Pengaruh Dari Pelayanan Paulus

Pendahuluan :

Image

Yeremia berkata, “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku…” Yeremia 15:16.
Pergunakanlah waktu Anda
Renungkanlah perikop itu ayat demi ayat, dengan mempergunakan imajinasi kudus Anda untuk berpikir, melihat, mendengar, mencium bau, menyentuh dan bahkan merasakan apa yang terjadi dalam perkataan-perkataan tersebut. Perhatikanlah pikiran-pikiran kreatif dan penjelasan-penjelasan yang unik dari Roh Kudus.
Sekarang Anda cobalah sendiri
Bacalah Ayub 23:10-12 dengan pelan-pelan.
Ia tahu-jalan hidupku
seandainya Ia menguji aku,
aku akan timbul seperti emas.
Mengapa?
Sebab kakiku tetap mengikuti jejak-Nya.

Sekarang teruslah berpikir, mengunyah, refleksikan, membayangkan, mempelajari, bergaullah dengan mesra, bahkan sampaikanlah keluhan-keluhan Anda, dan tetaplah berbicara kepada Yesus.

GKY Sydney
Yeremia 15:16 “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.”
Apa yang akan kita lakukan jika kita mendapatkan surat pribadi dari ratu inggris atau presiden AS Obama dan perdana menteri Australia? Saya yakin kita akan senang sekali dan akan menyimpannya baik-baik dan membacanya berulang-ulang.
Jika kita senang mendapatkan surat dari orang-orang Penting di dunia ini, bukankah seharusnya kita lebih senang ketika mendapatkan “surat” dari Tuhan?
Bagaimana perasaan saudara ketika akan membaca renungan ini? Apakah dengan sukacita atau dengan malas-malasan? Apakah saudara bersyukur karena diberikan anugerah untuk membaca “surat dari Allah Bapa?”
Mari mulai saat ini seperti nabi Yeremia kita menikmati Firman Tuhan dan bergirang senantiasa atas Firman Tuhan yang dianugerahkan kepada kita.

Kita perlu memahami Kitab 2 Korintus ini. Paulus menulis surat ini kepada tiga golongan orang di Korintus.

(1) Pertama, ia menulis untuk mendorong mayoritas dalam jemaat di Korintus yang tetap setia kepaudanya sebagai bapa rohani mereka.

(2) Ia menulis untuk menantang dan menyingkapkan rasul-rasul palsu yang terus-menerus berbicara menentang dia secara pribadi dengan harapan dapat meruntuhkan wibawa dan kerasulannya dan untuk memutarbalikkan beritanya.

(3) Ia juga menulis untuk menegur minoritas dalam jemaat yang sedang dipengaruhi oleh para lawan Paulus dan yang terus-menerus menolak wewenang dan tegurannya. Para lawan Paulus, yaitu rasul-rasul palsu yang tidak mau bertobat, yang pada kenyataannya adalah guru-guru palsu dengan injil yang berbeda (2 Korintus 11:1-6). Paulus meneguhkan kembali integritas dan wewenang rasulinya, menjelaskan motivasinya dan memperingatkan mereka terhadap pemberontakan yang lebih lanjut.

Pada pasal 10, 13 ini (2 Korintus 10:1-13:13),di sini Paulus mempertahankan kerasulannya dengan menguraikan panggilannya, kualifikasi, dan penderitaannya sebagai seorang rasul yang benar. Dengan ini Paulus mengharapkan jemaat Korintus akan mengenal rasul-rasul palsu di antara mereka dan dengan demikian mereka dapat luput dari disiplin yang lebih lanjut ketika ia sendiri datang lagi. Paulus mengakhiri kitab 2 Korintus dengan ucapan berkat.

I. Sebuah Pembelaan Terhadap Tuduhan Pengecut

* 2 Korintus 10:1-11
10:1 Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah.
10:2 Aku meminta kepada kamu: jangan kamu memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari dekat, sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap orang-orang tertentu yang menyangka, bahwa kami hidup secara duniawi.
10:3 Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi,
10:4 karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.
10:5 Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,
10:6 dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna.
10:7 Tengoklah yang nyata di depan mata kamu! Kalau ada seorang benar-benar yakin, bahwa ia adalah milik Kristus, hendaklah ia berpikir di dalam hatinya, bahwa kami juga adalah milik Kristus sama seperti dia.
10:8 Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan kamu, maka dalam hal itu aku tidak akan mendapat malu.
10:9 Tetapi aku tidak mau kelihatan seolah-olah aku menakut-nakuti kamu dengan surat-suratku.
10:10 Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti.
10:11 Tetapi hendaklah orang-orang yang berkata demikian menginsafi, bahwa tindakan kami, bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam surat-surat kami, bila tidak berhadapan muka.

Beberapa penafsir menganggap ayat 1-6 adalah imbauan pembukaan mengenai ketaatan. Pembagian yang lebih baik diusulkan berdasarkan kenyataan bahwa ayat 1, 2 dan 10, 11 membentuk sebuah inklusi, sebuah tanda kurung sastra atau sebuah kerangka. Paulus membela dirinya terhadap tuduhan bahwa perilakunya secara lahiriah tidak konsisten, meskipun pada dasarnya ditandai oleh kelemahan watak. Dikatakan bahwa ia berbicara dengan satu cara dalam surat-suratnya dan dengan cara lain ketika berhadapan muka dengan para pembacanya. Acuan-acuan pada keberaniannya, gambaran tentang pelayanannya sebagai suatu perjuangan militer yang kuat dan kebanggaannya tentang kuasanya adalah jawaban-jawaban pembukaan terhadap kecaman bahwa ia pengecut dan lemah.

Kata-kata pembukaannya, Aku, Paulus, memperlihatkan bahwa Paulus tidak lagi memberikan pembelaan umum terhadap pelayanan kerasulannya, seperti dalam pasal 1-7; di situ umumnya digunakan kata ganti orang pertama tunggal. Paulus sendirilah yang diserang, karena itu ia harus menekankan keterlibatan pribadi dan kuasanya (seperti dalam Galatia 5:2).

Serangan ini tidak ditujukan kepada pelayanan siapa saja. Akan tetapi kuasa Paulus tidak didasarkan pada tangan besi (lihat 1:24). Ia mengajukan permohonan berdasarkan Injil, yang diwakilinya secara pribadi. Sikap Kristus yang lemah lembut dan ramah diteladankan dalam undangannya kepada yang letih lesu dan berbeban berat untuk menerima kelegaan dari Dia yang ‘lemah lembut dan rendah hati’ (Matius 11:29; lihat pula 12:20 dan 21:5). Sifat Yesus yang lemah lembut itu dilihat khususnya dalam penderitaan-Nya, ketika ia tunduk kepada penghinaan dan siksaan sebagai Hamba yang Menderita dan rendah hati itu. Rasul Kristus memperlihatkan semangat yang sama ketika diserang. Kerendahan hati Tuhan (lihat pula Filipi 2:6), yang menentukan bagaimana rasulnya bertindak, adalah kekuatan, bukan kelemahan. Tindakan keras selalu adalah cara yang terakhir (lihat 1 Korintus 4:21).

Sikap yang ramah menunjukkan kemurahan hati seorang hakim, siap untuk mendengar penjelasan dan bersikap lunak. Ciri ini pun secara sempurna terwujud di dalam Kristus, yang datang untuk mengarnpun, dan bukan untuk menghukum (lihat Yohanes 8:1-11). Meskipun secara pribadi ia diserang, reaksi langsung Paulus bukanlah balas dendam. Keramahan dalam memperlakukan si penyerang haruslah menjadi tanda orang yang menjadi pengikut Kristus yang ramah (Galatia 5:23; 6:1; Kolose 3:12, 13).

Tuduhan yang dilontarkan terhadap Paulus dalam ayat 10 disinggung di sini: ketika berhadapan muka dengan para pembacanya ia tidak berani. Artinya, ketika di Korintus ia memperlihatkan hati yang lunak, sikap yang tidak tegas yang memungkinkan orang memperlakukannya dengan tidak hormat (lihat pula penggunaan kata kerja ‘merendahkan diri’ dalam 11: 7 dan 12:21). Ia membiarkan orang menginjak-injak dirinya tanpa melawan sedikit pun. Tetapi sekarang ketika ia berjauhan dan berbicara lewat surat-menyurat, ia berani dalam arti memamerkan keberanian dan kekuatan.

Rumusan-rumusan serupa dalam pasal 13:2, 10 menunjukkan betapa Paulus tentunya telah disengat oleh tuduhan bersikap pengecut ini. Sebagian orang telah dipengaruhi hingga percaya bahwa rasul itu berbicara besar dalarn surat-suratnya karena ia terlalu takut untuk menunjukkan wajahnya sekali lagi di Korintus. Ia harus mengutus Titus untuk melakukan pekerjaannya untuk dirinya! Tanggapan Paulus tajam dan langsung mengena. Ia mengimbau (ayat 1) agar ia tidak dipaksa membuktikan keberaniannya yang sesungguhnya ketika ia kemb ali lagi di Korintus. Ia sama sekali tidak akan lunak dalam menunjukkan keberanian terhadap mereka yang memfitnahnya dengan menuduhnya bertindak secara duniawi (harfiah: ‘menurut daging’). Paulus telah mengacu pada tuduhan ini dalam pasal 1 :17: ia hanyalah manusia biasa sehingga kata-katanya tidak boleh diterima begitu saja; ia tidak layak dipercaya. Di sini terdapat penghinaan tambahan itu: ia hanyalah manusia biasa dalam caranya menghadapi jemaat Korintus yang lemah dan pengecut.

Bila sejumlah orang ingin menguji watak Paulus, ia siap untuk membuktikan kekuatannya. Ia tidak takut untuk melawan mereka yang menuduhnya tidak berdaya, yang melihat bahwa ia tidak mempunyai daya karismatis sebagai tanda dari keberadaannya yang sangat manusiawi (12:12; 13:3, 4). Apakah mereka orang luar, ataukah anggota sesungguhnya dari jemaat Kristen di Korintus yang memihak kepada para rasul palsu, Paulus siap untuk menghadapi konfrontasi. Akan tetapi bukan itu yang sesungguhnya ia ingini. Ia lebih suka datang dalam kelemah-lembutan dan keramahan (ayat 1) daripada dengan memamerkan kuasa kerasulannya (12:20-21; 13:2; 1 Korintus 4:21).

Sudah tentu, Paulus dan semua pelayanan Injil (perhatikan bahwa ia kembali menggunakan kata ganti orang pertama jamak dalam ayat 3-6), masih hidup di dunia (hidup sebagai manusia biasa). Seperti orang lain, mereka juga memiliki keterbatasan manusia. Tetapi mereka tidak ingin berjuang secara duniawi di dalam pelayanan mereka selain dengan kelemahan manusia. Mereka terlibat di dalam perjuangan yang tidak kurang hebatnya dari peperangan militer. Gambaran militer dipergunakan di sini dalam pengertian umum tentang perjuangan yang harus dihadapi oleh semua orang Kristen (lihat Roma 13:12; Efesus 6:10-17; 1 Tesalonika 5:8), tetapi juga berlaku bagi pekerjaan pelayanan (Filipi 2:25; Filemon. 2; 1 Korintus 9:7; 2 Korintus 6:7; lihat pula 1 Timotius 1:18 dan 2 Timotius 2:4). Paulus mengambil metafora ini (serta gambaran seorang atlet) ketika ia dipaksa mempertahankan pelayanannya. Tetapi di sini perjuangan itu tidak lebih daripada suatu tindakan pembelaan. Ini adalah suatu serangan habis-habisan terhadap penalaran manusia yang bermusuhan dengan Injil.

Senjata yang dipergunakan dalam peperangan ini (lihat 6:7) bukanlah senjata duniawi (seperti halnya juga kekuatan lawan itu lebih daripada kekuatan manusia semata-mata: lihat Efesus 6:12). Pemberitaan Injil menuntut penggunaan argumen yang sehat, tetapi itu tidak berarti bujukan dengan menggunakan hikmat duniawi (2 Korintus 1:12). Ini pun tidak berarti menggunakan tipuan dan bahasa yang fasih dari mereka yang menjajakan Injil yang lain (2:17; 4:2). Paulus mempunyai kuasa Allah di tangannya. Injil, yang diperkuat oleh Roh (iih. 3:3-18), dapat meruntuhkan benteng-benteng. Yang tampaknya lemah tidak kurang daripada kuasa Allah (Roma 1:16; 1 Korintus 1:18-25). Penalaran filosofis manusia dapat mengutip segala pikiran yang melawan Injil, tetapi senjata yang kuat dari firman Allah merubuhkan setiap kubu yang melindunginya, entah itu kebodohan yang keras kepala, argumentasi yang mungkin, atau penalaran yang canggih. Kesombongan manusialah yang melawan pengenalan yang benar akan Allah. Paulus di sini mungkin mengacu pada pemyataan-pemyataan sombong terhadap hikmat dan pengetahuan khusus dari sebagian orang di Korintus (lihat 1 Korintus 8:1), maupun kepada kesimpulan bahwa ia kurang berpengetahuan (lihat 11:6).

Tujuan dari perjuangan Paulus bukanlah sekadar menghancurkan semua hikmat kedagingan yang berdiri menentang Allah dan kebenaran-Nya di dalam Kristus. Kemenangan diperoleh hanya apabila ketidakpercayaan diubah menjadi kepercayaan, ketidaktaatan diubah menjadi ketaatan. Seperti seorang jenderal yang menyerang sebuah kota setelah dinding-dindingnya diruntuhkan, Paulus ingin sekali menawan segala pikiran, menyerahkan para tawanan perang kepada Tuan yang baru dan pada kemerdekaan yang baru pula. Takluk kepada Kristus berarti menerima ‘ketaatan iman’ (Roma 1:5; 16:26) sebagai ‘ketaatan kepada Injil’ (Roma 10:16). Ini, pada gilirannya, berarti berakhirnya perbudakan di bawah dosa, maut dan hukum.

Ayat 6 sepintas kedengaran agak tidak logis. Mengapa Paulus harus menghukum setiap kedurhakaan apabila ketaatan para pembacanya telah menjadi sempurna? Bila mereka mendengarkan imbauannya untuk menerima pelayanannya dan dengan demikian menaati Kristus sendiri, tentu tidak perlu ada tindakan penghukuman di masa mendatang. Pemecahan terhadap masalah ini terletak di dalam kontras antara setiap kedurhakaan dan ketaatan kamu. Guru-guru palsulah yang mencoba mengasingkan orang-orang Korintus dari Paulus, yang durhaka. Paulus masih berharap bahwa para pembaca akan tetap setia. Para penyusup itulah yang harus menemukan betapa beraninya ia dalam menghukum semua perlawanan, juga ketika berhadapan muka dengan mereka (lihat ayat 1, 2). Ia lebih daripada siap sedia untuk konfrontasi semacam itu, bila itu yang mereka inginkan. Berdasarkan pasal 2:9 dan 7:15 kita harus menyimpulkan bahwa para rasul merasa puas dengan bukti kesetiaan para pembaca dan ketaatan mereka kepadanya. Kini (lihat pula 12:21 dan 13:2) ia tampaknya kurang begitu yakin, namun masih berharap bahwa ketaatan mereka akan kembali sempurna. Jadi, argumen-argumen sombong yang harus diserang (ayat 4, 5) berasal dari para rasul palsu dan bukan dari ko¬munitas Korintus secara keseluruhan.

Paulus kini menantang para pembaca untuk mempertimbangkan ulang hubungan mereka dengannya. Mereka harus melihat buktinya. Frasa yang nyata di depan mata kamu menerjemahkan kata-kata Yunani yang sama yang berarti ‘bertatapan muka’ dalam ayat 1. Tampaknya Paulus memaksudkan acuan kepada penggunaan frasa ini sebelumnya. Paulus berkata: ‘Aku tidak perlu hadir untuk kamu untuk melihat apa yang salah. Lihatlah apa yang sedang terjadi di hadapan matamu sendiri!’ Kita pun dapat menerjemahkan kalimat pembukaan dari ayat ini sebagai suatu pernyataan, dengan makna yang sedikit berbeda: ‘Kamu melihat segala sesuatu dari permulaan, dari apa yang kelihatan saja!’ Dalam hal ini, Paulus hanya mengulangi tuduhan yang tersirat dari ayat 2, bahwa ia bertindak ‘secara duniawi’. Ia tentu menunjuk pada argumen sebelumnya bahwa hamba-hamba Kristus tidak boleh dinilai dengan kriteria lahiriah (lihat 4:7 – 5:10, dan khususnya 5:12). Akan tetapi, Paulus biasanya menggunakan kata kerja menengok dalam kalimat perintah. Arti itu pun paling masuk akal di sini, dalam konteks suatu imbauan.

Ketika mengatakan dalam ayat 7b kalau ada seorang benar-benar yakin, Paulus mengacu pada sebuah pernyataan yang dibuat oleh lawan-lawannya, yakni, sekurang-kurangnya dari kesimpulan mereka, bahwa ia lebih rendah daripada mereka. Tetapi dalam arti apa? ‘Aku adalah milik Kristus’ nyaris merupakan seruan yang menandakan bahwa seseorang berasal dari kelompok yang berlainan di Korintus (lihat 1 Korintus 1:12). Dengan mengatakan, kami juga adalah milik Kristus sama seperti dia, Paulus tidak menyatakan keanggotaan dalam kelompok tersebut. Sebaliknya, ia mengacu pada pemyataan dari sejumlah pribadi bahwa mereka mempunyai hubungan khusus dengan Kristusr.suatu hubungan yang tidak dipunyai Paulus. Di sini mereka lebih daripada seorang Kristen, sebab mereka mengaku sebagai ‘rasul Kristus’ atau ‘pelayan Kristus’ yang khusus (11:13, 23). Apakah mereka secara terbuka menolak pernyataan Paulus untuk menyebut dirinya sendiri sebagai rasul, kita tidak tahu. Jelas bahwa khusus pernyataan orang-orang seperti itu dapat ditafsirkan oleh orang Kristen di Korintus menunjukkan bahwa Paulus, sekurang-kurangnya, bukanlah rasul yang sederajat dengan mereka. Hal itu, entah dinyatakan secara tersurat atau tersirat, disangkal oleh Paulus. Ia adalah utusan Kristus, tidak kurang daripada yang lainnya!

Malah, Paulus mempunyai hak yang kuat untuk bermegah atas kuasa yang dimilikinya sebagai seorang rasul Kristus. Komentarnya bahwa ia dapat bermegah agak berlebih-lebihan tampaknya sekali lagi sebagai ja¬waban kepada suatu tuduhan. Bila ia sedikit ‘berlebihan’ itu disebabkan karena ia dipaksa melakukannya. Bila ia menekankan kebebasan rasulinya untuk tidak menerima dukungan pribadi dari orang-orang Korintus – berbeda dengan lawan-lawannya yang dapat mengutip firman Tuhan dalam Markus 9:41 (mereka yang menyandang nama Kristus harus menerima pemberian!) – itu tidak berarti bahwa ia kurang daripada seorang rasul (lili. 1 Kor. 9:1-18; di situ kata ‘benar’ dan ‘kuasa’ menerjemahkan kata Yunani yang sama). Apakah ia membanggakan kebebasannya atau kuasanya, Paulus tidak akan mendapat malu. Kebenaran pemyataan-pernyata¬annya mungkin tidak terbukti segera (lihat 7:14), tetapi akhirnya ia akan di¬bela di hadapan kursi pengadilan Allah (lihat tafsiran untuk 2:17; 4:2; 5:10).

Kuasa yang dikaruniakan Tuhan kepada Paulus (jadi bukan dari dirinya sendiri: lihat 1 Korintus 9:1; 15:8-10; Galatia 1:1) adalah untuk membangun jemaat dengan pemberitaan Injil (Iih. 1 Korintus 3:10-15; 2 Korintus 12:19; 13:10). Mengapa Paulus harus menambahkan bukan untuk meruntuhkan kamu tidaklah jelas. Mungkin ia ingin menonjolkan bahwa satu-satunya aspek destruktif dari pelayanannya adalah penghancuran perlawanan kepada Allah (ayat 4). Paulus mungkin sekali mengingat Yeremia 24:6 dan 42:10 di dalam benaknya, ketika panggilan nabi itu adalah untuk membangun dan bukan menghancurkan. Pada saat yang sama, barangkali (juga dalam 13:10) bereaksi terhadap tuduhan bahwa pelayanan di Korintus sesungguhnya berbahaya dan merugikan.

Sebagian orang di Korintus telah mengatakan bahwa Paulus bahkan telah mencoba menakut-nakuti orang banyak dengan surat-suratnya, mengancam mereka agar tunduk kepada kuasanya. Bukan itu niatnya sekarang, pun di masa lalu, meskipun sebagian orang mengatakan demikian (tuduhan yang tersirat dalam ayat 1, 2 kini diuraikan lengkap, mungkin sebagai kutipan dari sebuah laporan yang sampai di telinga Paulus). Kata orang (teks terbaik mengatakan ‘ia mengatakan’, tetapi Paulus tampaknya mengutip sebuah tuduhan khas) bahwa surat-suratnya itu tegas dan keras. Barangkali hal ini mengacu bukan kepada empat surat sebelumnya kepada jemaat Korintus, melainkan khusus kepada surat ketiga yang hilang, yang menyebabkan kepedihan yang mendalam (lihat 2:4 dan 7:8-12). Tulisan Paulus dianggap terlalu keras, otoriter dan sombong (lihat 1:24). Tetapi semuanya itu bukan apa-apa selain ancaman kosong, karena bila berhadapan muka sikapnya lemah. Yang dimaksudkan di sini ialah bahwa Paulus tidak mempunyai dinamisme pribadi, suatu kepribadian yang karismatis. Juga perkataan-perkataannya tidak berarti. Paulus mengakui bahwa ia bukanlah pembicara yang terlatih (11:6) dan bahwa ia sama sekali bukanlah pembicara yang fasih ketika ia pertama kali berkhotbah di Korintus (1 Korintus 2:3). Para pengecarnnya telah memegang kelemahan pribadinya dan kekurangan kecakapan retorikanya sebagai petunjuk bahwa ia tidak mempunyai kuasa yang sejati. Dengan kata lain, mereka mengatakan: ‘Paulus bicara besar ketika ia menulis, tetapi temuilah dia secara langsung, maka temyata ia bukan apa-apa selain seorang yang lemah!’

Tuduhan bahwa ia adalah orang yang lemah, yang juga membuka bagian ini, ditolak. Hendaklah orang-orang (teks Yunani menggunakan kata ganti orang tunggal, meskipun lebih dari satu orang yang terlibat dalam fitnahan ini; lihat ayat 12, 13 dan 11:12-15) yang menyebarkan gambaran palsu tentang rasul ini menginsafi hal ini: apa yang dikatakan Paulus di dalam surat-suratnya saat tidak berhadapan muka akan sepadan dengan apa yang dilakukannya saat berhadapan muka (lihat ayat 1, 2 dan 13:2, 10). Kunjungan ketiganya yang tertunda akan membuktikan bahwa ia bukannya tidak konsisten. Apa yang ditulisnya akan diterjemahkannya ke dalam tindakan. Ia siap bertempur bila itu yang diingini sebagian orang! Lalu mereka akan melihat kekuatan kuasanya, bahwa ia sama sekali bukanlah seorang pengecut!

II. Penolakan Terhadap Pujian Diri yang Berlebihan

* 2 Korintus 10:12-18
10:12 Memang kami tidak berani menggolongkan diri kepada atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur dirinya dengan ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka!
10:13 Sebaliknya kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga.
10:14 Sebab dalam memberitakan Injil Kristus kami telah sampai kepada kamu, sehingga kami tidak melewati batas daerah kerja kami, seolah-olah kami belum sampai kepada kamu.
10:15 Kami tidak bermegah atas pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain di daerah kerja yang tidak dipatok untuk kami. Tetapi kami berharap, bahwa apabila imanmu makin bertumbuh, kami akan mendapat penghormatan lebih besar lagi di antara kamu, jika dibandingkan dengan daerah kerja yang dipatok untuk kami.
10:16 Ya, kami hidup, supaya kami dapat memberitakan Injil di daerah-daerah yang lebih jauh dari pada daerah kamu dan tidak bermegah atas hasil-hasil yang dicapai orang lain di daerah kerja yang dipatok untuk mereka.
10:17 “Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”
10:18 Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.

Bagian ini, seperti yang sebelumnya, dimulai dan berakhir den zan sebuah catatan umum: konsep tentang pujian diri (ayat 12, 18). Paulus telah memegahkan kuasanya (ayat 8), tetapi ia menyatakan penolakannya untuk menyombongkan dirinya sendiri yang mau tak mau melibatkan perbandingan dengan orang lain dan menyebabkan tuntutan-tuntutan yang berlebihan. Berbeda dengan para pengecarnnya, rasul ini tidak pemah melangkah melewati batas-batas tugasnya. Ia pun tidak akan membang gakan apa pun tentang dirinya sendiri.

Paulus siap menunjukkan keberaniannya dalam menghadapi pengecam-pengecamnya bila ia sekali lagi mengunjungi Korintus (ayat 1,2). Satu hal yang tidak berani ia lakukan adalah menggolongkan diri kepada atau membandingkan diri (kedua kata kerja itu sangat erat berkaitan di dalam bahasa Yunani) dengan mereka. Sambil setengah mengejek ia berkata:

“Saya tidak akan berani bersaing dengan mereka yang jelas lebih unggul daripada saya!” Perbandingan bisa menyakitkan. Khususnya ketika orang membanding-bandingkan dirinya dengan para pelayan Injil lainnya, karena jelas mereka telah melupakan bahwa pelayanan dan.kekuatan untuk melaksanakannya, adalah karunia. Pemyataan Paulus bahwa ia adalah ‘milik Kristus’ sama seperti yang lainnya (ayat 7), adalah suatu pemyataan fakta, bukan suatu perbandingan palsu. Belakangan di dalam surat ini ia memang membandingkan dirinya dengan yang lain-lainnya, namun sesungguhnya ia tidak menghendakinya dan hanya memainkan peranan seorang bodoh (1:21b-23). Kendatipun demikian, argumennya ialah bahwa ia tidak lebih baik daripada yang lainnya, namun ia tidak lebil rendah (12:11).

Dalam pasal 3:1-2 dan 5:12, Paulus telah menolak tuduhan bahwa ia memujikan diri sendiri dengan menyombongkan hal-hal lahiriah seperti percakapan berbicara, kepribadian yang kuat dan karunia-karunia karismatis (lihat 12:12). Ironisnya, tolok ukur yang digunakan oleh orang-orang ini untuk mengukur atau membandingkan dirinya adalah diri mereka. Dengan tolok ukur tersebut, mereka sekurang-kurangnya selalu yakin akan tampil cemerlang. Mereka seharusnya mempunyai pertimbangan yang baik untuk mengerti bahwa hanya Tuhanlah yang memanggil ke dalam pelayanan yang dapat menilai apakah tolok ukur itu telah dipenuhi (1 Korintus 4:4).

Menjelang akhir bagian ini (ayat 17) Paulus mengacu pada Yeremia 9:24 untuk memperlihatkan satu-satu alasan bagi pelayan-pelayan Kristus untuk bermegah. Pernyataannya ialah bahwa mereka yang memegahkan diri sendiri adalah orang-orang bodoh (harfiah : tidak mengerti) mungkin adalah acuan pada teks Perjanjian Lama ini, karena di situ dinyatakan bahwa pengertian dan pengenalan akan Tuhan adalah dasar satu-satunya untuk bermegah.

Para pengancam rasul itulah dan bukan dirinya yang bermegah melampaui batas. Yang mengubah pelayanan menjadi semacam pertandingan, mengukur perikerja menurut tolok ukur mereka sendiri. Paulus dan rekan-rekan sekerjanya dapat memegahkan karya mereka yang setia (ayat 8), tetapi hanya dalam batas-batas yang telah ditetapkan oleh panggilan mereka. Paulus diutus menjadi seorang rasul kepada orang-orang non-Yahudi (Roma 15:15-36; Galatia 1:15-16; Kisah 9:15). Itulah batas yang khusus baginya (kata Yunani “kanon” disini berarti wilayah hukum atau kekuasaan) yang dipatok Allah baginya. Ia tidak berada di luar batas kemampuannya untuk dapat menjangkau orang-orang Kristen.

Pernyataan Paulus bahwa ia tidak melakukan di luar batas kemampuan pemberitaannya seberti suatu tanggapan dari suatu pendapat yang dilakukan dengan tepat. Tetapi mereka itu adalah rasul-rasul palsu, bukan Paulus, mereka adalah pencuri. Rasul Paulus adalah orang yang pertama kali memberitakan kabar tentang Kristus ke Korintus. Mengapa ia mampu menyampaikan amanat Kristus tersebut kepada pembaca seperti kepercayaan bapak mereka dan ia adalah seorang pencemburu (likat 1 Korintus 4:15; 2 Korintus 11:2)

Untuk penyombongan diri adalah tanda dari seseorang yang tidak mengenal secara jelas mengenai ajaran yang diberikan Tuhan dan kemudian harus dipercayainya. Berbeda dengan mereka. Paulus tidak pernah menyombongkan dairinya dalam melakukan tugasnya kepada orang lain. Ini merupakan kesetiaannya “hasrat” untuk memberitakan kabar-baik, ia tidak pernah melakukan sesuatu dimana nama Kristus telah dikenal orang dan supaya ia tidak membangun di atas dasar yang telah diletakkan oleh orang lain. Ia menolak mengambil hasil karyanya. Kritikannya yang telah ia berikan kepada orang-orang Korintus yaitu semua orang yang telah siap berusaha. Sitiap orang di antara pendatang baru. Hal yang terburuk adalah orang yang mengambil kesempatan untuk membangun sesuatu pada hasil karya Paulus demi kepentingannya, mereka mengancam untuk menghancurkannya (11:4).

Pelayanan Rasul Paulus tidak terbatas di Korintus. Meskipun pendiri dari gereja di kota tersebut adalah suatu peristiwa terbesar pada misi utamanya untuk orang-orang kafir. Khususnya orang-orang Kristen yang masih memiliki aturan-aturan penting untuk menyelesaikan tugas kerasulan. Harapannya ialah tiga kali lipat banyaknya. Pertama, ia berharap agar iman mereka bertumbuh. Dalam konteks ini berarti Paulus melihat ada penegasan ulang dari kesetiaan mereka kepadanya. Ia menginginkan mereka sungguh-sungguh patuh (ayat 6). Tindakan Paulus akan amat luas di antara mereka. Secara sadar, mereka akan mengakui bahwa mereka juga bagian dari ladangnya bukan penyusup, ayat 15b juga dapat diterjemahkan sebagai berikut: ‘seperti Imanmu bertumbuh, kami sungguh memujamu di antara kami menurut ukuran kami’ (yaitu, seperti kamu belajar menghakimi kami oleh karena tugas yang telah Tuhan berikan kepada kami).

Apa pun tepatnya maksud Paulus, ia memandang ke depan saat orang-orang Korintus menyatakan bahwa Rasul Paulus benar-benar rasul mereka dan yang mampu memberitakan Injil di daerah-daerah yang lebih jauh daripada Korintus (mungkin ia sudah membayangkan misinya ke Spanyol lewat Roma; lihat Roma 15:24, 28; Kisah 19:21). Penerimaan penuh atas pelayanannya di Korintus tentu berarti pengakuan kembali atas seluruh pengutusan kerasularmya: yakni, pergi ke tempat-tempat yang belum pernah mendapatkan pemberitaan Injil dan dengan demikian tetap di dalam batas-batas daerah kerja mereka sendiri (ayat 13).

Ada kebanggaan yang sah, ketika kutipan bebas Paulus dari Yeremia 9:24 mengingatkan para pembacanya (kutipan yang sama muncul dalam 1 Korintus 1:31, dan kemungkinan juga diacu dalam 2 Korintus 10:12 di atas). Karena kasih karunia Allah dan iman adalah pemberian. semua kebanggaan terhadap sumber-sumber dan kekuatan manusia adalah keliru (Roma 3:27). Kebanggaan di dalam Tuhan adalah sama dengan bermegah di dalam Kristus (Filipi 3:3; dalam Galatia 6:14 Paulus bermegah tentang ‘salib Tuhan kita Yesus Kristus’). Mereka yang membanggakan pelayanan mereka harus ingat bahwa pelayanan itu adalah milik Tuhan dan bukan milik pribadi mereka sendiri, sebuah ajang untuk mengangkat diri mereka di mata orang lain.

Semua pujian diri sendiri, bukan hanya pujian diri yang berlebihan. ditolak. Mereka yang memuji diri hanya memperoleh pujian mereka sendiri dan pengakuan dari mereka yang telah dipengaruhi. Pujian demikian, yang ditimbulkan oleh surat-surat pujian dan pekerjaan yang mempesona (lihat 5:12), dalam jangka panjang tidaklah berharga. Paulus tidak perlu memujikan atau membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan orang lain (ayat 12). Ia tidak perlu mengibar-ngibarkan surat-surat kepercayaannya di muka orang lain (13:3). Sebagian orang mungkin tetap tidak yakin bahwa Paulus dipuji Tuhan – Paulus yang lemah – sebagai rasul-Nya. Buktinya harus menunggu sampai Tuhan yang sama kembali sebagai hakim dari semua (1 Korintus 3:13; 4:4-5; 2 Korintus 1:14).

III. Paulus dan Para Rasul yang Tidak Ada Taranya itu

Ayat-ayat dalam 2 Korintus 11:1-15 ini merupakan bagian pembukaan dari apa yang telah disebut sebagai ucapan kebodohan Paulus (11:1 – 12:13). Dalam arti sempit, ucapan kebodohan itu adalah pasal 11:16 – 12:10. Bagian pembukaan ini adalah pengantar yang panjang dan di sini rasul tersebut beralih dari pembelaan kepada serangan, sementara ia mengidentifikasikan lawan-lawannya sebagai rasul-rasul palsu dan pekerja-pekerja curang (ayat 13). Ia menggunakan ironi yang menggigit sebagai pendahuluan dari pemegahannya yang jauh lebih bodoh (ayat 16). Bila para pengecamnya yang membanggakan diri itu terus-menerus merendahkannya dengan membanggakan surat-surat kepercayaan mereka sendiri, ia akan ikut bermain dalam permainan yang bodoh itu – tetapi hanya dengan membanggakan kelemahannya! Dengan mengambil taktik ini, meskipun ia telah menolak semua pemegahan manusia (10:17), Paulus tampaknya ikut bermain dengan irama lawan-lawannya. Pada kenyataannya, permainan retorikanya mem¬balikkan keadaan terhadap lawan-lawan mereka. Pemegahan manusianya membuktikan bahwa ia (dan mereka!) tidak punya apa pun untuk dibanggakan – kecuali kuasa ilahi (12:9).

Argumen Pertama (ayat 1-4)

* 2 Korintus 11:1-4
11:1 Alangkah baiknya, jika kamu sabar terhadap kebodohanku yang kecil itu. Memang kamu sabar terhadap aku!
11:2 Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.
11:3 Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.
11:4 Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.

Ayat-ayat pertama ini dirangkai dengan pertanyaan tentang apa yang rela diikuti orang Korintus. Mereka tampaknya rela tunduk padahal-hal yang baru dalam keagamaan, yang diperkenalkan oleh lawan-lawan Paulus (ayat 4; lihat pula ayat 19-20). Jadi mereka harus sabar terhadap dirinya sementara ia melakukan kebodohan yang kecil itu. Dengan mengulangi permohonannya untuk melakukan kebodohan itu (Memang kamu sabar terhadap aku! ), ia mengungkapkan keraguannya dalam mengambil peran seorang bodoh. Tetapi bila para pembaca mendengar maksudnya, tentu mereka akan melihat kedalaman hikmat dalam kemarahannya ini (12:6).

Reaksi pertama Paulus terhadap kemungkinan kebencian orang-orang Korintus ialah seperti seorang ayah yang cemburu. Ia mempunyai tuntutan mutlak terhadap kesetiaan mereka (10:14). Ia telah memperhmangkan mereka kepada seorang laki-laki, yakni Kristus. Pertunangan itu kini tampaknya terancam karena para pembacanya itu bermain-main dengan ajaran para penyusup di jemaat itu (ay. 4). Menurut kebiasaan perkawinan Yahudi, ayah dari seorang gadis muda yang dipertunangkan dalam suatu perkawinan, bertanggung jawab untuk memastikan bahwa ia akan diserahkan kepada suaminya sebagai perawan suci (lihat Ulangan 22:13-21). Perjanjian Lama menggambarkan Israel sebagai tunangan Tuhan, atau sebagai pengantinnya (Hosea 2:19-20; Yesaya 54:5-6; 62:5; Yehezkiel 16:8). Tradisi Yahudi di kemudian hari juga melihat Musa memainkan peranan sebagai comblang dalam menyerahkan Israel kepada YHVH sebagai pengantin-Nya. Perjanjian Baru menggambarkan gereja sebagai pengantin Kristus (Efesus 5:25-27; Wahyu 19:7-9; 21:2,9). Paulus telah berharap untuk mempersembahkan orang-orang percaya di Korintus sebagai perawan suci kepada Kristus pada kedatangan-Nya yang kedua kali. Jadi ia mempunyai alasan yang sangat kuat untuk merasakan kecemburuan ilahi karena ia melihat kemungkinan mereka menolak ‘suami’ mereka, yakni Kristus – rasa marah bercampur cemburu yang pernah dirasakan Allah karena ketidaksetiaan Israel (lihat Yehezkiel 5:13;16:38).

Meskipun tidak ada penolakan langsung terhadap Kristus di Korintus, Paulus takut bahwa hal ini akan terjadi bila hati para pembacanya tidak berubah. Bukannya mereka dengan sengaja menolak segala sesuatu yang mereka pelajari dari Paulus. Sebaliknya, mereka terancam dipikat kebenaran oleh para ‘pekerja curang’ dari pasal 11:13, seperti halnya Hawa diperdayakan oleh ular. Karena ayat 15 menyebut para penipu ini ‘pelayan-pelayan Iblis’, ada kemungkinan bahwa Paulus mengidentifikasikan ular dalam Kitab Kejadian (lihat Kejadian 3:1 dan 13 tentang kelicikan ular) dengan Iblis (lihat pula Wahyu 12:9; 20:2; Iblis adalah sumber yang sesungguhnya dari penipuan yang membawa kepada ajaran sesat dalam Roma 16:17-20). Bila agen-agennya dibiarkan bekerja tanpa ditahan, pikiran para pembaca akan disesatkan. Iman mereka akan dibelokkan sehingga pemikiran mereka tidak lagi taat kepada Kristus (2 Korintus 10:5). Mereka akan meninggalkan kesetiaan mereka yang sejati kepada Kristus, tanda dari seorang pengantin yang suci (ayat 2). Jadi mereka tidak hanya akan kehilangan iman mereka dan Injil, tetapi mereka sendiri pun akan direbut dari pengantin laki-laki, bila membiarkan diri rneroka dipikat oleh orang-orang yang bertindak sebagai kekasih.

Paulus kini memperlihatkan mengapa ia mempunyai alasan yang kuat untuk kuatir para pembacanya itu akan pergi – dari dirinya dan dari Kristus. Prosesnya sudah berlangsung (kata jika mengantarkan suatu pernyataan tentang fakta, bukan suatu pengandaian), untuk menilai dari reaksi pembacanya terhadap para penyusup. Kata-kata Paulus dalam ayat 4 tidak cukup spesifik untuk mengambil sebuah gambaran yang jelas tentang ajaran orang-orang ini. Cuma ini yang jelas: rasul-rasul palsu itu bukanlah anggota-anggota asli komunitas Kristen di Korintus. Frasa jika ada seorang datang (kata ganti orang tunggal ini digunakan untuk menunjukkan aktivitas-aktivitas dari sebuah kelompok), mendukung kesimpulan bahwa mereka adalah para misionaris keliling, tidak diutus oleh suatu jemaat tertentu (jelas bukan dari Yerusalem!), tetapi guru-guru yang mengangkat dirinya sendiri yang membanggakan kemampuan-kemampuan rohani khusus mereka.

Bahwa para pengkhotbah keliling ini menyepelekan Paulus jelas. Yang tidak begitu jelas adalah apa yang mereka ajarkan. Mereka membentuk sebuah kelompok yang memberitakan Yesus yang lain dari yang diberitakan Paulus. Sebagian melihat dalam acuan kepada Yesus, bukan kepada istilah ‘Kristus’, sebagai petunjuk kepada kemungkinan ajaran palsu. Apakah orang-orang ini Gnostik yang menyangkal pentingnya Yesus dunia dan menyatakan bahwa iman itu ditujukan hanya kepada Kristus yang dimuliakan? Pandangan ini sangat kuat dilandaskan pada penafsiran tertentu terhadap beberapa nas dalam Surat 1 Korintus, tetapi sedikit didukung oleh surat-menyurat di Korintus. Hal ini harus dibaca mundur dari waktu ajaran Gnostik yang sudah berkembang yang dapat didokumentasikan dari abad ke-2, jauh setelah masa Paulus. Kaum Gnostik yang belakangan menolak Perjanjian Lama, jadi tidaklah mungkin bahwa tuntutan sebagai orang Ibrani, Israel dan keturunan Abraham sejati (2 Kor. 11 :22) dapat dihubungkan dengan orang-orang seperti itu, bila mereka memang ada di Korintus.

Para penafsir lain menafsirkan bahwa para penyusup itu adalah orang-orang Kristen Yahudi yang memandang Kristus ‘menurut ukuran manusia’ saja (lihat 5:16). Hal ini pun tidak mungkin, karena mereka mengaku sebagai pengikut Kristus (bukan hanya Yesus) dalarn suatu cara yang khusus (10:7; 11:23). Usul-usul lainnya – misalnya, bahwa orang-orang ini mengembangkan suatu Kristologi ‘manusia ilahi’ yang memandang Yesus hanya sebagai seseorang yang dikaruniai dengan kuasa-kuasa ilahi, atau bahwa mereka menyatakan mempunyai hubungan khusus dengan Yesus dunia -juga jauh dari bukti-buktinya. Betapapun juga, Paulus dapat menggunakan nama Yesus daripada nama yang lebih lengkap ‘Yesus Kristus’ tanpa menyiratkan perbedaan di dalam maknanya (lihat 2 Korintus 4:5; Roma 3:26). Doktrin Kristus sama sekali tidak kelihatan sebagai titik pertikaian di dalam surat ini, sehingga kita tidak boleh terlalu jauh menafsirkan kata-kata Paulus. Bersama-sama dengan hal berikutnya, ia mengatakan bahwa rasul-rasul palsu itu akan memisahkan para pembaca dari Tuhan bila dibiarkan melaksanakan pekerjaan penipuan mereka.

Bahkan pemyataan bahwa guru-guru palsu itu memberitakan Roh yang lain (bukan ‘roh’ seperti yang diterjemahkan oleh NRSV – dan LAI, pen.) tidak memberikan gambaran yang jelas tentang ajaran yang salah. Tidak ada acuan apa pun terhadap pekerjaan Roh Kudus dalam pasal. 10-13 – selain dari berkat dalam 13:13 dan 12:18 – di situ Paulus mungkin berbicara tentang roh manusia. Akan tetapi, Paulus sebelumnya telah menekankan bahwa pelayanannya adalah pelayanan Roh (pasal 3; lihat pula 6:6). Di sini tersirat kontras antara pelayanan Injil sebagaimana dilakukan oleh Paulus, dengan semua kelemahan manusiawinya dan pelayanan dari yang lainnya yang mengaku mempunyai kuasa-kuasa khusus yang diterima dari Roh. Bukannya tidak mungkin bahwa orang-orang demikian telah mendapatkan tempat berpijak di Korintus dengan menjanjikan Roh yang lebih kuat daripada Roh yang telah diterima orang-orang Kristen di Korintus melalui pemberitaan Paulus (perhatikan bahwa roh selalu diterima, bukan didapatkan sebagai hak; lihat Roma 8:15; 1 Korintus 2:12; Galatia 3:2).

Demikian pula, tidak ada hal yang pasti yang dapat disimpulkan dari acuan Paulus pada pemberitaan Injil yang lain. Kita tidak dapat menyimpulkan dari penolakan Paulus terhadap ‘Injil yang lain’ dalam Galatia 1 :6-9 bahwa para rasul palsu itu menekankan karya maupun kasih karunia. Kita hanya mempunyai ciri-ciri umum tentang apa yang diajarkan oleh para rasul palsu itu. Hal ini menggarisbawahi suatu situasi ironis. Sementara orang-orang Korintus tampaknya enggan mendengarkan Paulus secara adil (ayat 1), mereka sabar saja pada hal-hal baru yang diperkenalkan oleh orang-orang luar. Ia memperingatkan bahwa hal ini dapat menyebabkan hilangnya semua yang telah mereka terima melalui pelayanannya.

Argumen Kedua (ayat 5-6)

* 2 Korintus 11:1-15
11:5 Tetapi menurut pendapatku sedikit pun aku tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu.
11:6 Jikalau aku kurang paham dalam hal berkata-kata, tidaklah demikian dalam hal pengetahuan; sebab kami telah menyatakannya kepada kamu pada segala waktu dan di dalam segala hal.

Kini Paulus mengarahkan serangannya terhadap salah satu taktik dari lawan-lawannya: mereka meremehkan status dan karunia-karunianya. Penilaian Paulus sendiri (menurut pendapatku) berlawanan dengan pendapat mereka tentang dia. Dengan mencoba mendapatkan pengakuan sebagai orang yang sederajat dengannya (ayat 12), para pemfitnalmya harus merendahkan kedudukan Paulus di Korintus. Tetapi ia tahu bahwa ia sedikit pun tidak kurang dibandingkan dengan orang-orang ini yang disebutnya sebagai rasul-rasul yang tidak ada taranya itu.

Siapakah rasul-rasul.yong tidak ada taranya itu? Masalahnya, yang membutuhkan komentar yang agak terinci, sudah dicatat oleh para Bapak Gereja di abad-abad ke-l. Bagaimana Paulus dapat menganggap dirinya sederajat dengan lawan-lawannya ketika ia mengatakan dalam pasal 11:12-15 bahwa mereka adalah rasul-rasul palsu dan hamba-hamba Iblis, yang berusaha menggambarkan diri sederajat dengannya? Akibatnya, demikian pernah diusulkan, sejak abad-abad pertama sampai belakangan ini, rasul-rasul yang tidak ada taranya itu tidaklah sama dengan rasul-rasul palsu dalam pasal 11:13. Mereka harus diidentifikasikan sebagai rasul-rasul pertama, seperti Petrus, Yakobus dan Yohanes, sokoguru gereja, yang setuju bahwa wilayah pelayanan Paulus adalah dunia non-Yahudi (Galatia 2:9). Itulah sebabnya acuan kepada rasul-rasul yang tidak ada taranya itu didului oleh percakapan tentang ‘batas-batas’ wilayah pelayanan Paulus (2 Korintus 10:13-16). Dukungan untuk pandangan ini ditemukan pula dalam kenyataan bahwa kedua acuan kepada para rasul yang tidak ada taranya itu diikuti oleh nas-nas yang membahas pertikaian tentang dukungan finansial (2 Korintus 11:7-11 mengikuti ayo 5, dan 12:14-18 mengikuti ayat 11). Hal ini mengingatkan kita pada Surat 1 Korintus 9:5; di situ Paulus menyatakan hak yang sama terhadap dukungan materi seperti ‘rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas’. Ia menyebut rasul-rasul asli itu sebagai rasul-rasul yang tidak ada taranya dan menyatakan kedudukan yang sama dengan mereka – demikian bunyi argumennya – bukan karena mereka telah merendahkan dirinya dan pelayanannya, melainkan karena yang lain-lainnya, khususnya para rasul palsu di Korintus, telah mengadu-domba Paulus dengan mereka. Sebaliknya, dengan rasul-rasul yang pertama, ia jelas ‘yang paling hina di antara semua rasul’ (1 Korintus 15:9). Lawan-lawan Paulus tentu setuju dengan pengakuan ini!

Argumen ini mulanya kedengaran meyakinkan, namun harus ditolak karena alasan -alasan berikut:

1. Tak ada suatu pun dalam Surat 2 Korintus 11 dan 12 yang menunjukkan bahwa Paulus membedakan antara rasul-rasul yang tidak ada taranya itu dengan rasul-rasul palsu. Ayat 5 erat berkaitan dengan ayat sebelumnya yang berbicara tentang orang-orang luar yang menyusup ke jemaat di Korintus (dalam bhs. Yunani kedua ayat ini dikaitkan dengan kata ‘karena’). Para penipu dalam ayat 4 ini adalah sama dengan para ‘pekerja curang’ dalam pasal 11 :13.

2. Pengakuan Paulus bahwa ia ‘kurang paham dalam hal berkata-kata’ (ayat 6) tidak masuk akal bila ia dibandingkan dengan para rasul pertama di Yerusalem. Tidak ada bukti bahwa mereka pemah berkunjung ke Korintus yang memungkinkan mereka melakukan perbandingan antara kecakapan berbicara mereka. Betapapun juga, orang-orang di Korintus tentunya sudah tahu bahwa para rasul itu adalah orang-orang Galilea yang tidak berpendidikan (‘orang biasa yang tidak terpelajar’. Menurut Kisah Para Rasul 4:13, meskipun istilah ini berkaitan khususnya dengan kurangnya pengetahuan mereka tentang hukum Allah).

3. Hal yang jelas di sini adalah gambaran Paulus tentang para rasul palsu itu sebagai rasul yang tidak ada taranya itu adalah bagian dari ‘bahasa orang bodoh’. Ia berbicara dengan ironi yang nyaris ditutupi. Apakah lawan-lawan Paulus memang pernah menyebut diri mereka rasul-rasul yang tidak ada taranya, sungguh diragukan – meskipun mungkin mereka pernah menyatakan mempunyai hubungan-hubungan yang erat dengan para pemimpin di Yerusalem (lihat 11:22). Tetapi ia sangat bergembira dalam memberikan gelar mulia itu – dengan nada mencemooh. Semua pemyataan palsu mereka harus membawa orang pada kesimpulan: sebagai rasul mereka jauh lebih unggul daripada Paulus yang lemah dan miskin! Tetapi, pada gilirannya, hanya sebagai seorang bodoh yang marahlah ia dapat sesungguhnya membiarkan perbandingan antara dirinya dengan mereka (lihat 11:23).

Pengakuan Paulus bahwa ia kurang paham dalam hal berkata-kata dapat dipahami sebagai tanggapannya terhadap pernyataan-pernyataan orang lain yang berlebihan, atau sebagai serangan langsung kepada dirinya sebagai seorang amatir dalam berpidato. Keduanya mungkin. Para pengecamnya jelas berbicara sangat keras tentang dirinya yang kurang berkarisma dan kurang mampu berkata-kata (Lihat 10:10). Pada saat yang sama, penolakan Paulus terhadap trik-trik retorika yang dipergunakan untuk menipu dan bukan untuk membawa pada kebenaran (2:17; 4:2; lihat pula 10:4-5 yang menyiratkan hal ini) menunjukkan bahwa lawan-lawannya memandang diri mereka jauh lebih berbakat daripada Paulus dalam bidang ini. Ia sungguh awam dibandingkan mereka! Beberapa ayat dalam Surat 1 Korintus juga mengkontraskan pemberitaan yang ‘lemah’ dari kebodohan salib dibandingkan dengan hikmat dunia yang fasih dan meyakinkan (1 Korintus 1:17; 2:1, 4, 13). Orang-orang Korintus, yang sangat menghargai kefasihan dan hikmat, tentu siap dipermainkan oleh para rasul palsu itu. Para rasul palsu ini kemungkinan juga mempermainkan pernyataan-pemyataan orang-orang Korintus terhadap pengetahuan khusus atau mataharirohani, yang menunjukkan bahwa kelemahan Paulus sebagai seorang orator terbukti dari kurangnya matahatinya. Itu adalah sesuatu yang tidak akan diakuinya. Ia tidak hanya berpengetahuan; ia pun telah terpanggil untuk menyebarkannya (2 Korintus 2:14; 4:5, 6; 6:6; 10:5). Ketika ia memberitakan Injil. bungkusnya mungkin sederhana, tetapi isinya jauh amat tinggi! Dengan tepat ia dapat mengingatkan para pembacanya bahwa melalui pelayanannya di antara mereka Paulus telah menyatakan bahwa ia mempunyai pengetahuan (pada segala waktu dan di dalam segala hal dapat pula diterjemahkan ‘selamanya dan dalam semua urusan kami dengan kamu).

Catatan:
Belakangan ini analisis terhadap surat-surat Paulus menunjukkan bahwa ia cukup mengenal teknik-teknik dan perangkat yang digunakan untuk membangun suatu argumen. Jadi, pengakuannya dalam ayat 6 berarti bahwa ia tidaklah begitu terlatih seperti yang lain-lainnya (termasuk pengecamnya). Tetapi ada alasan yang lebih mendalam untuk pengakuan ini. Ia tentunya tidak mempunyai argumen dengan retorika yang canggih itu. Apa yang diserangnya adalah kecanggihan, trik-trik dan pemutarbalikan gampangan yang dilakuan; mereka yang mementingkan kepandaian dalam kata-kata dan olah mental daripada terhadap kebenaran itu sendiri. Injil tidak boleh dicampurbaurkan dengan bungkusan yang digunakan untuk menyajikannya. Jelas, pendapat bahwa pengetahuan hanya dapat dilihat dalam pidato yang cekatan. Bahkan si penggagap pun dapat mengatakan kebenaran, sementara pembicaraan yang fasih dapat menjadi topeng dari kebodohan ataupun untuk menipu si pembicara yang fasih.

Argumen Ketiga (ayat 7-11)

* 2 Korintus 11:7-11
11:7 Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma?
11:8 Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu!
11:9 Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorang pun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap berbuat demikian.
11:10 Demi kebenaran Kristus di dalam diriku, aku tegaskan, bahwa kemegahanku itu tidak akan dirintangi oleh siapa pun di daerah-daerah Akhaya.
11:11 Mengapa tidak? Apakah karena aku tidak mengasihi kamu? Allah mengetahuinya.

Paulus kini mengangkat masalah yang diperdebatkan antara dirinya dengan para pembacanya: penolakannya untuk menerima dukungan keuangan dari mereka sementara menerimanya dari orang lain. Ia membahas masalah ini di dalam suratnya yang kedua (lihat 1 Korintus 9:3-18), sambil berpendapat bahwa panggilannya untuk memberitakan Injil yang cuma-cuma lebih diutamakan daripada haknya untuk menerima uang dari mereka. Tampaknya argumennya tidak berhasil menghapuskan semua rasa tersinggung yang. telah ditimbulkan. Kemungkinan besar para rasul. yang tidak ada taranya itu (ayat 5) mengangkat masalahnya sekali lagi untuk menambahkan api ke dalam kampanye mereka untuk mendiskreditkan rasul tersebut. Hal itu-ditunjukkan oleh konteksnya dan nada ironis dari ayat-ayat ini.

Tidak ada pertanyaan mengenai pemikiran Paulus tentang apakah pemberitaan Injilnya yang cuma-Cuma di Korintus itu (lihat pula 1 Korintus 9:18) merupakan dosa. Pertanyaannya yang menuntut jawaban tidak, adalah pelebihan ironis yang mencerminkan ketersinggungan yang disebabkan oleh penolakannya untuk menerima dukungan dalam bentuk uang. Sebagian jelas telah melihat penekanannya untuk mendukung diri sendiri dengan keahliannya sebagai seorang pembuat tenda (Kis. 18:3) sebagai sesuatu yang merendahkan dirinya dan penghinaan bagi para mualafnya. Mereka mengatakan bahwa dengan merendahkan diri dengan cara ini ia memberikan contoh lagi tentang perilakunya yang merendah (Lihat 10:1).

Paulus tidak berusaha membantah tuduhan ini dengan berargumentasi bahwa pekerjaannya itu mulia. Ia mungkin sepenuhnya sadar bahwa pekerjaan manual dianggap berada di bawah martabat seorang filsuf atau guru keliling. Di tempat lain, bila berbicara tentang kepuasannya dalam segala keadaan – baik dalam kekurangan ataupun dalam kelimpahan – ia mengatakan: ‘Aku tahu bagaimana direndahkan’ (Filipi 4:12 RSV, menggunakan kata Yunani yang sama di sini diterjemahkan menjadi ‘merendahkan diri’). Rasul ini tidak membela tindakan-tindakannya selain dengan menunjuk pada motif-motifnya yang mulia. Ia siap menolak keuntungan finansial agar para pembacanya dapat ditinggikan. Ia menyangkal jaminan materi agar jaminan rohani mereka dapat dipastikan. Karena kasih karunia Allah itu cuma-cuma, pelayanannya pun cuma-cuma. Injil harus diberikan dengan cuma-cuma. Itulah sebabnya ia puas untuk tetap ‘sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang’ (6:10), mengikuti teladan Kristus yang menjadi miskin untuk membuat banyak orang kaya (8:9). Jadi, kerendahan hati Paulus yang dipaksakan kepada dirinya sendiri adalah tanda bahwa ia adalah rasul sejati Kristus, bukan bukti statusnya yang lebih rendah bila dibandingkan dengan mereka yang jauh lebih siap menerima uang untuk pemberitaan mereka.

Kembali berbicara dengan melebih-lebihkan dan mengejek, Paulus mengakui bahwa jemaat-jemaat lain telah ia rampok agar ia dapat melayani orang-orang Korintus dengan Injil. Sebaliknya, mereka mungkin telah mengakui bahwa ia mempunyai alasan-alasan yang kuat untuk menolak dukungan berupa gaji. Mereka mungkin telah memahami motif-motif Paulus: keinginannya untuk menghindari segala hubungan dengan para filsuf dan pengkhotbah profesional, yang menerima uang untuk pelayanan mereka. Apa yang masih dianggap menyinggung oleh orang-orang Korintus adalah bahwa ia tidak menerima apa pun juga dari mereka, sementara menerima – bahkan merampok! – uang dari yang lainnya. Jelas ini adalah bukti lain dari inkonsistensinya (lihat 10:1-2 dan 10;10-11).

Apakah praktik Paulus dalam masalah ini benar-benar tidak konsisten?. Memang pernah Paulus menerima bantuan dari orang-orang Filipi lebih dari satu kali (Filipi 4:15-16). Namun kita harus melihat latar belakang ayat tersebut, bahwa Paulus menerima bantuan ketika ia berada di dalam penjara, dimana pada saat ini – tentu saja – ia tidak dapat mencari nafkah bagi dirinya sebagai pembuat tenda. Bantuan tersebut bisa berupa alat-alat tulis, sehingga Paulus tetap dapat menulis surat penggembalaan kepada jemaat Kristus yang dibangunnya, atau baju hangat, mengingat Paulus berada di penjara bawah tanah, atau juha hal-hal lain yang berkaitan dengan kebutuhannya selama dipenjara. Dan tampaknya ia menerima dukungan/ bantuan ini hanya setelah meninggalkan mereka untuk pindah ke tempat lain. Bukan hanya di Korintus ia menopang dirinya sebagai seorang pembuat tenda (lihat 1 Tesalonika 2:9). Memang, dapat diperdebatkan bahwa Paulus tidak pernah menerima bayaran ketika ia ada. Tetapi perlu dipahami pula, apa yang diterimanya dengan sukacita adalah pemberian-pemberian yang mendukung program misinya lebih jauh. Bahwa kebijakannya adalah menerima bantuan adalah ketika ia dalam penjara. Sambil menghindari kesan apa pun bahwa ia memperdagangkan Injil itu untuk keuntungan pribadinya, ia tidak ingin menyusahkan orang-orang Korintus dengan kebutuhannya, bahkan ketika ia mengalami kekurangan finansial besar. Kebutuhan-kebutuhan ini dipenuhi dengan usahanya membuat tenda, dan dengan pemberian-pemberian yang dikirimkan kepadanya dari Makedonia, setelah ia meninggalkan tempat itu. Agaknya benar terkaan kita bahwa saudara-saudara itu, atau orang-orang Kristen tersebut, diutus oleh orang-orang Filipi. Ada kemungkinan mereka adalah Silas dan Timotius, yang bergabung dengan Paulus di Korintus setelah meninggalkan Makedonia (lihat Kisah 18:5).

Praktik Paulus di Korintus bukannya sama sekali tidak konsisten, sehingga tidak ada alasan mengapa ia harus bersikap apologetik, atau menghentikannya di masa mendatang. Tidak, ia akan tetap menahan diri agar jangan menjadi beban bagi para pembacanya secara finansial, seperti yang telah ia lakukan di masa lampau (lihat pula 1.2:13, 14). Kebijakannya akan tetap sama (lihat pula ayat 12); ini bukanlah alasan untuk merasa malu, demikian ia menekankan. Demi kebenaran Kristus di dalam diriku adalah rumusan sumpah yang berarti ‘Aku mengatakan kebenaran di dalam Kristus’ (lihat Roma 9:1 dan tafsiran tentang 2 Korintus 1:18, 23: dua rumusan serupa muncul dalam pasal ini, 11:11, 31), Jauh dari memalukan, kebijakannya untuk tidak menerima bayaran memberikan ia alasan untuk memiliki kemegahan (sudah tentu sambil menyindir!). Jangan seorang pun berusaha merampas alasannya untuk berbangga: bahwa ia menawarkan Injil yang cuma-cuma. Ini adalah kebanggaan yang bergema di di daerah-daerah Akhaya, artinya, di seluruh provinsi Romawi (lihat artikel : Kesalehan Professional dan Kesalehan “Amateur” kesalehan-professional-dan-kesalehan-amateur-vt1650.html#p6476 )

Mengapa Paulus memutuskan untuk tidak pernah menerima dukungan pribadi dari Korintus, dinyatakan dalam ayat 12. Keprihatinannya yang mendesak ialah menolak kesan apa pun bahwa tus ini membuktikan bahwa ia tidak mengasihi para pembacanya, bahwa ia dengan marah menolak mereka. Allah mengetahuinya (sebuah bentuk yang lebih lengkap dari rumusan sumpah ini muncul dalam ayat 31), bahwa hal itu sangat benar. Bukankah ia telah cukup sering meyakinkan mereka tentang kasihnya yang besar (lihat 2:4; 8:7; 12:15)?

Komentar-komentar di atas telah menekankan dua alasan ketersinggungan di kalangan orang Korintus karena penolakan Paulus untuk menerima dukungan pribadi dari mereka: mereka merasa sikap mereka menghina (ayat 7) dan tidak konsisten (ayat 8). Apakah adafaktor-faktor lain yang menjelaskan mengapa hal ini menjadi persoalan yang demikian diperdebatkan?

Barangkali, seperti yang telah diusulkan, ada dua aturan misi yang berfungsi di kalangan gereja mula-mula, yang keduanya masih dapat menemukan dukungan dalam kata-kata Tuhan ketika Ia mengutus para murid untuk melaksanakan misi: “Berilah dengan cuma-cuma”, dan “seorang pekerja patut mendapat upahnya” (Matius 10:8 dan 10). Tetapi ini tidak sepenuhnya menjelaskan benturan Paulus dengan orang-orang Korintus. Jelas bahwa para ‘rasul-rasul palsu’ keliling itu menerima uang, sedangkan Paulus tidak. Akan tetapi ia sendiri bukan hanya mengakui bahkan menekankan agar para pemberita Injil berhak mendapatkan dukungan finansial (lihat 1 Korintus 9:5, 6).

Studi-studi belakangan ini mengenai pelindung dan pemberian bantuan dalam dunia Yunani-Romawi telah membuktikan bahwa memberi dan menerima melahirkan kewajiban-kewajiban sesuai dengan norma-norma sosial waktu itu. Seorang pelindung yang kaya mendapatkan gengsi dengan mendukung seorang klien. Status dapat diukur dengan bantuan yang diberikan seseorang. Rasa terima kasih si penerima juga menimbulkan kewajiban kepada pihak si pemberi. Menolak perlindungan demikian tidak hanya dilihat sebagai perilaku kurang ajar dan kasar tetapi sebagai sikap meremehkan kedudukan sosial si pelindung. Kebiasaan-kebiasaan sosial demikian tentunya dikenal di Korintus Romawi dan akan menolong menjelaskan kepada kita mengapa orang-orang Korintus merasa tersinggung: tawaran perlindungan mereka telah ditolak, persahabatan mereka disanggah (ayat 11), dan dengan merendahkan dirinya (ayat 7) Paulus sesungguhnya telah merendahkan mereka.

Akan tetapi kita masih dapat bertanya – bila praktik Paulus memang benar konsisten ke mana pun ia pergi – mengapa orang lain tidak merasa tersinggung? Ada faktor-faktor khusus yang terjadi di Korintus yang melahirkan masalah ini. Adalah pada pendatang kemudian, yang menyusup ke jemaat Korintus; yang juga membesar-besarkan penolakan Paulus untuk menerima uang (lihat tafsiran tentang ayat 12 di bawah). Bagi mereka, ini merupakan bukti lebih jauh tentang statusnya yang meragukan sebagai seorang rasul. Lebih jauh, mereka mungkin-secara tak langsung menunjukkan bahwa semangat rasul itu dalam mengumpulkan uang untuk orang miskin di Yerusalem semata-mata hanyalah sebuah alasan untuk mengisi sakunya belaka. Hal itu ditunjukkan dalam pasal 12:16; di situ Paulus menolak tuduhan bahwa ia dengan cerdik telah menipu orang-orang Korintus!

Jadi, tampaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan orang Korintus tersinggung. Akan tetapi penting dicatat bahwa Paulus memandangnya sebagai suatu masalah teologis, bukan semata-mata disebabkan oleh kebijakan atau kebiasaan sosial yang berbeda. Ini adalah suatu ujian bagi otentisitas kerasulannya maupun Injilnya tentang kasih karunia yang cuma-cuma.

Argumen Keempat (ayat 12-15)

* 2 Korintus 11:12-15
11:12 Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami dalam hal yang dapat dimegahkan.
11:13 Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.
11:14 Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang.
11:15 Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.

Pembelaan kini dikalahkan oleh serangan langsung. Lawan-lawan Pauluslah yang telah mempersoalkan keputusan untuk menolak dukungan. Bila ia membalikkan keputusannya, Paulus berkata sambil mencemooh,ia tentu akan mengikuti permainan mereka dengan memberikan kesempatan untuk mengatakan ‘Kami hanya melakukan apa yang dilakukan oleh Paulus’,Jadi; ia akan tetap menolak dukungan agar tidak memberikan kepada para pangecamnya alasan untuk diakui sama dengan dirinya. Berbicara sebagai hamba Kristus yang bodoh, di tempat lain ia ntenyatakandirinya sederajat dengan mereka (11:5, 21b-23; 12:11-13). Kini ia menekankan bahwa mereka sesungguhnya lebih rendah daripadanya, karena mereka memegahkan diri bahwa mereka menerima uang dari jemaat. Orang seperti itu tidak memperlihatkan kerendah-hatian dari seorang rasul dari Kristus yang rendah hati (lihat tafsiran untuk ayat 7 di atas).

Orang-orang yang ingin dimegahkan seperti itu membuktikan bahwa mereka tidak lain daripada rasul-rasul palsu (istilah ini hanya muncul di sini di dalam Perjanjian Baru, dan mungkin diciptakan oleh Paulus sendiri). Bahasanya yang keras dapat dipahami, karena orang-orang ini menantang kerasulannya (10:7-11), merambah wilayahnya (10:13-16), dan membanggakan kuasa mereka sendiri sementara menuduh Paulus lemah dan tidak efektif (lihat 10:1, 10; 11:12, 16-21]. Mereka bahkan mengancam untuk merombak semua yang telah dikerjakan Paulus (11:4). Kini mereka berani bermegah tentang menerima uang dari orang-orang Korintus (lihat ayat 20)!

Orang-orang tersebut adalah pekerja-pekerja palsu (Paulus menggunakan ungkapan yang mirip “pekerja-pekerja yang jahat” dalam Filipi 3:2). Mereka adalah penipu yang menutupi rasa bersalah dalam suatu penyamaran sebagai pemberita Injil. Mereka, bukan Paulus, adalah para pendusta dan memperjualbelikan agama (lihat 2:17; 4:2; 12:16). Mereka menyamar sebagai rasul Kristus.

Tidak heran bahwa rasul-rasul palsu ini menyembunyikan identitas mereka yang sesungguhnya, karena mereka mengikuti tuan mereka, Iblis, yang juga menyamar untuk melaksanakan aktivitas penipuannya. Ia tidak akan banyak. berhasil mempengaruhi orang banyak. dan tidak akan banyak memperoleh kemenangan bila dilihat dari siap ia sesungguhnya: sang malaikat gelap. Oleh karena itu, ia menyamar sebagai malaikat Terang, yang berarti malaikat yang bercahaya. Paulus di sini tampaknya mengacu pada tradisi Yahudi kuno yang menggambarkan Iblis, si penipu Hawa (lihat 11:13), bukan hanya sebagai seekor ular, melainkan juga sebagai malaikat yang bercahaya (Wahyu Musa 17:1,2).

Bila guru pendusta dan penipu menyamar, bukanlah suatu hal yang ganjil bila hamba-hambanya juga melakukan hal yang sama. Mereka berkedok sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Frasa ini mungkin mempunyai makna ganda, baik sebagai ‘hamba-hamba yang benar dan asli’ dan mereka yang melayani perjanjian yang baru dari kebenaran Allah di dalam Kristus (lihat 3:9). Tetapi Hari Penghakiman akan menyingkapkan identitas mereka yang sesungguhnya sebagai lawan-lawan Allah, Kristus, Roh dan Injil, serta lawan-lawan Paulus sendiri. Pernyataannya yang terakhir sungguh mengesankan dan singkat: Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka. Kristus yang mereka akui layani akan menyangkal mereka (lihat ayat 23), dan mereka akan membayar hukuman bagi penipuan mereka. Kita ingat kata-kata Paulus tentang nasib mereka yang adalah musuh-musuh salib Kristus: ‘Kesudahan mereka adalah kebinasaan’ (Filipi 3:19). Kemegahan Paulus tidak akan dapat dibungkam (ayat 10); kemegahan mereka pasti!

IV. Pemegahan Hamba Kristus yang Bodoh

Ayat dalam 2 Korintus 11:16- 12:10. Bagian ini merupakan inti utama dari ‘ucapan si bodoh’; di sini Paulus memainkan permainan pemegahan yang sama seperti lawan-lawannya. Ia pertama-tama berbicara tentang perlunya taktik ini: ia harus berbicara seperti orang bodoh karena orang-orang Korintus tampaknya mengerti bahasa semacam ini (11:16-21a)! Berikutnya, sementara ia menandingi tuntutan-tuntutan manusia yang dilakukan oleh para pengecamnya, ia memberikan alasannya – atau dasar – yang sebenarnya untuk bermegah: penderitaan-penderitaan dan kelemahannya sebagai manusia (11:21b-33). Akhirnya, meskipun ia menyatakan telah menerima penglihatan dan penyataan, ia menyatakan pelajaran yang telah diterimanya sebagai seorang rasul Kristus: kekuatan ilahi disempurnakan di dalam kelemahan manusiawi (12:1-10).

a. Perlunya Pemegahan Diri Paulus (ayat 16-21a)

* 2 Korintus 11:16-21a
11:16 Kuulangi lagi: jangan hendaknya ada orang yang menganggap aku bodoh. Dan jika kamu juga menganggap demikian, terimalah aku sebagai orang bodoh supaya aku pun boleh bermegah sedikit.
11:17 Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah.
11:18 Karena banyak orang yang bermegah secara duniawi, aku mau bermegah juga.
11:19 Sebab kamu suka sabar terhadap orang bodoh, karena kamu begitu bijaksana:
11:20 karena kamu sabar, jika orang memperhambakan kamu, jika orang menghisap kamu, jika orang menguasai kamu, jika orang berlaku angkuh terhadap kamu, jika orang menampar kamu.
11:21 Dengan sangat malu aku harus mengakui, bahwa dalam hal semacam itu kami terlalu lemah. Tetapi jika orang-orang lain berani membanggakan sesuatu, maka aku pun — aku berkata dalam kebodohan — berani juga!

Menurut hikmat Perjanjian Lama, seorang bodoh adalah dia yang tidak berurusan dengan Allah (Mazmur 14:1; 53:1; 92:6; Amsal 12:15). Paulus mengenal peribahasanya: ‘Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia’ (Arus. 26:4). Jadi ia pun tahu bahwa ia sedang memainkan peranan berbahaya dalam mengambil cara si bodoh yang bermegah. Ia merasa terpaksa melakukannya karena lawan-lawannya dengan bodoh membanggakan surat-surat kepercayaan mereka (12:11). Ia akan memainkan peranan mereka, hanya untuk menunjukkan betapa bodohnya hal itu.

Paulus telah merangkul kebodohan pemberitaan salib sebagai sesuatu yang berlawanan dengan hikmat dunia ini (1 Korintus 3:18). Tetapi ia bukanlah orang yang bodoh dalam pengertian lainnya; ia tidak kekurangan matahati (11:6), ia pun tidak bermegah ‘secara duniawi’ (ayat 18). Bila para pembacanya masih menganggap dia bodoh, mereka harus menerima ia apa adanya. Mereka menerima pemegahan yang bodoh dari yang lain (ayat 12,19), jadi mengapa mereka tidak mengizinkan dia bermegah sedikit (lihat 11:1) meskipun hal itu membuat sebagian orang menganggapnya ‘sedikit terlalu banyak.’ (10:8). Ini tampaknya satu-satunya bahasa yang dipahami sebagian orang!

Dalam proses menyatakan keyakinannya dengan bermegah (ia mempunyai alasan yang kuat untuk meyakini statusnya sebagai seorang rasul; lihat 12:6), Paulus tidak berbicara menurut firman Tuhan (harfiah: ‘menurut Tuhan’). Sebelumnya, dalam surat-menyuratnya dengan Korintus ia telah membuat pembedaan antara pandangan pribadinya sendiri dan perintah Tuhan (1 Korintus 7:10, 12, 25). Pembedaan yang dibuat di sini serupa, tetapi tidak persis sama). Paulus biasanya menyapa para pembacanya sebagai seseorang yang berbicara ‘di dalam Kristus’ (2 Korintus 2:17; 12:19). Pada bagian ini ia berbicara sebagai seorang bodoh (harfiah: ‘di dalam kebodohan’). Ia tidak mempunyai mandat ilahi untuk berbicara dalam cara ini, namun demikian ia melakukannya dengan sengaja untuk menjelaskan maksudnya kepada orang-orang Korintus: pemegahan lawan-lawannya adalah puncak kebodohan. Mereka bermegah secara duniawi [harfiah: ‘menurut daging’). Mereka bekerja dengan memamerkan penampilan luar yang megah, sementara Paulus tahu bahwa yang ada di dalam hati seseoranglah yang diperhitungkan di mata Allah (lihat 5:12). Pemegahan Paulus sendiri tidak boleh dinilai mengikuti ukuran dunia (lihat 1:17; 10:2,3). Taktiknya pada bagian ini mungkin duniawi, tetapi inti argumennya tidak. Perhatikan betapa Paulus berbicara secara tidak langsung tentang lawan-lawannya (‘seseorang’ atau ‘barangsiapa’ dalam 11:4, 20-21; ‘orang-orang itu’ dalam ayat 13; banyak dalam ayat 18 ini; lihat pula 2:17). Ia menolak untuk menghormati mereka dengan menyebutkan nama-nama mereka!

Ada ironi yang menyedihkan ketika orang-orang Korintus begitu siap menerima orang lain, sementara tampaknya mereka menolak untuk mendengarkan pendapat Paulus (lihat 11:1). Sekurang-kurangnya demikianlah ia menilai keadaan saat itu. Meskipun bijaksana dalam perkiraan mereka, orang-orang Korintus suka sabar terhadap para rasul palsu yang sesungguhnya adalah orang-orang bodoh (lihat pula 11:4b). Dengan ironi yang sama Paulus sebelumnya telah berkata: ‘Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus’ (1 Korintus 4:10). Bila benar-benar bijaksana, mereka akan mengakui lawan-lawannya sebagai orang-orang bodoh! (lihat juga bahasan di tanggapan-alkitab-itu-dasarnya-adalah-dari-paulus-vt3168.html#p17768 )

Lebih jauh, bila orang-orang Korintus itu begitu unggul dalam hikmat mereka, mengapa membiarkan orang lain menipu mereka? Mereka berkeberatan ketika Paulus merendahkan dirinya di hadapan mereka (lihat ayat 7). Jadi, mengapa mereka sabar dengan perlakuan yang merendahkan orang lain? Kata seseorang (diulangi dalam bahasa Yunani untuk kelima contoh penghisapan yang disebutkan dalam ayat 20), tidaklah jelas, menunjukkan pada apa yang telah siap dihadapi para pembaca umumnya. Akan tetapi contoh-contohnya jelas diarahkan kepada lawan-lawan Paulus di Korintus.

Para pembaca tunduk kepada siapa pun yang menghisap mereka, yang berkuasa atas mereka dan membuat mereka tunduk dalam ketaatan (tidak ada petunjuk bahwa lawan-lawan Paulus juga berusaha memaksakan perbudakan di bawah Torah, seperti dalam Galatia 2:14). Paulus belum pernah melakukan taktik-taktik ini, ataupun mengulanginya lagi kelak (2 Korintus 1:24; 4:5). Kedua; mereka sabar dengan siapa pun yang menampar mereka.. Kata kerja Yunani yang dipergunakan di sini berarti ‘menelan’ dan mengacu pada segalabentuk penghisap an (lihat Mazmur 53:4; Matius 23:14), atau pada tindakan menggigit dan menelan secara. kejam yang terjadi dalam argumen-argumen yang getir (lihat Galatia 5:15). Yang lebih mungkin lagi, Paulus mengacu pada kesediaan lawan-lawannya untuk mengambil apa saja yang dapat mereka peroleh dari orang-orang Korintus (lihat tafsiran tentang ayat 8). Mereka tidak melihat ada salahnya memakan orang-orang Korintus dari rumah-rumah mereka (Barrett). Ketiga, mereka sama sekali tidak berkeberatan kepada siapa pun yang menguasai mereka (lihat 12:16). Para pembaca bahkan tidak cukup bijak untuk memahami bahwa mereka sedang dibohongi. Keempat, mereka pun tidak memprotes ketika seseorang berlaku angkuh, bertindak dengan sikap sok dan menggurui, atau dengan sombong ‘mengangkat’ (kata kerja yang sama dalam 10:5 digunakan di sini) keberatan-keberatan yang dianggap bijaksana guna memenangkan argumen. Akhirnya, orang-orang Korintus bahkan tidak mengeluh ketika seseorang, ibaratnya, menampar muka mereka. Mereka bahkan tunduk kepada penghinaan dari siapa pun yang membuat pernyataan gagah-gagahan. Mereka yang membuat keributan pastilah benar!

Jelas, Paulus tidak dapat bersaing dengan orang-orang yang lebih unggul itu! Dengan sangat malu, ia mengaku sambil mencemooh, dalarn hal semacam itu ia terlalu lemah! Kelemahannya dengan segera diakuinya (11:29-30; 12:5, 9-10; 13:4, 9). Ia tidak dapat membohongi orang-orang Korintus, karena penampilan fisiknya dan cara bicaranya tidak meyakinkan (10:10; lihat pula 1 Korintus 2:3,4). Karena ia tidak mendorong mereka, seperti yang dilakukan oleh lawan-lawannya, ia tentulah hanya seorang rasul kelas dua! Betapa memalukannya bahwa seorang rasul Kristus temyata begitu lemah! (Tentang hubungan yang erat antara kelemahanJkekuatan dan rasa malu/kehormatan lihat 1 Korintus 4:10 dan 15:43). Akan tetapi, itu bukanlah dasar satu-satunya cara Paulus untuk bermegah, seperti yang kemudian ia perIihatkan.

b. Alasan Paulus untuk bermegah: kelemahannya, ayat 21b-33

* 2 Korintus 11:21b-33
11:21 Dengan sangat malu aku harus mengakui, bahwa dalam hal semacam itu kami terlalu lemah. Tetapi jika orang-orang lain berani membanggakan sesuatu, maka aku pun — aku berkata dalam kebodohan — berani juga!
11:22 Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel. Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham!
11:23 Apakah mereka pelayan Kristus? — aku berkata seperti orang gila — aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.
11:24 Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan,
11:25 tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut.
11:26 Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu.
11:27 Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian,
11:28 dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.
11:29 Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?
11:30 Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.
11:31 Allah, yaitu Bapa dari Yesus, Tuhan kita, yang terpuji sampai selama-lamanya, tahu, bahwa aku tidak berdusta.
11:32 Di Damsyik wali negeri raja Aretas menyuruh mengawal kota orang-orang Damsyik untuk menangkap aku.
11:33 Tetapi dalam sebuah keranjang aku diturunkan dari sebuah tingkap ke luar tembok kota dan dengan demikian aku terluput dari tangannya.

Kelemahlembutan dapat menjadi tanda kelemahan. Lawan-lawan Paulus menuduh kedua-duanya (10:1). Tetapi kini ia siap menandingi keberanian orang-orang lain yang berani membanggakan sesuatu. Lagu tema mereka adalah ‘Segala sesuatu yang engkau dapat lakukan, aku dapat lakukan lebih baik!’ Nah, meskipun berkata dalam kebodohan untuk Kristus (11:1, 16-17; 12:6,11), ia tidak hanya akan menandingi pernyataan gagah-gagahan mereka, tetapi juga mengalahkan mereka dalam permainan mereka sendiri, meskipun permainan itu bodoh. Ia akan mengejek kemegahan mereka dengan memegahkan kelemahannya dan bukan kekuatannya (11:30; 12:5, 9-10).

Pembandingan Paulus antara dirinya dan lawan-lawannya berlanjut ke pasal 12:13. Ia pertama-tama menangani kemegahan yang jelas mencerminkan penggunaan ukuran ‘secara duniawi’ (ayat 18), dan suatu keyakinan palsu terhadap daging (Filipi 3:4). Lawan-lawannya membanggakan keturunan etnis mereka. Mereka adalah orang-orang Ibrani yang asal-usul keyahudiannya tidak diragukan. Tetapi Paulus dapat menandingi mereka sebagai ‘orang Ibrani asli’, seorang anggota suku Benyamin (Filipi 3:5; Roma 11:1). Sebagai orang Israel mereka bukan hanya berdarah Yahudi, tetapi ikut serta dalam warisan keagamaan Yahudi. Mereka tergolong dalam sebuah kisah kudus (lihat 2 Korintus 3:7, 13). Tetapi Paulus pun adalah seorang Israel, anggota dari umat pilihan Allah (Roma 11;1; Filipi 3:5). Sebagai keturunan (harfiah, ‘benih’) Abraham mereka dapat mengajukan tuntutan terhadap semua janji Allah yang dibuat kepada para leluhur (Roma 4:13-18; 9:6-8; Galatia 3:16-18). Tetapi Paulus dapat menandingi pernyataan ini pula (Rm. 11:1; frasa Yunani yang sama digunakan untuk Aku juga sampai tiga kali dan untuk ayat 16, 18, 21). Bila keturunan Yahudi memang mempunyai arti penting. maka ia tidak lebih rendah daripada siapa pun.

Kita tidak perlu terlalu jauh menafsirkan ayat 22 ini. Tidak ada bukti yang kuat untuk memungkinkan pandangan bahwa lawan-lawan di Korintus adalah seperti orang-orang Yudais yang harus dilawan Paulus di Galatia. Kita pun tidak boleh segera menduga bahwa mereka mempertanyakan keyahudian Paulus; ini tidak dapat mereka tentang (lihat Roma 3:9; 11:14; Galatia 2:15 – selain dari kedua teks utama yang sudah dikutip, Filipi 3:5 dan Roma 11:1). Kita bahkan tidak dapat memastikan apakah para misionaris keliling ini menyatakan kewibawaan khusus karena hubungan pribadi mereka dengan gereja induk di Yudea dan para rasul yang asli. Paulus semata-mata menolak argumen helenistik yang umum bahwa keturunan yang baik adalah prasyarat untuk mendapatkan kuasa. Bahwa orang-orang ini adalah mualaf dari. helenistik dan bukan Yudaisme Palestina akan menolong menjelaskanmengapa mereka begitu meninggikan pengalaman-pengalaman ekstatik dan kuasa-kuasa mujizat sebagai tanda-tanda kerasulan mereka (lihat 2 Korintus 5;12-13; 12:1-10,12; 13:3).

Tentang persoalan keturunan Yahudi, Paulus setanding dengan lawan-lawannya. Mengenai pernyataan mereka sebagai pelayan Kristus (lihat pula 10:7), ia lebih lagi. Mereka mencoba menandinginya, tetapi sesungguhnya mereka adalah pelayan-pelayan Iblis (ayat 12-15)! Bahwa ia, Paulus, seorang pelayan sejati dari perjanjian yang baru, hamba Allah dan kebenaran (3:6; 6:4), harus melakukan perbandingan dengan mereka, memperlihatkan bahwa ia berkata seperti orang gila (dalam bahasa Yunani kata untuk ‘orang gila’ menunjukkan seseorang yang kehilangan akal dan erat berkaitan dengan kata orang bodoh, orang yang tidak cerdik). Kembali, hanya seorang bodoh yang akan membiarkan pemegahan mereka yang gagah-gagahan itu tidak ditandingi!

Daripada memperdebatkan pernyataan lawan-lawannya sebagai hamba-hamba Kristus, Paulus kini menunjukkan, masih dengan cemooh, pada bukti yang begitu meyakinkan mengenai keunggulannya sebagai seorang rasul, yakni kelemahannya! Daftar penderitaannya dalam ayat 23-27 adalah daftar yang paling panjang dan terinci dalam surat-surat Korintus (lihat pula 1 Korintus 4:9-13; 2 Korintus 4:8-9; 6:4-5; 12:10). Daftar seperti ini tidaklah aneh di dunia Paulus. Kaum Sinik dan Stoa, para pengkhotbah dan rasul moralitas populer, mendaftarkan cobaan-cobaan yang mereka alami untuk membuktikan daya kepahlawanan mereka dan kemenangan daya nalar, yang berkuasa atas perasaan (perasaan hati dan pikiran sehat). Nasib yang berubah-ubah juga harus ditaklukkan! Catatan-catatan istana yang mencatat kesuksesan kaisar-kaisar Romawi juga menyebutkan berbagai kesulitan yang telah diatasi. Maksud Paulus dalam mendaftarkan penderitaannya agak berbeda. Sebaliknya, ia ingin membanggakan kelemahannya demi memberikan kemuliaan kepada Allah (12:6, 9). Ia sama sekali bukanlah pahlawan (lihat 2:14). Biarlah orang-orang lain membanggakan sukses mereka (10:12-16), kecakapan berbicara dan debat mereka (11:6); pengalaman-pengalaman ekstatik mereka (5:12-13; 12:1-4), dan kemampuan mereka untuk membuat mujizat (12:11-12). Ia akan mengejek kegagahan mereka yang berlebih-lebihan dengan membanggakan bencana-bencana yang hampir mengalahkannya.

Jerih lelah Paulus yang lebih banyak lagi mencakup pula kerja keras dalam memberitakan Injil (10:15), kerja keras yang dilakukannya untuk menopang dirinya dengan pekerjaannya (lihat tafsiran tentang 6:5 dan 11 :27), serta usaha-usaha fisikbelaka yangdibutuhkan daripadanya sebagai seseorang yang terus-menerus berkelana. Ia dapat memegahkan lebih banyak pengalamannya di dalam penjara – daripada lawan-lawannya (Kis. mencatat hanya satu kali pemenjaraan sampai bagian ini – Kisah 17:23-40 tetapi laporan Lukas tidak dengan sendirinya lengkap; menurut 1 Clemens 5:5, Paulus dipenjarakan sampai tujuh kali). Ia telah berkali-kali didera, atau ‘pemukulan yang jauh lebih parah’ (Furnish). Ini mungkin mengacu pada pemukulan oleh orang banyak atau cambuk sebagai sebuah hukuman resmi (lihat 6:5 dan 11:24-25). Ia sering mendekati kematian (lihat 1:8-9; 4:8-12), sebagai akibat siksaan dari orang banyak maupun kecelakaan yang hampir fatal (ayat 24-25).

Ayat 24 dan 25 mendaftarkan pengalaman-pengalaman yang mengancam nyawanya. lima kali Paulus mendapat hukuman seperti yang ditentukan dalam Ulangan 25:3: empat puluh kurang satu pukulan. Pukulan-pukulan ini, yang sebagian dicatat dalam Kisah Para Rasul kemungkinan dijatuhkan oleh orang-orang Yahudi dari sinagoge-sinagoge setempat begi¬tu Paulus diketahui sebagai pelanggar hukum, orang yang berhubungan dengan non-Yahudi dan makan makanan yang haram bersama mereka.

Tiga kali Paulus didera. Karena mereka hidup di sebuah kota di Romawi, orang-orang Korintus tidak perlu diberitahukan bahwa ini adalah sebuah bentuk hukuman Romawi. Hukuman ini dijatuhkan oleh pejabat negara atau kota (dalam Kisah 16:22 para hakim kota Filipi memerintahkan agar Paulus dan Silas didera; lihat pula 1 Tesalonika 2:2, yang tampaknya mengacu pada peristiwa yang sama). Paulus harus menanggung perlakuan ini meskipun, di dalam hukum, kewarganegaraan Romawinya seharusnya melindunginya (Kisah 16:37; 22:25, 29); entah karena status khususnya tidak diakui dalam ketiga peristiwa ini, atau semata-mata karena para penguasa setempat mengabaikan hukumnya. Satu kali Paulus dilempari batu. Menurut Kisah Para Rasul 14:19 ia dilempari batu oleh sebuah kerumunan yang dihasut oleh orang-orang Yahudi setempat dan diseret keluar dari kota dan diduga mati. Kisah Para Rasul 14:5 menyebutkan suatu usaha yang gagal untuk merajam dia, tetapi ia tidak pemah terancam oleh hukuman mati Yahudi yang lebih formal berupa rajaman, yakni dilempari dengan batu-batu yang berat.

Kisah Para Rasul 27:14-44 mencatat bagaimana Paulus mengalami karam kapal di Malta. Pada kesempatan ini, jauh sebelum perjalanan terakhirnya ke Roma, ia mengingat pemah mengalami hal ini tidak kurang sampai tiga kali. Tak satupun dari kejadian ini disebutkan dalam Kisah Para Rasul, tetapi semuanya mungkin terjadi pada salah satu dari banyak pelayaran rasul tersebut. Salah satu pengalaman seperti itu sangat menakutkan; selama dua puluh empat jam penuh ia terkatung-katung di tengah laut. Tentunya ia bertahan dalam bahaya itu dengan berpegang pada pecahan kapal sebelum akhirnya ia diselamatkan atau terdampar ke pantai.

Perjalanan laut menimbulkan rasa takut yang khusus untuk orang-orang zaman kuno. Tetapi banyak perjalanannya seringkali melahirkan situasi-situasi berbahaya. Ada bahaya karena banjir di tempat-tempat yang tidak ada jembatannya, atau ketika banjir bandang tiba-tiba muncul. Sementara orang-orang Romawi telah membersihkan Laut Tengah dari para bajak laut jauh sebelum Paulus melakukan perjalanan lautnya yang pertama, jalan-jalan darat tidak pemah bebas dari penyamun. Dengan mudah mereka dapat menjadi mangsa khususnya bila mereka berjalan dalam kelompok-kelompok kecil dan tidak bersenjata. Paulus selalu mengalami ancaman dari orang-orang Yahudi sendiri. Kisah Para Rasul mencatat banyak sekali peristiwa seperti itu, termasuk suatu situasi yang mengancam dalam perjalanan pertama Paulus ke Korintus (Kis. 18:6, 12). Ancaman-ancaman dari orang-orang bukan Yahudi disebutkan lebih sedikit dalam Kisah Para Rasul (tetapi Iih. 16:20-22; 19:23-41).

Tidak ada tempat di mana rasul itu dapat merasa sepenuhnya aman. Di kota ia terancam dikeroyok, diperhadapkan ke depan hakim, difitnah, atau diganggu dalam cara yang lain. Di padang gurun yang tidak berpenghuni ia tidak terlindungi dari serangan mendadak atau kecelakaan. Dan ia sudah menyebutkan bahaya-bahaya di laut Bahaya lainnya yang terus-menerus mengancam disebutkannya terakhir, barangkali untuk membuatnya menonjol: yakni saudara-saudara palsu, yang menampilkan diri sebagai sesama Kristen namun diam-diam memata-matainya (lihat Galatia 2:4), memfitnahnya, atau melawan pelayanannya – seperti yang dilakukan oleh rasul-rasul palsu sekarang di Korintus!

Paulus beralih dari situasi-situasi yang kemungkinan fatal dan bahaya yang terus-menerus mengancam pada banyak kesusahan yang telah ditanggungnya. Perjalanannya dan pemberitaannya telah menjadi tuntutan-tuntutan berat secara fisik maupun emosi baginya. Demikian pula kebutuhannya untuk mendukung dirinya dengan pekerjaannya. Dalam 2 Tesalonika 2:9 Paulus juga menggunakan kata-kata berjerih lelah dan bekerja berat untuk melukiskan. betapa ia bekerja siang dan malam untuk mengumpulkan uang. Mungkin ini pun menjelaskan mengapa ia kerapkali tidak tidur. Mungkin ia tidak dapat tidur karena rasa cemas (ayat 28), terlalu lelah, atau karena harus berkhotbah di malam hari, ketika orang-orang bebas untuk mendengarkannya (lihat Kisah 20:7-11, 31). Ia pernah lapar dan dahaga (lihat pula 2 Korintus 6:5; 1 Korintus 4:11). Tambahan, kerapkali berpuasa, menunjukkan masa kekurangan yang lebih panjang, misalnya ketika makanan tidak tersedia dalam perjalanannya, ketika ia tidak mempunyai uang untuk membeli makanan, atau ketika ia pergi tanpa membawa makanan untuk memungkinkan waktu memberitakan yang lebih panjang. Ia pun sudah mengenal penderitaan karena kedinginan dan tanpa pakaian, seperti ketika ia terapung-apung di laut (ayat 25), atau ketika ia tidak mempunyai uang untuk membeli pakaian yang layak (lihat pula 1 Korintus 4 :11).

Sulit kita membayangkan bagaimana Paulus bertahan dalam penderitaan-penderitaan dan kekurangan seperti itu. Ia berbicara sebagai orang bodoh, tetapi ia nyaris melebih-lebihkan penderitaannya. Jelas bahwa ia telah mendapatkan dukungan dari rekan-rekan sekerja dan seperjalanannya, tetapi ia sendiri dapat merasakan tekanan dari urusan sehari-hari karena tanggung jawabnya atas para mualafnya di semua jemaat. Sebagian komunitas Kristen (khususnya di Galatia dan Korintus) telah menyebabkan ia cemas karena ancaman-ancaman terhadap Injil dan perlawanan terhadap pelayanannya sendiri, namun ia tetap bertanggung jawab dalam penggembalaan untuk semua ‘anak-anak-nya, entah mereka taat ataupun tidak taat. Apa yang terjadi kepada mereka melibatkan dirinya secara pribadi. Tak seorangpun dapat menjadi lemah tanpa ia juga merasakan hal yang sama. Paulus tentu tidak memaksudkan bahwa ia mengidentifikasikan dirinya dengan mereka yang lemah imannya. Di tempat lain dalam surat-surat Korintusnya, yang lemah adalah mereka yang mempunyai hati nurani yang rapuh (1 Korintus 8:7-13), atau para anggota jemaat yang lebih kekurangan, yang oleh karenanya perlu diperlakukan dengan kehormatan khusus (1 Korintus 12:20-26). Akan tetapi, konteks yang sekarang, termasuk penggunaan kata ‘lemah’ dan ‘kelemahan’ oleh Paulus dalam pasal 11 :21, 30 dan 12:5-10, menunjukkan bahwa ia mengungkapkan solidaritasnya dengan mereka yang, seperti dirinya, harus menanggung penderitaan dan kekurangan, yang bukan apa-apa selain manusia yang rapuh. Lebih jauh, dengan amat bersungguh-sungguh ia menjaga kesejahteraan rohani anak-anaknya. Setiap kali seseorang tersandung hingga berdosa atau kehilangan iman (lihat Matius 18:6; Roma 14:13; 1 Korintus 8:13), Paulus menjadi hancur (NRSV menerjemahkan ‘marah). Seperti halnya penderitaan seorang anggota mempengaruhi seluruh tubuh Kristus (1 Korintus 12:26), pelanggaran yang dialami oleh seorang anggota juga dirasakan oleh semuanya. Akan tetapi, wajarlah bila Paulus ingin sekali melindungi para mualafnya dan merasakan kemarahan ilahi terhadap mereka yang berusaha menghancurkan pekerjaannya.

Mengapa Paulus merasa bahwa ia harus bermegah sudah dijelaskan (ayat 16-21); ia pun harus menyoroti kebodohan mereka yang membanggakan kekuatan mereka yang lebih unggul untuk memperkuat pernyataan-pemyataan palsu mereka. Belakangan (12:11) ia menambahkan sebuah alasan lainnya: orang-orang Korintus telah memaksanya untuk bermegah seperti orang bodoh; mereka seharusnya membelanya terhadap para pengecamnya. Ia telah mulai dengan menggemakan pemyataan-pemyataan yang cukup masuk akal oleh para rasul palsu (ayat 22), tetapi kemudian telah melanjutkan dengan bermegah atas kelemahannya (ayat 23-29). Ia tidak membesar-besarkan penderitaan dan kesusahan yang ditanggungnya dalam pelayanannya kepada Kristus. Ia pun tidak mengoceh seperti orang bodoh yang membangga-banggakan tanda-tanda kelemahannya. Dalam semua pembicaraan bodoh ini terdapat hikmat yang dalam, seperti yang diperlihatkan oleh klimaks dari ucapan si bodoh ini (12:9-10). Hamba Kristus yang bodoh ini tidak berdusta ketika ia membanggakan dirinya berdasarkan kelemahannya dan bukan kekuatannya. Allah, yaitu Bapa dari Tuhan Yesus, (lihat 1:3) tahu bahwa Paulus mengucapkan kebenaran (lihat Galatia 1:20 dan Roma 9:1 untuk pernyataan-pernyataan yang serupa). Rumusan sumpah dari pasal 11:11 kini digemakan dalam bentuk yang lengkap, tetapi Paulus menambahkan berkat tradisional Yahudi untuk mernberikan kekuatan khidmat dalarn pernyataannya. Rumusan itu, terpuji sampai selama-lamanya, mengacu kepada Allah Bapa, seperti dalam Roma 1:25 (dalam Roma 9:5 mungkin mengacu kepada Kristus).

Sebuah anekdot pendek dari masa lampau menggambarkan kelemahan Paulus. Anekdot itu mengenang apa yang sesungguhnya merupakan pengalaman memalukan. Pertobatan Paulus, yang dicatat tiga kali dalam Kisah Para Rasul (9:1-19; 22:2-16; 26:12-18) terjadi dalam perjalanan ke Damsyik, sebuah kota Syria. Laporan pertama mengisahkan bagaimana ia tiba di kota itu, dibaptiskan oleh Ananias, dan segera berkhotbah di sinagoge-sinagoge setempat, dengan memberitakan Yesus sebagai Anak Allah. Kisah Para Rasul 9:23-25 kemudian mengisahkan bagaimana orang-orang Yahudi berkomplot untuk membunuh rasul yang baru itu. Meskipun ada sedikit perbedaan, kisah Lukas dan ingatan Paulus sendiri sepakat dalam rincian-rincian yang penting. Kota itu dikawal – Lukas menyatakan bahwa para anggota komplotan itu menjaga pintu gerbang kota siang dan malam; laporan Paulus menyatakan bahwa mereka dibantu oleh wali negeri setempat. Keduanya mencatat bahwa Paulus lolos dengan diturunkan dari sebuah tingkap ke luar tembok kota – Lukas menambahkan bahwa Paulus ditolong dalam pelariannya oleh sesama orang Kristen. (Dalam terjemahan NRSV Paulus menambahkan rincian lebih jauh tentang jendela di dinding).

Perbedaan-perbedaan kecil (dalam Kisah Para Rasul, para anggota komplotan itu ingin membunuh Paulus; di sini ia mengingat bahwa tujuan mereka adalah menangkap dia) hanyalah bersifat kebetulan; acuannya tetap peristiwa yang sama. Penyebutan Paulus tent.ang wali negeri (kata Yunani etnarkh berarti ‘pemimpin masyarakat’) di bawah Raja Aretas telah membangkitkan banyak perdebatan ilmiah yang terinci. Aretas IV berkuasa atas kerajaan Arab Nabatea dari tahun 9 s.M. sampai 40 M., tetapi hanya sebagai seorang vasal Romawi. Tidak jelas apakah akibat dari wilayah kekuasaannya atas Damsyik ketika Paulus berada di kota itu, Kita pun tidak mengetahui nama atau kekuasaan dari wali negeri yang disebutkan itu. Rincian itu tidak perlu menjadi keprihatinan kita di sini. Pertanyaan yang penting ialah: mengapa Paulus mengingat pelariannya dari Damsyik?

Anekdot ini jelas berfungsi untuk menggambarkan jenis bahaya yang dialami Paulus di kota-kota (ayat 26), tetapi ini lebih dari sekadar kenangan ilustrasi. Laporan dalam Kisah Para Rasul menekankan betapa seriusnya ancaman terhadap nyawa Paulus. Pelariannya adalah tanda dan kekuatannya (Kisah 9:22), sebuah contoh pertama tentang pembebasan ilahi terhadap rasul itu dari lawan-lawannya. Maksud Paulus di sini agak berbeda. Anekdotnya harus dilihat dalam kaitan dengan pernegahannya tentang kelemahannya (11:30). Seluruh perhatian diarahkan pada cara pelariannya, bukan pada ancaman terhadap nyawanya, atau pada bantuan yang diberikan kepadanya oleh orang-orang lain dalam pelanan itu, .Ini bukanlah sebuah kisah tentang kepahlawanan dan kekuatan, melainkan tentang ketidakterkenalan dan hal yang memalukan. Paulus sama sekali tidak keluar dengan hebat dan terhormat dari Damsyik; ia harus secara diam-diam lolos dari kota itu!

Profesor Judge dari Sydney membuat usul menarik yang mungkin dapat lebih jauh menjelaskan mengapa Paulus mengingat peristiwa itu sebagai sesuatu yang menunjukkan kelemahan. Sebuah mahkota khusus, ‘mahkota dinding’, dipersembahkan oleh tentara Romawi kepada tentara pertama yang dengan berani memanjat dinding sebuah kota yang sedang diserang. Ini adalah salah satu bintang militer tertinggi yang dapat diberikan kepada seorang prajurit dan dibuat dari emas dalam bentuk tembok kota. Hanya mereka yang gagah dan pemberani dapat memperoleh mahkota ini. Paulus sebelumnya telah membanggakan keberaniannya, juga dalam meruntuhkan dinding-dinding yang dibangun dalam perlawanan kepadaAllah (10:1-6). Nah, dalam ejekan kepada tentara yang pemberani dan kuat yang memanjat naik sebuah tembok untuk masuk ke dalam sebuah kota, Paulus menggambarkan dirinya sendiri justru sebaliknya: orang yang dengan lemah diluncurkan menuruni dinding keluar dari sebuah kota! (Untuk ringkasan yang baik sekali mengenai bukti Judge, lihat Furnish: 542).

c. Penglihatan pernyataan dan pelajaran terakhir (ayat 12:1-10)

* 2 Korintus 12:1-10
12:1 Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan.
12:2 Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau — entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya — orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.
12:3 Aku juga tahu tentang orang itu, — entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya —
12:4 ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.
12:5 Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.
12:6 Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku.
12:7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.
12:8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.
12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
12:10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

Ayat-ayat ini merupakan puncak dari ‘ucapan si bodoh’ yang dimulai pada pasal 10:1. Paulus telah bereaksi terhadap para rasul yang tidak ada taranya, atau rasul-rasul palsu (11:5,13; 12:11), yang membanggakan kekuatan mereka dan meremehkannya sebagai seorang lemah. Dalam cemoohannya terhadap kebanggaan mereka, Paulus telah menghitung semua penderitaannya (11:23-29) dan mencatat sebuah pengalaman yang memalukan (11:32-33) untuk memperlihatkan bahwa para pengecamnya itu benar: ia lemah. Itulah yang akan ia banggakan (ay. 30)!

Saingan-saingan Paulus juga berbicara tentang pengalaman-pengalaman yang menandai mereka sebagai pemimpin yang mempunyai karunia Roh. Mereka adalah pelihat ekstatik (lihat 5:13) dan juga pembuat mujizat (12:12). Dengan kehati-hatian yang jelas, rasul itu menandingi pemyataan yang pertama. Ia pun pernah mendapatkan pengalaman rohani yang bersifat luar biasa. Tetapi Tuhan memastikan bahwa hal itu tidak membuatnya besar kepala. Duri di dalam daging yang menandinginya mengajarkannya sebuah pelajaran yang dasariah (ayat 9-10), yakni yang pada kesempatan sama merupakan pelajaran terakhir dari seluruh ‘ucapan si bodoh’.

Kalimat bersyarat dalam pasal 11 :30 kini menjadi penegasan mutlak: Paulus harus bermegah. Lawan-lawannyalah yang telah membuat tindakan bodoh itu perlu (lihat 11:16-21). Meskipun ia merasa bahwa hal itu tidak ada faedahnya – frasa yang sama di tempat lain berarti apa yang ‘berguna’ (1 Korintus 6:12; 10:23), ‘untuk kepentingan bersama’ (1 Korintus 12:7), atau ‘berfaedah’ (2 Korintus 8:10) – ia harus beralih pada sebuah topik baru. Apa yang akan dikatakannya tidak akan membuktikan kuasa kerasulannya, ataupun membangun para pembacanya, Hal ini kembali akan memperlihatkan (seperti dalam 11:23-30) bahwa semua pemegahan itu sia-sia. Tetapi pokok yang baru ini harus diangkat, karena para pembaca tampaknya sangat terkesan oleh pernyataan-pemyataan orang lain bahwa penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan adalah bukti dari kuasa. Apakah pengalaman-pengalaman seperti itu berasal dari Tuhan, dalam pengertian bahwa mereka datang dari Dia atau Dia menjadi objek mereka, tidaklah jelas, dan juga tidak menjadi masalah. Paulus pun tidak memperdebatkan kebenaran dari pengalaman-pengalaman yang dinyatakan oleh orang lain. Itu semua adalah masalah-rnasalah pribadi dan tidak perlu dibangga-banggakan.

Dalam Kisah Para Rasul 26:19 pengalaman pertobatan Paulus di jalan ke Damsyik disebut penglihatan, tetapi ia sendiri tidak menggunakan kata ini di tempat lain. Baginya, perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit itu tidak kurang objektifnya daripada apa yang dialami oleh para rasul yang pertama (lihat 1 Korintus 15:5-7). Ia menggunakan kata penyataan ketika berbicara tentang kedatangan Tuhan kembali (Roma 2:5; 8:19; 1 Korintus 1:7; 2 Tesalonika 1:7). Ia menerima sebuah penyataan pribadi yang mengutusnya ke Yerusalem (Galatia 2:2), dan yang lainnya lagi yang memanggilnya untuk meninggalkan kota itu (meskipun kata ‘diliputi kuasa ilahi’ yang dipergunakan dalam Kisah 22:17-18). Pengalaman pertobatannya juga meliputi penyataan (Galatia 1:12, 16), tetapi ayat 2 dalam nas ini memperlihatkan bahwa ini bukanlah yang dipikirkannya ketika ia mengingat pengalaman penglihatannya sendiri (lihat tafsiran tentang waktunya pada ayo 2). Penya¬taan adalah bagian dari ibadah umum di Korintus (1 Kor. 14:6, 26), tetapi Paulus akan menceritakan sebuah pengalaman yang sangat pribadi.

Rasul itu bergumul untuk menemukan kata-kata guna menggambarkan apa yang terjadi. Bangunan ayat 2 dan 3 sangat terputus-putus; Paulus merasa tidak nyaman dan enggan untuk bercerita tentang pengalamannya. Ia mengacunya hanya secara tidak langsung kepada dirinya sendiri (Aku tahu tentang seorang); ini bukanlah bagian dari pengalamannya yang biasa sebagai seorang rasul. Ia berbicara tentang dirinya hanya sebagai pribadi di dalam Kristus, sebagai seorang Kristen (lihat Roma 16:7). Penentuan waktunya – empat belas tahun yang lampau – adalah penting. Ia tidak mereka-reka sebuah kisah yang hebat; ini sungguh terjadi. Karena waktunya tentu tidak lebih awal daripada tahun 40 M, peristiwanya bukanlah pertobatan Paulus sendiri. Akan tetapi hal itu masih terjadi sekitar sepuluh tahun sebelum jemaat Korintus didirikan. Sampai saat ini, tampaknya, ia belum pemah mengisahkan orang-orang Korintus tentang pengalamannya, karena ia menganggap bahwa itu bukanlah sesuatu yang penting bagi mereka. Tetapi bila lawan-lawannya ingin membanggakan masalah-masalah seperti itu, ia pun dapat menyatakan bahwa ia pernah mendapatkan sebuah penglihatan ekstatik jauh sebelum mereka.

Pengalaman apakah ini? Paulus berbicara tentang diangkat (juga dalam ayat 4), sambil menggunakan kata kerja yang sama yang menggambarkan bagaimana orang-orang percaya akan diangkat untuk bertemu Tuhan pada waktu kedatangan-Nya kembali (1 Tesalonika 4:17; lihat pula ‘dilarikannya’ Filipus setelah perjumpaannya dengan sida-sida dari Etiopia dalam Kisah 8:39, dan dirampasnya Anak ilahi dalam Why. 12:5). Barangkali Paulus mengira peristiwa ini sebagai pendahuluan dari penglihatan akhir tentang kemuliaan kedatangan Kristus yang kedua kali. Kemungkinan lebih besar, ia mencerminkan tradisi-tradisi sastra apokaliptik Yahudi dalam menggambarkan apa yang terjadi. Kita tidak perlu berspekulasi tentang tempat yang sesungguhnya dari tingkat yang ketiga dari sorga. Tradisi-tradisi Yahudi dan Kristen menghitung langit sampai tujuh, kadang-kadang bahkan lebih dalam sastra yang belakangan. Paulus semata-mata memaksudkan bahwa ia diambil dalam keadaan pengangkatan ke dalam daerah sorgawi (‘Firdaus’ dalam ayat).

Bila lokasi sorgawi itu tidak pasti, demikian pula keadaan Paulus selama pengalaman ini. Sastra apokaliptik Yahudi mempradugakan bahwa ketika tokoh-tokoh kuno seperti Henokh, Abraham, atau Barukh dipindahkan ke sorga, mereka berada di dalam tubuh, Di pihak lain, para mistik dari tradisi Helenistik harus berada di luar tubuh untuk melihat realitas-realitas supra-dunia (ekstasi berasal dari kata Yunani yang berarti ‘berdiri di luar tubuh’ atau ‘di samping diri sendiri’). Paulus sendiri tidak tahu dalam keadaan apa ia (Filipi 1:24 tidak menolong kita di sini); Allah yang mengetahuinya.

Pengulangan butir ini dalam ayat 3 sungguh mencolok Dapat diduga bahwa orang-orang di Korintus berspekulasi tentang pertanyaan mengenai keadaan ekstasi ini, barangkali mereka lebih menyukai pandangan bahwa pengalaman-pengalaman penglihatan yang sesungguhnya hanya dapat terjadi bila seseorang berada entah di luar tubuh. Posisi itu tentu konsisten dengan sikap mereka umumnya yang kurang menghargai tubuh dibandingkan dengan prinsip-prinsip yang lebih tinggi dari jiwa atau roh (lihat 1 Korintus 6:12-20; 7:1-4, 34; 15:35-44).

Tingkat yang ketiga dari sorga (ayat 2) kini disebut Firdaus. Kata Persia ini, yang berarti sebuah taman yang tertutup, diambil dalam Perjanjian Lama Yunani untuk Taman Eden dalam Kejadian 2 dan 3. Tradisi-tradisi apokaliptik Yahudi berbicara tentang Firdaus sebagai sebuah wilayah sorgawi, bahkan diidentifikasikan dengan tingkat yang ketiga dari sorga dalam 2 Henokh 8:1-8 dan Wahyu Musa 37:5 dan 40:2. Karena akhir dunia sesuai dengan permulaannya (lihat Wahyu 22:1-5), Firdaus adalah nama untuk tempat terakhir dan keadaan penuh sukacita bagi orang-orang kudus Allah (lihat pula Lukas 23:43; Wahyu 2:7).

Sementara Paulus tidak jelas mengenai tempat pengangkatannya, tidak pasti mengenai keadaan pribadinya, ia tidak akan menceritakan apa pun yang ia dengar. Ia tentu dapat mengatakan lebih banyak dari apa yang telah dikatakannya. Penolakannya untuk melakukan hal itu memperlihatkan bahwa pengalamannya harus dievaluasi; ini tidak relevan dengan pertanyaan tentang kewibawaan kerasularmya. Ia semata-mata mengatakan bahwa ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan. Kata-kata itu tidak boleh diulangi bukan karena mereka memang tidak dapat diulangi, tetapi karena semua itu adalah rahasia sorgawi. Kata-kata ini tidak boleh diucapkanoleh seorang manusia mana pun. Mungkin ia mendengar rincian dari sejarah masa depan yang harus dimeteraikan sampai akhir zaman (lihat Daniel 12:4). Kerahasiaan tidak hanya dipersatukan kepada orang-orang yang baru diterima ke dalam agama-agama misteri Helenistik, tetapi tema ini juga termasuk dalam sastra apokaliptik Yahudi.

Kita dibawa kembali pada tema pemegahan. Paulus berbicara sebagai seseorang yang seolah-olah mempunyai kepribadian ganda. Katakanlah bahwa memang tidak ada faedahnya (ayat 1) bila ia hendak bermegah mengenai penglihatan ekstatik Paulus (orang itu). Atas dirinya sendiri, sebagai seorang rasul yang memberitakan rahasia terbuka dari Injil (lihat 1 Korintus 2:9). ia hanya akan memegahkan kelemahan-kelemahannya (11:30; 12:9-10). Kewibawaan kerasulan ditetapkan bukan dengan mendaftarkan pengalaman-pengalaman rohani, melainkan dengan daya tahan yang setia di dalam penderitaan kepada Tuhan. Bila Paulus pemah berada di luar dirinya, ini adalah masalah pribadi, sesuatu antara dirinya dan Allah. Ketika ia berbicara demi kebaikan para mualaInya, ia selalu berbicara di dalam ‘penguasaan diri’ (2 Korintus 5:13). Jadi ia lebih suka mengucapkan lima patah kata dengan pikirannya daripada sepuluh ribu kata dalam bahasa yang asing (1 Korintus 14:19). Penglihatan-penglihatan, pemyataan-pernyataan pribadi dan bahasa roh tidak membangun jemaat.

Bila ia memilih untuk bermegah, Paulus tidak dapat dituduh karena menjadikan dirinya orang bodoh (11:16a) atau berbohong. Ia telah menceritakan kebenaran tentang pengalamannya yang satu ini, sebagaimana yang selalu ia lakukan (11:10) . Yang dipersoalkan di sini bukanlah kebenaran dari pengalaman-pengalaman demikian, melainkan bagaimana mengevaluasinya. Ia bahkan tidak berusaha untuk mendiskreditkan pemyataan-pemyataan orang lain sebagai pelihat ekstatik. Otentisitas mereka bukanlah masalah. Pertanyaan yang penting ialah: Andaikata pengalaman-pengalaman itu benar, meskipun hanya untuk orang yang langsung terlibat, bagaimana kita mengevaluasinya? Manfaat apakah yang diberikan?

Tanpa meremehkannya, Paulus terus menahan diri dari pemegahan tentang apa yang terjadi pada dirinya: ia sesungguhnya berbicara tentang ‘menyayangkan’ para pembacanya dari pemegahan tentang apa yang sesungguhnya adalah pengalaman pribadi (lihat 2 Korintus 1:23 dan 1 Korintus 7:28 untuk ungkapan-ungkapan yang sama). Dapat diragukan apakah lawan-lawannya akan terkesan! Butir yang hakiki ialah bahwa jangan ada orang yang menghitungkan dirinya lebih baik karena ia pemah dipindahkan ke wilayah sorgawi. Sebaliknya, kerasulannya harus dievaluasi hanya berdasarkan apa yang mereka lihat pada dirinya atau yang mereka dengar darinya. Penglihatan dan pendengaran adalah bagian dari tradisi apokaliptik yang menggambarkan si pelihat diangkat dalam kunjungan ke tempat-tempat di sorga dan mendengar rahasia-rahasia sorgawi. Paulus menekankan bahwa ia dinilai hanya berdasarkan apa yang langsung ia sajikan kepada orang banyak. Apa yang mereka lihat itulah yang mereka peroleh (lih. pula Filipi 4:9): bukan seorang rasul yang tidak ada taranya, melainkan seorang yang lemah yang memberitakan berita Injil yang jelas. Bahkan penyataan-penyataan yang luar biasa yang diterimanya itu tidak memberikan dasar baginya untuk bermegah. Ia hanya akan bermegah di dalam salib Kristus dan di dalam pelayanannya sebagai seseorang yang berada di bawah salib itu (Galatia 6:14). Tujuannya bukanlah memberitakan dirinya sendiri, melainkan Kristus yang disalibkan (2 Korintus 4:5; 1 Korintus 2:2). Oleh karena itu ia menampilkan dirinya hanya sebagai seorang rasul yang lemah dan menderita (4:7-12), bukan seseorang yang memamerkan kekuatan. Pengalaman-pengalaman pribadinya tidak berguna untuk membangun jemaat (10:8; 13:10).

Allah memastikan bahwa perjalanan Paulus ke Firdaus tidak membuatnya meninggikan diri atau besar kepala. Ia belajar untuk mengevaluasi pengalamannya (ay. 2-4) dengan cara yang sulit. Kepadanya diberi (bentuk pasif ini menyiratkan Allah sebagai subjeknya) sebuah pengalaman tandingan untuk membuatnya tetap rendah hati. Gambaran Paulus tentang penderitaannya sebagai seorang utusan (harfiah, ‘malaikat’) Iblis tidak berarti bahwa hal itu tidak termasuk dalam rencana Allah untuk Paulus. Allah dapat menggunakan bahkan pekerjaan iblis yang jahat untuk melayani maksud-Nya sendiri yang baik (ingat kisah Ayub, tetapi juga nasihat rasul itu tentang bagaimana menangani seorang berdosa dalam 1 Korintus 5:5), kisah Yusuf, serta kematian dan kebangkitan Yesus, memperlihatkan bagaimana Allah menggunakan yang jahat demi kebaikan).

Usaha-usaha untuk mengidentifikasikan duri di dalam daging Paulus telah membawa pada spekulasi yang menarik. Kata Yunani untuk duri juga berarti sebuah kayu yang tajam untuk menyiksa atau menghukum mati jadi ada kesan bahwa Paulus semata-mata berbicara tentang disalibkan pada dunia dan memikul salib untuk Tuhannya (berdasarkan Galatia 5:24 dan 6:14). Paulus menggunakan sebuah perumpamaan seperti yang ditemukan dalam Bilangan 33:55 dan Yehezkiel 28:24; di situ musuh-musuh Israel digambarkan sebagai duri di lambung. Ia tampaknya berbicara tentang penyakit jasmani yang menyebabkan rasa sakit yang sangat di dalam daging, sesuatu yang menyebabkan ia tersiksa (dalam dunia kuno iblis seringkali dianggap sebagai penyebab penyakit; hal itu dapat menjelaskan mengapa Paulus berbicara tentang utusan Iblis). Agaknya tidak mungkin bahwa duri itu adalah semacam penderitaan rohani, seperti ketidaksabaran, marah, rasa bersalah karena di masa lampau ia menganiaya gereja, atau frustrasi karena penolakan terhadap Injil oleh sesama orang Yahudi. Cobaan seksual adalah suatu pendapat yang umum muncul dari Abad Pertengahan, tetapi Paulus menganggap selibat sebagai karunianya yang khusus (1 Korintus 7:7). Yang juga tidak mungkin adalah pendapat bahwa duri itu adalah penganiayaan yang dialaminya atau perlawanan dari musuh-musuhnya (mengutip 2 Korintus 11:14-15).

Bila duri itu adalah penyakit jasmani, itu tentunya sesuatu yang menyebabkan penderitaan berkala belaka, yang memungkinkan Paulus bepergian dan bekerja pada waktu-waktu yang lain. Dalam suratnya kepada jemaat Galatia, ia mengingat bagaimana pertama kali memberitakan kepada mereka karena ‘sakit pada tubuhku’ yang juga merupakan penderitaan bagi mereka pula. Akan tetapi orung-orang Galatia tidak mencemooh atau merendahkannya, bahkan siap untuk mencungkil mata mereka untuknya (4:13-15). Pernyataan terakhir ini tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa Paulus mempunyai masalah mata (barangkali itu cuma berarti bahwa orang-orang Galatia siap melakukan pengorbanan besar untuknya). Akan tetapi jelas bahwa penyakit yang khusus ini adalah sesuatu yang cukup jelas kelihatan. Hal ini didukung oleh pernyataan menjelang akhir dari surat yang sama: ‘pada tubuhku ada tanda-tanda (stigmata) milik Yesus’ (6:17). Teori yang mengatakan bahwa duri itu adalah suatu masalah penglihatan biasanya mengutip Galatia 6:11: Paulus harus menggunakan huruf-huruf yang besar untuk menandatangani namanya sendiri.

Yang lainnya memilih penyakit seperti epilepsi, malaria, depresi, atau cacat bicara yang jelas. Orang harus jauh sekali menafsirkan pengakuan-pengakuan rasul ini bahwa ucapannya tidak berdaya (1 Korintus 1:3-4; 2 Korintus 10:10; 11:6) untuk mendapatkan dukungan teori yang terakhir ini. Apa yang kita miliki sehubungan dengan usul apa pun juga adalah sebuah terkaan yang menarik. Bagi Paulus, hal yang penting adalah pelajaran yang telah ia peroleh, sebuah pelajaran yang demikian penting sehingga harus diulangi: ia tidak akan meninggikan diri mengenai kenaikannya ke sorga. ‘Duri’-nya akan membuat kedua kakinya tertanam kuat-kuat di bumi, bukan melayang-layang di ketinggian sorga yang memabukkan.

Mungkin perlu waktu beberapa lama sebelum pelajaran ini masuk betapapun juga, ia berseru tiga kali untuk dilepaskan (Tuhan yang dimaksudkannya di sini adalah Kristus). Tetapi doanya agar duri itu mundur daripadanya (bentuk kata kerjanya menunjukkan kelepasan yang permanen) tidak dijawab seperti yang telah diharapkan Paulus. Kepada kita tidak diberitahukan bagaimana kata-kata berikutnya ini disampaikan. Kalau itu dalam mimpi atau penglihatan, jelaslah mengapa Paulus tidak menyebutkan faktanya.

Sebagai jawaban terhadap doa-doa Paulus yang berulang-ulang, Tuhan menjanjikan bukan kelepasan akhir, melainkan kasih karunia yang kekal: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu. Kasih karunia itu adalah berkat ilahi yang tidak layak ia terima, yang diperlihatkan di dalam Kristus dan disampaikan melalui Injil. Ini lebih daripada suatu kecenderungan, seperti yang diperlihatkan oleh bagian kedua dari jawaban Tuhan (lihat pula 13:13). Pelayanan Paulus sendiri adalah berkat kasih karunia (Roma 1:5; 12:3; 1 Korintus 15:10), sehingga ia tidak pernah dapat memisahkan pertobatannya dari panggilarmya untuk menjadi seorang rasul Kristus. Tetapi ia harus belajar bahwa hanya Injil kasih karunia dan panggilan untuk pelayanannya itulah yang ia butuhkan sebagai seorang rasul. Kasih karunia juga cukup baginya untuk menanggung penderitaan-penderitaan dan kesusahannya yang lain (lihat 2:16; 3:5-6). Kuasa ilahi tidak pernah boleh dibaurkan dengan kekuatan manusia, tidak pernah tergantung kepadanya. Sebaliknya, ia menjadi sempurna – dalam pengertian dijadikan sepenuhnya berfungsi dan secara sempurna ditampilkan – dalam kelemahan manusia, demikian Paulus menambahkan. Jadi penderitaan untuk Kristus bukanlah sesuatu yang memalukan. Penderitaan itu memungkinkan Tuhan memperlihatkan bahwa pelayanan dan kuasanya melalui Injil dan Roh, datang daripada-Nya.

Paulus menangkap pelajaran yang sulit ini dengan baik. Ia puas untuk menjadi bukan apa-apa selain daripada sebuah bejana tanah liat, untuk membuktikan bahwa ‘kekuatan yang berlimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami’ (4:7; lihat pula 6:7 dan 13:4). Jadi, ia lebih suka bermegah atas kelemahannya (seperti dalam 11:30; 12:5). Ia telah melakukan hal itu, untuk mempermalukan mereka yang memamerkan kebajikan dan kekuatannya sendiri. Kini ia akan terlebih suka membanggakan penderitaannya, daripada tanda-tanda kekuatan lahiriahnya, untuk memungkinkan kuasa Kristus memerintah di dalam hidupnya dan di dalam pelaksanaan pelayanannya. Ini bukanlah sebuah praktik dalam kerendahan hati yang menghina (lihat tuduhan terhadap Paulus di balik 10:1 dan 11:7). Ini adalah pujian kepada Tuhan yang ia layani. KuasaNya harus turun menaungi Paulus sepanjang pelayanannya, bukan hanya pada kesempatan-kesempatan khusus ketika Paulus ingin mempesona orang banyak.

Kita harus mencatat sepintas bahwa ungkapan Paulus turun menaungi adalah sebuah kata kerja Yunani biasa yang berarti menetap bersama. Akan tetapi mungkin ada beberapa hal yang perlu dicatat bahwa makna yang lebih harfiah, tinggal berkemah bersama, masih ada di dalam pikiran Paulus. Kemuliaan Allah, yang diungkapkan di Gunung Sinai, belakangan memasuki Kemah atau Tabernakel. Di dalam tempat kudus itulah kehadiran Allah yang kudus dan berkuasa hadir demi kebaikan umat-Nya (lihat misalnya Keluaran 25:8-9; Yehezkiel 37:27). Para penulis Perjanjian Baru mengangkat tema yang sama tentang kehadiran Allah yang menetap (atau shekinah dalam Yudaisme; lihat Yohanes 1:14 dan Wahyu 21:3). Paulus jelas bersusah-payah menjelaskan bahwa pelayanan kerasulan adalah penyataan sejati kemuliaan Allah, dan lebih besar daripada apa yang terjadi di Gunung Sinai (lihat 2 Korintus 3:4-18). Ada kemungkinan bahwa ia bereaksi di sana, dan di dalam ayat yang sekarang ini, terhadap pernyataan lawan-lawannya untuk memiliki kuasa Allah yang menetap dalam suatu cara yang khusus. Apakah demikian halnya atau tidak, ia berpendapat bahwa kemuliaan ilahi dan kuasa Kristus tidak dibuktikan oleh kuasa manusia, tetapi bekerja di dalam kelemahan.

Jadi, Paulus tetap senang dan rela di dalam kelemahan, kehadiran pribadinya yang tidak mengesankan dan ketidakmampuannya untuk berbicara dengan hebat (10:1, 10), serta kefanaannya yang rapuh (lihat 4:7 – 5:5). Kepuasannya tidak ada kaitannya dengan kecukupan diri dari sang filsuf Stoa, yang dapat menanggung segala pencobaan dengan segenap keperkasaannya. Paulus bahkan dapat bersukacita di dalam penderitaan-penderitaannya (Roma 5:3), sambil mengakui semua itu sebagai bagian dari rencana Allah untuk dirinya dan kemajuan Injil. Pretensinya sendiri tentang kekuatan tidak pernah dibiarkan memasuki jalan Tuhan. Ia dapat menerima siksaan, baik melalui kata-kata maupun secara fisik (lihat 1 Korintus 4:10-11; 2 Korintus 11:23-25; 1 Tesalonika 2:2). Ia dapat menghadapi segala bentuk kesukaran dalam pekerjaan misinya seperti misalnya kapal yang karam (11:25). Ia tidak semata-mata memaksudkan bahwa tak suatupun dari semua ini dapat memisahkannya dari kasih Allah di dalam Kristus (Roma 8:35). Sebaliknya, kuasa ilahi berada bersamanya di dalam semua pencobaan ini untuk mendukungnya demi melaksanakan pelayanannya. Ia menanggung semuanya oleh karena Kristus, sebagai hamba-Nya, karena kuasa Kristuslah yang mendukungnya (lihat 2 Korintus 12:9). Jadi, paradoksnya tidak berubah: setiap saat ia merasa lemah di dalam dirinya sendiri, itulah saatnya ketika ia kuat di dalam Kristus. Seperti yang dikatakannya di tempat lain: ‘Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku’ (Filipi 4:13). Ia hidup karena iman di dalam kuasa yang selalu hadir ini, bukan oleh apa yang ia lihat dihasilkannya sendiri (lihat 5:7).

V. Penutup dari Ucapan Si Bodoh

* 2 Korintus 12:11-13
12:11 Sungguh aku telah menjadi bodoh; tetapi kamu yang memaksa aku. Sebenarnya aku harus kamu puji. Karena meskipun aku tidak berarti sedikit pun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu.
12:12 Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa.
12:13 Sebab dalam hal manakah kamu dikebelakangkan dibandingkan dengan jemaat-jemaat lain, selain dari pada dalam hal ini, yaitu bahwa aku sendiri tidak menjadi suatu beban kepada kamu? Maafkanlah ketidakadilanku ini!

Ayat-ayat ini menutup ‘permainan dalam kebodohan’ yang dimulai dalam pasal 10:1, sebelum Paulus mulai membuka jalan untuk kunjungannya yang ketiga ke Korintus. Di sini ia masih bereaksi terhadap pernyataan-pernyataan yang sombong dari yang lainnya dengan ironi yang tajam. Pemegahan palsu terhadap kekuatan manusialah yang telah mendorongnya untuk mengambil peranan seorang bodoh, mengoceh seperti seorang idiot (11:1, 16-19, 21, 23). Ia telah mencemoohkan pernyataan-pernyataan yang lainnya untuk memperlihatkan betapa bodohnya mereka. Akan tetapi para pembacanya sendiri harus memikul tanggung Jawab untuk Paulus yang mengambil peranan yang aneh sebagai seorang bodoh yang sombong ini. Mereka telah memaksa dirinya untuk melakukan hal itu karena mereka telah mengecewakannya. Mereka seharusnya membelanya ketika ia diserang oleh lawan-lawannya, para rasul-rasul yang luar biasa itu (lihat pula 11:5 untuk gelar yang diberikan kepada para rasul palsu di Korintus yang telah masuk menggerogoti jemaat di sana). Orang-orang Korintus, sebagai surat pujian Paulus (3:2), seharusnya memuji dia dengan kebanggaan (lihat 5:12) bukannya memperhatikan para pengecamnya, yang merendahkan pelayanannya maupun pribadinya. Ia, seperti yang dinyatakan sebelumnya dalam pasal 11:5, di dalam segala hal aku tidak kalah dengan para pengecamnya itu, meskipun bukan kekuatan pribadinya yang membuat ia lebih baik (11:23). Tetapi taktik-taktik lawan-lawannya, dan tiadanya dukungan dari para pembacanya, telah memaksanya untuk melakukan justru hal yang ia kecam dari orang lain: ia terpaksa harus memuji dirinya dan membanding-bandingkan dirinya dengan orang-orang lain (lihat 10:12, 18). Ia siap mengakui bahwa ia tidak berarti sedikit pun di dalam keadaannya sebagai manusia yang rapuh (lihat pula 1 Korintus 3:7 dan 13:2 untuk ungkapan-ungkapan yang serupa). Dan barangkali ia tidak berarti dalam pengertian bahwa ia tidak mempunyai pengalaman-pengalaman ekstatik di mana dirinya ditelan oleh Allah. Akan tetapi ia masih lebih kuat dan unggul daripada para pengecamnya oleh kuasa Kristus yang bekerja di dalam dirinya, seorang rasul yang lemah (12:9-10).

Para rasul yang luar biasa itu, yang berpura-pura dan tidak kurang daripada pelayan-pelayan iblis (11:13-15), tidak hanya menyatakan dirinya lebih unggul melalui pengalaman-pengalaman ekstatik mereka (12:1-4); mereka juga menyatakan bahwa pelayanan mereka menunjukkan segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai seorang rasul: mujizat. Paulus dapat menandingi pemyataan itu pula (lihat 11 :22 untuk pernyataan-pernyataan lain yang dapat ia tandingi). Frasa Perjanjian Lama, tanda-tanda dan mujizat-mujizat digunakan pula untuk keajaiban-keajaiban yang dibuat oleh para rasul (Kisah 5:12). Kuasa-kuasa di sini dimaksudkan sebagai kata yang lazim untuk mujizat di dalam Perjanjian Baru (lihat 1 Korintus 12:10, 28-29; tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa muncul bersamaan dalam Kisah 2:22, 2 Tesalonika 2:9 dan Ibrani 2:4). Teks-teks lain menyebutkan mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Paulus (Roma 15:18, 19; lihat pula Galatia 3:5), tetapi Kisah Para Rasul 18 dan bagian lain dari surat-surat Korintus tidak mencatat mujizat-mujizat di Korintus. Namun demikian ia tentu tidak akan mengajukan pernyataannya sekarang kepada orang-orang Korintus andaikata hal itu tidak benar. Dua pengamatan menempatkan mujizat-mujizat oleh Paulus ini ke dalam perspektif yang sebenamya. Pertama-tama, ia tidak sesungguhnya mengatakan bahwa ia menciptakan mujizat. Itu jelas tersirat, tetapi rumusannya dalam bentuk pasif (telah dilakukan) menunjuk kepada Allah sebagai Sumber sesungguhnya dari karya-karya ini. Mungkin, yang lebih tepat, mereka adalah ‘perbuatan kuasa’ (makna harfiah dalam bahasa Yunani untuk mujizat) yang dilakukan oleh Roh Kudus. Kedua, Paulus memberikan banyak rincian tentang penderitaan dan kelemahannya (11:23 – 12:10), tetapi hanya mengacu pada mujizat-mujizat itu tanpa memberikan rincian apa pun. Semuanya itu jelas di Korintus untuk membuktikan pemberitaan Injilnya (lihat pula Ibrani 2:4), tetapi itu semua bukanlah tanda-tanda dari kekuatan pribadinya. Sebaliknya, ia menempatkan semuanya itu dalam konteks yang sesungguhnya: dengan segala kesabaran (‘daya tahan’ adalah terjemahan yang lebih baik di sini) yang dibutuhkan dari padanya sebagai seorang rasul yang menderita. Mujizat bukanlah kemenangan pribadi. Kehidupan Paulus dan pekerjaannya terus dicirikan oleh kelemahan. Ia adalah rasul karena kasih karunia, bukan karena kekuatan.

Dengan ironi yang menggigit, Paulus bertanya bagaimana orang-orang Korintus dibiarkan dikebelakangkan dibandingkan dengan yang lain-lainnya sebagai hasil dari pelayanannya. Jemaat-jemaat lain mungkin mengacu kepada semua komunitas Kristen yang didirikan olehnya. Akan tetapi, karena ia kembali mengacu pada masalah dukungan materi, ia mungkin secara khusus lebih berpikir tentang jemaat-jemaat di Makedonia, yang mendukung imbauannya untuk Yerusalem dalam cara yang luar biasa (8:1-5) dan yang telah dijadikan dasar tuduhan kepada Paulus bahwa ia telah merampok mereka untuk menyangkal hak orang-orang Korintus untuk memberikan bantuan keuangan kepadanya (lihat 11:8-9). Sambil mencemooh, Paulus harus mengakui bahwa ia telah berperilaku buruk dalam hal ini; ia melakukan kesalahan yang mengerikan karena tidak menerima bantuan keuangan dari Korintus (lihat tafsiran tentang 11:7-11, dan khususnya tentang 11:9; di situ Paulus mengatakan bahwa ia ‘tidak membebani’ siapa pun di sana). Bagaimana mungkin ia melakukan kejahatan yang demikian? Ia memohon para pembacanya agar memaafkan dirinya atas ketidakadilan ini!

VI. Merintis Jalan untuk Kunjungan Ketiga

* 2 Korintus 12:14-21
12:14 Sesungguhnya sekarang sudah untuk ketiga kalinya aku siap untuk mengunjungi kamu, dan aku tidak akan merupakan suatu beban bagi kamu. Sebab bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu sendiri. Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya.
12:15 Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi?
12:16 Baiklah, aku sendiri tidak merupakan suatu beban bagi kamu, tetapi — kamu katakan — dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya.
12:17 Jadi pernahkah aku mengambil untung dari pada kamu oleh seorang dari antara mereka, yang kuutus kepada kamu?
12:18 Memang aku telah meminta Titus untuk pergi dan bersama-sama dengan dia aku mengutus saudara yang lain itu. Adakah Titus mengambil untung dari pada kamu? Tidakkah kami berdua hidup menurut roh yang sama dan tidakkah kami berlaku menurut cara yang sama?
12:19 Sudah lama agaknya kamu menyangka, bahwa kami hendak membela diri di depan kamu. Di hadapan Allah dan demi Kristus kami berkata: semua ini, saudara-saudaraku yang kekasih, terjadi untuk membangun iman kamu.
12:20 Sebab aku kuatir, bahwa apabila aku datang aku mendapati kamu tidak seperti yang kuinginkan dan kamu mendapati aku tidak seperti yang kamu inginkan. Aku kuatir akan adanya perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, fitnah, bisik-bisikan, keangkuhan, dan kerusuhan.
12:21 Aku kuatir, bahwa apabila aku datang lagi, Allahku akan merendahkan aku di depan kamu, dan bahwa aku akan berdukacita terhadap banyak orang yang di masa yang lampau berbuat dosa dan belum lagi bertobat dari kecemaran, percabulan dan ketidaksopanan yang mereka lakukan

Paulus telah menyelesaikan ucapan si bodohnya (10:1 – 12:13). Ia tidak lagi berbicara dengan ironi yang tajam, meskipun masih ada pertanyaan-pertanyaan yang tajam dalam ayat 16-18 dan dalam ungkapan rasa takutnya dalam ayat 20-21. Akan tetapi, hal ini diperlunak dengan nada keprihatinan yang penuh kasih (ayat 15,19). Dalam usaha merintis jalan untuk sebuah kunjungan pribadi lainnya ke Korintus ia kembali membahas pertanyaan tentang dukungan keuangan (ayat 14-18) dan kemudian meminta agar segala sesuatu yang dapat menimbulkan kunjungan yang tidak menggembirakan lagi diperbaiki (ayat 19-21).

Paulus berbicara seolah-olah kunjungannya yang ketiga (lihat pula 13:1) ke Korintus telah direncanakan untuk waktu dekat; ia akan segera datang. Kunjungannya yang kedua sama sekali bukanlah suatu kesempatan yang menyenangkan (2:1), karena ia telah dihina oleh seorang anggota jemaat. Meskipun masalah ini sudah diperbaiki (lihat 2:5-11; 7:8-12), ia tidak ingin mengulangi pengalaman yang menyakitkan itu – menyakitkan bagi dirinya maupun para pembaca di Korintus. Ia pun telah berurusan dengan rasa tersinggung yang disebabkan oleh penolakannya untuk menerima bantuan keuangan dari orang-orang Korintus (1 Korintus 9:3-18; 2 Korintus 11:7-11). Kita hanya dapat menerka mengapa ia mengangkat masalah ini sekali lagi. Kata-katanya dalam pasal 11:7-11 adalah suatu serangan menusuk yang diarahkan bukan terutama kepada para pembacanya melainkan lebih kepada para rasul yang maha hebat itu. Di sini ia berbicara dengan nada yang lebih tenang dan lebih toleran. Ia jelas tidak akan mengubah keputusan untuk tidak menjadi suatu beban bagi orang-orang Korintus secara finansial (Iih. 11:9, 12; 12:13). Alasan yang diberikan di sini bukanlah, seperti dalam pasal 11:12, mengalahkan lawan-lawannya. Ia sama sekali tidak berniat untuk mendapatkan apa pun dari para pembacanya selain diri mereka sendiri, keseluruhan loyalitas mereka (sebuah pokok serupa dikemukakan kepada orang-orang Filipi oleh Paulus; lihat Filipi 4:17). Ketaatan mereka, dan bukan pemberian uang, yang akan mengukuhkan pelayanannya. Berbicara sebagai bapa mereka di dalarn Kristus (lihat 1 Korintus 4:15; 2 Korintus 6:13; 11:2), Paulus menggunakan analogi keluarga untuk memperlihatkan bahwa ia, akhirnya, lebih berminat dalam memberi kepada orang-orang Korintus daripada mengarnbil dari mereka. Bukan tanggung jawab anak-anak untuk mengumpulkan harta (atau warisan) untuk orang tuanya, melainkan sebaliknya.

Orang-orang Korintus diharap menyerahkan diri mereka kepada Paulus; ia siap untuk menyerahkan diri kepada mereka sepenuhnya. Ia akan dengan penuh rasa suka mengorbankan seluruh kasih dan energinya dalam perjuangan rohani mereka (lihat 2 Korintus 11:28-29 untuk kepeduliannya yang mendalam) dan siap untuk mengorbankan diri, bahkan bila itu berarti kematiannya (lihat Filipi 2:17). Dalam pasal 11:11 ia melawan tuduhan bahwa penolakannya untuk menerima dukungan pribadi adalah bukti dari tiadanya kasih terhadap orang-orang Korintus. Di sini jaminannya akan kasihnya yang khusus mendukung haknya untuk mengharapkan balasan kasih mereka. Betapa tidak adilnya bagi ‘anak-anak-nya untuk membalas baktinya yang berlebih kepada mereka dengan kasih yang semakin kurang daripada orang lain yang telah menerima lebih sedikit perhatian dari rasul tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa Paulus tidak merupakan suatu beban bagi orang-orang Korintus dengan menerima dukungan pribadi dari mereka (lihat ayat 13-14 atas). Kenyataannya tidak diperdebatkan, hanya masalah sakit hati yang disebabkan oleh sikap Paulus yang berkukuh (untuk teori-teori tentang kemungkinan penyebab rasa tersinggung dalarn masalah ini, lihat penjelasan yang meluas tentang 11:11). Salah satu alasan untuk rasa sakit hati yang berlanjut itu menjadi jelas. Paulus telah mendengar bahwa beberapa orang di Korintus mengatakan (kamu katakan tidak ada dalam teks Yunani, tetapi telah ditambahkan untuk memperjelas maksudnya) bahwa ia memang licik (sebuah tuduhan yang dikenakan oleh Paulus kepada orang-orang lain dalam 4:2). Ia sesungguhnya telah menjerat mereka dalam tipu daya dengan berpura-pura mengumpulkan uang untuk orang-orang miskin di Yerusalem, sementara ia sepenuhnya bermaksud mengantungi hasilnya untuk dirinya sendiri. Jadi, ia telah bersalah karena melakukan penipuan!

Jawaban Paulus menunjuk pada konsistensi yang mutlak dan integritas motif-motif dan prosedur-prosedurnya sendiri, serta orang-orang yang ia utus untuk mengumpulkan uang dari orang-orang Korintus (lihat 8:16-24; 9:3). Ia tidak mengambil untung dari para pembacanya (kata kerja di sini dan dalam 7:2 berarti menipu) dengan menggunakan utusan-utusan ini untuk mengumpulkan uang dengan berpura-pura. Ia telah meminta Titus (ungkapan yang sama seperti dalam 8:6,17) dan saudara yang lain itu untuk menjalankan suatu misi yang sangat jelas: bukan mengumpulkan uang untuk Paulus sendiri, melainkan untuk Yerusalem. Dalam pasal 8:18 dan 22 Paulus menyebutkan dua pembantu untuk Titus. Barangkali ia mengacu kepada orang yang kedua (‘saudara kita’) sebagai seorang lainnya yang erat berkaitan dengan Paulus, juga dalam pemikiran para pembacanya. Jelas bahwa Titus adalah pemain utamanya, karena Paulus menantang orang-orang Korintus untuk membuktikan kecurangan pada dirinya.

Ayat 18 menunjukkan bahwa orang-orang Korintus bersedia mengakui bahwa Titus tidak mengarnbil untung daripada mereka dengan cara-cara yang licik. Ia sudah tiba dan mengambil persembahan untuk Yerusa¬lem. Akan tetapi kata-kata Paulus sebelumnya dalam pasal 7:13-16 dan 8:16-24 menunjukkan bahwa Titus masih ada bersama dengan Paulus dan akan segera diutus ke Korintus. Perbedaan ini sangat mendukung argumen bahwa pasal 10-13 merupakan surat yang terpisah dan belakangan daripada pasal 1-9.

Titus adalah utusan pribadi Paulus dalam mengumpulkan dana. Rasul itu menantang orang-orang Korintus untuk memberikan bukti bahwa motif dan metode-metode mereka ternyata berbeda. Kelakuan mereka ditandai oleh roh yang sama (bukan Roh Kudus) yakni kejujuran dan keterbukaan. Tidak ada usaha untuk menipu para pembacanya, entah oleh Paulus sendiri ataupun oleh utusannya. Dalam mempromosikan pengumpulan persembahan untuk Yerusalem keduanya berlaku menurut cara yang sama; prosedur mereka identik dan jelas terbuka. Tidak perlu lagi bicara tentang penipuan, tentang Paulus mengisi sakunya sendiri sementara berpura-pura melakukan pekerjaan amal yang besar untuk orang lain!

Siapa pun di Korintus dapat dimaafkan bila tiba pada kesimpulan, setelah membaca pasal 10-13, bahwa Paulus terobsesi untuk membela diri sendiri. Ia sudah lama membela haknya untuk tidak menerima uang dari orang-orang Korintus (lihat 1 Korintus 9:3; 2 Korintus 11:7-11,12; 12:14-18) sementara itu tetap mengimbau agar mereka memberikan persembahan untuk Yerusalem. Ia jelas telah menghabiskan banyak waktu dan usaha dalam membela dirinya sendiri melawan serangan-serangan dari para nabi palsu di Korintus. Pembelaan diri, untuk sesuatu yang adil, bukanlah sesuatu yang salah – bukankah orang-orang Korintus sendiri telah begitu bersemangat membersihkan diri mereka dari kesalahan di mata Paulus (lihat 7:11). Maksud Paulus sesungguhnya adalah bahwa ia tidak ingin para pembacanya mengira bahwa pembelaannya didorong oleh kepentingan pribadi. Ia bukanlah seseorang yang terlalu peka hingga tidak bisa menanggung pedasnya kritik yang sah. Ia pun tidak memberikan reaksi berlebihan terhadap serangan-serangan yang tidak adil terhadap pribadinya. Sebagai seorang rasul Kristus, ia lebih pribadi dengan efektivitas Injil dan kesejahteraan para pembacanya, daripada dengan egonya sendiri. Bahkan dalam kata-katanya yang kadang-kadang tajam dalam pasal 10-13 ia telah berbicara di hadapan Allah dan demi Kristus (frasa ini mengingatkan kita akan 2:17). Ia berbicara dengan kuasa Kristus, sehingga Kristuslah yang berbicara di dalam dia (13:3). Dan ia selalu sadar bahwa ia bertanggung jawab di hadapan Allah untuk setiap aspek pelayanannya. Semua ini yang telah dilakukannya di hadapan para pembacanya, atau ditulis dalam surat-suratnya – bahkan peringatan, serangan, pembelaan diri – telah didasarkan pada tujuan yang positif untuk membangun para pembacanya (lihat 10:8; 13:10). Kesalahan, kepalsuan dan penghinaan mungkin membuatnya marah, tetapi para pembacanya selalu adalah kekasihnya (satu-satunya kesempatan lain di mana istilah ini muncul dalam surat ini adalah pada 7:1).

Paulus juga mempunyai kekuatirannya sendiri, tetapi mereka juga, terhadap apa yang mungkin terjadi terhadap orang-orang Korintus, bukan bagaimana kehormatannya dapat dirugikan. Sebagian orang di Korintus sepenuhnya berhak untuk mengkuatirkan kunjungan Paulus kembali. Ia tidak akan memperlihatkan sikap lunak kepada mereka yang telah menentang dia dan yang telah mengatakan bahwa Paulus bicara besar dalam surat -suratnya ketika ia tidak ada di sana, namun menjadi lunak dan lemah lembut ketika berhadapan muka dengan orang-orang itu (lihat 10:1-2, 10-11; 12:2-3, 10). Tetapi rasa kuatir yang paling utama ialah bahwa akan terjadi perjumpaan yang menyedihkan lagi dengan seluruh jemaat itu bila ia menemukan bahwa mereka belum memperbaiki cara-cara mereka yang penuh dosa. Dalam hal itu, mereka akan menemukan bahwa ia sama sekali bukanlah seorang bapak yang lunak (lihat 1 Korintus 4:21). Ia akan menggunakan rotan!

Sebelum pertemuan yang berbahagia kembali terjadi, para pembacanya harus memperbaiki cara hidup mereka. Kedelapan dosa yang didaftarkan Paulus merupakan suatu daftar standar (lihat Galatia 5:20; di situ keempat dosa pertama juga muncul; Roma 1:29-30), sehingga tidak disusun khusus untuk situasi Korintus. Akan tetapi, sejarah jemaat di Korintus memperlihatkan mengapa Paulus harus mencantumkan semua dosa dalam bagian ini saja. Telah terjadi perselisihan dan iri hati di antara kelompok-kelompok (1 Korintus 1 :11; 3:3). Mereka cenderung untuk meledak dalam amarah (juga terhadap Paulus) dan telah memperlihatkan kepentingan diri sendiri dengan mengabaikan mereka yang mempunyai nurani yang lemah (1 Korintus 8:1-13), dan dengan memikirkan diri sendiri pada perjamuan kasih dan Perjamuan Tuhan (11:17-22). Telah terjadi fitnah dan bisikan-bisikan di antara mereka sendiri dan hal itu pun ditujukan kepada Paulus sendiri (lihat 10:10; 12:16). Ada banyak sekali bukti bahwa mereka telah dipenuhi dengan keangkuhan (1 Korintus 4:6, 18-19; 5:2; 8:1; 13:4). Malah, telah terjadi pula kerusuhan di Korintus, kerusuhan yang telah masuk dalam kebaktian-kebaktian peribadahan mereka (1 Korintus 11-14).

Bila orang-orang Korintus tidak mengubah hati dan hidupnya, kunjungan Paulus yang ketiga akan sangat menyakitkan dan menyedihkan. Dosa-dosa yang baru saja didaftarkan adalah gejala dari sebuah jemaat yang telah membagi kesetiaan; rasa percaya digantikan oleh kecurigaan dan di sana kecenderungan sikap dan perilaku bersaing telah ditekankan oleh orang-orang luar yang telah bekerja melawan Paulus. Sebagian telah menemukan bahwa perilaku Paulus sendiri dalam merendahkan dirinya, sikapnya yang sangat lemah (11:7; 10:1, 10). Kini ia kuatir bahwa Allah akan merendahkan dirinya setelah ia tiba kembali di Korintus. Bila orang Korintus gagal memperbaiki cara hidup mereka, maka itu pun adalah kegagalan pada pihak Paulus sendiri. Dari situ tentu akan muncul pertanyaan tentang efektivitas pelayanannya di antara mereka. Ia akan kehilangan salah satu dasarnya untuk bermegah: iman dan kehidupan yang baik dari para mualafnya. Kebanggaan dan keyakinannya terhadap mereka akan terbukti keliru (lihat 7;4,14,16). Hal ini tentu akan jauh lebih memalukan daripada duri di dalam daging (lihat 12:7).

Lebih jauh, Paulus kuatir bahwa ia harus berdukacita bila banyak orang di Korintus tidak bertobat. Kegagalan dari setiap orang Kristen untuk hidup sesuai dengan panggilan mereka adalah alasan untuk dukacita yang sungguh-sungguh; dukacita ini bahkan menjadi kesedihan atas kematian rohani dari seorang pendosa yang tidak mau bertobat (lihat 1 Korintus 5:2). Di sini Paulus membayangkan sebuah kategori dosa yang khusus: kecemaran, percabulan dan ketidaksopanan adalah tiga istilah untuk satu hal yang sama: perilaku seksual yang haram. Ia berbicara tentang imoralitas yang mencolok, yang memberikan nama buruk kepada jemaat itu.

Mengapa Paulus menyebutkan dosa seksual secara khusus? Dosa-dosa itu tidak disebutkan di tempat lain dalam surat ini, meskipun tersirat dalam panggilan kepada para pembaca untuk memisahkan diri dari kenajisan (6:17; 7:1). Ia berbicara tentang orang-orang yang di masa lampau berbuat dosa (sejak menjadi Kristen tentunya) dan yang tetap bertahan di dalam perilaku buruk mereka meskipun ia telah memperingatkannya (lihat 13:2). Bukannya tidak masuk akal bila kita menyimpulkan bahwa peringatan-peringatan Paulus sebelumnya tentang imoralitas (lihat 1 Korintus 5:1-8; 6:9, 15-18; 7:2; 10:8) belum diperhatikan oleh semua; sebagian belum lagi bertobat, Orang-orang Korintus bangga akan kebebasan mereka. Barangkali para rasul palsu itu pun menggerogoti pekerjaan Paulus dengan membiarkan moralitas yang lebih longgar. Juga ada kemungkinan bahwa orang-orang Korintus terbiasa dengan pencobaan-pencobaan khusus. karena mereka hidup di sebuah kota pelabuhan yang terkenal karena imoralitasnya. Betapapun juga, Paulus mempunyai hak untuk menuntut ketaatan penuh pula di dalam hal ini (10:6).

VII. Peringatan Terakhir dan Imbauan

* 2 Korintus 13:1-10
13:1 Ini adalah untuk ketiga kalinya aku datang kepada kamu: Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah.
13:2 Kepada mereka, yang di masa yang lampau berbuat dosa, dan kepada semua orang lain, telah kukatakan terlebih dahulu dan aku akan mengatakannya sekali lagi — sekarang pada waktu aku berjauhan dengan kamu tepat seperti pada waktu kedatanganku kedua kalinya — bahwa aku tidak akan menyayangkan mereka pada waktu aku datang lagi.
13:3 Karena kamu ingin suatu bukti, bahwa Kristus berkata-kata dengan perantaraan aku, dan Ia tidak lemah terhadap kamu, melainkan berkuasa di tengah-tengah kamu.
13:4 Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah.
13:5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.
13:6 Tetapi aku harap, bahwa kamu tahu, bahwa bukan kami yang tidak tahan uji.
13:7 Kami berdoa kepada Allah, agar kamu jangan berbuat jahat bukan supaya kami ternyata tahan uji, melainkan supaya kamu ini boleh berbuat apa yang baik, sekalipun kami sendiri tampaknya tidak tahan uji.
13:8 Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran.
13:9 Sebab kami bersukacita, apabila kami lemah dan kamu kuat. Dan inilah yang kami doakan, yaitu supaya kamu menjadi sempurna.
13:10 Itulah sebabnya sekali ini aku menulis kepada kamu ketika aku berjauhan dengan kamu, supaya bila aku berada di tengah-tengah kamu, aku tidak terpaksa bertindak keras menurut kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepadaku untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan.

Bagian ini melanjutkan peringatan yang dinyatakan dalam pasal 12:19-21: Paulus tidak akan sabar berkomunikasi dengan orang-orang yang masih selalu melakukan dosa yang sangat keji. Kecuali jika mereka mengubah cara mereka, mereka akan segera melihat kuasa Kristus bekerja dalam kelemahan rasul itu (13:1-4)! Untuk peringatan yang penting ini Paulus menambahkan suatu pertolongan untuk pengoreksian diri, kemudian penekanan bahwa perhatian akhir Korintus adalah kesejahteraan, bukan kerjanya (ay. 5-10).

Ayat-ayat ini berkaitan erat dengan ayat-ayat yang sebelumnya, namun ada alasan yang kuat untuk menganggapnya sebagai sebuah satuan sastra yang terpisah. Strukturnya sangat mirip dengan apa yang kita amati dalam pasal 10:1-11. Dalam kedua kasus di atas, kata-kata rasul itu ditaruh dalam sebuah inklusi, sebuah tanda kurung yang mengembangkan tema konsistensinya: apa yang ditulisnya ketika ia pergi sesuai dengan apa yang ia lakukan (atau akan lakukan) bila ia hadir di Korintus (lihat 13:2 dan 10). Hal ini memperkuat pesan Paulus: peringatan-peringatannya tidak boleh dianggap remeh. Akan tetapi, ia menjelaskan bahwa ia mengharapkan kunjungannya yang ketiga itu menyenangkan, bukan sebuah misi penghukuman.

Ayat 1 kedengaran seperti sebuah catatan yang menakutkan. Peringatan bahwa ini adalah ketiga kalinya ia datang ke Korintus (lihat 12:14) menyiratkan bahwa para pelanggar itu telah mempunyai cukup banyak waktu untuk memperbaiki cara-cara mereka (lihat 1 Kor. 4 :18-1 9). Bila mereka tetap menolak, ia akan segera mampu menangani mereka langsung berhadapan muka.

Baru untuk kedua kalinya dalam pasal 10-13, Paulus mengutip teks Perjanjian Lama (kutipan lainnya di dalam 10:17). Aturan dari Ulangan 19:15 juga dikutip oleh Yesus (Matius 18:16) dan diacu dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru lainnya (Yohanes 8:17; 1 Timotius 5:9; Ibrani 10:28; 1 Yohanes 5:8). Di sini kepada kita tidak diberikan pengantar atau penjelasan tentang teksnya. Paulus jelas menganggap bahwa maknanya sudah jelas dari konteksnya. Ia sama sekali tidak memperingatkan bahwa ia bermaksud untuk membentuk suatu peradilan pada waktu kedatangarmya. Ia juga mengatakan bahwa siapa pun yang ingin melakukan tuduhan kepada dirinya harus mempunyai keterangan dua atau tiga orang saksi (hukum diganda saksi). Orang lainlah yang dituduhnya berdosa itu (12:21; 13:2). Kunci yang penting bagi peringatan Paulus di sini diberikan dengan angka-angka. Ia memperingatkan orang-orang pada kunjungannya yang kedua agar mereka mengubah cara hidup mereka, dan sekarang ia melakukannya lagi ketika ia jauh dari Korintus. Kunjungannya yang ketiga akan memberikan keterangan yang cukup untuk menopang perkara apa pun. (Alternatifnya adalah melakukan tiga kunjungan untuk menopang keterangannya, tetapi hal ini kurang memungkinkan, karena di sini Paulus berbicara tentang peringatan terhadap dosa yang terus-menerus dilakukan sejak kunjungannya yang pertama di Korintus). Dalam istilah sederhana: kunjungannya yang ketiga adalah saat penghakiman! Hal yang sama berlaku bagi semua orang lain yang bersalah karena dosa-dosa yang disebutkan dalam pasal 12:20, yang telah menutup mata mereka terhadap imoralitas orang-orang lain, atau yang telah dalam satu cara atau lainnya ikut serta menyerang Paulus. Bila mereka menganggap bahwa di masa lampau ia telah berlaku lunak, mereka harus tahu bahwa kali ini ia tidak akan menyayangkan (harfiah, tidak akan ‘melepaskan’ mereka, seperti yang pemah dilakukannya sebelumnya dengan pembatalan kedatangannya ke Korintus [lihat 1:23]). Kali ini akan berbeda; orang akan merasakan ujung lidahnya. Lebih parah lagi, mereka akan mengalami penghakiman yang dahsyat dari Kristus!
Kunjungannya yang ketiga ini akhimya akan membuktikan apakah ia rasul yang lemah dan tidak berdaya seperti yang dikatakan oleh para pengecamnya. Sementara menyebutnya sebagai orang yang lemah (10:10; 11:6-7), mereka membanggakan kekuatan mereka sendiri (10:12; 11:12, 21-23), dan mengutip pengalaman-pengalaman ekstatik dan pembuatan mujizat (12:1-4, 12) sebagai bukti bahwa Kristus berkata-kata dengan perantaraan mereka. Dan mereka telah membujuk orang-orang percaya di Korintus untuk menuntut dari Paulus bahwa ia memperlihatkan bukti yang sama meyakinkan untuk menunjukkan keaslian panggilannya.

Paulus telah menegaskan bahwa ia berbicara ‘di dalam Kristus’ dan sebagai utusan-Nya (2:17; 12:19; 5:20). Kunjungannya yang ketiga akan memberikan bukti yang perlu yang diminta daripadanya. Kuasa ilahi bekerja di dalam pemberitaan Injil Kristus yang disalibkan (Roma 1:16; 1 Korintus 1:18) melalui para pelayan yang tetap lemah di dalam keadaan mereka sebagai manusia yang rapuh (2 Korintus 4:7; 11:30; 12:5, 9-10; Roma 15:18). Tetapi Kristus yang berbicara di dalam Paulus tidak lemah dalam menghadapi orang-orang Korintus. Ada banyak sekali bukti bahwa ia berkuasa di tengah-tengah mereka: di dalam pemberitaan Injil (1 Kor. 2:4), dalam mujizat yang mereka telah alami (2 Korintus 12:12), dan dalam keberadaan mereka sendiri sebagai orang-orang kudus Allah (1:1). NRSV menyebutkan bahwa Paulus mengacu kepada kuasa Kristus di dalam orang-orang Korintus. Terjemahan ini memang mungkin, namun barangkali bukan itu yang ia maksudkan. Lawan-lawannya, serta para pengikutnyalah, yang menganggap bahwa kuasa-kuasa adikodrati ada di dalam diri mereka, sehingga mereka sudah kuat (1 Korintus 4:10; lih. pula penjelasan 2 Korintus 12:9). Paulus tidak pernah mencampur-baurkan kuasa ilahi dengan kekuatan manusia.

Paradoks bahwa Injil adalah pesan kelemahan dan kekuatan dimulai dengan paradoks yang lebih dasariah dari kelemahan dan kuasa Kristus sendiri. Ia disalibkan oleh karena kelemahan; kematiannya adalah bukti mutlak dari ketidakberdayaan, bila dipandang dari mata manusia belaka. Tidak ada kuasa yang tampak ketika seorang Yahudi tergantung pada sebuah salib. Akan tetapi kuasa Allah bekerja justru pada peristiwa tersebut (lihat 1 Korintus 1:17-25). Ternyata itu tidak kurang daripada penunjukan kuasa ilahi yang bekerja di dalam kelemahan (2 Korintus 12:9). Kristus yang sama, yang disalibkan, kini hidup karena kuasa Allah. Ia diangkat dengan kuasa yang mulia itu (Roma 1:4; 6:4; 1 Korintus 6:14; Filipi 3:10) dan sebagai Tuhan yang bangkit, Ia kini ikut serta di dalam kuasa dan kemuliaan Allah sendiri (Efesus 1:19-21; Filipi 2:9-11; Ibrani 2:9).

Paulus hanya akan memegahkan Injil dan kuasa Kristus semata, sehingga ia puas untuk lemah di dalam Dia. Pelayanan untuk Kristus bahkan berarti kelemahan lebih jauh: penderitaan sebagai orang yang ‘membawa kematian Yesus di dalam tubuh’ (2 Kor. 4:10). Tetapi ketika menghadapi para pembacanya (dalam bahasa Yunani frasa ini ditempatkan terakhir untuk memberikan penekanan khusus), kelemahan Paulus bukanlah halangan bagi kuasa Kristus. Sementara ‘maut giat’ di dalam diri para rasul Kristus (4:12), mereka pun hidup bersama-sama dengan Dia. Itu lebih daripada sekadar penegasan tentang kehidupan baru di dalam Kristus sekarang (Galatia 2:20) dan di masa mendatang (1 Tesalonika 4:17). Paulus menggunakan bentuk waktu yang akan datang di sini untuk mengungkapkan suatu kesimpulan logis, atau untuk mengatakan apa yang akan terus menjadi masalah, atau apa yang akan dilihat oleh orang-orang Korintus ketika ia tiba kembali di Korintus. Barangkali usul terakhir itulah yang terbaik. Mereka yang selalu berbicara tentang Paulus sebagai orang lemah akan melihat dia bertindak karena kuasa Allah ketika ia datang kembali! Paradoks tentang Kristus yang lemah/kuat dan Injilnya yang lemah/kuat paling jelas kelihatan di dalam rasul yang lemah/kuat, Ketika ia lemah, ia kuat (12:10)! Kelemahannya adalah kelemahan dari seseorang yang disaliibkan bersama Kristus untuk menjadi sarana Tuhan dalam melaksanakan kuasa-Nya.

Fungsi sebenarnya dari kuasa ilahi adalah menyelamatkan – membangun dan bukan menghancurkan, demikian ungkapan Paulus (12:19; 13:10). Akan tetapi, kuasa yang sama harus menghakimi dan menghukum ketika orang-orang berdosa tetap tidak bertobat (lihat ayat 2). Jadi Paulus menyerukan para pembacanya agar menguji diri mereka sendiri. Moralitas erat sekali hubungannya dengan pengakuan iman. Kemurnian hidup adalah tanda yang tampak nyata dari kehidupan dan berdiri tetap tegak di dalam iman (lihat 1 Korintus 16:13; 2 Korintus 1:24). Orang-orang Korintus telah menuntut agar Paulus lulus dalam ujian sebagai rasul yang sejati (tuntutan ini memang dibenarkan, tetapi kriteria yang mereka gunakan tidak, lihat 10:7; 12:22; 13:3). Mereka harus menguji diri mereka sendiri (kata kerja Yunani di sini berkaitan dengan kata ‘bukti’ dalam ayat 3) untuk melihat apakah mereka menjalani kehidupan yang sesuai dengan panggilan dan pengakuan sebagai seorang Kristen. Iman itu palsu bila tidak disertai dengan ketaatan (10:6). Akan tetapi ketaatan bukanlah sekadar mengikuti serangkaian aturan. Ketaatan berarti sesuai dengan Injil; ini berarti dikendalikan oleh kasih Kristus. Jelaslah bahwa para pembaca yakin bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri mereka! Jadi, bagaimana mungkin mereka terus-menerus bertekun di dalam dosa? Imoralitas terang-terangan (12:21) adalah penyangkalan terhadap Kristus yang menetap dan terhadap kuasa Roh yang membarui yang bekerja di dalam Injil (lihat 3:18; 1 Korintus 3:16). Mereka yang terus bertekun di dalam dosa tidak tahan uji sebagai seorang Kristen sejati. Mereka belum benar-benar mengakui iman atau mengenal kuasa Injil, atau telah gugur dari imannya. Kebanggaan mereka datang sebelum kejatuhan yang besar (1 Korintus 10:12)! Pengujian diri yang menyeluruh (lihat pula 1 Korintus 11:28; Galatia 6:4) mudah-mudahan akan mencegah terjadinya hal itu.

Paulus mengungkap harapan bahwa ada sesuatu yang akan menjadi jelas ketika ia tiba kembali di Korintus: bahwa bukan mereka yang tidak tahan uji. Kita tidak mengira bahwa ia menyatakan harapan bahwa para pembacanya tidak akan gagal dalam ujian apa pun. Sebaliknya, ia menunjuk pada hubungan yang tidak terpisahkan antara kesungguhan iman mereka dan kesungguhan pelayanan mereka. Karena segala sesuatu yang ditulisnya berhubungan dengan kedatangannya sebentar lagi di Korintus, ia tidak mengacu pada pengukuhan kedudukannya sebagai rasul saat kedatangan Tuhan kembali. Sebaliknya ia berbicara tentang lulus ujian atau ‘kegagalan’ sebagai seorang rasul (1 Korintus 9:27) tak lama lagi. Iman para mualafnya mengukuhkan keabsahan pelayanannya (lihat 10:15). Pemberontakan mereka akan membuat pelayanannya dipertanyakan.

Hal ini menjelaskan doa Paulus kepada Allah agar orang-orang Korintus jangan berbuat salah. Mereka harus dijauhkan dari dosa sehingga keampuhan pelayanannya tidak akan diragukan. Di sini, seperti di tempat-tempat lain (lihat Filipi 1:9-11; Filemon 6), doa Paulus berfungsi sebagai suatu imbauan. Akan tetapi bahkan pada bagian ini ia tampaknya kuatir bahwa kata-katanya akan keliru dipahami – hal itu sudah terlalu sering terjadi dalam hubungannya dengan Korintus! Ia dapat saja memberikan kesan bahwa keprihatinannya yang utama adalah untuk dirinya sendiri dan kedudukannya sebagai seorang rasul (lihat 12:19). Jadi ia cepat-cepat menambahkan itu ke dalam doanya, agar Allah memimpin mereka untuk berbuat apa yang baik, suatu ungkapan yang tulus dari keprihatinannya yang sungguh-sungguh. Sudah tentu, ia pun ingin ternyata tahan uji. Tetapi selama orang-orang Korintus menyimpang jalannya, pelayanannya tidak dapat diabsahkan, meskipun misalnya ketaatannya kepada ma tidak penuh (lihat l0:6). Tanpa kesetiaan mereka yang penuh kepadanya, ia tampaknya tidak tahan uji sebagai seorang rasul. Tetapi tidak demikian halnya bila kata-katanya yang kuat itu membawa ora-ng-orang berdosa bertobat, sehingga seluruh komunitas Kristen dipulihkan (ayat 8b).

Paulus tidak dapat mengubah pesannya atau taktiknya, Ia tampaknya kuatir bahwa kesalahpahaman dan perlawanan akan berlanjut di masa mendatang. Namun demikian ia tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran, melalui bertindak untuk kebenaran. Arti pernyataan ini tidaklah jelas. Mungkin artinya semata-mata bahwa kehendak Allah harus menang, bahkan bila Paulus sendiri tidak dibela melawan musuh-musuhnya di Korintus. Kemungkinan yang lebih besar ialah bahwa ia menggemakan kenyataan bahwa ia dipaksa secara ilahi untuk memberitakan Injil (1 Korintus 9:16). Ia dapat bertindak hanya untuk kebenaran Injil, dan harus menyerahkan segala hal lainnya kepada Allah, bahkan kedudukannya di mata orang banyak. Bertindak melawan kebenaran Injil (lihat 2 Korintus 4:2) berarti menyangkali panggilan kerasulannya. Jadi, hal ini pun benar: selama orang-orang Korintus ‘menaati kebenaran’, dalam pengertian melakukan apa yang baik (Roma 2:8, 10 menyamakan kedua hal ini), dalam jangka panjang tidak jadi masalah apakah mereka secara keliru menolaknya, meskipun hal itu tentu menyakitkan bagi Paulus. Memang, ia bahkan dapat bersukacita ketika orang lain melihat dia tidak berarti apa-apa selain sebagai orang yang lemah. Hal yang utama ialah bahwa mereka tetap kuat melalui kuasa Kristus yang bekerja di dalam dirinya dan diri mereka (12:9, 10; 13:4). Bila dipahami dengan benar, slogan yang sudah ditolak Paulus sebelumnya akhirnya benar: ‘Kami lemahdan kamu kuat’ (1 Korintus 4:10). Kehendak Allah dapat dilaksanakan bahkan melalui seorang rasul yang lemah dan ditolak. Tetapi ia akan mengakui bahwa orang-orang Korintus itu kuat dan perkasa hanya sebatas dan sejauh, mereka berada ‘di dalam Kristus’ dan hidup dengan Injil. Kekuatan tidak ada kaitannya dengan kuasa manusia itu sendiri, bahkan tidak juga dengan karunia-karunia karismatis.

Jadi, doa terakhir Paulus bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan untuk pemulihan orang-orang Korintus, agar mereka berdiri teguh di dalam iman, yang ditandingi dengan kehidupan yang diperbarui. Terjemahan NRSV (dan LAI, pen.], supaya kamu menjadi sempurna (bandingkan Ucapan Yesus dalam artikel 17-kamu-harus-sempurna-vt1026.html#p3259 ), tidaklah sepenuhnya tepat. Ini mudah memberikan kesan palsu bahwa Paulus mendoakan untuk suatu kesempurnaan moral (ia sesungguhnya menginginkan pertobatan dan iman). Kata Yunaninya secara harfiah berarti ‘demi pemulihan kamu’, menggunakan sebuah kata benda yang sesuai dengan kata kerja dalam ayat 11 yang berarti ‘menata’. Istilah yang sama dipergunakan oleh Paulus dalam mengimbau demi pemulihan seorang berdosa (Galatia 6:1) dan untuk pemulihan kembali kesatuan jemaat (1 Korintus 1:10). Paulus ingin masing-masing pribadi bertobat sehingga seluruh komunitas Kristen dapat dibentuk kembali dalam iman yang benar dan kehidupan yang suci.

Pemulihan, bukan penghukuman – apalagi balas dendam terhadap lawan-lawannya – itulah yang mendorongnya untuk menulis semuanya ini (acuannya tentulah kepada isi pasal 10-13, bukan bagian pertama dari surat gabungan ini). Nadanya seringkali tajam, ironinya memotong. Ia telah menggunakan parodi, telah bermain sebagai orang bodoh dalam usahanya bersusah payah membela diri. Ia telah memohon dan merayu, mempeingatkan, bahkan mengancam. Kata-katanya, yang ditulis, ketika berjauhan, ‘tegas dan keras’ (lihat 10:10-11 karena ini adalah suatu pernyataan fitnah terhadap Paulus). Tetapi semuanya itu dimaksudkan menghasilkan sesuatu yang membahagiakan – bagi dirinya dan orang-orang Korintus. Setiap kata yang ditulis dimaksudkan untuk merintis jalan untuk kunjungannya yang ketiga (lihat 10:1, 2, 10, 11; 12:14; 13:1). Bila kata-katanya mengena sasarannya dan terjadi perubahan di Korintus, ia tidak akan terpaksa bertindak keras (Roma 11:22 berbicara tentang tindakan keras Allah sendiri) dalam melaksanakan kuasanya[b] yang sah. Kuasa itu digambarkan dalam kata-kata yang hampir sepenuhnya sama dengan apa yang terdapat dalam pasal 10:8 (lihat penjelasan ayat itu dan tentang 12:19). Pelayanannya selalu mempunyai tujuan yang positif: [b]membangun, bukan meruntuhkan. Bahkan meruntuhkan perlawanan terhadap Injil mempunyai tujuan positif (lihat 10:4). Akan tetapi, sementara kuasa yang diberikan oleh Kristus untuk memberitakan kabar baik pengampunan itu ditolak, Paulus pun mempunyai kuasa untuk mengumumkan penghakiman. Dalam pengertian itu, Kristus pun berkuasa (ayat 3-4).

Paulus berharap bahwa peringatan-peringatan dan imbauan-imbauannya akan diperhatikan. la juga kuatir bahwa mereka tidak mau mendengarkannya! Tentu menarik bila kita mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi dalam perjalanannya yang ketiga (dan terakhir) ke Korintus, tetapi catatannya membisu. Suratnya ke jemaat di Roma, yang ditulis dari Korintus, tidak menyebutkan konflik, tetapi mungkin saja sebagian dari rasa kuatirnya terwujud, bahwa ia tidak sepenuhnya diterima sebagai rasul oleh sebagian orang. Tetapi keberadaan dan pertumbuhan yang berlanjut dari komunitas Kristen ini di sebuah kota besar dari Kekaisaran Romawi menjadi suatu kenangan yang kekal tentang rasul itu yang merasa puas untuk menjadi orang yang lemah, sejauh Kristus dan Injil-Nya tetap kuat dan membuat orang lain kuat.

VIII. Kesimpulan

* 2 Korintus 13:11-13
13:11 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!
13:12 Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus. Salam dari semua orang kudus kepada kamu.
13:13 Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.

Kesimpulan ini memuat tiga unsur yang lazim digunakan Paulus untuk menutup suratnya: imbauan penutup, salam dan berkat. Kedua unsur pertamanya singkat Gelas lebih singkat daripada dalam 1 Korintus 16:13-22). Berkatnya, sebaliknya, lebih panjang daripada yang lain-lainnya dalam surat-surat Paulin.

Tidak ada alasan untuk meragukan bahwa ayat 11-13 merupakan sebuah kesimpulan yang cocok untuk pasal 10-13 (lihat hubungan-hubungan yang dicatat dalam tafsiran-tafsiran di bawah ini). Bila teori bahwa pasal-pasal ini adalah sebuah surat yang terpisah itu benar, maka penutup yang asli dari pasal 1-9 telah hilang – atau unsur-unsurnya telah dipadukan ke dalam penutup yang sekarang ini. Masih mudah bagi kita untuk menerima ayat-ayat ini sebagai kesimpulan dari keseluruhan surat itu seperti yang kita temukan sekarang.

Kata akhirnya tidak dengan sendirinya mengantarkan kata-kata terakhir dari sebuah surat (lihat Filipi 3:1; 4:8; 1 Tesalonika 4:1), tetapi di sini demikian. Meskipun Paulus telah menyebut pembaca-pembacanya sebagai ‘kekasih’-nya (2 Korintus 12:19), Injil tidak menyapa mereka sebagai saudara-saudaranya di dalam Kristus di bagian-bagian lainnya dari pasal 10-13, tetapi hanya dalam pasal 1:18 dan 8:1, artinya, dalam surat yang lebih awal (11:26 berbicara hanya tentang ‘saudara-saudara palsu’). Seperti dalam kesempatan-kesempatan lainnya, bentuk sapaan ini mengikuti kata akhirnya (Filipi 4:8; 1 Tesalonika 4:1), dan berfungsi untuk menempatkan peringatan-peringatan berikutnya di dalam konteks persekutuan Paulus yang akrab dengan para pembacanya. Ia tidak memberikan perintah, tetapi imbauan yang penuh kasih. Bahwa ia masih menyapa orang-orang Korintus dengan cara ini tidak boleh ditafsirkan begitu saja sebagaimana adanya, karena mereka tidak berperilaku sebagai saudara kepadanya! Ini adalah tanda dari kepercayaannya yang kuat terhadap kuasa Injil bahwa ia dapat berbicara dengan cara ini, meskipun ada berbagai kesalahpahaman, ketegangan dan bahkan perpecahan di antara dirinya dan mereka.

Selamat tinggal barangkali adalah terjemahan yang tepat untuk sebuah kata kerja imperatif yang juga dapat berarti ‘bersukacitalah’. Kata yang digunakan dalam bahasa Yunani ini adalah sebuah salam yang lazim, juga pada permulaan sebuah surat (seperti kata ‘Halo’ atau ‘Salam’; lihat Kisah 15:23; 23:26; Yakobus 1:1). Ada pula contoh-contoh lain di mana maknanya tidak jelas (dalam Filipi 3:1 dan 4:4 NRSV menerjemahkan ‘bersukacitalah’), tetapi dalam sebuah kasusnya maknanya jelas ‘bersukacitalah’ (1 Tesalonika 5:16). Di sini, seperti dalam teks terakhir yang dikutip, kata itu berdiri pada permulaan sebuah rangkaian kalimat perintah atau imbauan. Ini mungkin berarti bahwa Paulus menyerukan para pembacanya agar hidup dengan penuh sukacita. Tetapi penyebutan sukacita Paulus sendiri dalam pasal 13:9 tidak membuktikan maksud ini.

Tampaknya cara yang terbaik adalah melihat Paulus memulai rangkaian imbauannya dengan permohonan agar orang-orang Korintus mengusahakan diri mereka supaya sempurna (NRSV menerjemahkannya ‘menata semuanya dalam keteraturan’). Kata kerja ini menangkap penggunaan sebuah kata: benda pada akhir dari pasal 13:9; di situ Paulus berdoa untuk pemulihan para pembacanya (jadi, bukan ‘agar kamu menjadi sempurna’, seperti yang diterjemahkan NRSV dan LAI, pen.). Paulus bisa saja meminta para pembacanya untuk membereskan segalanya, tetapi kata kerja ini dapat pula dipahami sebagai pasif: ‘Hendaklah kamu dijadikan beres oleh Allah’. Terjemahan ini tentunya konsisten dengan doa dalam ayat 9. Allah harus dibiarkan memulihkan orang-orang Korintus ke dalam iman yang sehat dan kehidupan yang kudus.

Kalimat perintah berikutnya paling tepat pula dipahami sebagai pasif: ‘diimbaukan’ artinya terimalah segala nasihatku, daripada ‘imbaulah kepada, atau ‘saling menguatkanlah’ (seperti dalam 1 Tesalonika 5:11). Paulus menggunakan sebuah kata kerja Yunani yang mempunyai makna yang sangat luas: menghibur, menguatkan, mengimbau, memohon, meminta. Ia tampaknya mengacu kepada semua yang telah ia katakan sejak imbauan pembukaannya dalam pasal 10:1. Orang-orang Korintus diminta memperbaiki cara mereka agar kunjungan Paulus yang akan segera dilakukan itu membahagiakan, dan tidak menjadi konfrontasi yang menyakitkan lagi (lih. 2:1).

Sehati sepikirlah kamu mengingatkan kita akan peringatan-peringatan Paulus agar mereka tidak bertengkar dan tanda-tanda perilaku perpecahan lainnya yang didaftarkan dalam pasal 12:20, maupun perjuangannya sebelumnya melawan usaha perpecahan di Korintus [1 Korintus 1:10-12; 3:3-4). Frasa itu sendiri muncul dalam surat-surat Paulin lainnya (Roma 12:16; 15:5; Filipi 2:2; 4:2). Harus ada kesatuan di dalam Injil dan pertentangan kecil harus berakhir. Kesatuan di antara diri mereka akan bermanfaat untuk memulihkan kesatuan dengan rasul itu. Hiduplah dalam damai sejahtera artinya lebih kurang sama saja – ‘hendaklah kamu saling berdamai’ (1 Tesalonika 5:13) adalah sebuah paralel yang lebih dekat daripada ‘hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang’ (Roma 12:18; lihat pula Ibrani 12:14). Semua saling memukul itu hendaknya berakhir. Sudah tentu, benar pula bahwa Paulus berharap bahwa pembelaan dirinya (pasal 10-13) telah memulihkan hubungan yang penuh damai antara orang-orang Korintus dengan dirinya.

Imbauan-imbauan ini diikuti oleh sebuah janji yang mendukung. Pembaruan-pembaruan di Korintus tidak akan mungkin tanpa pertolongan Allah. Inilah satu-satunya kesempatan munculnya frasa Allah sumber kasih di dalam Perjanjian Baru, tetapi ungkapan lainnya, Allah sumber damai sejahtera pun lazim di dalam surat-surat Paulus (Roma 15:33; 16:20; Filipi 4:9; 1 Tesalonika 5:23). Allahlah yang mencurahkan kasih-Nya di dalam Kristus (Rm. 5:5) dan karunia kepada urnat-Nya dengan damai sejahtera di dalam Dia dan Roh Kudus (Rm. 5:1; 14:17; dalam Efesus 2:14 Kristus sendiri adalah ‘perdamaian kita’).

Di mana karunia Allah berupa kasih dan damai sejahtera berkuasa, persekutuan diciptakan dan dipertahankan di antara orang-orang percaya. Hal ini pun diungkapkan secara nyata. Seruan untuk saling memberi salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus muncul pada akhir surat-surat lain di dalam Perjanjian Baru (Roma 16:16; 1 Korintus 16:20; dalam 1 Tesalonika 5:26, dan 1 Petrus 5:14 rumusannya sedikit berbeda). Semua surat Paulus dimaksudkan untuk dibaca pada pertemuan-pertemuan ibadah. Cium yang kudus, yang mengungkapkan kasih kristiani, barangkali sudah menjadi suatu tindakan liturgis di kalangan jemaat-jemaat Paulin, seperti yang belakangan terjadi (1 Korintus 16:19-22 mendukung pandangan bahwa itu adalah bagian dari liturgi ekaristi).

Persekutuan setempat selalu merupakan ungkapan dari persekutuan iman yang lebih luas yang mengikat seluruh orang percaya menjadi satu keluarga Allah. Semua orang kudus (lihat 2 Korintus 1:1) memberikan salam kepada kamu adalah peringatan tentang kenyataan ini [seperti dalam Roma 16:16 dan 1 Korintus 16:20, salam ini mengikuti acuan kepada cium yang kudus; dalam 1 Petrus 5:13 salam itu muncul terlebih dahulu; surat-surat lainnya cuma memuat sejumlah salam). Dalam contoh yang sekarang, salam itu bukanlah sesuatu yang hanya formalitas, atau sesuatu yang ditambahkan sekadar karena kebiasaan. Semuanya itu, sesungguhnya, sangatlah penting. Orang-orang Korintus telah mengancam untuk menghancurkan persekutuan dengan rasul mereka untuk mendengarkan mereka yang menganggap diri lebih unggul daripadanya (2 Korintus 10:12-18; 11:5; 12:11). Bukti-bukti sebelumnya menunjukkan bahwa kebanggaan mereka membuat mereka menganggap diri khusus, lebih unggul dan terpisah dari orang-orang Kristen lainnya (lih. tafsiran tentang 1 Korintus 1:2b, 14:33 dan 14:36 dalam Tafsiran Chi Rho tentang Surat 1 Korintus). Salam yang ada sekarang dari orang-orang Kristen lainnya mengakui bahwa orang-orang Korintus adalah sesama saudara di dalam Kristus (ay. 11). Tetapi mereka tidak lebih unggul daripada siapa pun!

Catatan:
Dalam tradisi Alkitab berbahasa Inggris, sekurang-kurangnya sejak Bishops’ Bible dari tahun 1572, ayat 12b biasanya dinomori sebagai ayat 13, dengan demikian pasal ini mempunyai 14 ayat (demikianlah halnya dengan A V, RSV, NEV dan NIV). NRSV (seperti JB dan TEV mempertahankan nomor ayat-ayat aslinya yang diperkenalkan pada tahun 1551 (juga dipertahankan dalam Alkitab Luther berbahasa Jerman).

Berkat Rasuli dalam ayat 13 telah menjadi bagian dari bahasa liturgis gereja yang sangat dihargai sepanjang zaman. Berkat yang jauh lebih panjang daripada berkat penutup Paulus yang biasa, pengertian umumnya cukup jelas, meskipun terdapat masalah-masalah dalam menentukan makna yang sesungguhnya dari setiap frasa.

Paulus memulai dan menutup sebagian besar suratnya dengan menyerahkan para pembacanya kepada Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus (meskipun ‘kasih karunia’ biasanya dicantumkan di dalam salam pembukaan; lihat 1 Korintus 1:3 dan 16:23; 2 Korintus 1:2, dll.). Seperti dalam 2 Korintus 8:8, kasih karunia di sini adalah berkat ilahi yang ditemukan di dalam dan dicurahkan oleh Kristus. Doa Paulus ialah bahwa kasih karunia ini menjadi kekuatan yang mendukung untuk mempertahankan para pembacanya tetap kuat di dalam iman dan kehidupan yang kudus.

Berkat yang biasanya singkat kini diperluas menjadi sebuah rumusan trinitarian (yang ada dalam Efesus 6:23 adalah rumusan binitarian). Kita tidak berhak menafsirkan teologi trinitarian yang lengkap dari gereja yang belakangan ke dalam rumusan yang ada di bagian ini, tetapi tidak ada alasan untuk memandangnya sebagai sebuah perluasan non-Paulin di kemudian hari. Rasul itu belum menjelaskan hubungan antara ketiga pribadi dari Tritunggal (Matius 28:19 pun belum menjelaskannya), tetapi dasar-dasar untuk penjelasan lebih lanjut sudah diletakkan dalam surat-surat Paulus (lihat misalnya 1 Korintus 12:4-6; Efesus 4:4-6; juga 1 Petrus 1:2).

Kasih Allah (perhatikan frasa ‘Allah, sumber kasih’ dalam ayat 11) dengan sempurna diungkapkan di dalam Injil (Rm. 5:5; 8:39). Seperti kasih karunia, kasih ini lebih daripada sekadar suatu kecenderungan, sikap, atau perasaan; ini adalah kuasa yang menopang. Apa yang dimaksudkan Paulus dengan persekutuan Roh Kudus tidak dengan segera menjadi jelas. Kata benda Yunani yang digunakan di sini (kainama) mempunyai pelbagai makna dalam surat-surat Paulus, tetapi kata ini selalu menyampaikan pemikiran dasar tentang berbagi sesuatu yang sama-sama dimiliki. Paulus telah menggunakan kata ini untuk menggambarkan berbagi yang harus terjadi dalam pengumpulan uang persembahan bagi orang-orang Kristen miskin di Yerusalem (2 Korintus 8:4; 9:13; Roma 15:26; berbagi dalam benda-benda materi juga dimaksudkan dalam Kisah 2:44, yang berbicara tentang orang-orang Kristen mula-mula yang kepunyaannya adalah kepunyaan ‘bersama’, sehingga ‘persekutuan’ dalam ayo 42 mungkin sekali mempunyai arti yang sama; Iih. pula Ibrani 13:16). Kata yang sama diartikan sebagai berbagi atau ikut serta di dalam tubuh dan darah Tuhan di dalam ekaristi (1 Korintus 10:16), suatu ‘persekutuan’ yang mempersatukan dengan Tuhan dan dengan sesama. Kata ini berarti persekutuan atau kemitraan yang diungkapkan dalam persetujuan tentang pembagian sebuah tugas (Galatia 2:9). Kata ini menunjukkan kesamaan atau kemitraan yang tidak mungkin dibina antara orang-orang percaya dan orang-orang yang tidak percaya (2 Korintus 6:14). Kata ini juga berfungsi untuk menggambarkan keikutsertaan rasul ini di dalam penderitaan-penderitaan Kristus (Filipi 3:2). Dalam pengertian yang luas, persekutuan Kristen adalah suatu keikutsertaan di dalam segala sesuatu yang ditawarkan Kristus kepada kita di dalam Injil (1 Korintus 1:9; Filipi 1:5). Kata ini memastikan berbaginya seseorang dengan Bapa dan Anak, dan dengan orang-orang percaya lainnya (1 Yohanes 1:3,6,7). Ini adalah persekutuan, suatu keadaan bersatu dengan Kristus dan dengan orang-orang lainnya yang ikut berbagi karunia-karunia Allah yang telah diberikan kepada kita melalui Dia.

Dua frasa pertama dari berkat ini berbicara dengan kasih karunia yang berasal dari Kristus, dan tentang kasih yang berasal dari Allah. Ini menunjukkan bahwa persekutuan yang dibicarakan Paulus datang dari Roh Kudus; ini diberikan olehnya. Ini tentunya bukanlah suatu pemikiran teologis yang tidak mungkin. Akan tetapi, paralel yang paling dekat (Filipi 2:1) menopang pandangan bahwa Paulus sesungguhnya berbicara tentang ‘ikut berbagi di dalam Roh’ dan karunia-karunia-Nya. Ia memaksudkan persekutuan dengan roh itu sendiri. Dalam hal ini, tentulah wajar bila kita berpikir tentang ibadah sebagai tempat di mana berbagi dan persekutuan seperti itu berlangsung. Di dalam menerima Firman yang diberitakan dan di dalam menerima Firman yang tampak dalam bentuk sakramen-sakramen itulah kita mengalami kasih karunia Tuhan, kasih Allah dan berbagi di dalam Roh sebagai kuasa Allah. Sangat tepatlah bila kita menyebut Ekaristi sebagai Persekutuan Kudus. .

Apa pun arti yang tepat dari ayat 13c, Paulus mengakhiri surat ini dengan sebuah catatan yang menunjukkan orang-orang Korintus kepada pemecahan semua masalah yang telah mengganggu komunitas mereka. Karunia-karunia dari Allah Tritunggal adalah milik mereka untuk membarui mereka dari sebuah komuni dari orang-orang kudus yang sangat terpecah-belah menjadi persekutuan yang kukuh bagai batu karang di dalam iman – dan kembali berdamai dengan rasul yang pertama kali mengajarkan Injil kepada mereka. Berkat Rasuli adalah doa dan sekaligus janji, yang diucapkan oleh dia yang, setelah mengucapkan kata-kata yang keras dan kadang-kadang kasar, tidak dapat menyembunyikan kenyataan bahwa hati penggembalaannya selalu berdegup dengan keprihatinan yang penuh kasih. Injil selalu menjadi kata akhirnya!

Disalin dari :
VC. Pfitzner, Ulasan atas Surat 2 Korintus : Kekuatan dalam Kelemahan, BPK Gunung Mulia, 2002, hlm 142 – 213.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: