari bangsa lain!

Ada pula orang-orang Kristen yang berlatar-belakang Yahudi telah dipaksa meninggalkan Yerusalem karena penganiayaan,lalu pergi ke Utara sejauh Fenisia,Siprus,dan Antiokhia.Mereka juga memberitakan Injil.Tetapi menurut catatan yang ada,mereka hanya mau menyampaikannya kepada orang-orang Yahudi saja.

Namun,beberapa di antara mereka,yang diutus dari Siprus dan Kirene,memutuskan untuk berusaha menyampaikan berita Injil itu kepada bangsa-bangsa lain.”Akhirnya,”seru anda dengan gembira,’’telah terjadi suatu penerobosan dalam pikiran mereka!

Melangkah Keluar

Tetapi tunggu dulu.Mereka tidak mau memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain yang tinggal di kampung halaman mereka sendiri,yaitu Siprus dan Kirene,di mana mereka dikenal orang.Mereka menyampaikan Injil di Antiokia,sebab tidak banyak orang di situ yang tahu siapa mereka.

Mengapa?Apakah seandainya mereka menghadapi kecaman seperti yang pernah dialami oleh Petrus,mereka masih berharap dapat melarikan diri ke daerah mereka masing-masing,tanpa terlibat dalam kerusuhan yang terjadi di belakang mereka?

Sekali lagi Roh Tuhan berhasil menerobos.Kita mendapat kesan dari kitab Kisah Para Rasul,seakan-akan Dia terus-menerus menunggu untuk melakukan penerobosan itu di mana pun dan segera setelah ditemukan-Nya orang Kristen yang bersedia memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain.Sebab itu kita membaca:”Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.”(ayat 21)

Telinga Gereja

Dalam beberapa naskah Alkitab,kalimat berikutnya adalah:”Maka sampailah khabar tentang mereka itu kepada telinga gereja di Yerusalem”(ayat 22).Terjemahan Baru mengatakan:…..kepada jemaat di Yerusalem.Kita melihat nada menyindir dalam kata-kata “telinga gereja”itu.

Penulis yang menerima ilham itu,dengan sama mudahnya dapat menulis,”Maka sampailah khabar tentang mereka itu kepada gereja di Yerusalem.”

Metafora “telinga gereja”mungkin adalah sindiran halus yang menyatakan ketidaksabaran bercampur rasa heran yang ada pada Lukas (dan Roh Kudus)melihat pandangan yang masih saja terlalu sempit dari jemaat di Yerusalem.

Kita harus ingat juga bahawa kedua belas rasul itu saja duduk dengan betah sebagai pemimpin-pemimpin gereja di Yerusalem.Sebab itu,ungkapan “telinga gereja”sebenarnya dengan mudah dapat pula dituliskan “telinga para rasul”-seandainya tidak ada diplomasi lembut dari Lukas.

Lagipula tidak ada dari antara para rasul itu yang memberanikan diri ke Antiokhia untuk melihat peristiwa-peristiwa besar yang sedang terjadi di tengah-tengah orang-orang asing di situ yang bertobat.Sebaliknya,mereka mengutus seorang bernama Barnabas.

Demam Markas Besar

Mengapa mereka mengirimkan seorang utusan ke Antiokhia?Mungkin Petrus,Yohanes dan lain-lainnya sedang menderita suatu penyakit yang biasa menghinggapi manusia,yang biasa disebut “demam markas besar”?

Mereka adalah rasul Kristus untuk selama-lamanya.Nama mereka telah diabadikan di atas kedua belas batu dasar dari Yerusalem Baru (lihat kitab Wahyu 21:14)

Namun,sebagaimana keempat kitab Injil itu dengan sengaja memperlihatkan banyak kekurangan mereka sebagai manusia-cekcok mengenai pangkat,cepat naik pitam,usaha supaya Yesus menjauh dari kayu salib,dan sebagainya,demikian pula kitab Kisah Para Rasul mengungkapkan kesalahan lain yang sama parahnya-yaitu keengganan mereka untuk mengganggap serius perintah Yesus yang terakhir itu,setidaknya selama tahun-tahun pertama setelah Pentakosta.

 Berlambat-lambat di Yerusalem

Mengapa mereka berlambat-lambat di Yerusalem tahun demi tahun,dan bukannya berangkat dengan kuasa yang telah diberikan Allah kepada mereka untuk dengan berani mengadakan kunjungan-kunjungan lintas-budaya kepada bangsa-bangsa yang lebih jauh tempat tinggalnya?

Barangkali alasan mereka bagi membenarkan penundaan itu ialah kebutuhan mereka untuk mengadakan musyawarah/mesyuarat bersama-sementara kata-kata dan perbuatan-perbuatan  Yesus masih segar dalam kenangan mereka semua-dan menyusun berbagai data yang di kemudian hari akan dipakai oleh Matius,Markus,Lukas yang bukan orang Yahudi itu,serta Yohanes untuk menulis keempat kitab Injil mereka.Hal itu dapat menyibukkan semua rasul selama 5 sampai 10 tahun,dan beberapa di antaranya barangkali malahan bahawa 20 tahun atau lebih telah berlalu sebelum mereka bergerak ke luar.Dan fakta-fakta itu pun masih dapat dipertanyakan.

Apakah mereka juga mengira bahwa kehadiran mereka ynag terus-menerus di Yerusalem itu penting sekali untuk menjamin bahawa Yerusalem itu penting sekali untuk menjamin bahawa Kota Yang Suci itu akan tetap merupakan Pusat Agama yang baru itu,sebagaimana halnya  dengan agama Yahudi?

Kalau demikian,mereka melupakan sama sekali apa yang pernah dikatakan oleh Tuhan Yesus kepada wanita Samaria di dekat sumur tua di Sikhar:

Terpusat Di Yerusalem

Percayalah kepada-Ku,hai perempuan,saatnya akan tiba,bahawa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem”(Yohanes 4:21)Atau,apakah karena mereka telah mempunyai isteri(lihat 1 Korintus 9:5)yang tidak dapat menempuh jarak-jarak yang jauh?Atau,apakah karena perselisihan mereka yang itu-itu juga,mengenai siapa yang paling besar,yang menyebabkan mereka tetap TERPUSAT DI YERUSALEM?

Bukankah tindakan meninggalkan gereja besar yang bonafid di Kota Suci,dan mengotorkan tangan dalam pekerjaan penginjilan pionir yang kasar dan mengandung bahaya itu berarti turun pangkat?

Apakah setiap rasul takut untuk meninggalkan Yerusalem,karena jangan-jangan salah seorang dari mereka akan bersekongkol pada waktu rasul itu tidak hadir,lalu mengangkat dirinya sebagai semacam uskup di Yerusalem?

Apa pun jawapan atau jawaban-jawabannya,jelaslah bahawa segera diperlukan dengan segera suatu Tim Rasul yang baru untuk menjaga agar perintah Tuhan Yesus yang terakhir itu jangan dilupakan.

Siapakah gerangan yang dapat memenuhi syarat untuk melakukan apa yang gagal dilaksanakan secara kuasa oleh rasul-rasul yang telah dipenuhi Roh Kudus itu,yang telah dipilih oleh Yesus sendiri secara teliti?

Pendobrakan Besar

“Saulus-Saulus,mengapakah engkau menganiaya Aku?”Itulah suara Tuhan Yesus yang baru saja naik ke surga ,terdengar dari dalam sebuah cahaya yang lebih terang daripada matahari.Karena tiba-tiba dibutakan oleh cahaya itu Saulus dari Tarsus rebah ke Tanah.“Siapakah engkau,Tuhan?”tanyanya

“Akulah Yesus,yang kau aniaya itu ,”terdengar jawaban yang jelas yang ancaman akan adanya balas dendam atas penganiayaan itu.Saulus bergidik.Belum lama berselang ia telah menjaga jubah-jubah mereka yang melempari Stefanus dengan batu.Stefanus adalah salah seorang dari saksi-saksi Yesus yang paling berapi-api.Sejak peristiwa itu,kata hati Saulus tidak henti-hentinya mengganggu dia.Sebab ia secara peribadi telah menyetujui hukuman mati atas diri Stefanus dan memasukkan banyak orang lain yang menganut kepercayaan Stefanus ke dalam penjara-padahal kini,dengan sangat terkejut dan malu ia menyadari,bahawa segala sesuatu yang dikatakan oleh Stefanus dan rekan-rekannya mengenai Tuhan mereka adalah betul!Jadi,mestinya Yesus itu benar-benar Tuhan!

“Bangunlah dan pergilah ke dalam kota,”suara itu melanjutkan,”di sana akan dikatakan kepadamu,apa yang harus kauperbuat” (Kisah Para Rasul 9::4-6).

Sementara Saulus,yang masih buta itu,menunggu selama tiga hari di Damaskus,Tuhan Yesus menampakkan diri kepada seorang percaya yang rendah hati bernama Ananias,dan menyuruh dia menyembuhkan mata si penganiaya orang Kristen yang terkenal paling kejam pada masa itu.

Umat Pilihan

Ketika Ananias ragu-ragu,karena menguatirkan keselamatannya sendiri.Tuhan Yesus berkata-perhatikanlah kata-kataNya-

“Pergilah,sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakankan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.

Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya,betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.”(Kisah Para Rasul 9:15,16)

Maka terbentuklah tim rasul yang baru.Harus diakui,bahawa Saulus mempunyai keuntungan-keuntungan tertentu dibandingkan dengan rasul-rasul yang dilahirkan di Palestina,untuk misi lintas budaya di dalam Kekaisaran Romawi.

Ia dibesarkan di Tarsus,sebuah kota yang mayoritas penduduknya adalah bangsa asing.Ia tidak saja menguasai bahasa Ibrani dan bahasa Aram,tetapi juga bahasa Yunani dan mungkin pula bahasa Latin.

Ia dilahirkan sebagai warganegara Roma.Pendidikan formalnya mengenai Kitab Suci Perjanjian Lama diterimanya dari Gamaliel,seorang ahli.Sebab itu,ia dapat menerangkan rangkaian hubungan iman Kristen dengan Perjanjian lama secara sangat jelas dan teliti.

Di kemudian hari,Saulus membantu Barnabas mengajar serombongan besar orang-orang asing yang baru percaya di Antiokhia,selama satu tahun.Pada akhir tahun itu,rupanya Saulus telah menempa suatu garis kebijaksanaan yang baru serta tegas,untuk memperluas Injil kepada bangsa-bangsa lain secara lintas budaya.

Ecclesia – Gereja- Gereja Mereka Sendiri

Ia memutuskan bahawa orang-orang percaya yang bukan orang Yahudi itu berada di bawah kuasa Allah dan tidak perlu disunat sebagaimana dituntut oleh Hukum Musa bagi Bangsa Yahudi.

Mereka juga tidak diharuskan terikat dengan rumah-rumah ibadat Yahudi.Mereka boleh membentuk ecclesia-gereja-gereja-mereka sendiri,di mana mereka dapat menyembah Allah melalui Yesus Kristus,tanpa harus melihat kepada orang-orang Yahudi yang berpegang ketat pada agama,yang mengerutkan dahi mereka tanda tidak setuju serta menaati segala upacara adat Yahudi.Mulai saat itu yang dipentingkan ialah isi moral dari hukum itu dan bukan kerangkanya yang berdasarkan segala macam upacara!

Itulah suatu pendobrakan yang besar.Sampai pada saat itu,Petrus dan rasul-rasul lainnya telah bergumul dengan persoalan bagaimana caranya menyuruh bangsa-bangsa lain yang telah bertobat itu agar menuruti segala peraturan yang memungkinkan mereka diterima masuk ke dalam rumah ibadat “Nazaret”.

Bagaimanapun juga,ke mana lagi orang-orang percaya yang bukan Yahudi itu bisa bergabung?Dan karena rumah-rumah ibadat resmi yang telah ada itu didirikan bukan dengan maksud untuk menampung banyak sekali orang percaya dari bangsa asing,maka akan memalukan apabila mereka datang berbondong-bondong lalu minta supaya diizinkan masuk,jangan-jangan mereka akan menjadi mayoritas!Jadi,sebenarnya lebih mudah bila mereka tidak diajak untuk menjadi percaya!

Paulus Mengemban Pelayanan Kerasulannyan Di Tengah Bangsa Bukan Yahudi

Gagasan Saulus,yang rupanya diterima oleh Barnabas,yaitu bahawa orang-orang asing yang percaya dapat membentuk ecclesia mereka sendiri yang boleh diresmikan dikekalkan oleh mereka-gereja-gereja itu tidak perlu dipimpin oleh orang-orang Kristen bangsa Yahudi,melainkan dipimpin oleh orang percaya bangsa asing itu sendiri-ternyata membuka jalan bagi banyak sekali orang asing untuk datang kepada Kristus.

Maka,setelah satu tahun melayani bersama-sama di Antiokhia,Saulus,dan Barnabas pergi ke Yerusalem untuk menjelaskan kepada para rasul cara mereka yang baru dalam memberitakan Injil di tengah-tengah bangsa asing.

Dengan hati-hati mereka hanya memilih Petrus,Yakobus,dan Yohanes yang dipandang sebagai sokoguru jemaat”untuk pertemuan mereka yang pertama itu.Rasul-rasul lain nampaknya dalam penilaian Saulus dan Barnabas dianggap sebagai orang-orang yang berpendirian terlalu sempit.

Alangkah mengherankan!Ada sekurang-kurangnya 15 orang yang diakui secara umum sebagai rasul,sejak Matias,Yakobus-saudara Tuhan Yesus-Saulus serta Barnabas bergabung dengan 11 murid yang semula.Namun,dari 15 orang itu hanya dua telah “ditugaskan” untuk menginjili bangsa-bangsa bukan-Yahudi di seluruh dunia,yang pada waktu itu kira-kira berjumlah 900 juta orang.

Pelayanan Rasul Paulus

Ketiga belas rasul lainnya merasa yakin bahawa mereka semua diperlukan untuk menginjili hanya kira-kira tiga juta orang Yahudi,di antaranya sudah ada puluhan ribu orang yang percaya dan yang dapat memberi kesaksian!Saya tercengang melihat betapa tanpa malu-malu mereka membiarkan Paulus dan Barnabas mengemban tugas untuk menginjili seluruh dunia yang bukan-Yahudi itu.

Inikah yang dimaksudkan Tuhan Yesus?

Saulus,yang sekitar waktu itu mulai lebih menyukai nama Romawinya,yaitu Paulus,tidak begitu terkesan melihat rasul-rasul yang lain itu.Hal ini tidak mengherankan!Paulus menulis:

“Dan mengenai mereka  (Petrus,Yakobus,dan Yohanes) yang dianggap terpandang itu-bagaimana kedudukan mereka dahulu,itu tidak penting bagiku,sebab Allah tidak memandang muka.”(Galatia 2:6)

Dengan dibentuknya konsep-konsep baru ini pada sebuah landasan berupa pengalaman-pengalaman Paulus di Antiokhia,Yerusalem,dan Tarsus,jalannya kini terbuka.Setelah akhirnya bebas dari segala halangan yang berasal dari adat istiadat Yahudi,Injil dapat menyebar kepada ribuan bangsa yang bermacam-macam,sebagai suatu kekuatan spiritual yang mengatasi batas-batas kebudayaan.

Sesungguhnya Injil itu adalah berita yang luar biasa hebat dan jujur-tulus,sehingga tak dapat terus-menerus menjadi sekutu perbudakan agama Yahudi yang munafik itu!

Jalan Telah Terbuka

Setelah jalan terbuka sedemikian itu,“Roh Kudus berkata,”Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.”

Maka berpuasa dan berdoalah mereka,dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu,mereka membiarkan keduanya pergi” dan memasuki dunia bangsa-bangsa bukan-Yahudi(Kisah Para Rasul 13:2,3)Paulus dan Barnabas sungguh-sungguh yakin bahwa orang-orang bukan –Yahudi yang sudah percaya turut menjadi “ahli-ahli waris (Israel) dan anggota-anggota (satu) tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus…dan bukan lagi orang asing dan pendatang,melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah….serta menjadi tempat kediaman Allah,di dalam Roh”(Efesus 3:6;2:19,22)

Pintu-Pintu Telah Terbuka

Paulus bahkan berani mengatakan,seperti yang ditulisnya kemudian di dalam surat-suratnya,bahawa di dalam Kristus “tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani,tidak ada hamba atau orang merdeka,tidak ada laki-laki atau perempuan…..(tetapi mereka yang percaya)semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”(Galatia 3:28).

Sebab Kristus “telah merubuhkan tembok pemisah,yaitu perseteruan.”(Efesus 2:14)Dia dan Barnabas beberapa waktu kemudian dengan berani menyatakan:(Sekarang)kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain.Sebab inilah yang diperintah oleh Tuhan kepada kami:”aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah,supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi.”

(Kisah Para Rasul 13:46,47)

Batas sudah ditentukan.Agama Kristen dan agama Yahudi sekarang adalah agama terpisah!Petrus,Yakobus ,dan Yohanes telah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga agar keduanya tetap bersatu,tetapi tekanan dari perintah Tuhan Yesus yang terakhir terlalu kuat.

Usaha menyebarkan berkat Abraham kepada semua bangsa di bumi masih merupakan “keputusan Allah yang pasti.”Sebab Tuhan mengikat diri-Nya dengan sumpah,Dia tak dapat dan tidak mau mengubah pikiran-Nya.Paulus dan Barnabas telah kembali ke Antiokhio dan melaporkan bahawa Alllah telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman.”(Kisah Para Rasul 14:27)

Kerinduan Akan Allah Yang Sejati-Don Richardson”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: