Testimony of a Transformed Life

390-INDRI-PARDEDE-11Indri Pardede: Uang Bukanlah Segalanya

Tahun 1994, Indri yang berhasil meraih gelar doktor dengan prestasi cum laude di Amerika membuka sebuah hotel dan diskotik di satu kota di Indonesia.

http://charismachrist.blogspot.com/2013/02/ps-indri-pardede-summit-gms_8.html

“Usahanya sangat maju. Usahanya itu sangat enak. Punya uang tapi ga perlu capek. Makanya aku ketawa ngeliat orang yang suka lembur sampai mati-matian. Ngapain? goblok aku bilang. Aku dapat dengan ongkang-ongkang, bisa dapat ratusan juta sekian bulan. Aku ga tahu itu salah. Aku hanya menyediakan fasilitas. Yang penting orang mau nikmatin, dia masuk neraka bukan aku. Yang penting aku tidak melakukan,” kata Indri Pardede mengenang masa lalunya.

Usaha diskotik yang dijalankan oleh Indri setiap harinya mengalami keuntungan yang besar dan dia menikmati usaha yang dikerjakannya tersebut. Indri tidak peduli dengan akibat usaha yang dikembangkannya saat itu. Dia menganggap uang adalah diatas segala-galanya.

Uang yang melimpah, pesta pora, dan foya-foya menjadi gaya hidupnya. Namun, rasa takut membelenggunya. Ketakutan karena apa yang dilakukannya dengan membuka usaha diskotik itu salah dan dia merasa bila saat ini nyawanya dicabut, dia akan masuk neraka. Tetapi, dia tidak tahu bagaimana jalan keluarnya. Untuk mengurangi rasa ketakutannya, Indri menggunakan valium setiap keluar rumah.

Selama empat tahun menjalankan usaha diskotik, hidup Indri tidak pernah tenang. Setiap malam datang, pikirannya selalu diliputi ketakutan bila suatu saat pihak kepolisian menggerebek tempatnya. Indri harus menyiapkan uang sewaktu-waktu bila ada penggerebekan dari pihak kepolisian. Dia menganggap bahwa hal yang dilakukannya saat itu adalah benar karena dia masih hidup di dunia ini dan agar usahanya lancar maka dia perlu dibackingi oleh pihak tertentu.Berpikir bahwa uang adalah segala-galanya, membawa kehidupan Indri ke dalam tepi jurang kehancuran.

Diany, putri dari Indri pardede merasa bahwa dia seperti anak pembantu saja karena dia tidak dapat bertemu dengan mamanya dan papanya yang sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Tidak hanya itu, kehidupan rumah tangga diambang kehancuran karena Indri dan suaminya saling bersikap curiga.

Keributan, kekacauan dan masalah silih berganti menimpa hidup Indri. Penyakit mulai menyerang hidupnya. Tubuhnya menjadi kurus kering dan wajahnya menjadi seperti panji tengkorak. Untuk memulihkan keadaannya seperti semula pun, memerlukan waktu satu tahun. Sehabis dari penyakit itu, Indri mengalami koma karena tidak dapat membuang angin. Karena hal ini, Indri harus diterbangkan ke rumah sakit di Singapura.

Begitu banyak uang dikeluarkan oleh Indri, namun prahara tak kunjung berhenti. Usaha hotel yang dipunyainya hangus terbakar sehingga dia tidak punya pendapatan. Persoalan utang pun melilit hidupnya. Harta yang dimilikinya mulai berkurang satu persatu. Bahkan untuk proses kelahiran anak keempatnya, dia tidak dapat membayarnya. Agar dapat melahirkan anaknya dengan selamat di rumah sakit, Indri harus merelakan emas dan barang-barang berharga lainnya dijual kepada pihak lain.

Sementara Indri dalam kesendiriannya, dia merasa putus. Bahkan dia berkeinginan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, hal tersebut gagal. Ada seorang yang datang ketika dia sedang dalam rumah sakit, waktu akan melahirkan. Orang tersebut mengatakan bahwa hidupnya itu spesial, berharga di mata Tuhan.

Terjadi pergulatan di dalam diri Indri. Dia menganggap adalah hal mustahil, Tuhan mau mengampuni dirinya yang penuh dengan dosa, mengubah kehidupannya yang berantakan bahkan melakukan mukjizat pada bayinya dapat lahir normal setelah pihak dokter mengatakan bahwa bayinya akan lahir dengan cacat. Namun, Indri mengambil komitmen, jika anak yang dilahirkannya itu lahir tanpa cacat, maka dia akan mengaku bahwa Tuhan itu ada.

Mukjizat pun terjadi!! Bayi yang dikandungnya lahir dengan normal tanpa ada cacat sedikit pun. Disitulah Indri merasa bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Dia menangis kepada Tuhan, mengakui segala kesalahannya dan meminta Tuhan untuk melayakkan dia kembali menjadi anak-Nya.
Sejak mengambil keputusan untuk meninggalkan kehidupan lamanya maka mukjizat demi mukjizat terjadi dalam hidup Indri Pardede. Setiap harta yang terhilang, Tuhan ganti semua, bahkan keluarga yang dulunya tidak harmonis, Tuhan pulihkan.

(kisah ini telah ditayangkan 24 April 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel)
Sumber Kesaksian:
Indri Pardede

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: