KRISTEN TIDAK BOLEH BERCERAI KECUALI KARENA ZINAH

Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, KECUALI KARENA ZINAH , lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.-Mat 19:9

images (66)

Tuhan Yesus pernah bersabda, yang intinya bahwa kita tidak boleh bercerai kecuali karena zinah. Tak ayal hal ini dapat melahirkan berbagai interpretasi, dan setidaknya ada dua pemahaman soal itu. Ayat-ayatnya sebagai berikut:

19:3. Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” 19:4 Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 19:5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 19:6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” 19:7 Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?” 19:8 Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. 19:9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” (Matius 19:3-9)

http://sabdaspace.org/node/10203

MENIKAH LAGI SETELAH PERCERAIAN

Tuhan menciptakan pernikahan! Jadi, ketika dua orang disatukan, baik orang Kristen atau bukan, penyatuan ini terjadi dihadapan Tuhan. Ketika orang non Kristen menikah kemudian bercerai, mereka melanggar firman Tuhan seperti pelanggaran yang dilakukan orang Kristen. Mengapa? Karena pernikahan adalah satu-satunya lembaga sosial yang ditetapkan Allah sebelum kejatuhan manusia dalam dosa (Kejadian 2:24; Banding Kejadian 1:28).

Ketetapan Tuhan ini tidak pernah berubah dan ini berlaku “sejak semula” bagi semua orang, bukan hanya bagi orang-orang Kristen saja. Matius mencatat perkataan Kristus demikian, “Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula (ap’arches) menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?”

(Matius 19:4). Kata Yunani “ap’arches” atau “sejak semula” yang disebutkan Yesus dalam Matius 19:4, pastilah merujuk pada Kejadian Pasal 2, karena kalimat selanjutnya “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging”, yang diucapkan Yesus dalam ayat 5 adalah kutipan dari Kejadian 2:24.

Allah telah menetapkan pernikahan dari sejak semula, baik untuk orang-orang Kristen maupun untuk orang-orang bukan Kristen. Dan Allah adalah saksi dari seluruh pernikahan, baik diundang maupun tidak. Meskipun bentuk dan tatacara bervariasi dalam setiap budaya dan setiap generasi tetapi esensinya tetap sama dari “sejak semula” bahwa pernikahan merupakan satu peristiwa sakral tidak peduli pasangan tersebut mengakuinya ataupun tidak. Karena itu pernikahan wajib dihormati oleh semua orang (Ibrani 13:4).

Jika orang non Kristen bercerai kemudian menikah lagi dalam kondisi sudah menjadi Kristen, ia masih bertanggung jawab atas segala konsekuensi pernikahan pertamanya. Menurut 2 Korintus 5:17, Kita tidak boleh lagi hidup dalam penghukuman atas dosa (hidup) kita terdahulu, tetapi ayat ini, yang sering dikutip oleh orang yang bercerai, sama sekali tidak memberikan orang yang bersangkutan izin untuk menikah lagi. Makna yang dikandung disini adalah bahwa ketika orang yang sudah melakukan perceraian menjadi manusia baru melalui iman yang dimilikinya, ia tetap bertanggung jawa atas kehidupan dosanya “yang terdahulu” walaupun ia sudah diampuni.

Kapan menikah lagi diijinkan setelah perceraian? Pertama, sederhananya, ketika ada perceraian yang tidak Alkitabiah, menikah lagi dilarang. Konsekuensinya, berdasarkan pemahaman terhadap firman Tuhan jika ada pihak yang melakukan perzinahan dan pernikahan berakhir dengan perceraian, pelaku perzinahan, sebagai pihak yang berdosa, harus memilih untuk tetap melajang (lihat Matius 5:31-32), sebab jika tidak, ia hidup dalam dosa.

Penting untuk diperhatikan bahwa hanya pasangan yang tidak bersalah yang diizinkan untuk menikah kembali. Meskipun tidak disebutkan dalam ayat tersebut, izin untuk menikah kembali setelah perceraian adalah kemurahan Tuhan kepada pasangan yang tidak bersalah, bukan kepada pasangan yang berbuat zinah. Paulus menegaskan hal ini dalam 1 Korintus 7:10-11, dimana Paulus mengutip ajaran Yesus. Jika orang memilih untuk meninggalkan pernikahan tanpa landasan Alkitabiah untuk bercerai, dan hal itu bertentangan dengan keinginan pasangannya, ia sedang memilih untuk melajang.

Kedua, pernikahan kembali juga diijinkan ketika perceraian terjadi karena pasangan yang tidak percaya kepada Kristus meninggalkan pernikahan, pihak yang ditinggalkan atau yang tidak berdosa bebas untuk menikah lagi. Paulus dalam 1 Korintus 7:15 mengatakan, “Tetapi kalau orang yang tidak beriman itu mau bercerai, biarlah ia bercerai; dalam hal yang demikian saudara atau saudari tidak terikat.

Tetapi Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai sejahtera”. Memang konteks ayat ini tidak menyinggung soal pernikahan kembali dan hanya mengatakan bahwa orang percaya tidak terikat dalam pernikahan kalau pasangan yang belum percaya mau bercerai, tetapi kebiasaan orang Yahudi dalam Perjanjian Lama menetapkan bahwa jika ada hak untuk bercerai, ada hak untuk menikah lagi. Pengajaran Paulus dalam Perjanjian Baru tidak bertentangan dengan keyakinan ini.

Ketiga, tentu saja, dalam hal kematian pasangan, pasangan yang ditinggalkan bebas untuk menikah lagi. Paulus mengatakan, “Sebab seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup. Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya kepada suaminya itu.

Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain” (Roma 7:2-3). Hal yang sama disampaikan Paulus kepada jemaat di Korintus, “Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya” (1 Korintus 7:39)

Menikah kembali setelah bercerai mungkin merupakan pilihan dalam keadaan-keadaan tertentu, namun tidak selalu merupakan satu-satunya pilihan. Adalah menyediakan bahwa tingkat perceraian di kalangan orang-orang yang mengaku Kristen hampir sama tingginya dengan orang-orang yang tidak percaya.

Alkitab sangat jelas bahwa Allah membenci perceraian (Maleakhi 2:16) dan bahwa pengampunan dan rekonsiliasi seharusnya menjadi tanda-tanda kehidupan orang percaya (Lukas 11:4; Efesus 4:32).

PENUTUP

Perceraian dalam ideal Allah tidak pernah dibenarkan, bahkan sekalipun oleh karena perzinahan. Perzinahan adalah dosa dan Allah tidak menyetujui dosa maupun terputusnya pernikahan. Apa yang disatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia (matius 19:6). Pengampunan melalui pengakuan dosa membatalkan status keadaan yang berdosa dari orang yang diceraikan (Bandingkan Yeremia 1,14). Satu-satunya alasan mereka masih hidup dalam dosa setelah perceraian adalah bahwa perceraian itu merupakan suatu dosa. Dan selama mereka tidak mengakui dosa perceraian, mereka masih hidup dalam dosa. Tetapi jika mereka mengakui dosa mereka, Allah akan mengampuni seperti dosa yang lainnya (1 Yohenes 1:9).

Sekalipun perceraian tidak pernah dibenarkan, kadang-kadang hal itu diijinkan dan selalu ada pengampunan untuk itu.

Karena itu, mereka yang mengakui dosa perceraian dan bertanggung jawab untuk itu, harus diperbolehkan untuk menikah kembali. Tetapi pernikahan kembali mereka lakukan haruslah untuk seumur hidup. Jika mereka gagal lagi, tidaklah bijaksana memperbolehkan mereka untuk terus mengulangi kesalahan ini. Hanya mereka yang condong untuk memelihara komitmen seumur hidup yang boleh menikah dan tidak merencanakan pernikahan kembali.

Pernikahan adalah lembaga yang sakral dan tidak boleh dicemarkan oleh perceraian, kususnya oleh perceraian yang terjadi berulang kali (bandingkan Ibrani 13:4). Dan orang Kristen harus melakukan segala sesuatu dengan sekuat tenaga untuk mengangungkan standar Allah mengenai pernikahan monogami seumur hidup, karena ini adalah idealnya Allah (Matius 19:5-6).

Akhirnya, orang percaya yang bercerai dan atau menikah kembali jangan merasa kurang dikasihi oleh Tuhan bahkan sekalipun perceraian dan pernikahan kembali tidak tercakup dalam kemungkinan klausa pengecualian dari Matius 19:9. Tuhan sering kali menggunakan bahwa ketidaktaatan orang-orang Kristen untuk mencapai hal-hal yang baik.

Sumber: http://artikel.sabda.org/perceraian_dan_pernikahan_kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: