Si Pencuri kuih

Sebagai balasan terhadap kasihku mereka menuduh aku,sedang aku mendoakan mereka.(Mazmur 109:5)Seorang wanita sedang menunggu di bandaraya pada suatu malam.Oleh kerana masih ada beberapa jam sebelum jadual terbangnya tiba untuk membuang waktu,ia membeli buku dan sekantong kuih di toko bandaraya lalu mencari tempat untuk duduk.Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya.Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki di sebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kuih yang berada di antara mereka.

Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan dengan membaca,mengunyah kuih dan melihat jam.Sementara Si Pencuri kuih yang begitu berani menghabiskan persediaannya,wanita tersebut semakin kesal.Sementara menit menit berlalu,wanita itupun sempat berpikir,kalau aku bukan orang baik sudah kutunjuk dia!setiap ia mengambil satu kuih.Ia menghela nafas lega saat penerbangannya diumumkan.Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang.

Ia tidak sudi menoleh ke arah Si“Pencuri yang tak tahu berterima kasih itu!” Pada waktu ia naik pesawat dan duduk di kerusinya,ia mencari bukunya,yang hampir selesai dibacanya . Saat ia merogoh tasnya,ia menahan nafas dengan kaget.Di situ ada kantong kuihnya,di depan matanya kog milikku ada di sini dengan penuh tandatanya,jadi kuih-kuih tadi adalah milik lelaki tersebut dan ia mencoba berbagi.Terlambat untuk minta maaf,ia tersandar sedih.Bahawa sesungguhnya dialah yang kasar,tak tahu berterima kasih dan dialah pencuri kuih itu.Dalam kisah pencuri seperti tadi sering terjadi dan mungkin saja pernah menjadi bahagian pengalaman hidup kita dengan versi yang lain.Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri dan tidak jarang kita berprasangka buruk.

Kita suka berkata bahawa orang lainlah yang kasar,orang lainlah yang salah.Kita cepat bereaksi terhadap sesuatu yang kebenarannya belum tentu benar.Sedangkan kita tidak pernah intropeksi diri. Kita tidak pernah melihat diri kita sendiri yang sebetulnya memiliki kelemahan dibandingkan dengan apa yang dilakukan orang lain.Kesadaran kita baru pulih apabila kita mengalami sesuatu.Dengan sebuah peristiwa,kita baru tersadar dan membenarkan bahawa kita juga penuh dengan kelemahan dan kekurangan.Mengapa hal itu dapat terjadi?Jawabannya kerana kita melihat segala sesuatu dengan menggunakan ukuran kebenaran kita.Pada hal kebenarana kita terbatas adanya.Kita tidak dapat memakai kebenaran kita untuk menghakimi orang lain.Yang dapat menjadi tolak ukur kebenaran adalah hanya Firman Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: