Dalam Penyangkalan Diri Ada Pengorbanan

images (67)
MENYANGKAL DIRI (1)

“Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23)

Bagi saya, tidak menjadi soal apa yang kalian – atau siapapun – juga pikirkan tentang diri saya. Malah apa yang saya sendiri pikirkan mengenai diri saya sendiri pun tidak menjadi soal.

1 Korintus 4:3

Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran , dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; (2 Korintus 6:4,5)

Ada tiga hal yang menjadi persyaratan untuk menjadi pengikut Kristus yakni; menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus. apa yang dimaksud dengan menyangkal diri?Menyangkal diri berarti tidak mengakui diri sendiri atau “aku seolah-olah bukan aku”. dalam penyangkalan diri ada dua tindakan yang dilakukan secara paralel yakni: mengosongkan diri dan melepaskan ke-aku-an.Mengosongkan diri adalah ketika kita menjadi bukan siapa-siapa, menjadi tidak punya apa-apa. orang yang berhikmat merasa tidak memiliki hikmat, orang yang memegang jabatan tinggi merasa tidak menjadi apa-apa. mengosongkan diri adalah menghilangkan segala milik, segala kebanggaan maupun kekurangan yang kita miliki.Mengosongkan diri adalah tingkat kerendahan hati yang paling dalam dimana kita menganggap semua orang lebih penting dan lebih tinggi dari kita.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:5-8) Saat kita mengosongkan diri, kita seperti bejana kosong yang siap diisi dengan anggur baru Tuhan yakni segala hikmat, didikan, berkat dan segala yang baik dari Tuhan. Jika kita mau diisi terus oleh segala yang Tuhan mau limpahkan pada kita, maka bejana diri kita harus selalu kosong karena bejana penuh tidak dapat diisi lagi.”Lalu berkatalah Elisa: “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!” Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang.

Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya kepada ibunya: “Tidak ada lagi bejana.” Lalu berhentilah minyak itu mengalir. ” (2 Raja 4:3-6) Minyak berhenti mengalir saat semua bejana telah penuh dan tidak ada lagi yang kosong. Orang yang tinggi hati adalah bejana yang penuh. sebuah contoh sederhana, seorang gembala yang sudah puluhan tahun memimpin jemaat, enggan menerima hikmat dari seorang awam yang masih muda karena ia merasa lebih berhikmat dan lebih berpengetahuan dari orang muda ini, padahal saat itu Tuhan sedang memakai orang muda itu untuk memberikan berkat dan hikmat baru kepadanya. seandainya gembala ini mengosongkan diri ia akan menerima hikmat yang dari Tuhan itu tapi karena ia tinggi hati dan menjadi bejana yang penuh, maka hikmat Tuhan itu lewat begitu saja dari hidupnya. sayang bukan?”Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.” (Mazmur 25:9)

“Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.” (Amsal 11:2)

“hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri” (Filipi 2:3)
Mengosongkan diri adalah juga penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, baik hidup, tubuh, roh, jiwa, pikiran, akal budi, kehendak bebas, keinginan, kelemahan, kelebihan dan segala sesuatu yang ada pada kita. Dengan kata lain, kita adalah milik Kristus dalam arti yang sebenar-benarnya.”Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah.” (1 Korintus 3:23) “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” (Galatia 5:24)

Segala keinginan dan kehendak kita yang muncul, kita letakkan di kaki Tuhan tanpa meminta untuk dikabulkan. jadi cukup kita letakkan dan biarkan Tuhan bebas memutuskannya. apapun hasilnya kita terima dengan senang hati. Begitu juga dengan permasalahan, pergumulan, kerinduan dan yang lainnya, letakkan di kaki Tuhan dan biarkan kehendak bebas Tuhan yang menentukan bagi kita.Penyerahan diri total sebenarnya dilandasi kepercayaan penuh kepada Tuhan bahwa Tuhan lebih bijaksana dan lebih mengetahui segalanya dibanding kita dan bahwa Tuhan sungguh mengasihi kita sehingga Ia pasti akan berikan keputusan yang terbaik bagi kita. penyerahan diri seperti seorang kanak-kanak yang percaya penuh kepada Bapa-nya apapun keputusan dan apapun yang diberikan kepadanya oleh Bapa-nya.

“Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.” (Mazmur 37:5-6)
Jadi, dalam pengosongan diri ada kerendahan hati dan penyerahan diri secara total. sejalan dengan pengosongan diri ini, ada pelepasan ke-aku-an dalam penyangkalan diri.Melepaskan ke-aku-an berarti menghilangkan segala perasaan yang berhubungan dengan “aku” seperti perasaan aku tersinggung, aku malu, aku tidak mau, aku sakit, aku takut, dan sebagainya. Kita berlaku seolah-olah bukan diri kita lagi. Kita hanya berpikir, bertindak dan berkata-kata sesuai yang Tuhan kehendaki. dalam pelepasan ke-aku-an ini kehendak dan kepribadian kita seolah sudah tidak ada lagi.

Kalau Tuhan meminta kita untuk menari di tengah-tangah jemaat misalnya tidak ada keraguan dan tidak akan berkata, aku malu. jika orang memperlakukan kita seenaknya dan menyakiti kita, tidak ada perasaan aku tersinggung, aku sakit hati, aku marah, dan seterusnya. seolah-olah kita seperti mati rasa, tidak punya perasaan atau emosi pribadi lagi.”kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini. Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!” (1 Korintus 4:12-13, 16)”Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?” (1 Korintus 6:7)Melepaskan ke-aku-an berarti menjadi orang yang merdeka, orang yang bebas seutuhnya.

orang lain tidak akan bisa membuat kita marah, sedih, takut atau malu karena sikap hati kita tidak lagi tergantung pada orang lain. melepaskan ke-aku-an adalah benteng pertahanan yang ampuh dalam menahan serangan “sampah” dari orang lain karena sikap kita tidak lagi merupakan respon duniawi terhadap orang lain. Anda memberi respon yang sama saat orang mencaci dan saat orang memuji.Melepaskan ke-aku-an itu seperti seorang yang sedang bermain drama. Di atas panggung, segala ke-aku-annya ditanggalkan. Ia menjadi orang lain yang ia perankan. begitu juga kita dalam kehidupan nyata. Dunia ini adalah panggung drama dan kita memerankan orang lain, dan orang itu adalah Kristus Yesus, Tuhan kita. segala ke-aku-an kita tanggalkan dan kita menjadi pribadi Yesus sendiri.”namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20)

“Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” (Kolose 3:3)Jadi, melepaskan ke-aku-an berarti kita tidak lagi menjadi diri kita sendiri tetapi kita memerankan Yesus Kristus, dan itu berarti kita harus paham betul sikap, sifat, pandangan, perasaan dan tindakan Yesus. Kita harus benar-benar mengenali Yesus yang kita perankan, dan ini butuh kebersamaan, kedekatan secara terus menerus dengan Yesus. Baca kitab suci, doa, dan hubungan akrab setiap saat dengan Yesus adalah mutlak diperlukan dalam proses ini.
Maka, menyangkal diri boleh dikatakan sebagai pelepasan dan penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan sehingga kita menjadi kosong dan sebagai gantinya kita dipenuhi oleh pribadi Yesus yang kita hadirkan dan kita perankan di dunia ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: