Rain

Dalam Segala Sesuatu Allah Turut Bekerja Untuk Mendatangkan Kebaikan
“I sent rain on one city, and sent no rain on another city; yet you did not return to me, declares the Lord.” (Amos 4:7)

Amos 4:7 – “Akupun telah menahan hujan dari padamu, ketika tiga bulan lagi sebelum panen; Aku menurunkan hujan ke atas kota yang satu dan tidak menurunkan hujan ke atas kota yang lain; ladang yang satu kehujanan, dan ladang, yang tidak kena hujan, menjadi kering”.
Ayat ini menunjukkan bahwa kekeringan / tidak ada hujan maupun hujan / banjir merupakan pekerjaan Tuhan.

Roma 8:28
ALLAH TURUT BEKERJA DALAM SEGALA UNTUK MENDATANGKAN KEBAIKAN
KJV: ‘And we know that all things work together for good to them that love God, to them who are called according to his purpose’ (= Dan kita tahu bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah, untuk mereka yang dipanggil sesuai rencanaNya).

RSV: ‘We know that in everything God works for good with those who love him, who are called according to his purpose’ (= Kita tahu bahwa dalam segala sesuatu Allah bekerja untuk kebaikan dengan mereka yang mengasihiNya, yang dipanggil sesuai rencanaNya).
NIV: ‘And we know that in all things God works for the good of those who love him, who have been called according to his purpose’ (= Dan kita tahu bahwa dalam segala sesuatu Allah bekerja untuk kebaikan dari mereka yang mengasihiNya, yang telah dipanggil sesuai rencanaNya).

NASB: ‘And we know that God causes all things to work together for good to those who love God, to those who are called according to His purpose’ (= Dan kita tahu bahwa Allah menyebabkan segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah, bagi mereka yang dipanggil sesuai rencanaNya).
Rencana Allah dan pelaksanaannya (Providence of God), sekalipun kadang-kadang terlihat tidak enak / tidak menyenangkan, tetapi tujuannya selalu untuk kebaikan kita yang adalah orang percaya (Ro 8:28).

Yer 29:11 – “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.

Ulangan 11:8-3 oleh: Pdt. Budi Asali MDiv
I) Berkat atau kutuk.
1) Lebih baik dari Mesir dalam persoalan pengairan dan bercocok tanam.

a) Ay 10: ‘bukanlah negeri seperti tanah Mesir’.
Mesir adalah negara yang tanpa hujan atau hanya sangat sedikit mendapat hujan, tetapi mereka mendapat air dari banjir tahunan dari sungai Nil.

Keil & Delitzsch: “In Egypt there is hardly any rain at all … The watering of the land, which produces its fertility, is dependent upon the annual overflowing of the Nile” (= Di Mesir hampir tidak ada hujan sama sekali … Pengairan tanah, yang menghasilkan kesuburan, tergantung pada peluapan tahunan dari Sungai Nil) – hal 347.

Matthew Poole: “Egypt, where, as all authors agree, there is little or no rain” (= Mesir, dimana, seperti semua pengarang setuju, hanya ada sedikit hujan atau tidak ada hujan sama sekali) – hal 358.
Ini menyebabkan di Mesir orang harus berjerih payah untuk melakukan pengairan.

Ay 10: ‘harus kauairi dengan jerih payah’.
KJV: ‘and wateresdt it with thy foot’ (= dan mengairinya dengan kakimu).

Kata-kata ‘mengairinya dengan kakimu’ bisa menunjuk pada 2 hal:
• di sawah / ladang mereka ada semacam got-got untuk mengalirkan air. Mereka mengalirkan air ke satu got, dan pada waktu got itu dirasa sudah cukup menerima air, mereka menutup jalan air ke got tersebut, dan membuka jalan ke got lain. Ini semua dilakukan dengan kaki. Dan karena itu dikatakan ‘mengairinya dengan kakimu’.
• mereka menggunakan semacam ‘mesin hidraulis’ yang digerakkan dengan kaki.

Pulpit Commentary: “The reference, perhaps, is to the manner of conducting the water about from plant to plant and from furrow to furrow. … When one place is sufficiently saturated, he pushes aside the sandy soil between it and the next furrow with his foot, and thus continues to do until all are watered. … Or the reference may be to certain kinds of hydraulic machine which were turned by the feet. … Whatever may have been the meaning of Moses, the Hebrews no doubt had learned by bitter experience what it was ‘to water with the foot;’ and this would add great force to the allusion, and render doubly precious the goodly land which drank of the rain of heaven, and required no such drudgery to make it fruitful” (= ) – hal 195.

Barnes’ Notes: “The inhabitants of Egypt probably watered ‘with the foot’ in two ways, viz. by means of tread-wheels working sets of pumps, and by means of artificial channels connected with reservoirs, and opened, turned, or closed by the feet. Both methods are still in use in Egypt” (= ) – hal 292.

Adam Clarke: “the expression, ‘wateredst it with thy foot,’ may mean no more than doing it by labour” (= ) – hal 770.
Kalau kata-kata ini benar, maka ini menjadi seperti terjemahan Kitab Suci Indonesia.

Kanaan berbeda dengan Mesir, karena Kanaan adalah negara dengan bukit dan gunung. Ini menyebabkan mereka tidak mungkin mengadakan pengairan seperti Mesir. Kanaan harus bergantung pada hujan yang diberikan oleh Allah.

Barnes’ Notes: “Canaan as a mountainous country (ch. 3:25 note) was well watered, but by the rains of heaven, on which it absolutely depended for its crops. Artificial irrigation could do nothing to remedy this dependence” (= ) – hal 292.
Ul 3:25 – “Biarlah aku menyeberang dan melihat negeri yang baik yang di seberang sungai Yordan, tanah pegunungan yang baik itu, dan gunung Libanon”.
Juga bdk. ay 11a: “Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah”.

Pulpit Commentary: “Not, like Egypt, a land rainless and artificially watered. It had no Nile. It drank in water from the rains of heaven.

It was thus in a peculiar way a land dependent upon God. Egypt’s fertility depended on God also, but less directly. Its contrivances for irrigation gave it, or might seem to give it, a semi-independence. Palestine was a land, on the contrary, whose peculiar conditions made it dependent for fruitfulness on the direct gift to it of rains from heaven. It was a land requiring a providential adjustment of conditions – a daily care – to make it yield the utmost it was capable of (ver. 12).

The truth here figured is that God wills the believer to put his life day by day under his immediate care. The worldly man may desire, and in a measure may be allowed to attain, a position of relative independence of God: he may get (within limits) the ordering of his own plans and ways, and by ingenious contrivances and manipulations of laws of nature, he may think to put himself beyond the power of God’s interference with him. But the godly man will neither desire this nor be content with it. He wishes God’s eyes to be upon his lot day by day, ‘from the beginning of the year even unto the end of the year.’” [= Tidak seperti Mesir, suatu tanah tanpa hujan dan menggunakan pengairan buatan. Kanaan tidak mempunyai sungai Nil.

Kanaan meminum air dari hujan dari langit. Karena itu, itu merupakan tanah yang secara khusus tergantung kepada Allah. Memang kesuburan Mesir juga tergantung kepada Allah, tetapi secara kurang langsung.

Penemuan / alat irigasi memberinya, atau kelihatannya memberinya, keadaan semi-tergantung. Sebaliknya, Palestina adalah tanah, yang karena keadaannya yang khusus, membuatnya tergantung untuk keberhasilan panennya pada karunia hujan secara langsung dari langit. Itu adalah tanah yang membutuhkan penyesuaian kondisi yang bersifat providensia – suatu perhatian setiap hari – untuk membuatnya menghasilkan hasil sepenuhnya yang mampu diberikannya (ay 12).

Kebenaran yang digambarkan di sini adalah bahwa Allah menghendaki orang percaya untuk meletakkan hidupnya hari demi hari di bawah perhatian / pemeliharan langsung dariNya. Orang duniawi mungkin menginginkan, dan dalam taraf tertentu mungkin diijinkan untuk mencapainya, suatu posisi ketergantungan relatif kepada Allah: ia mungkin mendapatkan (dalam batasan tertentu) pengaturan dari rencana dan jalannya, dan oleh penemuan / alat yang sederhana dan pengaturan hukum-hukum alam, ia mungkin berpikir untuk meletakkan dirinya sendiri di luar kuasa dari campur tangan Allah terhadap dirinya. Tetapi orang yang saleh tidak menginginkan hal ini ataupun puas dengannya. Ia menginginkan mata Allah mengawasi nasibnya hari demi hari, ‘dari awal sampai akhir tahun’] – hal 204-205.

Pulpit Commentary: “The hills of Canaan obtained their irrigation from the springs of heaven, and only obedient faith can unlock these springs” (= Bukit-bukit Kanaan mendapatkan irigasi mereka dari sumber-sumber di surga / langit, dan hanya iman yang taat yang bisa membuka sumber-sumber ini) – hal 207.

Pulpit Commentary: “Canaan was a splendid land in which to train up a spiritual people. It was not naturally so fertile as either the valley of the Nile or the valley of the Euphrates. Hence famine touched it more quickly than either Egypt or Assyria. But it was fitted to foster dependence upon God and hope in him. If the inhabitants were obedient, then the land might flow with milk and honey; if disobedient, it might become brown and bare through the withholding of the rain” (= Kanaan merupakan tanah yang sangat baik untuk melatih bangsa yang rohani.

Secara alamiah Kanaan tidak sesubur seperti lembah sungai Nil atau lembah Efrat. Karena itu bahaya kelaparan lebih cepat menyentuhnya dari pada Mesir atau Asyur. Tetapi itu cocok untuk membantu perkembangan ketergantungan kepada Allah dan pengharapan kepadanya. Jika penduduknya taat, maka tanah itu akan mengalir dengan susu dan madu; jika tidak taat, tanahnya akan menjadi coklat dan gundul karena hujan yang ditahan) – hal 211.

Pulpit Commentary: “If man were asked for no effort, if everything grew to please his taste and palate spontaneously, if daily bread came without even the trouble of asking, it would be a land of danger and of moral death. Better was it for Israel to have themselves bound by a wholesome destiny to dependence on God and co-operation with him, than if the land bore spontaneously all man’s needs” (= Jika seseorang tidak diminta untuk berusaha, jika segala sesuatu tumbuh untuk menyenangkan seleranya dan langit-langit mulutnya secara spontan, jika roti harian datang bahkan tanpa repot-repot meminta, itu akan merupakan tanah berbahaya dan kematian moral. Lebih baik bagi Israel bahwa mereka mendapati diri mereka sendiri diikat oleh nasib / takdir yang sehat pada ketergantungan kepada Allah dan kerja sama dengan Dia, dari pada jika tanah itu secara spontan menghasilkan semua kebutuhan manusia) – hal 211.

Pulpit Commentary: “The idea of ‘independence’ is the great danger of the human heart. We would be indebted to nobody, not even to God, if we could. Alas, for our pride! Now, it so happens that we cannot become independent of God’s bounty, no matter how hard we try.

And it is best so. The land of promise is the land where we depend humbly upon God, and are thus most independent of persons and things around us” (= Gagasan tentang ‘ketidak-tergantungan’ merupakan bahaya yang besar dari hati manusia. Seandainya memungkinkan, kita lebih senang tidak berhutang kepada siapapun, bahkan tidak kepada Allah. Tetapi yang terjadi adalah bahwa kita tidak bisa menjadi tidak tergantung pada karunia / kemurahan hati Allah, tak peduli betapapun kerasnya kita berusaha. Dan itu adalah yang terbaik. Tanah perjanjian adalah tanah dimana kita bergantung dengan rendah hati kepada Allah, dan dengan demikian paling tidak tergantung kepada orang-orang dan hal-hal di sekeliling kita) – hal 211.

Penerapan:
• hidup dengan penghasilan pas-pasan, sehingga setiap hari / saat harus berdoa ‘Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya’.
• Gereja dengan kas yang ngepas, sehingga setiap kali butuh beli sesuatu, harus berdoa kepada Tuhan.
• kesehatan yang pas-pasan, sehingga dalam pekerjaan atau pelayanan harus selalu bergantung kepada Tuhan. Misalnya Paulus dengan duri dalam daging, yang menyebabkan ia bersandar kepada Tuhan.
• bekerja dengan waktu yang ngepas, sehingga selalu harus minta tolong kepada Tuhan untuk membantu penyelesaian pekerjaan tersebut.
• melayani dengan orang-orang yang bahkan terlalu sedikit, sehingga harus selalu berdoa meminta pertolongan Tuhan dalam pelayanan tersebut.

b) Ay 12: “suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun”.
Pulpit Commentary: “It was a land on which Jehovah’s regard was continually fixed, over which he watched with unceasing care, and which was sustained by his bounty; a land, therefore, wholly dependent on him, and so a fitting place for a people also wholly dependent on him, who owed to his grace all that they were and had” (= Itu merupakan tanah yang terus menerus diperhatikan oleh Yehovah, dan yang disokong oleh kemurahan hatiNya; dan karena itu merupakan suatu tanah yang sepenuhnya tergantung kepadaNya, dan dengan demikian merupakan tempat yang cocok untuk suatu bangsa yang juga sepenuhnya tergantung kepadaNya, yang berhutang kepada kasih karuniaNya semua keberadaan mereka dan milik mereka) – hal 195.
c) Ay 14: “maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir”.
1. Hujan memang diberikan oleh Tuhan.
2Taw 7:13a – “Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan”.

Yer 14:22 – “Adakah yang dapat menurunkan hujan di antara dewa kesia-siaan bangsa-bangsa itu? Atau dapatkah langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya TUHAN Allah kami, Pengharapan kami, yang membuat semuanya itu?”.
Yer 51:16 – “Apabila Ia memperdengarkan suaraNya, menderulah bunyi air di langit, Ia menaikkan kabut awan dari ujung bumi, Ia membuat kilat serta dengan hujan, dan mengeluarkan angin dari perbendaharaanNya”.

2. Pemberian hujan merupakan tindakan kebaikan Allah.
Bdk. Mat 5:45 – “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar”.

3. Hujan awal dan hujan akhir.
a. Macam-macam nama.
Hujan awal / pertama juga disebut hujan musim gugur atau hujan pada awal musim.
Hujan akhir / belakangan juga disebut hujan musim semi atau hujan pada akhir musim.
b. Saat dari kedua hujan ini.
Kelihatannya para penafsir berbeda-beda dalam persoalan ini; lihat kutipan-kutipan di bawah.
c. Manfaat dari kedua hujan ini.
Hujan awal bermanfaat untuk membasahi tanah sehingga mereka bisa menanam, dan membasahinya setelah benih ditaburkan. Tanpa hujan awal, tidak akan ada tanaman.
Hujan akhir bermanfaat untuk mengisi bulir-bulir dari tanaman tersebut. Tanpa hujan akhir, tidak ada panen.

Pulpit Commentary: “‘The first rain;’ the rain which falls from the middle of October to the end of December, which prepares the soil for the seed, and keeps it moist after the seed is sown. ‘The latter rain;’ that which falls in March and April, about the time when the grain is ripening for harvest; during the time of harvest no rain falls in Palestine” (= ) – hal 195.

Adam Clarke: “By the ‘first or former rain’ we are to understand that which fell in Judea about November, when they sowed their seed, and this served to moisten and prepare the ground for the vegetation of the seed. The ‘latter rain’ fell about April, when the corn was well grown up, and served to fill the ears, and render them plump and perfect. Rain rarely fell in Judea at any other seasons than these. If the ‘former rain’ were withheld, or not sent in due season, there could be no vegetation: if the ‘latter rain’ were withheld, or not sent in its due season, there could be no full corn in the ear, and consequently no harvest” (= ) – hal 770.
P. C. Craigie (NICOT): “the two terms indicate the beginning and the end of the rainy season in Palestine, extending approximately from October to April” (= ) – hal 210.

Barnes’ Notes: “The former is the proper term for the autumn rain, falling about the time of sowing, and which may be named ‘the former,’ as occurring in the early part of the Hebrew civil year, viz. in October and November. The other word is applied to the spring rain, which falls in March and April, because it fits the earth for the ingathering of harvest. Between these two wet periods, and except them, there were little or no rain in Canaan” (= ) – hal 293.

J. A. Thompson (Tyndale): “The autumn rains in October- November broke the summer drought and made ploughing possible. The spring rains in March-April were the last before the summer and brought a green coat to the whole land. Between these two periods there was other rain in normal seasons. Indeed, the rain that fell between the two kinds of rain described here was, in some ways, the most important and it came in storms and showers during the whole rainy period” (= ) – hal 154.

Yer 5:24 – “Mereka tidak berkata dalam hatinya: Baiklah kita takut akan TUHAN, Allah kita, yang memberi hujan pada waktunya, hujan pada awal musim maupun hujan pada akhir musim, dan yang menjamin bagi kita minggu-minggu yang tetap untuk panen”.

Yoel 2:23 – “Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikanNya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkanNya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu”.

Amos 4:7 – “‘Akupun telah menahan hujan dari padamu, ketika tiga bulan lagi sebelum panen; Aku menurunkan hujan ke atas kota yang satu dan tidak menurunkan hujan ke atas kota yang lain; ladang yang satu kehujanan, dan ladang, yang tidak kena hujan, menjadi kering;”.
Yak 5:7 – “Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi”.

d) Kalau mereka tidak taat, Tuhan akan menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan tanah tidak mengeluarkan hasil (ay 17).
2) Panjang umur di negeri perjanjian.
Ay 21: “supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi”.

Terjemahan Kitab Suci Indonesia agak kurang tepat.
KJV: ‘as the days of heaven upon the earth’ (= sebanyak hari-hari dari langit di atas bumi).
NIV: ‘as many as the days that the heavens are above the earth’ (= sebanyak hari dimana langit ada di atas bumi).
Artinya: selama-lamanya.

3) Pemberian seluruh tanah Kanaan.
Ay 24: “Setiap tempat yang diinjak oleh telapak kakimu, kamulah yang akan memilikinya: mulai dari padang gurun sampai gunung Libanon, dan dari sungai itu, yakni sungai Efrat, sampai laut sebelah barat, akan menjadi daerahmu”.

Ay 24a (yang saya garis bawahi) dibatasi oleh ay 24b.
Matthew Poole: “‘Every place;’ not absolutely, as if the Jews should be lords of all the world, as the rabbins fondly conceit; but in the Promised Land, as it is restrained in the following words” (= ) – hal 358.

Bandingkan dengan:
• Yos 1:3-4 – “Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa. Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu”.

• Bil 34:1-12 – “TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Perintahkanlah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila kamu masuk ke negeri Kanaan, maka inilah negeri yang akan jatuh kepadamu sebagai milik pusaka, yakni tanah Kanaan menurut batas-batasnya. Adapun sisi selatanmu ialah dari padang gurun Zin menyusur Edom, maka batas selatanmu mulai dari ujung Laut Asin di sebelah timur.

Lalu batasmu membelok di selatan pendakian Akrabim, terus ke Zin dan berakhir di sebelah selatan Kadesh-Barnea. Sesudah itu ia mencapai Hazar-Adar, dan terus ke Azmon. Kemudian batas itu membelok dari Azmon ke sungai Mesir dan berakhir ke laut. Batas baratmu ialah laut besar dan pantainya; itulah batas baratmu.

Inilah batas utaramu: mulai dari laut besar haruslah kamu buat tanda batas ke gunung Hor, dari gunung Hor harus kamu buat tanda batas ke jalan yang menuju ke Hamat, lalu batas itu mencapai Zedad. Kemudian batas itu mencapai Zifron dan berakhir di Hazar-Enan; itulah batas utaramu.

Sebagai batasmu di sebelah timur haruslah kamu membuat tanda batas dari Hazar-Enan ke Sefam. Dari Sefam batas itu turun ke Ribla, di sebelah timur Ain; kemudian batas itu turun lagi dan mencapai tebing danau Kineret di sebelah timur. Lalu batas itu turun ke sungai Yordan dan berakhir di Laut Asin. Itulah negerimu menurut batas-batasnya sekeliling.”

Ini digenapi pada jaman Salomo. Bdk. 2Taw 9:26 – “Dan ia memerintah atas semua raja mulai dari sungai Efrat sampai negeri orang Filistin dan sampai ke tapal batas Mesir”.

Catatan: Bentuk berkat-berkat Tuhan bagi kita dalam jaman Perjanjian Baru bisa berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: