Tema BEM Sarawak tahun ini ialah Memberi dan Mengutus

P12-01-13_20.35
Kanada Hill Church

Latar Belakang Gereja di Korintus
1 Korintus 8:1-1

Saat Paulus menulis surat ini (sekitar tahun 56-58 M), ada kemungkinan Korintus adalah kota terkemuka sesudah Athena. Korintus ibu kota Akhaya Romawi, menampakkan semua ciri sebagai sebuah kota perdagangan dengan penduduk campuran [plural] dan aktif. Sebagai sebuah kota Yunani yang dibangun kembali oleh orang Roma dibawah pimpinan Yulius Caesar tahun 49 M, Korintus memiliki segala hal yang positif dan negatif sebagai ibu kota kafir yang sedang bergejolak. Terjadi juga sinkritisme keagamaan di sana [percampuran Yahudi, Romawi dan Yunani].

Paulus tinggal lebih lama di kota Korintus (sekitar delapan belas bulan menurut Lukas dalam Kis.18:11) daripada tempat lain. Jemaat Korintus rupanya terdiri dari orang Kristen, Yahudi dan Yunani. Dalam konteks kota yang kompleks ini [percampuran agama, budaya, pengetahuan dan kekafiran], hadir dan juga sedang berkembang kekristenan
1 Korintus 1:1-9
Dalam surat Korintus ada banyak prinsip penting tentang melayani Tuhan yang sangat praktikal. Jemaat di Korintus sendiri memiliki keunikan dan juga merupakan jemaat yg problematis. Paulus banyak berduka cita dalam melayani jemaat ini. Ketika kita membaca tentang jemaat Korintus yang banyak masalah, kita bisa berpikir seharusnya Paulus tidak melayani jemaat seperti itu karena hanya mempermalukan kerasulan dia dan apakah tidak sebaiknya dia mencari jemaat yang lebih baik saja, jemaat yg lebih ‘mengkonfirmasi’ panggilan dia sebagai rasul? Tapi saat kita membaca kalimat pertama Surat Korintus kita sangat kagum dengan pikiran Paulus. Mungkin kita tidak terlalu menyadari kebesaran kalimat pertama ini jika kita tidak melihat keseluruhan konteks pelayanan Paulus dalam jemaat Korintus yang dapat dikatakan ‘cukup mengecewakan’ ini. Paulus memulai surat ini dengan satu kalimat yang jelas yaitu:
“ Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus,… .” [1 Kor 1:1]
Ini merupakan prinsip yang penting karena semua panggilan pelayanan kita adalah dari Tuhan. Dan itulah yang sebenarnya memberikan kekuatan kepada kita dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang muncul. Karena tidak ada pelayanan tanpa kesulitan, semua pelayanan yang benar-benar disertai Tuhan pasti ada kesulitan, baik itu dari setan, orang-orang lain, atau bahkan diri sendiri. Demikian di dalam diri Paulus, dia juga mengalami kesulitan karena sebagian jemaat Korintus tidak percaya bahwa Paulus adalah seorang rasul, mereka mempertanyakan kerasulan Paulus. Paulus begitu susah hidupnya karena walaupun tidak dipercaya, dia tetap harus melayani jemaat yang seperti itu.

Mengapa dalam diri Paulus ada kekuatan? Karena ia sangat jelas bahwa panggilannya adalah dari kehendak Allah dan bukan karena dia yang pilih atau mempunyai ambisi sendiri, melainkan karena Allah yang meletakkan dia di situ. Meskipun berat, Paulus tetap menyatakan diri sebagai rasul atau pelayan Tuhan yang setia. Dalam kehidupan pelayanan kita (tidak hanya gerejawi tapi juga dalam totalitas aspek kehidupan), bagaimana kita menjadi orang yang terus terpacu? Saat kita sadar bahwa pelayanan yang dipercayakan Tuhan adalah pelayanan yang berasal dari kehendak Tuhan.

Paulus bergumul di tengah kondisi yang sangat kacau (dan tentunya dia sudah tidak di Korintus lagi), namun ia tetap berusaha untuk menulis surat dan menanggung beban persoalan jemaat itu. Sekali lagi di sini kita belajar dari integritas pelayanan seorang hamba Tuhan, yang justru tampil ke depan ketika kesulitan sedang terjadi.

“ kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita. ” [ 1 Kor 1 : 2 ]
Paulus tetap menyebut orang-orang Korintus sebagai orang-orang yang kudus walaupun sebenarnya secara kondisi mereka tampaknya tidak mencerminkan kehidupan yang kudus. Paulus tetap menyebut orang-orang kudus karena mereka adalah orang-orang yang dikuduskan di dalam Kristus Yesus. Apakah karakter atau milik yang paling indah dari seseorang? Pertama-tama bukan kualitas subjektifnya melainkan kenyataan objektif bahwa Yesus Kristus telah menebusnya. Itu juga yang memberi kekuatan bagi Paulus untuk tetap melayani mereka.

Seringkali dalam hubungan dengan orang lain, ketika kita melihat berbagai kelemahan yang muncul, kita lalu mengundurkan diri dari hubungan tersebut. Paulus bisa saja mengalami hal seperti itu tetapi dia berusaha untuk tetap melihat fakta objektif bahwa Yesus telah menguduskan mereka dan Yesus Kristus telah memulai kehidupan baru di dalam hidup mereka. Paulus melihat Yesus yang ada di dalam jemaat Korintus. Paulus menekankan obyektivitas kekudusan yaitu mereka merupakan orang-orang yang sudah dikuduskan secara status meskipun secara kondisi mereka masih dalam proses pengudusan, sampai kita semua mencapai kekudusan yang sempurna ketika kita bersama dengan Tuhan di dalam sorga.

Mengapa Paulus perlu menyebut hal ini (orang Korintus sebagai orang kudus)? Karena masalah identitas adalah masalah yang penting. Orang yang tidak mengenal identitas diri akan berkelakuan tidak sesuai dengan identitasnya sehingga melakukan hal-hal yang memalukan. Paulus mengungkapkan hal ini pada jemaat Korintus, yang selain memberikan dorongan kekuatan (encouragement), yaitu bahwa mereka sekalipun masih bisa berdosa tetapi secara identitas tetap adalah orang kudus, namun juga sekaligus merupakan suatu teguran agar mereka sadar identitas diri yang sesungguhnya.

“ Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. ” [ 1 Kor 1 : 3 ]

Paulus menyatakan kesabarannya bukan dari dirinya sendiri, melainkan karena kasih karunia Allah yang menyertai. Bukan kehebatan pelayanan Rasul Paulus tapi hanya karena Tuhan saja, itulah yang menjadikan pelayanannya sangat diberkati Tuhan.
“ Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. ” [ 1 Kor 1 : 5-6 ]

Orang-orang Korintus adalah orang yang luar biasa dengan kebudayaan dan kesempatan pendidikan yang tinggi, ahli dalam perkataan dan retorika, sementara kelemahan Paulus adalah dia bukan orang yang fasih berbicara. Paulus tetap mengucap syukur akan hal ini, dia tidak menjadi minder walaupun perkataan dan pengetahuan orang-orang Korintus itu membuat mereka congkak dan sombong. Paulus merupakan hamba Tuhan yang luar biasa, walaupun tidak ada alasan tetapi dia tetap bisa mengucap syukur. Orang yang senantiasa mengucap syukur tidak akan pernah kekurangan melihat anugerah Tuhan.

Kasih Karunia (Kharis)
“Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.(1)
Dalam ayat 1 rasul Paulus memberitahukan kepada jemaat Korintus tentang kasih karunia yang dianugerahkan (diberikan) oleh Allah kepada jemaat-jemaat “Makedonia”.[16] Kasih karunia tersebut adalah pelayanan kasih. Mengapa demikian? Karena kata “kasih karunia” dalam bahasa Yunaninya disebut “kharis” yang juga berarti anugerah, pemberian dan kemurahan hati.[17]

Menariknya dalam ayat 6 kata “pelayanan kasih” juga memakai kata “kharis”. Jadi disinilah letaknya mengapa kasih karunia yang ada pada jemaat Makedonia merupakan pelayanan kasih? Karena kata “pelayanan kasih” dalam ayat 6 juga memakai kata “kharis” yang dipakai juga dalam ayat 1.

Kaya Dalam Kemurahan
“Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan” (2)

Meskipun sangat miskin dan dicobai dengan berat sehingga berada dalam berbagai penderitaan namun rupa-rupanya jemaat-jemaat Makedonia kaya dalam kemurahan. Kemurahan dalam bahasa Yunaninya adalah “haplotes” yang juga bisa berarti keiklasan. Secara keseluruhan dalam pasal 8-9 terdapat 4 kata kemurahan. Pertama dalam pasal 8: 2 “…namun mereka kaya dalam kemurahan.” Kedua dalam pasal 9: 5 “… sebagai bukti kemurahan hati kamu dan bukan sebagai pemberian yang dipaksakan.” Ketiga dalam pasal 9: 11 “…diperkaya dalam segala kemurahan hati.” Keempat dalam pasal 9: 13 “… karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu.”

Penyebutan kemurahan hati sebanyak empat kali oleh rasul Paulus di pasal 8-9 dalam kaitannya dengan pelayanan kasih sebenarnya memberikan penekanan bahwa pelayanan kasih itu sendiri harus didasari oleh kemurahan hati. Bahkan dalam pasal 9: 13 rasul Paulus mengatakan ketika pelayanan kasih tersebut didasari oleh kemurahan hati maka Allah akan semakin memperkaya dalam segala macam kemurahan hati.

Memberi Menurut Kemampuan Bahkan Melampaui
“ Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.” (3)
Dalam ayat ini rasul Paulus bersaksi bahwa jemaat Makedonia telah memberikan menurut kemampuan mereka bahkan melampaui kemampuan mereka. Dalam pelayanan kasih dasar memberi yang pertama adalah memberi sesuai dengan kemampuan. Dasar memberi sesuai dengan kemapuan inilah yang kemudian dipakai oleh rasul Paulus untuk menasehati jemaat Korintus supaya dalam pelayanan kasihnya mereka juga memberikan sesuai dengan “apa yang ada padamu bukan apa yang tidak ada padamu.” (12b).

Kedua adalah memberikan melampaui kemampuan mereka. Kalimat “kemampuan mereka” ini dalam bahasa aslinya adalah “dunamin autharetoi” secara kaku berarti “kemampuan dari kemauan sendiri.” Jadi dalam pelayanan kasih sebenarnya boleh juga memberikan melebihi kemapuan asalkan itu berasal dari kemauan kita sendiri bukan paksaan apalagi untuk kesombongan.

Memberi sesuai dengan kemampuan dan kemauan sendiri menjadikan mereka memberi dengan kerelaan hati (ayat 4). Memberi dengan cara yang demikian bukanlah perintah dari Paulus, perhatikanlah bahwa mereka meminta dengan sangat supaya mereka mendapat kesempatan untuk ikut memberikan bantuan itu. Jadi merekalah yang menjadi “peminta”, yang “meminta kesempatan” untuk “memberi bantuan itu”.

Memberikan Diri Pertama-tama Kepada Allah
“Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami”(5)
Jemaat-jemaat Makedonia memberikan lebih daripada yang Paulus telah harapkan atau dapat harapkan. Alasannya ialah bahwa mereka memberikan diri mereka, “pertama-tama kepada
Allah.”
“Pelayanan kasih memanggil penyerahan diri. Kehidupan yang diserahkan Allah.”[18] kepada Tuhan itu penuh dengan pemberian bagi orang lain.”[19] Jadi dalam pelayanan kasih sebelum memberikan apa yang kita miliki kepada orang lain pertama-tama kita harus memberikan diri kita (jemaat) terlebih dahulu kepada Allah.

Memberi dan Mengutus

Tema BEM Sarawak tahun ini ialah Memberi dan Mengutus
2 KORINTUS PASAL 8 – 9
Titus diutus
8:16 Syukur kepada Allah, yang oleh karena kamu mengaruniakan kesungguhan yang demikian juga dalam hati Titus untuk membantu kamu. 8:17 Memang ia menyambut anjuran kami, tetapi dalam kesungguhannya yang besar itu ia dengan sukarela pergi kepada kamu. 8:18 Bersama-sama dengan dia kami mengutus saudara kita, yang terpuji di semua jemaat karena pekerjaannya dalam pemberitaan Injil. 8:19

Dan bukan itu saja! Ia juga telah ditunjuk oleh jemaat-jemaat untuk menemani kami dalam pelayanan kasih ini, yang kami lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai bukti kerelaan kami. 8:20 Sebab kami hendak menghindarkan hal ini: bahwa ada orang yang dapat mencela kami dalam hal pelayanan kasih yang kami lakukan dan yang hasilnya sebesar ini. 8:21 Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia. 8:22

Bersama-sama dengan mereka kami utus seorang lain lagi,yakni saudara kita, yang telah beberapa kali kami uji dan ternyata selalu berusaha untuk membantu. Dan sekarang ia makin berusaha karena besarnya kepercayaannya kepada kamu. 8:23 Titus adalah temanku yang bekerja bersama-sama dengan aku untuk kamu; saudara-saudara kami yang lain itu adalah utusan jemaat-jemaat dan suatu kemuliaan bagi Kristus. 8:24 Karena itu tunjukkanlah kepada mereka di hadapan jemaat-jemaat bukti kasihmu dan bukti kemegahanku atas kamu.

Pengumpulan uang untuk Yerusalem
9:1 Tentang pelayanan kepada orang-orang kudus tidak perlu lagi aku menuliskannya kepada kamu. 9:2 Aku telah tahu kerelaan hatimu tentang mana aku megahkan kamu kepada orang-orang Makedonia. Kataku: “Akhaya sudah siap sedia sejak tahun yang lampau. ” Dan kegiatanmu telah menjadi perangsang bagi banyak orang. 9:3 Aku mengutus saudara-saudara itu, agar kemegahan kami dalam hal ini atas kamu jangan ternyata menjadi sia-sia, tetapi supaya kamu benar-benar siap sedia seperti yang telah kukatakan, 9:4 supaya, apabila orang-orang Makedonia datang bersama-sama dengan aku, jangan mereka mendapati kamu belum siap sedia, sehingga kami–untuk tidak mengatakan kamu–merasa malu atas keyakinan kami itu. 9:5 Sebab itu aku merasa perlu mendorong saudara-saudara itu untuk berangkat mendahului aku, supaya mereka lebih dahulu mengurus pemberian yang telah kamu janjikan sebelumnya, agar nanti tersedia sebagai bukti kemurahan hati kamu dan bukan sebagai pemberian yang dipaksakan.


Memberi dengan sukacita membawa berkat

9:6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu , supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

Jemaat di Korintus dikatakan kaya dalam segala sesuatu berbanding jemaat di Makedonia.Rasul Paulus memberi teguran kepada jemaat di Korintus tentang kelemahan mereka dalam memberi untuk pelayanan Tuhan.Sikap yang ditunjukkan oleh jemaat di Makedonia adalah bukti kasih karunia yang ada pada mereka.Mereka memberi bukan dalam waktu mereka dalam kelebihan.Mereka tetap memberi sekalipun mereka miskin.Mereka tidak melihat kesusahan mereka sebagai alasan untuk tidak memberi.Buah kemurahan yang ditunjukkan oleh jemaat di Makedonia ialah buah roh.(Galatia 5).

Jemaat Korintus hebat dalam segala karunia namun tidak dipraktikkan.Sewaktu bersama Paulus orang Makedonia mendesak untuk membantu dan memberi bagi jemaat di Yerusalem yang sedang menderita kekurangan.Kesempatan untuk memberi terus mereka raih tanpa menunggu mereka berlebihan.Saat ini banyak orang yang minta “discount”dalam memberi untuk pekerjaan Tuhan.Hal ini sungguh memalukan.

Ayat 8 bukan satu “PERINTAH”.Paulus menguji keiklasan kasih mereka.Gereja Korintus hanya menunggu perintah untuk memberi.Saat orang Makedonia mendengar tentang Yerusalem yang sedang menderita kekurangan mereka terus berkumpul dan memberi.(Pasal 9:ayat 7)Memberi dengan kerelaan bukan paksaan.Orang Korintus suka bersungut.Apakah sikap jemaat Korintus ini menjadi tabiat gereja hari ini?Mari kita lihat apakah kita seperti orang Korintus atau Makedonia.Korintus adalah abang dan Makedonia seumpama adik.Sikap orang Makedonia adalah buah IMAN kita.Semoga kita dapat menerapkannya dalam kehidupan.
Sumber:Pr Tujok Laing
13 Januari 2013
Kanada Hill Church,
Miri,Sarawak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: