Orang-Orang Berparas ‘Buruk’

Oleh: John Adisubrata
“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7b)

Akhir-akhir ini dunia sedang dilanda dengan dahsyatnya oleh ‘penyakit menular’ yang bernama: narcissism! Lazimlah bagi banyak orang untuk selalu mendahulukan, mementingkan dan memperhatikan keperluan diri sendiri, sesuai ‘teladan-teladan’ yang dikumandangkan melalui berbagai media oleh para bintang dan orang-orang terkenal lainnya yang dikagumi masyarakat. Kepentingan-kepentingan yang tidak penting, karena bagi (ego) mereka tampak lebih penting, didahulukan di atas segala kepentingan lain yang sebenarnya jauh lebih penting dan berguna bagi kehidupan dan kebaikan bersama. Salah satu di antaranya adalah kefanatikan di bidang penampilan diri!

Keinginan untuk terus-menerus ‘memperindah’ paras atau bentuk tubuh, mengakibatkan banyak orang memilih untuk mendapatkannya secara instan. Akibatnya … klinik para ‘ahli’ bedah plastik di mana-mana selalu dipenuhi oleh pasien-pasien yang memerlukan service mereka dengan segera. Kalau dahulu kebiasaan seperti itu hanya terjadi di kalangan para artis tenar Hollywood saja, sekarang orang-orang biasa juga sudah berlomba-lomba mengikuti teladan mereka.

Sampai saat ini masih banyak orang yang terus berusaha menemukan ‘The Fountain of Youth’ yang semenjak zaman dahulu kala telah menjadi dambaan tokoh-tokoh ceritera-ceritera dongeng, … biasanya raja-raja yang berhasrat ‘memerintah’ untuk selama-lamanya. Mereka berusaha untuk menentang berlalunya waktu dengan memutar kembali jarum-jarum jam yang terus berdetik maju. Keinginan untuk selalu mempunyai penampilan yang segar dan muda, kalau bisa … untuk selama-lamanya, memaksa mereka untuk mengambil jalan-jalan pintas yang tidak natural!

Teman saya yang pernah bekerja sebagai asisten seorang plastic surgeon di kota Brisbane, Australia, berkata, bahwa saat ini bisnis semacam itu sedang berkembang dengan pesat sekali di kota kami. Setiap lunch break klinik di mana ia bekerja selalu dipenuhi oleh pasien-pasien yang bersedia antri dengan sabar, menunggu giliran mereka menerima suntikan-suntikan botox untuk sejenak menghilangkan kerut-merut kulit, baik di wajah mereka maupun di bagian-bagian tubuh yang lain. Umumnya mereka adalah para karyawan kantor di tengah kota yang sedang menggunakan kesempatan waktu istirahat makan siang untuk memperbaiki penampilan mereka.

Pasien-pasien yang mengunjungi klinik itu juga beraneka-ragam sekali! Dari anak-anak remaja dan para lajang yang mulai berumur, sampai ke orang-orang yang sudah berusia amat lanjut. Dan yang paling menakjubkan, … sekarang pelayanan seperti itu bukan hanya dibutuhkan oleh kaum wanita saja, tetapi juga oleh kaum pria yang tidak jarang bertampang cukup ‘macho’!
Tentu saja setiap orang mempunyai alasan-alasan tersendiri yang menyebabkan mereka bersedia melakukan kebiasaan yang jelas tidak bertarif murah tersebut. Tetapi sebuah alasan yang paling umum, yang biasanya dialami oleh setiap orang sebelum mereka bertemu dengan Kristus, adalah ketidak-percayaan akan keunikan diri mereka sebagai umat yang ‘khusus’ diciptakan oleh Tuhan untuk melengkapi rancangan-rancangan-Nya di dunia! Kebanyakan disebabkan oleh karena keyakinan mereka sendiri, bahwa selain mereka berparas tidak/kurang ‘layak’, mereka juga merasa tidak berharga sama sekali. Hal seperti itu umumnya terjadi di kalangan kaum remaja. Saya yakin setiap generasi pernah melaluinya.
Di akhir zaman Iblis bekerja keras untuk terus mengelabui ‘mata’ umat manusia, terutama mereka yang amat vulnerable, yang sedang berdiri di ujung-ujung persimpangan jalan, bingung menentukan jalan yang harus mereka tempuh. Ia ingin agar kita mengikutinya dengan memilih jalan yang sudah ditempuh olehnya, jalan yang akan membawa mereka menjauhi hadirat Tuhan. Ia ingin agar kita justru melakukan hal-hal yang tidak diperkenankan oleh-Nya!

Kitab Kejadian 3:4,5 mengatakan: ‘Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Pada waktu itu ia mempengaruhi Hawa untuk melawan hukum Tuhan dengan menjanjikan sesuatu yang tidak pernah bisa ia berikan kepadanya, yaitu ‘menjadikan Hawa seperti Allah’.

Sekarang menggunakan taktik yang serupa Iblis juga berusaha mempengaruhi umat manusia untuk melawan hukum yang sudah ditentukan oleh Tuhan gara-gara ketidak-taatan Adam dan Hawa di Taman Eden, yaitu ketidak-kekalan hidup sebagai akibat dosa mula-mula yang telah mereka lakukan tersebut. Firman Tuhan mengatakan: “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” (Roma 13:14)

Tetapi kenyataannya, umat manusia justru melakukan kebalikannya. Terpengaruh oleh tipuan Iblis, mereka meninggalkan Tuhan dengan memuaskan keinginan daging yang bersifat sementara. Mereka memilih sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh Iblis kepada mereka, yaitu kekekalan hidup yang hanya bisa diperoleh melalui persekutuan yang intim dengan Tuhan Yesus Kristus!
Kejadian 1 ayat 26a mencatat: ‘Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, …” (Kejadian 1:26a) Raja Daud menulis: ‘Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.’ (Mazmur 139:13-14) Mengapa kita harus percaya kepada tipuan Iblis, jika Tuhan sendiri mengatakan, bahwa kita adalah makhluk yang sudah diciptakan dengan dahsyat dan ajaib, menurut gambar dan rupa-Nya?
Mengingat banyaknya ayat-ayat lain yang serupa, sejujurnya saja, … apakah ada orang-orang tertentu yang bisa kita kategorikan sebagai orang-orang yang berparas buruk, … termasuk kita?
Kira-kira dua tahun yang lalu saya mendengar sebuah ceritera humor yang mengawali khotbah pendeta gereja kami di suatu hari Minggu pagi. Kisah tanpa koneksi dengan tema khotbahnya tersebut berhasil menggelitik hati para jemaat, dan menyebabkan kami semua tertawa terpingkal-pingkal. Inilah kisah yang kami dengar, yang saya juluki: Orang-Orang Berparas ‘Buruk’.
Sebuah bis yang dipenuhi oleh orang-orang berparas ‘buruk’ mengalami kecelakaan fatal di jalan raya. Bis tersebut ditubruk dari depan oleh sebuah truk yang amat besar. Semua yang ada di dalamnya mati seketika itu juga. Sebagai akibatnya … mereka bertemu dengan Tuhan.
Oleh karena penderitaan mereka selama hidup gara-gara ‘keburukan’ wajah mereka, Tuhan merasa iba dan ingin menghibur dengan menjatah setiap orang yang ada di sana sebuah permintaan yang akan dikabulkan oleh-Nya, sebelum mereka masuk ke dalam sorga.
Berderetan mereka berdiri di hadapan-Nya. Kepada orang pertama Tuhan bertanya: “Apakah yang engkau inginkan, anak-Ku?” Tanpa merasa ragu ia menjawab: “Aku ingin menjadi seorang yang berparas cakap.” Tuhan menjamah kepalanya, dan … saat itu juga ia berubah menjadi seorang yang berwajah cakap sekali!
Tercengang melihat permintaan tersebut dikabulkan oleh Tuhan secara instan, ketika ditanya, orang yang berdiri di sebelahnya meniru permohonan rekannya: “Aku juga ingin mempunyai paras yang cakap seperti dia.” Kembali Tuhan hanya menjamah kepalanya saja, dan permohonan orang itu pun langsung dikabulkan!
Yang lain ikut merasa takjub menyaksikan perubahan wajah kedua rekannya. Oleh karena itu mereka juga ingin mempunyai wajah yang cakap seperti itu. Satu-per-satu keinginan-keinginan mereka dikabulkan oleh Tuhan. Tetapi ketika Ia baru melayani setengah jalan, tiba-tiba terdengarlah ledakan tawa seseorang yang berdiri paling akhir di ujung deretan tersebut.
Pada saat masih ada sepuluh orang yang belum menerima giliran mereka, ia sudah bergulung-gulung di bawah, tertawa terbahak-bahak tak terkendalikan lagi.
Akhirnya … berdirilah Tuhan di depannya, lalu bertanya: “Apakah yang menjadi keinginan hatimu, anak-Ku?”
Menenangkan diri sejenak setelah bangkit berdiri, dengan wajah masih tersenyum-simpul penuh kejenakaan ia menjawab: “Jadikanlah paras mereka semua buruk lagi seperti semula!”
Saya ikut tersenyum kala berusaha sebaik mungkin merangkai kata-kata untuk menceriterakan kembali kisah humor ini. Seandainya saja bukan cerita fiksi, meskipun sudah mengetahui sebelumnya, mungkinkah hati Tuhan ikut tergelitik oleh ‘kenakalan’ permintaannya? Saya tahu kisah tersebut tidak mungkin terjadi, sebab intinya saja sudah sangat tidak alkitabiah. Karena Tuhan tidak pernah memandang muka atau menilai kebahagiaan hidup umat ciptaan-Nya melalui penampilan mereka! (1 Samuel 16:7b)
Tuhan selalu menjenguk isi hati manusia terlebih dahulu untuk melihat, ‘Siapakah’ yang bersemayan di sana. Karena hanya Yesus yang menjadi penentu kelayakan mereka untuk bisa bertemu, atau menghadap Bapa di sorga. Hanya Ia saja yang mampu mengubah ‘keburukan’ paras kita untuk selama-lamanya!
Lagipula di sorga, … semua orang sama ‘cakap’-nya, karena dosa-dosa leluhur yang sudah membelenggu hidup dan yang menyebabkan ketidak-sempurnaan (paras atau kharakter) kita sudah ditanggalkan untuk selama-lamanya. Di sana kecantikan atau ketampanan manusia bukan merupakan suatu hal yang penting lagi. Di sana Dia-lah yang paling penting!
Haleluya!
John Adisubrata
Juli 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: