Menghadapi orang banyak mulut!

(Gambar Hiasan)

Miliki Pikiran KRISTUS
Pdt. Handoyo Santoso, M.Min.
(Saya sungguh diberkati dengan cerita ini,menggambarkan sikap Daud menghadapi orang yang suka melemparkan kata-kata yang mengutuk.)Sewaktu mendengar kesaksian seorang hamba Tuhan yang dari sebuah negara jiran saya merasa bahawa siapapun kita akan menghadapi manusia yang mulutnya “sebarang ngomong”.Namun,hamba Tuhan ini biarpun cukup terkenal,suatu saat selepas khotbah seorang wanita menunggu di pintu dan menegurnya dan berkata,”kamu sungguh sombong”.Mungkin merasa ditegur dengan khotbah beliau wanita itu sungguh marah.Sebenarnya si pendeta tidak mengenali semua pendengarnya.Hanya Roh Kudus yang mengenali hal-hal kita dan pendeta hanya menyampai firmanNya.Menurut si pendeta sewaktu orang mengutuk ia bersikap membiarkan..kerana menurutnya sewaktu orang mengutuk kita berkat mereka mengalir kepada kita.Jadi berhati-hati dalam melemparkan sebarang kutukan.)~Ribka Christ

Daud tidak mengizinkan Abisai membunuh Simei padahal Daud sudah difitnah dan dicaci maki oleh Simei. Mengapa Daud bertindak demikian? Sejauh mana orang Kristen boleh bertindak bila haknya dilanggar?
2 SAMUEL 16 : 5 – 8
5 Ketika raja Daud telah sampai ke Bahurim, keluarlah dari sana seorang dari kaum keluarga Saul; ia bernama Simei bin Gera. Sambil mendekati raja, ia terus-menerus mengutuk. 6 Daud dan semua pegawai raja Daud dilemparinya dengan batu, walaupun segenap tentara dan semua pahlawan berjalan di kiri kanannya. 7 Beginilah perkataan Simei pada waktu ia mengutuk: “Enyahlah, enyahlah, engkau penumpah darah, orang dursila! 8 TUHAN telah membalas kepadamu segala darah keluarga Saul, yang engkau gantikan menjadi raja, TUHAN telah menyerahkan kedudukan raja kepada anakmu Absalom. Sesungguhnya, engkau sekarang dirundung malang, karena engkau seorang penumpah darah.”

Peristiwa yang dilukiskan dalam ayat di atas terjadi pada saat Daud di dalam perjalanan melarikan diri dari Absalom, anaknya sendiri. Absalom yang ambisius tidak segan-segan melakukan kudeta terhadap tahta ayahnya, sekaligus berencana membunuh ayahnya sendiri. Di tengah perjalanan menghindari kejaran Absalom inilah terjadi pertemuan dengan Simei, salah seorang kerabat Saul. Simei berada di lereng, di seberang jalan yang dilalui Daud. Dan di antara keduanya dibatasi oleh sungai.

Tanpa henti-hentinya Simei melontarkan tuduhan, bahwa Daud adalah pembunuh Saul. Tuduhan Simei ini sama sekali tidak berdasar. Daud tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Saul, sebab Saul mati karena bunuh diri di medan peperangan. Tuduhan Simei yang dialamatkan kepada Daud ini dikategorikan fitnah. Menurut hukum, tindakan Simei ini memenuhi syarat untuk dilakukan tindakan atau tuntutan secara hukum. Jadi Daud menurut pandangan hukum memiliki hak untuk menuntut Simei, sebab Simei sudah memfitnah sambil mencaci-maki Daud di depan seluruh pasukan dan orang-orang yang menyertai Daud.

2 SAMUEL 16 : 9 – 12
9 Lalu berkatalah Abisai, anak Zeruya, kepada raja: “Mengapa anjing mati ini mengutuki tuanku raja? Izinkanlah aku menyeberang dan memenggal kepalanya.” 10 Tetapi kata raja: “Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?” 11 Pula kata Daud kepada Abisai dan kepada semua pegawainya: “Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian. 12 Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.”

Saat Simei melakukan tindakan yang membabi-buta itu, Daud disertai oleh pasukannya yang dapat dikatakan merupakan pasukan terpilih, dan tentu saja setia. Semudah menjentikkan jari bagi Daud untuk mengambil tindakan pembalasan terhadap Simei. Daud memiliki banyak pendukung. Kita ambil satu contoh yaitu Abisai, kepala pasukan Daud, hampir-hampir tidak dapat menahan dirinya menghadapi tuduhan Simei yang tidak masuk akal. Kedudukan Daud berbanding terbalik dengan keadaan Simei. Daud mendapat dukungan penuh dari pasukan elitenya, sedangkan Simei tanpa seorang pun yang menyertainya, tidak melengkapi diri dengan senjata, bukan pula ahli bela diri.

Dengan kondisi yang seperti ini, Daud menegur Abisai yang mau ikut campur menangani Simei. Tindakan Daud ini seolah-olah dia membiarkan Simei berbuat semaunya terhadap Daud. Kita harus berhati-hati menafsirkan tindakan Daud ini. Bila anak TUHAN diperlakukan semena-mena, bukan berarti kita tidak boleh melakukan apa-apa. Misalnya: bila tanah kita diserobot oleh orang lain, kita sebagai orang Kristen bukan berarti tidak boleh mengambil tindakan hukum untuk membela hak kita. Akan kita gali lebih dalam lagi pelajaran ini supaya kita mengetahui bagaimana sesungguhnya kita harus bersikap.

MATIUS 15 : 26
26 Tetapi YESUS menjawab: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”

Abisai menyamakan Simei dengan anjing mati. Hal yang sama juga dilakukan TUHAN YESUS dalam menyebut perempuan Kanaan, seorang kafir, dengan sebutan anjing. Menilik perkataan TUHAN YESUS, arti kata anjing adalah kekafiran, kefasikan atau keduniawian. Jadi Simei, musuh Daud adalah keduniawian atau kefasikan.

Menghadapi Simei, raja Daud berprinsip tidak mau mendengar nasehat Abisai. Bukan berarti kita tidak perlu mendengar nasehat dari orang dan kita berkata, “kita hanya mau mendengar nasehat dari TUHAN saja.” Kalau kita gali lebih dalam, yang dimaksudkan Daud adalah dia tidak mau menerima nasehat dari sembarang orang. Pemazmur mengajarkan, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik …” (Mazmur 1 : 1). Jadi kita harus dapat membedakan apakah nasehat yang kita terima itu adalah nasehat dari TUHAN atau dari orang fasik. Mengapa nasehat Abisai ini tergolong nasehat orang fasik akan kita pelajari kemudian.

Daud bukannya seorang yang bersifat arogan sehingga tidak mau mendengar nasehat. Justru nasehat yang diturut oleh Daud adalah nasehat yang berasal dari seorang wanita, yaitu Abigail, istri Nabal. Tanpa diminta oleh Nabal, Daud beserta anak buahnya menjaga keamanan para gembala beserta ternak Nabal. Dengan penjagaan dari Daud, gembala-gembala Nabal tidak diganggu para perampok. Saat panen, Daud meminta sedikit bagian hasil panen sebagai imbalan atas jasanya. Ternyata Nabal tidak memberi apa-apa, bahkan menghina Daud. Darah Daud mendidih, dan ingin menumpas seluruh keluarga Nabal. Abigail tampil memberikan nasehat, yang diterima dengan baik oleh Daud (1 Samuel 25 : 32 – 33), yang akhirnya mengurungkan niatnya membunuh. Daud mau menerima nasehat Abigail, sebab nasehat Abigail ini sejalan dengan pikiran TUHAN.

MATIUS 5 : 39
39 Tetapi AKU berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Ajaran TUHAN YESUS ini merupakan hal yang sulit atau bahkan mustahil kita terapkan bila kita mengartikannya secara hurufiah. Bila ditampar dan balas menampar, merupakan tindakan yang biasa dilakukan oleh orang kafir atau orang fasik. Kalau kita berbuat demikian, maka apa bedanya kita dengan orang dunia? TUHAN YESUS tidak mengatakan, “Kalau engkau ditampar, diam saja dan jangan bertindak”, tetapi TUHAN mengajarkan “Berilah pipi kirimu!”. Kita bukan diajarkan untuk berdiam diri, tetapi kita bertindak. Hanya saja, tindakan kita dengan “memberikan pipi kiri” merupakan tindakan yang berbeda dengan tindakan orang kafir. Pelajaran dari TUHAN YESUS ini memiliki makna yang sama dengan tindakan Daud dalam menghadapi Simei. Apakah yang kita lakukan saat difitnah? Diam atau bertindak? Jawabannya adalah kita harus bertindak, namun jangan meniru tindakan orang kafir. Jika kita bersikap sama dengan orang kafir, maka akan sulit dibedakan apakah kita termasuk golongan orang kafir atau orang Kristen.

Di saat terjepit seperti Daud yang sedang menghadapi ujian iman, kita dituntut memiliki pola pikir bahwa TUHAN yang menetapkan segalanya. Yang dimaksudkan oleh Daud adalah berjalan menurut kehendak TUHAN, bukan menurut kehendak Abisai. Tercermin dari perkataannya, bahwa kalau TUHAN yang mengizinkan Simei mengutukinya, siapa yang dapat mencegahnya? Itu adalah kehendak TUHAN, dan ikutilah kehendak-NYA.

Posisi Simei yang berseberangan dengan Daud menggambarkan pola pikir yang berseberangan. Daud adalah anak TUHAN, sedangkan Simei orang kafir. Pada saat bangsa Israel dilepaskan dari perhambaan Mesir, mereka menyeberang laut Teberau. Menyeberang di sini merupakan gambaran meninggalkan hidup yang lama (baptisan air). Tindakan Abisai yang akan kembali ke seberang menunjukkan mau kembali pada kehidupan lama, pada kehidupan orang kafir. Usul Abisai untuk membabat kepala Simei merupakan pola pikir yang kelihatannya masuk akal. Sebagai kepala pasukan yang setia, Abisai merasa perlu membela Daud. Seandainya Daud meluluskan permintaan Abisai, Daud memiliki pola pikir yang sama, yaitu seperti orang kafir.

2 SAMUEL 16 : 13 – 14
13 Demikianlah Daud melanjutkan perjalanannya dengan orang-orangnya, sedang Simei berjalan terus di lereng gunung bertentangan dengan dia dan sambil berjalan ia mengutuk, melemparinya dengan batu dan menimbulkan debu. 14 Dengan lelah sampailah raja dan seluruh rakyat yang ada bersama-sama dengan dia ke Yordan, lalu mereka beristirahat di sana.

Kita jangan berpola pikir orang fasik yang ingin menyeberang pada jalan hidup yang lama seperti Abisai. Jika kita tidak menganut pola pikir yang demikian, maka kita akan mampu melanjutkan perjalanan iman kita seperti Daud. Sementara itu Simei terus berjalan di seberang mengikuti rombongan Daud sambil terus mengutuk, melempari Daud dengan batu, dan menimbulkan debu.

KEJADIAN 3 : 14
14 Lalu berfirmanlah TUHAN ALLAH kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.

Dari arti ayat di atas, debu adalah makanan ular yang menggambarkan setan. Kita belum pernah mendengar ular makan debu; makanan ular adalah tikus, katak dan binatang-binantang lainnya. Dapat disimpulkan bahwa ular di sini bukan ular sebagai hewan, tapi ular di sini adalah ular yang menggambarkan setan. Simei menimbulkan debu, artinya perbuatannya menghasilkan makanan setan. Kalau kita terpancing dengan pola pikir Simei -menyeberang untuk menghampiri dan memancung kepalanya seperti keinginan Abisai- maka kita akan menjadi makanan setan. Itulah sebabnya Daud tidak mau meladeni Simei. Dengan demikian Daud dapat melanjutkan perjalanannya dan tidak menjadi mangsa setan.

Dalam keadaan lelah, akhirnya Daud berhasil sampai di Yordan. Andai kata Daud berhenti dan meladeni Simei, perjalanan Daud akan terhambat dalam mencapai tempat pelarian. Besar kemungkinan Absalom akan berhasil mengejar rombongan Daud dan membunuhnya.

2 SAMUEL 19 : 14 – 16
14 Demikianlah dibelokkannya hati semua orang Yehuda secara serentak, sehingga mereka menyuruh menyampaikan kepada raja pesan ini: “Kembalilah, tuanku dan semua anak buahmu.” 15 Lalu berangkatlah raja pulang dan sampailah ia ke tepi sungai Yordan. Sementara itu orang Yehuda telah sampai ke Gilgal untuk menyongsong raja dan untuk membawa raja menyeberang sungai Yordan. 16 Juga Simei bin Gera, orang Benyamin yang dari Bahurim itu, cepat-cepat datang bersama-sama dengan orang-orang Yehuda untuk menyongsong raja Daud. 17 Juga ada seribu orang dari daerah Benyamin bersama-sama dengan dia. Dan Ziba, hamba keluarga Saul, dan kelima belas anaknya laki-laki dan kedua puluh hambanya bersama-sama dengan dia datang tergesa-gesa ke sungai Yordan mendahului raja, 18 lalu menyeberang dari tempat penyeberangan untuk menyeberangkan keluarga raja dan untuk melakukan apa yang dipandangnya baik. Maka Simei bin Gera sujud di depan raja, ketika raja hendak menyeberangi sungai Yordan

Setelah Absalom mati, semua orang Yehuda berbalik hatinya kepada Daud dan memintanya kembali untuk menjadi raja. Membelokkan hati seluruh bangsa merupakan hal yang mustahil, sebab pasti ada sekelompok orang yang akan menentang atau tidak berpihak. Contohnya saja seorang kandidat Presiden dalam Pemilu tidak mungkin meraih suara seratus persen. Cara Daud dalam “berkampanye” adalah cara yang sangat jitu: mengandalkan TUHAN. Hasilnya kemenangan 100%! Hanya TUHAN yang mampu membelokkan hati seluruh bangsa. Jika kita berpola pikir seperti TUHAN, hasilnya pasti jauh lebih baik dan menghasilkan tindakan yang efektif dalam menghadapi masalah.

Masih ada kejutan lain. Simei merupakan orang yang pertama sujud menyembah kepada Daud. Orang yang sebelumnya mencaci-maki, melontarkan fitnah dan kutukan sambil melontari Daud dengan batu, berbalik kepada Daud. Tindakan apakah yang dilakukan Daud hingga Simei bertekuk lutut?

ROMA 12 : 17, 21
17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! 21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Daud bukan menghadapi kejahatan dengan diam. Dia mengalahkan kejahatan, tapi bukan dengan membalas kejahatan dengan kejahatan. Jadi untuk menaklukkan masalah, kita tidak boleh hanya berdiam diri saja. Kita harus bertindak dengan pola pikir seperti yang dipikirkan oleh KRISTUS, seperti yang diajarkan oleh Paulus kepada jemaat di Roma.

Simei sujud kepada Daud bersama seribu orang yang ada di pihaknya. Seandainya Daud menanggapi kutukan dan fitnah Simei dengan mengizinkan Simei dibunuh oleh Abisai maka satu persoalan dapat dipecahkan -Simei mati dan Daud dapat melanjutkan perjalanan dengan tenang. Tetapi dalam perjalanan kembali ke Yerusalem, seribu orang yang berpihak kepada Simei akan menjadi masalah bagi Daud. Kalau menggunakan pola pikir orang fasik, satu permasalahan dapat diselesaikan, tapi akan timbul masalah baru yang jauh lebih besar. Seribu orang yang bersama Simei ini akan menjadi musuh Daud. Satu masalah selesai, tapi seribu masalah yang lain akan timbul karena cara kita yang salah dalam menangani masalah. Sebaliknya bila menggunakan pola pikir TUHAN, maka seluruh bangsa bisa dibelokkan hatinya dan seribu orang yang ada di belakang Simei ini ikut sujud kepada Daud. Inilah “bonus” yang diterima Daud, dan juga anak TUHAN yang menggunakan pola pikir sesuai dengan TUHAN. Pasti kita tidak akan rugi, bahkan jauh lebih untung dari yang kita pikirkan.

2 SAMUEL 19 : 21 – 22
21 Lalu berbicaralah Abisai, anak Zeruya, katanya: “Bukankah Simei patut dihukum mati karena ia telah mengutuki orang yang diurapi TUHAN?” 22 Tetapi Daud berkata: “Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya, sehingga kamu pada hari ini menjadi lawanku? Masakan pada hari ini seorang dihukum mati di Israel! Sebab bukankah aku tahu, bahwa aku pada hari ini adalah raja atas Israel?”

Dari waktu ke waktu, nasehat yang dikemukakan oleh Abisai tidak berubah: membunuh Simei. Tetapi Daud tidak mau kompromi, sekalipun yang memberi nasehat adalah kepala pasukannya sendiri. Abisai yang mengandalkan kekuatan fisik ini adalah gambaran kedagingan kita, yang memberikan nasehat menurut kedagingan. Supaya tidak timbul seribu masalah baru bagi kita, kedagingan itu harus kita kuasai, bukan kita yang dijajah oleh kedagingan kita.

Bagaimana pun mulusnya jalan orang fasik, pastilah jalan itu menuju pada kebinasaan. Daud tidak mau membiarkan dirinya terjebak dengan nasehat Abisai yang menyesatkannya. Dengan teguh dia tetap berpegang pada Taurat TUHAN atau Firman. Tindakannya itu membawanya kepada keberhasilan, seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air sehingga tumbuh subur dan selalu berbuah lebat. Itulah yang menjadi pedoman hidup Daud seperti yang tercermin dalam Mazmur 1 : 2 – 6. Kita juga akan seperti “pohon yang ditanam di tepi aliran air” bila kita mencintai Firman TUHAN yang mengajarkan kita untuk memiliki pikiran KRISTUS.

YOHANES 3 : 9 – 10
9 Nikodemus menjawab, katanya: “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” 10 Jawab Yesus: “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?

Pola pikir Nikodemus -seorang pemimpin agama Yahudi- sangat kontras dengan pola pikir Daud. Nikodemus datang kepada TUHAN YESUS, tetapi tidak mau menerima ajaran-NYA. Nikodemus membantah perkataan YESUS. Jika seorang ayah memberikan instruksi kepada anaknya, tentunya sang ayah sudah mengukur kemampuan anaknya dan memperhitungkan bahwa anaknya pasti dapat melakukannya. Dengan membantah perintah ayahnya, anak itu sama saja dengan mengatakan bahwa ayahnya adalah seorang yang bodoh! Hal yang sama dengan yang ditunjukkan Nikodemus. Membantah perkataan TUHAN menunjukkan Nikodemus sama sekali tidak menghargai TUHAN YESUS. Dia berpendapat, bahwa TUHAN YESUS memberikan perintah tanpa memperhitungkan apakah hal itu dapat dilakukan oleh manusia atau tidak.

Kalau kita memiliki pola pikir yang sama dengan TUHAN YESUS dan menerima Firman TUHAN dengan seutuhnya tanpa membantah, maka kita akan mampu melaksanakan perintah TUHAN sesuai dengan Firman-NYA. Dengan demikian kita akan mampu mengalahkan segala problema yang kita hadapi. Dan kemenangan itu adalah kemenangan mutlak. Kita lebih dari pemenang, seperti yang dialami oleh Daud. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: