Potret Keluarga Ishak

Pdt. Handoyo Santoso, D.Min. | PA Selasa, 25 Agustus 2009
Disadur oleh Ev. Hardi Suryadi | Tanggal Terbit : Minggu, 24/10/10

Pasangan Ishak-Ribka memiliki landasan yang benar dalam membangun keluarga. Dengan landasan yang benar, bukan otomatis tak ada masalah lagi. Justru landasan yang benar itu yang membuat mereka mampu mengatasi masalah dalam keluarga.
KEJADIAN 25 : 20
20 Dan Ishak berumur empat puluh tahun, ketika Ribka, anak Betuel, orang Aram dari Padan-Aram, saudara perempuan Laban orang Aram itu, diambilnya menjadi isterinya.
Ishak berumur empat puluh tahun, telah mencapai usia yang matang. Sebab usia empat puluh tahun merupakan usia standar pada zaman itu bagi seseorang untuk menikah. Hal ini menunjukkan bahwa dasar perkawinan yang dijalani oleh Ishak dan Ribka secara umum telah berada pada dasar yang benar, yakni pada usia yang telah matang. Namun yang terpenting adalah proses pertemuan antara Ishak dengan Ribka terjadi oleh karena tuntunan ROH KUDUS. Itulah sebabnya di dalam Alkitab tidak ada istilah jodoh, sebab TUHAN yang menuntun seseorang untuk mendapatkan pasangannya sesuai dengan standar Firman-NYA.

Ribka adalah seorang perempuan yang memiliki karakter yang baik (sesuai dengan standar Firman). Tidak ada seorang pun yang mampu memiliki karakter yang sesuai dengan Firman selain orang yang percaya kepada TUHAN (orang yang beriman). Syarat penting lainnya dari pernikahan yang dipenuhi pasangan Ishak dan Ribka adalah kedua-duanya memiliki iman yang sama. Ishak sendiri mengikuti iman yang diperoleh dari bapaknya, Abraham. Imannya itu teruji ketika ia hendak dikorbankan oleh ayahnya dan pada saat itu ia tidak berontak sedikit pun.

Melihat keadaan kedua belah pihak (Ishak dan Ribka), dapat kita lihat bahwa ini adalah model atau dasar yang sangat baik bagi seseorang ketika hendak membangun sebuah rumah tangga. Namun, apakah rumah tangga yang dibangun sesuai dengan Firman tidak pernah mengalami problem?

KEJADIAN 25 : 21
21 Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk isterinya, sebab isterinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung.

Sekalipun rumah tangga telah dibangun di atas dasar sesuai dengan standar Firman TUHAN, ternyata rumah tangga tersebut masih dapat mengalami persoalan. Dalam ayat 21, Ishak berdoa kepada TUHAN untuk istrinya, sebab istrinya mandul. Pada masa awal perkawinan antara Ishak dan Ribka, mulai ada persoalan yang tak segera mereka sadari.
Secara logika, bagaimana Ishak dapat mengetahui istrinya itu mandul? Sebab pada masa itu belum ada ilmu kedokteran untuk mendeteksi seseorang itu mandul atau tidak. Ternyata Ishak dapat mengetahui istrinya mandul dari melihat usia perkawinannya. Ketika Esau dan Yakub lahir, usia Ishak 60 tahun (Kejadian 25:26). Jadi selama kurang lebih 20 tahun usia perkawinannya, Ishak dan Ribka tidak memiliki anak. Jika kita bandingkan dengan orangtuanya, ada kesamaan persoalan yang dihadapi Ishak dan Abraham: Ribka dan Sarah sama-sama mandul.

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan hidup ini selalu ada, baik bagi orang beriman maupun yang tidak beriman. Tetapi cara orang beriman dalam menghadapi persoalan sangat berbeda dengan orang yang tidak beriman. Karena Ishak adalah seorang yang beriman kepada ALLAH, ia tahu kepada siapa harus datang dan berdoa. Itu sebabnya ketika Ishak dan Ribka berdoa kepada ALLAH, IA mendengar dan mengabulkan doa mereka.

Yang menjadi pertanyaan adalah, sudahkah kita berdoa bagi pasangan kita? Mendoakan pasangan kita berarti kita menganggap bahwa persoalan yang dihadapi oleh istri atau suami adalah persoalan kita juga. Pasangan yang tidak saling mendoakan sesungguhnya hidup mereka telah “terpisah” sekalipun masih tinggal di bawah satu atap bahkan dalam satu kamar. Sesungguhnya, mereka sudah tidak lagi menjadi satu.

MAZMUR 34 : 16
16 Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-NYA kepada teriak mereka minta tolong.

Dalam Alkitab bahasa Inggris, istilah “orang benar” digunakan kata “righteous” yang memiliki arti dibenarkan oleh penebusan TUHAN. Berarti mata TUHAN tertuju kepada setiap anak-NYA yang telah ditebus oleh TUHAN, baik ketika dia sedang mengalami persoalan ataupun tidak. IA mendengar dan memperhatikan setiap teriakan kita minta tolong. Banyak orang yang mau mendengar persoalan orang lain, tetapi belum tentu mau memperhatikan permintaan tolong orang yang sedang mengalami persoalan tersebut. Tetapi ALLAH kita, mata-NYA selalu tertuju kepada kita, telinga-NYA mau mendengar teriakan minta tolong dan memperhatikan segala segi hidup kita.

Yang menjadi persoalan adalah, seringkali kita tidak berteriak minta tolong kepada TUHAN sehingga pertolongan itu tidak kita alami. Itu sebabnya Ribka dan Ishak belum menerima pertolongan TUHAN selama 20 tahun usia perkawinannya. Setelah Ishak dan Ribka berdoa kepada TUHAN, barulah Ribka mengandung dan melahirkan anak. Dari statement ini, bukan berarti TUHAN tidak tahu persoalan kita jika kita tidak berteriak minta tolong. Apabila IA tidak menolong kita (karena kita tidak berteriak minta tolong), itu karena IA menghargai kehendak bebas atau privasi manusia. Dengan berteriak minta tolong kepada TUHAN, berarti kita mengijinkan TUHAN untuk ikut campur tangan di dalam menyelesaikan persoalan kita.

Ayat di atas yang menuliskan, “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar dan telinga-NYA kepada teriak mereka minta tolong” berarti orang yang telah dibenarkan masih bisa menghadapi persoalan. Namun berbahagialah orang yang ditebus oleh TUHAN, sebab ia memiliki tempat yang tepat untuk minta tolong, yaitu ALLAH yang hidup, yang penuh dengan kuasa. Selain itu kita harus tetap percaya bahwa IA pasti akan menolong umat-NYA yang meminta tolong kepada-NYA, tentunya pertolongan itu akan diberikan tepat pada waktunya.

Banyak rumah tangga hancur oleh karena suami istri tidak mau meminta tolong kepada TUHAN. Mereka malah lebih suka bercerita kepada manusia yang tidak mampu menolongnya. Akibatnya, persoalan justru semakin rumit.

KEJADIAN 25 : 22 – 23
22 Tetapi anak-anaknya bertolak-tolakan di dalam rahimnya dan ia berkata: “Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?” Dan ia pergi meminta petunjuk kepada TUHAN. 23 Firman TUHAN kepadanya: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.”

Setelah satu masalah terselesaikan, bukan berarti setelah itu tidak ada masalah lagi. Selama manusia masih hidup di dunia ini, selama itu juga persoalan akan selalu ada silih berganti. Kemandulan Ribka telah teratasi, dan Ribka mengandung. Ketika mengandung, ada persoalan lain yang menerpa Ribka, yakni kedua anak yang ada di dalam kandungannya itu bergulat atau dapat juga dikatakan bertengkar di dalam kandungan. Menyikapi hal ini, Ribka berkata, “Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?”, seolah-olah ia putus asa dan minta mati. Tetapi sebenarnya bukan demikian maksud Ribka. Dalam terjemahan Alkitab New King James Version dituliskan “if all is well, why am I like this?” atau “Jika segala sesuatunya baik-baik saja, mengapa aku merasakan hal seperti ini?” Ribka tidak ingin mati, namun dia merasa ada sesuatu yang ganjil terjadi di dalam rahimnya.

Di tengah keadaan seperti itu, Ribka memutuskan mencari TUHAN dan berdoa. Dari contoh ini kita belajar bahwa rumah tangga yang sehat adalah dalam menghadapi persoalan, suami istri sama-sama berdoa dan mencari TUHAN, tentunya ini dapat dicapai bila keduanya sama-sama beriman. Sebab jika salah seorang tidak beriman, akan terjadi ketidakseimbangan. Ketika menghadapi persoalan, yang beriman bertanya kepada TUHAN sedangkan yang tidak beriman bertanya kepada paranormal, dan lain-lain. Akibatnya rumah tangga seperti ini tidak akan pernah mendapatkan solusi yang tepat.

TUHAN menjawab apa yang ditanyakan Ribka kepada-NYA. Bahkan jawaban yang diberikan TUHAN melebihi apa yang dibayangkan Ribka. TUHAN memberikan informasi yang sangat lengkap dan akurat mengenai anak yang dikandung oleh Ribka. Berbeda halnya jika kita bertanya kepada manusia, sebab tidak ada seorang pun yang mampu melihat masa depan seseorang, apalagi masa depan calon bayi. Tetapi ALLAH sanggup melakukannya.

AMSAL 31 : 10, 25
10 Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. 25 Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.

“Isteri yang cakap” atau lebih tepatnya dalam Alkitab NIV “a wife of noble character”, yang memiliki arti memiliki karakter mulia sebab ada karakter ALLAH di dalamnya. Untuk memiliki noble character yang hanya ada di dalam YESUS, seseorang harus beriman kepada TUHAN. Noble character akan membuat seseorang memperoleh kehormatan, kemuliaan, “berpakaian” kekuatan dan segala sesuatu yang baik. Rumah tangga akan sukses jika suami dan istri memiliki beriman sehingga di dalamnya terdapat noble character. Bukan hanya sukses, ia juga tidak akan kuatir tentang masa depannya dan juga tidak perlu cemas terhadap segala sesuatu yang sedang terjadi.

Sebelum Ribka berdoa, ia belum mengetahui bahwa dia mengandung anak kembar. Setelah TUHAN memberitahukan apa yang sedang dialaminya, ia tidak cemas lagi.
Banyak istri zaman sekarang ini mengalami penuaan dini karena didera kecemasan. Agar kecemasan itu tidak mencengkeram hati, kita perlu mengetahui apa yang akan terjadi, apa yang sedang terjadi dan tindakan yang harus kita lakukan, dan hal tersebut dapat kita lakukan jika kita menjadi anak TUHAN dan memiliki noble character.

KEJADIAN 25 : 24
24 Setelah genap harinya untuk bersalin, memang anak kembar yang di dalam kandungannya. 25 Keluarlah yang pertama, warnanya merah, seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu; sebab itu ia dinamai Esau. 26 Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub. Ishak berumur enam puluh tahun pada waktu mereka lahir.

TUHAN selalu memberikan jawaban yang dengan sempurna. Ribka melahirkan melahirkan anak kembar, tepat seperti apa yang dikatakan oleh TUHAN. Karena itu jangan pernah meragukan petunjuk dan janji TUHAN. Hal inilah yang harus kita pegang dengan iman yang teguh, sebab persoalan apa pun jika TUHAN sudah mengatakan sesuatu, pasti akan terjadi tepat pada waktunya. Rencana TUHAN atas hidup kita sangatlah sempurna; yang membuat penggenapan rencana tersebut tidak sempurna adalah iman kita yang lemah. Bahkan rencana TUHAN yang sempurna itu akan menjadi gagal total ketika kita tidak yakin akan Firman TUHAN, sehingga kita tidak mau melaksanakan Firman TUHAN.

Apabila kita memperhatikan proses kelahiran anak Ribka, ada sesuatu yang tidak lazim. Dalam kelahiran anak kembar, biasanya ada selisih waktu kelahiran antara anak pertama dengan yang kedua. Tetapi ketika anak yang pertama lahir (Esau), anak kedua (Yakub) justru memegangi tumit Esau. Proses kelahiran anak kembar yang tidak lazim seperti ini sesungguhnya merupakan penggenapan perkataan TUHAN sebelumnya, yaitu anak yang bungsu akan menjadi tuan dari anak yang sulung, sebab tumit melambangkan kekuasaan.

KEJADIAN 25 : 27 – 28
27 Lalu bertambah besarlah kedua anak itu: Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah. 28 Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub.

Berkat TUHAN dirasakan dalam keluarga Ishak dengan kedua anak mereka sama-sama bertumbuh besar. Esau menjadi seorang yang pandai berburu sedangkan Yakub sebagai orang yang tenang. Anak yang merupakan berkat dari TUHAN pasti dilengkapi dengan keahlian tertentu (sekalipun saling berbeda), dengan lain kata TUHAN selalu memperlengkapi berkat-NYA secara sempurna. Setiap manusia memiliki sifat berbeda, itu sebabnya jangan kita berusaha mengubah seseorang. Orangtua jangan berusaha mengubah anaknya agar menjadi seperti seseorang yang menurutnya lebih baik. Yang perlu dilakukan orangtua adalah memaksimalkan potensi anak-anaknya, bukan mengubahnya.

Dalam ayat 28 dikatakan “Ishak sayang kepada Esau”. Itu tidak berarti Ishak tidak sayang kepada Yakub, hanya saja intensitasnya lebih besar kepada Esau. Begitu juga sebaliknya Ribka yang lebih sayang kepada Yakub. Ishak maupun Ribka sama-sama sayang kepada anak-anak mereka, sekalipun tingkat rasa sayang tersebut tidak sama. Namun jika kita perhatikan lebih jauh, ada kekurangan yang sangat besar: mereka tidak mempersiapkan Esau dan Yakub untuk menghadapi hari depan dengan hidup takut akan TUHAN.

Mungkin Ribka tidak menceritakan kepada Ishak tentang apa yang diucapkan TUHAN ketika ia mengandung. Tetapi ada juga kemungkinan Ribka telah menceritakan kepada Ishak apa yang didengarnya dari TUHAN. Namun paling tidak, Ribka seharusnya mempersiapkan Esau dan Yakub untuk menerima keadaan yang akan mereka alami kelak.
Hal ini membuat kita harus merenungkannya dengan sungguh-sungguh. Sudahkah kita mendapat visi dari TUHAN tentang hari depan anak-anak kita? Sebab hal ini sangat penting, agar kita mengerti bagaimana untuk mempersiapkan anak-anak kita untuk menatap hari depannya. Banyak orangtua yang sangat mencintai anak-anaknya, tetapi lupa untuk mempersiapkan mereka menghadapi masa depannya. Akibatnya, kekacauan terjadi antara anak-anak kita ketika mereka telah menjadi dewasa. Jika kita belum mengetahui tentang apa yang akan terjadi kepada anak-anak kita, lakukanlah seperti Ribka, yakni bertanya kepada TUHAN. Setelah mendapat petunjuk TUHAN, persiapkanlah anak-anak kita agar dapat menggenapi apa yang telah dikatakan oleh TUHAN.

Ishak dan Ribka hanya memperhatikan anak kesayangan masing-masing, namun lupa mempersiapkan mereka untuk menerima keadaannya masing-masing. Dan kesalahan seperti ini kelak terulang kembali di dalam kehidupan Yakub, ketika Yusuf anaknya yang bungsu (peristiwa ini terjadi Benyamin lahir) itu bercerita tentang mimpi yang diberikan TUHAN. Yakub tidak mempersiapkan anak-anaknya yang lain untuk mampu menerima kenyataan yang ada dan mau saling mendukung satu sama lain. Ketika Yusuf menceritakan mimpinya itu, yang diperbuat oleh Yakub hanyalah diam dan tidak melakukan apa-apa. Akibat yang ditimbulkan dari sikap diam yang dilakukan oleh Yakub adalah menyebabkan Yusuf mengalami kesulitan, ia dijual oleh kakak-kakaknya.

Begitu juga dengan Ishak dan Ribka; mereka sama-sama diam. Ishak lebih mencurahkan kasihnya kepada Esau, dan Ribka lebih memperhatikan Yakub. Akibatnya, kehidupan Esau dan Yakub penuh dengan pergumulan yang seharusnya tidak perlu tejadi. Mengapa rumah tangga Ishak dan Ribka seperti ini? Apakah karena keegoisan mereka, atau karena kualitas komunikasi yang mulai menurun? Dalam rumah tangga, komunikasi antara suami istri sangatlah penting. Sebab dalam menyampaikan rencana-NYA, TUHAN pasti akan berbicara kepada salah satu dari antara pasangan suami-istri. Jika yang menerima Firman adalah sang suami, ia harus menceritakannya kepada istrinya. Atau sebaliknya, jika yang mendengar suara TUHAN adalah istri, ia seharusnya bercerita kepada suaminya.
Bila Ribka menceritakan kepada Ishak Firman TUHAN tentang masa depan anak-anak mereka, dan mereka mau mempersiapkan kedua anak mereka di dalam rencana TUHAN, sudah pasti Esau tidak akan menjual hak kesulungannya. Ia akan memberikannya kepada Yakub dengan sukarela. Sebaliknya, karena Yakub juga telah dipersiapkan menerima hak kesulungan itu, pasti ia akan menjadi seorang pribadi yang mengasihi Esau. Jika Ishak dan Ribka mempersiapkan anak-anaknya seperti itu, pasti tidak akan terjadi kesukaran yang seharusnya tidak perlu dialami baik oleh Yakub maupun Esau.

Abraham mempersiapkan Ishak sedemikian rupa sehingga kualitas kehidupan rumah tangganya lebih baik daripada rumah tangga Abraham. Tetapi mengapa selanjutnya kualitas perkawinan Ishak menurun sedemikian rupa? Karena Ishak dan Ribka lengah. Mereka tidak lagi memelihara kehidupan berkomunikasi dengan pasangannya maupun dengan TUHAN. Ribka berkomunikasi dengan TUHAN hanya sampai pada ia mengetahui apa yang akan terjadi kepada kedua anaknya itu saat mereka masih di dalam kandungan, tetapi ia tidak menanyakan tentang apa yang harus dilakukannya untuk mempersiapkan agar Esau siap menerima keadaannya kelak.

Ketika seseorang hendak membangun rumah tangga, ia menatanya sedemikian rupa. Tetapi dengan berjalannya waktu, lambat laun masing-masing hanya menikmati apa yang disukainya saja tanpa mempedulikan pasangannya sehingga kehidupan rumah tangganya mulai tidak sehat. Buktinya Ishak lebih sayang kepada Esau karena ia menyukai daging buruan; dan Esau pandai berburu. Jadi terkadang kita lebih menyayangi salah satu anak kita dengan alasan anak itu dapat memberikan apa yang kita butuhkan. Rasa sayang seperti itu bukan hal yang tepat. Seharusnya rasa sayang terhadap anak-anak adalah karena mereka memang anak-anak kita sendiri.

Kualitas rumah tangga berbanding lurus dengan kualitas iman pasangan itu. Kualitas iman Ribka yang melorot menyebabkan Ribka mengajari Yakub untuk membohongi Ishak demi mendapatkan berkat dari Ishak. Ribka bertanya kepada TUHAN ketika menghadapi persoalan saat Esau dan Yakub masih dalam kandungan. Tetapi kali ini ia tidak berdoa kepada TUHAN untuk menanyakan bagaimana seharusnya sikap Yakub yang tepat Yakub dapat menjadi tuan dari Esau seperti Firman TUHAN. Ribka menggunakan pikirannya sendiri. Sedangkan Ishak saat itu matanya sudah rabun sehingga ia tidak dapat membedakan antara Esau dan Yakub. Akhirnya kehidupan rumah tangganya menjadi hancur. Esau mendendam terhadap Yakub, bahkan mengancam untuk membunuhnya. Sedangkan Yakub harus lari meninggalkan rumah (Ishak dan Ribka) untuk menghindari Esau.

Ishak dan Ribka harus menangis karena kehilangan anak. Dan kehilangannya itu bukan disebabkan oleh orang lain, melainkan karena anaknya sendiri. Pengalamannya ini terjadi bukan hanya karena Ishak dan Ribka tidak mempersiapkan Esau dan Yakub agar dapat menerima keadaannya kelak, tetapi juga karena Ishak dan Ribka tidak mempersiapkan mereka dalam hal disiplin iman. Padahal disiplin iman sangat penting sebab dapat terus melekat hingga masa tua.

AMSAL 22 : 6
6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Maksud dari “jalan itu” dalam ayat di atas bukan suatu jalan yang kita persiapkan sendiri bagi anak kita. Misalnya, supaya kelak menjadi arsitek, kita melatih dan menyekolahkan anak kita di bidang arsitek. Bukan seperti itu. Tetapi yang dimaksudkan adalah jalan sesuai dengan Firman TUHAN. Sebab YESUS sendiri berkata: “AKU-lah Jalan…”, dengan kata lain kita harus mendidik anak-anak kita di dalam jalan YESUS KRISTUS. Jika kita melakukan hal ini, anak-anak kita tidak akan mudah menyimpang dari jalan TUHAN.

Mengapa Ishak dan Ribka tidak lagi mampu mendidik anak-anaknya dalam iman? Karena iman mereka sendiri sudah mulai merosot. Pada kesempatan ini, baiklah kita mengkoreksi diri dan bertanya, sudahkah kita memberi teladan iman bagi anak-anak kita? Jika sudah, percayalah bahwa anak-anak kita tidak akan mudah menyimpang dari teladan yang kita berikan itu. Asalkan sejak masa mudanya kita sudah mendidik mereka di dalam jalan iman, mereka tidak mudah goyah sampai masa tuanya.

Mengingat hal ini, sangat penting bagi kita untuk membangun rumah tangga yang didasari oleh iman yang sama antara suami dan istri. Sebab jika tidak, anak-anak akan mengalami kebingungan sejak masa kecilnya. Berapa pun usia anak kita, mulailah dari sekarang memberi teladan dan mendidik mereka dalam iman. Sebagai anak, jangan putus asa jika merasa orangtuanya tidak menanamkan iman. Jadikanlah pengajaran Firman TUHAN yang kita terima di gereja sebagai didikan yang tertanam di dalam hati kita.

Mendidik anak di jalan iman sesungguhnya sedang mempersiapkan sang anak untuk dapat memperoleh masa depan yang sesuai dengan rencana TUHAN atas hidupnya. Jika TUHAN memberitahukan masa depan Esau dan Yakub, berarti tugas Ribka dan Ishak adalah mendidik anak-anaknya itu di jalan TUHAN. Tetapi sangat disayangkan bahwa Ribka dan Ishak tidak lagi memiliki kepekaan terhadap kehendak ALLAH.

Karena itu, marilah kita menyimpan sebuah pelajaran yang sangat berharga ini: tetap menjaga kualitas iman agar kualitas kehidupan rumah tangga tetap terjaga baik hingga akhir hidup kita. Tujuannya adalah agar kehidupan anak-anak kita tidak ada yang hancur berantakan, seperti yang dialami oleh Ishak dan Ribka. Sebab TUHAN memang merencanakan untuk meninggikan Yakub, tetapi IA tidak pernah merencanakan Yakub untuk lari dari Ishak dan Ribka karena dikejar oleh Esau kakaknya. Seandainya Ishak dan Ribka peka terhadap rencana ALLAH ini, semuanya itu tidak akan pernah terjadi. Amin
Cukup mengejutkan jika mengetahui, bahwa para nabi -di antaranya Yeremia dan Elisa- pernah mengalami tekanan jiwa. Apa yang perlu kita lakukan agar kita bebas dari tekanan jiwa?

RATAPAN 3 : 20
20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.
Setiap manusia pasti pernah mengalami tekanan jiwa. Tak urung seorang nabi sebesar Yeremia pun pernah mengalami hal serupa. Jadi jangan terburu-buru protes dan mengatakan, bahwa kita tidak pernah mengalami tekanan jiwa. Marilah kita mempelajari apa saja ciri-ciri, penyebab dan akibat dari tekanan jiwa tersebut.

Nabi Yeremia mengatakan, “jiwaku selalu teringat”, di dalam Alkitab New King James Version, juga dituliskan “my soul still remember”. Padahal lazimnya organ tubuh yang bertugas mengingat adalah otak. Dapat kita simpulkan, di balik perkataan Yeremia tersebut mengandung makna yang lebih dari sekedar mengingat hal biasa.

RATAPAN 3 : 14 – 16
14 Aku menjadi tertawaan bagi segenap bangsaku, menjadi lagu ejekan mereka sepanjang hari. 15 Ia mengenyangkan aku dengan kepahitan, memberi aku minum ipuh. 16 Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu.

Salah satu penyebab jiwa kita akan tertekan jika ingatan kita terarah pada pengalaman pahit yang terjadi di masa lalu. Nabi yang seharusnya dihormati, namun malah menjadi tertawaan orang-orang sebangsanya telah mengguratkan trauma di dalam jiwa Yeremia.

Pengalaman menjadi obyek tertawaan orang lain tentu bukan barang langka bagi kita, bahkan seringkali dilontarkan oleh orang-orang terdekat kita. Tua muda pasti pernah mengalami kegetiran seperti ini. Ketika masih berstatus pelajar, kita pernah diejek oleh teman. Bagi yang sudah menikah, pasangan kadang-kadang bukan menjadi penyemangat, tetapi malah berbuat sebaliknya.

Contohnya, istri memiliki bodi bak gitar Spanyol saat baru menikah. Namun dengan berlalunya waktu dan akibat melahirkan, bermetamorfosis menjadi seukuran cello dan akhirnya sebesar kontra bass, alias semakin melar. Kurang percaya diri dengan bentuk tubuhnya, sang istri membutuhkan pujian dari suami, namun yang didapat malahan ejekan. Suami juga tidak luput dari pengalaman pahit. Misalnya curhat kepada istrinya saat didera kerugian dalam bisnisnya dengan harapan dihibur oleh sang istri. Harapan tinggal harapan, yang ada hanya sindiran, yang membuat suami makin tertekan.

Saya sendiri pernah memiliki pengalaman pahit. Saya masih duduk di bangku SMP waktu itu dan kondisi ekonomi keluarga kami masih memprihatikan. Tiap-tiap anggota keluarga mendapat tugas mengerjakan pekerjaan rumah tangga, termasuk saya. Suatu hari ketika saya mendapat tugas memadamkan api pada kompor minyak tanah dengan cara meniupnya. Bukannya padam, tetapi justru apinya menyambar saya. Dalam keadaan tubuh terbakar, saya lari dari dapur menuju kamar mandi dan meloncat ke bak mandi. Api memang padam. Namun yang belum padam adalah rasa takut saya, yang tidak berani berada di dekat kompor.

Agar tidak mengganggu kehidupan kita, jiwa yang tertekan ini perlu diobati, bukan ditutupi. Setiap orang pernah mengalami trauma yang mungkin dapat kita bungkus, sehingga tidak diketahui orang lain. Namun ingat, suatu saat akan timbul lagi. Saya berdoa meminta TUHAN mencabut ketakutan saya, bukan sekedar melupakan peristiwa itu. Perlahan-lahan, ketakutan saya untuk berada dekat kompor mulai memudar, dan setelah tiga minggu saya mengalami pemulihan.

Keluhan nabi Yeremia “Ia mengenyangkan aku dengan kepahitan” ini memiliki makna, bahwa trauma yang tidak diobati akan menimbulkan kepahitan hati, yang diibaratkan Yeremia seperti meminum ipuh atau racun. Di dalam Ratapan 3:16, trauma yang dibiarkan berkepanjangan akan menekan jiwa kita lebih dalam lagi, menekan ke dalam “debu” atau kematian. Sebaliknya, jikalau kepahitan hati kita dicabut, kita tidak akan melangkah pada tahap ingin mati, namun semangat hidup kita akan menyala kembali.

MAZMUR 102 : 8
8 Aku tak bisa tidur dan sudah menjadi seperti burung terpencil di atas sotoh.
Selain akibat yang telah dikeluhkan oleh Yeremia, akibat lainnya dari tekanan jiwa adalah tidak dapat tidur seperti yang dialami oleh Pemazmur. Tidak bisa tidur di sini adalah lie awake; bukan tidak dapat tidur karena tidak ada tempat tidur; artinya di sini berbaring, tetapi tetap terjaga (insomnia).

Merasa sendiri atau kesepian yang digambarkan Pemazmur seperti burung terpencil di atas atap bukan hanya menjangkiti mereka yang masih single. Banyak pula suami atau istri yang merasa sendiri padahal mereka berdua. Solusi menangkal kesepian bukan berada di tempat yang hingar bingar, dugem misalnya. Itu hanyalah cara semu yang tidak menyentuh akar permasalahan.

Salah satu penyebab kesepian adalah tidak adanya dukungan atau pikiran yang tidak sejalan. Kendati memiliki pasangan, namun tanpa saling mendukung dan kesatuan hati di antara suami istri, tidak heran mereka terjangkit kesepian. Marilah kita memeriksa diri kita, jika kesepian mencengkam hidup kita, cobalah mencari penyebabnya agar kesepian tidak ini berkepanjangan yang akhirnya mengakibatkan tekanan pada jiwa kita.

Menurut kita, merupakan hal yang wajar bila seseorang dirundung masalah bertubi-tubi merasa jiwanya tertekan hingga ingin mati dan menyesali mengapa dia lahir seperti yang dialami Ayub (Ayub 3:11). Mungkin kita beranggapan, jiwa kita tidak akan tertekan jika segala sesuatunya dalam keadaan baik-baik saja: keuangan lancar, anak-anak tidak bermasalah, kesehatan tidak terganggu, pendeknya kesuksesan berada di tangan kita. Jangan salah, orang sukses juga dapat mengalami tekanan jiwa.

1 RAJA-RAJA 19 : 4
4 Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”

Rasa putus asa dan ingin mati sebagai akibat tekanan jiwa justru dialami saat lampu sorot sedang terarah kepada Elia yang berdiri di panggung kesuksesan. Sebelum peristiwa ini, Elia berdoa agar hujan tidak turun selama tiga setengah tahun, dan hal itu terjadi. Kemudian dia mengadakan “kontes” dengan seluruh nabi Baal yang disaksikan oleh orang Israel sebagai juri sekaligus penonton untuk menentukan siapa yang berkenan kepada ALLAH. Baik Elia maupun nabi Baal sama-sama membuat mezbah dan meletakkan korban di atasnya. Korban itu tidak dibakar dengan api biasa. Elia berdoa kepada TUHAN agar membakar korban itu dengan Api TUHAN, sedangkan nabi Baal berdoa kepada Baal agar menurunkan api. Korban yang disiapkan Elia disambar oleh Api TUHAN membuat Elisa tampil sebagai pemenang. Untuk melengkapi kemenangannya, Elia menghabisi seluruh nabi Baal. Akibatnya, seluruh bangsa Israel bertobat dan tidak lagi menyembah Baal.

Mengapa Elia yang tak kenal takut kepada raja Ahab berikut ratusan nabi Baal berubah menjadi pesakitan yang tidak berdaya ketika menghadapi ancaman seorang wanita: ratu Izebel? Posisi Elia saat itu memang berada di puncak, namun Elisa lengah menjaga stamina imannya.

Kejadian serupa seperti Elisa ini juga dialami oleh anak-anak TUHAN yang sedang berada di puncak. Kesepian justru melanda karena merasa tidak percaya kepada orang-orang yang berada di lingkungannya, merasa mereka mendekatinya dengan motivasi ingin ikut menikmati fasilitas.

Kesuksesan tidak menjamin seseorang terbebas dari tekanan jiwa. Dan jangan menutupinya dengan harta dan popularitas. Mengatasi sendiri masalah demi masalah tanpa memperhatikan stamina iman seperti yang dilakukan Elia akhirnya membawa pada satu titik keputusasaan. Langkah yang tepat adalah membawa jiwa kita yang tertekan ke hadapan TUHAN. Hanya DIAlah yang mampu mencabut trauma dan mengobati jiwa yang tertekan.

RATAPAN 3 : 21
21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
Ke mana perhatian atau jiwa kita terarah? Jika terpaut dengan pengalaman pahit di masa lalu, hasilnya adalah jiwa yang tertekan. Sebaliknya jika kita memperhatikan hal yang benar, yaitu menggantungkan harapan yang pasti, yaitu harapan kepada ALLAH, kita tidak akan kecewa.

MAZMUR 42 : 6
6 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada ALLAH! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-NYA, penolongku dan ALLAHku!
Orang dunia menggantungkan harapannya pada saldo tabungan, meraih pendidikan setinggi mungkin dengan harapan memiliki masa depan cemerlang, atau berharap kepada orang lain yang seringkali membuat kecewa. Tetapi Pemazmur memberikan resep bagi anak TUHAN yang merasa tertekan jiwanya: berharap kepada ALLAH. Harapan kepada ALLAH yang berlaku eksklusif bagi anak TUHAN ini tentu bukan sekedar harapan kosong, bahkan melebihi harapan yang dimiliki orang dunia.

Sebuah ilustrasi untuk menyatakan perbedaan antara harapan yang nyata nyata dengan harapan semu yang hanya untuk mengulur waktu:

Seorang patih (pembantu raja) divonis hukuman mati oleh rajanya akibat kesalahannya. Dengan kecerdikannya, patih ini memohon agar diberi kesempatan hidup satu tahun lagi, karena memiliki misi mengajar kuda milik raja untuk dapat berbicara. Penasaran ingin membuktikan kecanggihan ilmu patihnya itu, raja mengubah vonis mati. Sebagai gantinya, si patih diberi kesempatan satu tahun untuk mengajar kuda raja berbicara. Patih pun pulang ke rumahnya dengan membawa kuda raja sebagai muridnya.

Ternyata yang ingin tahu ilmu si patih itu bukan hanya sang raja; teman patih inipun bertanya, apakah benar dia dapat mengajar kuda berbicara? Dengan entengnya patih ini menjawab, bahwa sesungguhnya dia tidak dapat mengajar kuda berbicara. Tapi ada yang diperolehnya dari membohongi raja: mengulur waktu kematian menjadi satu tahun kemudian.

Harapan di dalam ilustrasi di atas hanyalah harapan sementara, harapan semu. Sangat berbeda dengan harapan kepada ALLAH. Terbukti hasilnya langsung dapat dirasakan oleh Pemazmur yang membuatnya dapat bersyukur lagi kepada ALLAH. Berarti sebelumnya Pemazmur sempat tidak mampu bersyukur akibat tekanan jiwa yang begitu besar dirasakannya. Berharap kepada ALLAH mampu membuat kita kembali tersenyum lepas dengan penuh rasa syukur kepada ALLAH yang telah menolong melepaskan dari himpitan masalah.

RATAPAN 3 : 22 – 23
22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-NYA, 23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-MU!

Ayat di atas tidak menjanjikan banyak uang atau kekuasaan. Dengan uang atau kekuasaan, orang memang masih dapat mengejar sesuatu dalam batas tertentu. Misalnya, uang dapat mengantarkan kita berobat ke rumah sakit yang paling canggih untuk mendapatkan fasilitas pengobatan kelas VVIP. Namun pada suatu titik, uang atau kekuasaan yang dimiliki manusia tidak akan dapat menolong lagi.

Ciri khas karakter ALLAH yang ditonjolkan pada ayat di atas adalah kasih dan kesetiaan ALLAH kepada kita. Kuasa TUHAN sudah jelas tidak ada taranya. Kendati ALLAH Mahakuasa, namun seandainya saja DIA tidak mengasihi kita, maka kita tidak dapat berharap kepada DIA untuk mengulurkan Tangan-NYA menolong kita. Atau seandainya TUHAN tidak memiliki kesetiaan dalam menolong, DIA hanya akan menolong sekali dua kali saja lalu akhirnya bosan menolong kita. Namun karena kasih dan kesetiaan TUHAN yang terus kita rasakan, kasih dan kesetiaan TUHAN itu menjamin jiwa kita tidak tertekan.

Di dunia ini banyak orang yang memiliki power atau kekayaan, namun jika dia tidak mempunyai kasih dan tidak mengasihi kita, tentu percuma saja berharap kepada orang itu. Tidak perlu kita melihat terlalu jauh, ada suami yang punya penghasilan tinggi, namun tidak mengasihi istrinya, maka sang istri tidak ikut menikmati uang yang dihasilkan suaminya. Atau misalnya memiliki kerabat yang kaya hanya menambah predikat sebagai “keponakan om anu yang kaya” jika sang om tidak peduli kepada keponakannya itu.

Jadi dapat kita simpulkan, bahwa kasih dan kesetiaan TUHAN itu yang utama. Setelah itu baru rahmat atau berkat. Tanpa kasih dan kesetiaan TUHAN, berkat sebesar apapun yang dimiliki ALLAH tidak akan sampai ke tangan kita. Karena TUHAN mengasihi dan setia menjawab doa kita, maka berkat-NYA yang kita minta dalam doa akan disiapkan-NYA bagi kita.

Setiap hari manusia memiliki kebutuhan. Setiap hari pula TUHAN selalu menyediakan berkat yang baru bagi anak-anak-NYA. Itulah sebabnya TUHAN YESUS mengajarkan agar kita berdoa kepada BAPA, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Artinya, setiap hari ini kita memiliki kebutuhan yang berbeda, dan DIA selalu memberikan berkat sesuai dengan kebutuhan kita. Berkat-NYA selalu baru setiap pagi juga mengandung arti kesetiaan TUHAN yang tidak bosan-bosannya untuk memberikan berkat-NYA setiap hari.

AMOS 9 : 14
14 AKU akan memulihkan kembali umat-KU Israel: mereka akan membangun kota-kota yang licin tandas dan mendiaminya; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan minum anggurnya; mereka akan membuat kebun-kebun buah-buahan dan makan buahnya.

Inilah janji TUHAN bagi kita. TUHAN tidak sekedar berjanji akan menutupi tekanan jiwa kita, sehingga kita merasa seolah-olah memiliki jiwa yang sehat, tetapi DIA akan memulihkannya seratus persen. TUHAN memulihkan kita dari luka hati, trauma masa lalu, dan juga masalah yang kita hadapi saat ini. Yang perlu kita camkan adalah: kalau bukan DIA yang memulihkan, kita tidak akan mampu terlepas dari tekanan jiwa kita.

Hasilnya sungguh-sungguh luar biasa! Setelah TUHAN melepaskan kita dari belenggu trauma, kita akan memiliki kebun anggur dan meminum air anggur yang berarti sukacita yang kita rasakan. Bukan itu saja, kita juga akan memiliki kebun buah-buahan seperti yang dialami Adam dan Hawa yang menikmati buah-buahan yang disediakan oleh TUHAN di taman Eden. Inilah bonus yang diberikan TUHAN setelah tekanan jiwa kita diangkat TUHAN: sukacita sempurna dan makanan atau berkat yang selalu disediakan oleh TUHAN untuk kita.

RATAPAN 3 : 24 – 26
24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. 25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-NYA, bagi jiwa yang mencari DIA. 26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

Kata kunci untuk dapat berharap kepada kasih dan setia TUHAN adalah “TUHAN adalah bagianku”, artinya kita dan TUHAN menjadi satu. Bersatunya kita dengan TUHAN terjadi di dalam Perjamuan Kudus. Jika kita hanya sekilas pernah mendengar tentang TUHAN, belum mengenal DIA dengan sungguh-sungguh, kita tidak akan dapat menaruh harapan pada Pribadi yang tidak kita kenal. Sebaliknya kalau kita mengenal TUHAN, dan menjadi satu dengan Tubuh dan Darah TUHAN, sudah barang tentu kita termasuk orang yang boleh berharap kepada-NYA.

Pada saat kita berdoa, maka yang berdoa kepada BAPA di Sorga bukan lagi kita, tetapi ROH TUHAN yang telah menjadi satu dengan kita, DIA-lah yang mendukung doa kita untuk sampai kepada ALLAH BAPA.

Menanti dengan diam untuk menerima pertolongan TUHAN berarti kita percaya penuh kepada yang kita nantikan. Orang yang tidak memiliki rasa percaya yang penuh pada datangnya pertolongan TUHAN akan bertanya-tanya, sanggupkah TUHAN menolong dia, lalu sibuk mencari second opinion ke sana ke mari. Kalau kita tahu kepada siapa kita berharap, kita akan menanti pertolongan dengan diam, dengan penuh kepasrahan. Sehingga saat pertolongan itu datang, pikiran kita tidak kelelahan dalam menanti.

Pada saat kita telah memiliki kepercayaan penuh untuk menanti dengan diam, karena telah menjadi satu dengan TUHAN, maka permohonan kita akan dikabulkan BAPA sesuai dengan kehendak-NYA. Dengan demikian kita tidak akan lagi mengalami tekanan jiwa yang mengganggu kehidupan kita. Semua luka hati telah dipulihkan oleh TUHAN dan diganti dengan air anggur sukacita yang manis, dan kita akan tinggal di taman Eden bersama TUHAN selama-lamanya. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: