Terbaik

“Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!”

kematian kecil”Sakit sekali rasanya direndahkan.. saya tidak akan pernah lupa kata-katanya.” Begitu kira-kira sebuah kalimat yang tampil dari twitter salah seorang musisi muda beberapa minggu yang lalu. Saya mengenalnya dengan baik. Ia adalah seorang anak muda yang sangat berbakat dan sudah aktif bermain di panggung-panggung di usia mudanya. Skillnya saya tahu luar biasa, dan semangatnya pun sama. Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengannya dan ia mengatakan bahwa ia masih terpengaruh oleh ucapan seseorang yang menganggapnya masih belum apa-apa dan belum pantas sama sekali untuk tampil di pentas besar, atau bahkan membuat grup sekalipun. Kata-kata ini menyakiti perasaannya sehingga tampaknya ia kehilangan gairah untuk bermain. Bayangkan sebuah ucapan yang mungkin terlepas begitu saja oleh seorang oknum hanya sekian detik, yang mungkin ia sendiri sudah lupa atau tidak lagi memikirkannya. Tetapi ucapan itu masih berbekas bagi orang yang dituju, yang bisa jadi akan berpengaruh kepada perkembangan karirnya. Saya mencoba mengembalikan semangatnya dengan mengingatkan bahwa ia punya segala yang dibutuhkan untuk sukses. Tuhan telah memberkatinya dengan bakat dan kemampuan, tugasnya adalah mempergunakan talenta yang ia miliki dengan sebaik-baiknya, dan ingatlah bahwa di atas segalanya, ia harus memusatkan pandangannya kepada Tuhan Sang Pemberi bukan kepada sesama manusia yang bisa saja berbuat kesalahan baik lewat perbuatan maupun ucapan.

Tidakkah hal seperti ini pun pernah kita alami? Kita mengalami saat-saat dimana kita bisa menjadi korban akibat tindakan atau ucapan seseorang. Dibanding-bandingkan dengan kakak atau adik ketika kecil misalnya. Ada banyak orang tua yang tanpa sadar membuat mental salah satu anaknya “down” karena selalu dibandingkan dengan saudaranya yang dianggap lebih baik. Ini bisa berbekas hingga mereka dewasa, dan saya pun telah bertemu dengan banyak orang yang mengalami itu. Kita tidak bisa menghindari orang untuk menyinggung perasaan kita atau membuat percaya diri kita runtuh. Jika kita menelan hal-hal negatif dari orang lain, tanpa kita sadari, tanpa kita inginkan, tanpa bermaksud, kita bisa menempatkan diri kita pada kematian-kematian kecil. Yang saya maksud dengan kematian-kematian kecil adalah berbagai hal kecil yang bisa membuat kita makin lama makin kehilangan kedamaian dan sukacita yang berasal dari Tuhan, atau kehilangan keyakinan diri dan sebagainya. Ada banyak orang yang cenderung mempercayai pandangan orang lain yang keliru tentang dirinya, ada banyak orang mengalami kepahitan dan sulit bangkit ketika mendapat kritikan atau perkataan menyakitkan dari orang lain. Ada yang bahkan sampai menyesali hidup. Ini semua bisa membawa kita pada kematian-kematian kecil yang akan merampas dan menghancurkan kedamaian, kasih dan sukacita yang telah Tuhan berikan pada kita. Mungkin anda pun pernah merasa demikian, ketika anda merasa bahwa anda tidak berguna dan tidak mampu apa-apa, akibat perkataan seseorang yang menjatuhkan rasa percaya diri anda. Sekali lagi, kita tidak bisa menghalangi orang lain untuk mengatakan hal-hal negatif, tetapi kita bisa memilih untuk tidak terpengaruh. Bagaimana agar tidak berpengaruh? Alkitab sudah memberi kuncinya sejak dahulu kala.

Lihat apa kata Daud ketika ia berbeban berat. “Tetapi kepada-Mulah, ya ALLAH, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku!” (Mazmur 141:8). Daud tahu bahwa situasi tidak akan pernah menjadi lebih baik jika ia terus mengarahkan pandangan matanya kepada masalah atau situasi. Keadaan tidak akan menjadi lebih baik jika kita menelan ucapan-ucapan menjatuhkan dari orang lain, justru sebaliknya kita akan rugi sendiri. Mental jatuh, percaya diri hilang, semangat lenyap, bahkan sukacita dan kedamaian dalam hidup kita pun terampas. Pandangan mata kita seharusnya ditujukan kepada Tuhan, Pencipta kita dan Pemberi segala talenta yang ada pada kita masing-masing. Dia tidak akan pernah merendahkan usaha anda. Dia justru akan memberkati usaha setiap anak-anakNya yang telah berupaya dengan sungguh-sungguh memberi yang terbaik, Dia akan selalu siap melindungi kita yang berlindung kepadaNya. KepadaNya-lah mata kita seharusnya tertuju dan bukan kepada orang-orang yang menjatuhkan kita.

Bagaimana Tuhan memandang kita? Jelas dalam Alkitab dikatakan bahwa kita adalah ciptaanNya yang sangat istimewa. We are His masterpiece. Dia menciptakan kita segambar dengan rupaNya sendiri (Kejadian 1:26), kita terlukis dalam telapak tanganNya dan dalam ruang mataNya (Yesaya 49:16), dia mengetahui segala sesuatu akan kita, bahkan jumlah helai rambut kita pun Dia hitung (Matius 10:30). Tuhan tidak pernah menciptakan kita asal-asalan apalagi sia-sia. Dan Dia punya rencana yang indah bagi setiap kita. Apa yang Dia rencanakan kepada kita sejak semula adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, seperti yang disebutkan dalam Yeremia 29:11, untuk memberikan kita hari depan yang penuh harapan. Sebuah ayat indah pada Mazmur mengatakan bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang dahsyat dan ajaib. “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (Mazmur 139:13-14).

Jika kita menyadari bagaimana Tuhan memandang kita, seharusnya kepadaNyalah kita mengarahkan mata kita. Melakukan demikian maka kita tidak akan gampang jatuh dan kehilangan kepercayaan diri. Seperti ayat bacaan hari ini, selalulah berlindung kepada Allah. Selalulah tujukan mata kepada Allah. Bersama Allah tidak akan pernah mengecewakan, karena bagi Dia, kita selalu sangat berharga. Besar atau kecilnya yang kita lakukan, selama itu kita perbuat dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya, itu akan sangat besar nilainya di mata Tuhan. Kita tidak bisa melarang orang untuk mengeluarkan komentar-komentar negatif atas diri kita, namun kita bisa memilih kemana kita mau memandang. Jika demikian, mengapa tidak mengarahkan pandangan kepada Tuhan sekarang juga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: