LATIHAN ROHANI


Ringkasan Khotbah : 18 April 2010

The Art of Pleasing God

Nats: 1Tesalonika 4:1-12

Pengkhotbah : Ev. Warsoma Kanta 

103519uzx10xx21l3lt1f7Nats Alkitab kita pada hari ini merupakan suatu babak yang akan mengejutkan kita pada saat membacanya. Di pasal-pasal sebelumnya dari 1Tesalonika ini, jemaat di Tesalonika diungkapkan oleh Paulus sebagai jemaat yang luar biasa dan menjadi jemaat teladan, bahkan tidak hanya di wilayah Tesalonika tetapi juga di wilayah Makedonia dan Akhaya, bukan sekedar bagi sekelompok orang saja tetapi juga bagi setiap orang percaya. Jemaat di Tesalonika juga menjadi suatu trade-mark dari pelayanan Paulus yang menyatakan bahwa pelayanan Paulus tidaklah sia-sia. Beberapa orang setelah membaca 1Tesalonika 4:1 mulai mempertanyakan: apakah hal itu menunjukkan adanya dualisme pada jemaat di Tesalonika. Beberapa penafsir mengatakan bahwa jemaat di Tesalonika bukanlah jemaat yang kelihatan baik di luar tetapi bobrok di dalamnya, tetapi nasihat Paulus ini bertujuan agar jemaat di Tesalonika senantiasa waspada, senantiasa memikirkan hal-hal yang penting berkaitan dengan hidupnya. Tidaklah banyak jemaat yang memiliki keteladanan seperti jemaat di Tesalonika ini. Ayat 1 ini bertujuan untuk membawa jemaat Tesalonika tidak berhenti dalam suatu kepuasan rohani tertentu. Paulus ingin jemaat di Tesalonika memikirkan sampai seberapa jauh mereka telah hidup berkenan kepada Allah. Dengan memikirkan hal ini, akan membuat jemaat di Tesalonika terus menerus memikirkan kehidupan rohani yang lebih baik.

Ada 3 alasan yang mendorong Paulus memikirkan masalah ini, yaitu:

1) Pernyataan “berkenan kepada Allah“ merupakan standard yang kekal dalam kehidupan rohani.

Pernyataan Paulus mengenai “berkenan kepada Allah“ akan membawa jemaat di Tesalonika memikirkan tentang standarisasi berdasarkan sesuatu yang kekal dan bukan berdasarkan norma-norma yang akan hancur dikarenakan penilaian budaya pada waktu itu. Standarisasi seharusnya dikembalikan kepada Tuhan sebagai standard Illahi yang kekal adanya. Dengan melihat kepada Tuhan, mereka dituntut untuk semakin serius dan bertumbuh.

2) Pernyataan “berkenan kepada Allah“ merupakan supremasi tertinggi dalam kerohanian.

Ada kemungkinan jemaat di Tesalonika merasa diri lebih tinggi daripada jemaat yang lain karena keteladanan hidup mereka yang luar biasa. Tetapi Tuhan menginginkan supaya jemaat Tuhan tidak hanya melihat secara horisontal, melainkan juga harus melihat dari sisi vertikal. Supremasi dalam kerohanian bukan diukur menurut tataran manusia melainkan apakah kita sudah mencapai titik puncak kerohanian di hadapan Tuhan yaitu berkenan kepada Tuhan. Jemaat dibawa untuk melihat bagian hidupnya yang masih belum mencapai titik supremasi di hadapan Tuhan, sehingga akan mendorong mereka untuk terus mengejar kesempurnaan hidup di dalam proses mereka menjadi serupa dengan Kristus. Jadi pernyataan ini akan mendongkrak dan memberi semangat dalam hidup jemaat di Tesalonika.

3) Pernyataan “berkenan kepada Allah“ mendorong jemaat memiliki dinamika hidup rohani yang jujur.

Dinamika ini terus berlangsung dan tidak pernah berhenti sampai jemaat bertemu dengan Tuhan. Mereka akan dibawa untuk masuk ke dalam tahap demi tahap untuk mereka dapat masuk ke dalam proses demi proses untuk semakin berkenan kepada Tuhan. Paulus ingin mendorong jemaat untuk tidak berhenti pada 1 titik tetapi untuk masuk ke dalam proses yang semakin dalam semakin terbuka dan jujur dalam hal kerohanian di hadapan Tuhan.

Nasihat Paulus ini merupakan suatu nasihat yang penting bagi setiap orang yang menjalankan kehidupan kerohanian. “Berkenan kepada Allah“ merupakan suatu pernyataan dan juga pertanyaan yang penting dalam kehidupan kerohanian seseorang. Ada seorang Hamba Tuhan senior yang sudah mengabarkan Injil ke mana-mana, sudah memimpin berbagai seminar baik di dalam maupun di luar negeri, ketika ditanya oleh murid-muridnya dan rekan-rekannya demikian: apa yang menyebabkan engkau memiliki semangat pelayanan yang tidak pernah berubah sejak dari masa mudamu? Beliau menjawab: saya ingin pelayanan dan hidup saya berkenan kepada Allah. Jawaban inilah yang mendorong beliau sampai sekarang di usia yang sudah tua masih tetap bekerja dan melayani Tuhan. Hamba Tuhan ini adalah Pdt. Stephen Tong. Beliau tidak hanya berhenti di 1 titik, bahkan di usia 70 tahun ini beliau tetap melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Ini adalah 1 contoh hidup dimana pernyataan ini menjadi suatu pernyataan yang penting dalam hidup seseorang walaupun orang tersebut sudah melakukan pekerjaan Tuhan yang luar biasa menurut ukuran manusia.

Dalam 1Tesalonika 4:3-12 Paulus mengungkapkan beberapa problema yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi dalam jemaat di Tesalonika, yaitu:

1) Ayat 3-8 mengungkapkan tentang percabulan.

Percabulan adalah suatu keadaan yang tidak dialami dan tidak dilakukan oleh jemaat di Tesalonika. Kalau mereka melakukan percabulan maka mereka tidak mungkin dipuji oleh Paulus sebagai jemaat teladan. Paulus mengungkapkan tentang percabulan ini dalam porsi yang cukup banyak karena jemaat di Tesalonika hidup di tengah-tengah orang kafir yang biasa melakukan percabulan. Beberapa pandangan mengatakan bahwa percabulan adalah suatu tindakan seksual yang imoralitas dalam berbagai macam bentuknya, baik antara laki-laki dengan perempuan yang tidak sewajarnya, antara laki-laki dengan laki-laki, antara wanita dengan wanita, antara orang yang sudah menikah dengan wanita/laki-laki lain yang tidak seharusnya. Jemaat di Tesalonika harus memikirkan hal ini secara tuntas jikalau mereka hendak hidup berkenan kepada Tuhan.

Jemaat di Tesalonika harus mengalami keadaan yang tidak mudah. Paulus mencoba menganalisa dan mengungkapkan 4 alasan perlunya mereka mewaspadai hal itu, yaitu:

1)             Dalam ayat 3 Paulus membahas tentang percabulan yang dikaitkan dengan kehendak Allah. Jadi percabulan bukan sekedar masalah budaya. Ada jemaat di Tesalonika yang memiliki suami bukan orang percaya sehingga budaya memungkinkan pola pikir yang salah bisa masuk ke dalam hidup orang percaya.

2) Di sisi lain, percabulan sangat subur berkembang di Tesalonika karena mereka bisa melakukan dengan bebas percabulan yang disetujui oleh budaya. Orang-orang di sekitar jemaat di Tesalonika biasa mengambil istri lebih dari 1 orang. Di sini Paulus juga mempertentangkan antara budaya manusia yang bobrok dengan kesetiaan Illahi. Jadi percabulan pada waktu itu menjadi momok yang besar tetapi budaya tidak mengutuknya dan menjadikannya sebagai sesuatu yang biasa. Jemaat di Tesalonika kalau tidak waspada akan ada kemungkinan tercebur dalam budaya yang salah.

3) Percabulan dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah (ayat 5). Jadi percabulan adalah suatu kehidupan yang memisahkan antara orang yang mengenal Allah dan yang tidak mengenal Allah.

4) Secara eskatologis, manusia hidup memiliki konsekuensi di hadapan Tuhan nantinya. Tuhan akan membalas dan menghakimi semuanya itu (ayat 6).

Peringatan ini penting bagi jemaat di Tesalonika sebab: racun percabulan ini akan masuk ke dalam kehidupan jemaat di Tesalonika secara pelan-pelan jika mereka tidak berhati-hati. Orang yang melakukan percabulan biasanya melakukannya secara sembunyi-sembunyi, sehingga mereka terbiasa dengan hidup yang munafik, mereka tidak lagi berani secara tegas menyatakan kebenaran karena mereka tidak lagi menghargai hadirat Tuhan. Percabulan menunjukkan adanya ketidaksetiaan hati, sikap yang tidak mengindahkan kebenaran, tidak mengindahkan pernikahan antara seorang laki-laki dengan seorang wanita. Percabulan ini akan membawa jemaat di Tesalonika hidup dalam kepalsuan, hidup dalam pemberontakan kepada Tuhan hidup dalam kebenaran yang tidak dipegang secara ketat, sehingga nantinya jemaat di Tesalonika tidak lagi menjadi jemaat teladan.  

Pelajaran rohani yang bisa kita dapatkan dari pembeberan Paulus mengenai masalah percabulan kepada jemaat di Tesalonika adalah: walaupun jemaat memiliki pemahaman theologis yang baik, ada hal-hal tertentu yang bisa menghancurkan keteladanan jemaat. Kita perlu mempertanyakan tentang apa yang terjadi dalam jemaat saat ini. Percabulan mungkin tidak menjadi peringatan bagi kita pada zaman ini tetapi mungkin dalam permasalahan yang berbeda.

2)     Ayat 9-10 mengungkapkan tentang kasih persaudaraan dalam kehidupan jemaat di Tesalonika.

Berdasarkan penelusuran dari 2Korintus 8:5 dimana jemaat Makedonia sering melakukan pelayanan kasih, beberapa penafsir mengatakan bahwa orang-orang Makedonia ini seringkali menjadikan hidup mereka sebagai saluran berkat karena memang mereka lebih kaya, mereka sering mendukung hamba-hamba Tuhan dan jemaat-jemaat tertentu dalam jemaat yang lain. Jemaat ini begitu murah hati. Paulus mengingatkan jemaat di Tesalonika agar mereka dapat mengasihi dengan lebih sungguh, karena ada beberapa orang dalam jemaat yang menunjukkan kebiasaan tidak bekerja keras sehingga mereka menggantungkan diri pada pemberian orang-orang Makedonia. Ada kesan bahwa jemaat di Tesalonika ini mengasihi dengan tidak tulus karena ada kebiasaan yang tidak baik itu.

Kasih yang dilakukan oleh jemaat di Tesalonika ini juga menjadi teladan bagi jemaat di sekitarnya. Dalam konteks apakah semakin berkenan kepada Allah, Paulus sekali lagi ingin melihat kualitas kasih dari jemaat di Tesalonika lebih dari waktu-waktu sebelumnya, kasih yang semakin dimurnikan dan dipertajam menuju kualitas kasih yang semakin baik.

3)     Ayat 11-12 mengungkapkan tentang kewajiban bekerja.

Ada beberapa jemaat di Tesalonika cenderung malas dan hidup bergantung pada orang lain. Mereka tidak mau mengerjakan sesuatu dengan tangannya sendiri. Di Tesalonika pada zaman itu ada budaya yang menganggap orang yang bekerja dengan tangan sendiri adalah mengerjakan pekerjaan budak. Paulus sebagai seorang Hamba Tuhan memberikan teladan hidup dengan bekerja sedemikian rupa sehingga dia tidak menjadi batu sandungan. Masalah ini dalam 2 Tesalonika 3:6-15 muncul lagi, dan Paulus memberikan peringatan yang lebih keras. Ini menunjukkan situasi yang semakin memburuk dalam masalah ini.

Mungkin ada orang yang menganggap bahwa adalah sesuatu yang berat untuk menjadi anak Tuhan, karena setelah menjadi teladan bagi setiap orang percaya tetap dicari kesalahannya. Inti permasalahannya bukan disana, tetapi kita harus selalu melihat kekurangan yang ada dan mendorong diri kita untuk menjadikan hidup kita semakin berkenan kepada Tuhan. Kita harus memikirkan secara serius masalah spesifik dalam jemaat kita yang berbeda dengan jemaat lain, agar kita dapat menjadi jemaat yang semakin berkenan kepada Tuhan.

Sebagai kesimpulan dari pembahasan hari ini, ada 3 hal yang dapat kita pelajari yaitu:

1) Pelayanan Paulus dalam mengamati kehidupan pastoral jemaat di Tesalonika masuk ke dalam kehidupan iman personal jemaat. Paulus tidak hanya berhenti pada penginjilan dan pengajaran tetapi dia masuk ke dalam setiap aspek hidup jemaat yang diinformasikan oleh Timotius. Paulus mengamati dari pribadi ke pribadi. Paulus ingin kehidupan iman pribadi anak-anak Tuhan menjadi tonggak-tonggak yang mendukung kesaksian jemaat di Tesalonika. Dalam hal ini kita dapat belajar untuk memikirkan kehidupan sesama saudara seiman. Kita memperhatikan orang lain bukan dengan semangat untuk menghakimi tetapi untuk membawa anak Tuhan ke dalam kehidupan yang semakin berkenan kepada Tuhan. Seberapa jauh kita pernah mendoakan orang-orang di sekitar kita agar mereka semakin berkenan kepada Tuhan?

2) Berkaitan dengan pertumbuhan gereja.

Bukan hanya berkaitan dengan kehidupan iman personal tetapi juga pertumbuhan personal dalam gereja, yang harus menjadi pusat perhatian kita. Pertumbuhan gereja tidaklah boleh berhenti dan harus menjadi gereja yang indah, yang tidak bercacat. Hal ini bukan sesuatu yang mudah. Kita harus selalu memikirkan dan bertanya kepada Tuhan mengenai signifikansi GRII ditempatkan di tempat ini. Pergumulan terbesar apakah yang harus kita pikirkan supaya kita bisa menjadi jemaat yang berkenan kepada Tuhan?

3)     Seluruh kehidupan dan pelayanan seharusnya tertuju kepada 1 hal, bukan hanya sebagai teladan, bukan juga sebagai sesuatu yang membanggakan bagi hamba Tuhan, tetapi apakah Tuhan bangga dengan keberadaan kita.  Apakah sudah berkenan kepada Allah? Tujuan dari gereja dan anak-anak Tuhan adalah pada akhirnya boleh berkata: Tuhan, inilah aku. Biarlah kita boleh berlomba-lomba untuk saling mendukung, saling mendoakan, dan berlomba-lomba untuk boleh melihat bagaimana Tuhan boleh memakai setiap kita di dalam tempat dan posisi masing-masing untuk menjadi kemuliaan bagi Tuhan. Inilah panggilan bagi setiap kita, bukan hanya sebagai teladan tetapi juga menjadi kebanggaan bagi Tuhan. Kiranya kita boleh bertanya: di manakah bagian saya, Tuhan?

 

 

Renungkanlah:

  1. Sebagai orang percaya, apa yang Anda akan lakukan secara terus menerus dalam menjaga aspek “hidup kudus” supaya Anda boleh tetap hidup diperkenan Allah? Berdoa dan lakukan komitmen Anda dengan sungguh-sungguh di minggu ini.
  2. Teladan apa yang sudah Anda lakukan di minggu lalu di lingkungan keluarga Anda supaya mereka terus menjaga dan mengejar kualitas ”hidup kudus” yang dituntutkan oleh Firman Tuhan. Sharingkan realita yang Anda hadapi tersebut pada rekan seiman Anda.

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: