Sakit Hati

“Saya tidak dapat memastikan bagaimana respon orang terhadap saya. Bisa saja mereka iri hati, benci, dendam tapi yang pasti saya dapat memastikan hati saya bersih di hadapan Allah.”

Demikian perkataan Pdt AH Mandey dalam pembahasannya mengenai suatu pelajaran di Sekolah Alkitab Batu Malang akhir tahun 1995. Pengajaran beliau begitu melekat dalam hati saya. Sehingga bertahun-tahun kemudian saya menemukan rhema dari perkataannya  itu membuat saya selalu bergembira meski menghadapi orang-orang yang tidak tepat.

Saya membayangkan sebagai pemimpin GPdI puluhan tahun pastilah beliau memiliki orang-orang yang kagum dengannya namun juga orang-orang yang tak sepaham dengan pendapatnya. Namun sikap beliau diatas setidaknya telah membuatnya bebas dari hati yang penuh kepahitan.

Ayat Alkitab mengenai hati lantas melintas dalam pikiran saya yakni dalam Amsal 4:23, Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Kepahitan, dendam, benci, sakit hati, iri hati dll bersumber dari hati. Orang-orang yang mengijinkan hatinya menjadi sumber kehidupan akan membersihkannya dari semua itu.

Di kampung mama saya di Minahasa, orang-orang memakai air minum yang berasal dari sumber mata air pegunungan asli. Rasanya segar dan benar-benar murni. Dialirkan dari sebuah mata air yang selalu dirawat tiap hari ke dalam pipa-pipa yang terjamin kualitasnya dan dikucurkan hanya pada pagi dan sore hari.

Semua orang tahu pentingnya menjaga mata air itu. Mereka tidak akan menebang pohon di sekitarnya dan berbuat hal-hal yang akan mencemarkan mata air. Mereka menjaganya dengan baik sehingga hanya air bersih dan jernih yang mengalir dari sana.

Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan mereka yang lain akan air seperti mandi dan cuci bahkan kakus maka mereka menggunakan aliran sungai kecil dan juga sumur. Yang menyedihkan aliran sungai tidak dipelihara dengan baik sehingga disana bertumpuk busa sabun dan juga kotoran manusia bahkan ada pula kotoran babi.

Kedua hal ini dapatlah menggambarkan dua sikap hati dalam diri setiap orang. Orang-orang yang menjaga hatinya sedemikian sehingga tidak menyimpan dendam didalamnya sama dengan orang yang menjaga mata air sehingga tetap mengalirkan air yang jernih. Sementara orang-orang yang tidak menjaga hatinya membuat semua kepahitan, kegeraman, dendam, iri hati dll merasuk sedemikian sehingga membuat hatinya pahit dan menjadi hitam karena kotoran. Mereka ibarat orang-orang yang tidak menjaga sumber air sehingga sungai mereka penuh dengan sampah.

Setiap kali ada orang yang mengirimkan pesan negatif dalam inbox email saya, ataupun sebuah sms ataupun sebuah perkataan langsung saya selalu teringat mata air jernih diatas. Dan yang paling penting ayat firman Tuhan dalam Amsal 4:23 selalu melintas dalam kepala saya. Menjaga hati dengan segala kewaspadaan adalah lebih penting ketimbang dendam atau sakit hati. Meski demikian saya merasa perlu memberikan penjelasan dan klarifikasi  untuk mengklarifikasi berbagai tuduhan yang ada. Dengan demikian mereka yang mengirimkan pesan negatif itu dapat mengerti. Kalaupun mereka tidak mengerti dan berusaha memahami maka saya akan kembali kepada poin Pdt Mandey di atas, yang penting hati saya tetap bersih di hadapan Allah. Bagaimana dengan anda? (Hendra Kasenda )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: