Missionaris

PEKABARAN BAGI SEGALA BANGSA.

“MEMURIDKAN BANGSA-BANGSA”

PENDAHULUAN

Injil untuk semua bangsa.

Image

Alasna” (Ibr. 2:9). Mengabaikan penginjilan kepada semua bangsa adalah pengingkaran terhadap hakikat kematian penebusan Kristus untuk semua manusia di dunia.

Allah tidak menciptakan bangsa-bangsa; Ia menciptakan manusia, laki-laki dan perempuan, supaya beranak-cucu dan memenuhi bumi ini (Kej. 1:27-28), sehingga Hawa disebut “ibu semua yang hidup” (Kej. 3:20). Bangsa-bangsa baru muncul setelah air bah melalui keturunan dari tiga anak Nuh–Sem, Ham dan Yafet–sekitar 4500 tahun lampau. Keluarga Nuh yang terdiri atas delapan orang, istrinya ditambah tiga anak lelaki dan tiga menantu, adalah satu-satunya keluarga yang bertahan hidup karena tinggal di dalam bahtera sesuai dengan rencana Allah (Kej. 7:13; 2Ptr. 2:5), sementara bumi ini seluruhnya diliputi air dan memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa (Kej. 6:17). Sebagian orang berkata bahwa air bah tersebut hanya terjadi secara lokal saja, tetapi pendapat itu tidak didukung nalar. Kalau air bah hanya terjadi di wilayah setempat dan tidak menggenangi seluruh bumi mestinya tidak perlu harus membangun bahtera yang menyita waktu, tetapi cukup menyuruh keluarga Nuh bermigrasi ke sebuah tempat yang aman. Selain itu, kalau air bah hanya bersifat lokal, seharusnya tidak perlu menyelamatkan semua spesis hewan dan unggas secara berpasang-pasangan (Kej. 6:19-20).

Adalah menarik bahwa sekali waktu Yesus pernah seakan menolak untuk memenuhi permohonan seorang wanita bangsa Kanaan agar Yesus menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan, dengan berkata: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat. 15:24). Sebelum itu, ketika mengutus murid-murid-Nya pergi menginjil, Yesus juga berpesan: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat. 10:5-6). Apakah Yesus kemudian berubah pikiran? Jawabnya, tidak! Sebab Yesus sendiri telah menginjil kepada perempuan Samaria di sumur Yakub (Yoh. 4:7-15). Namun, seperti kata rasul Paulus, injil itu memang datang dari orang Yahudi, baru kemudian dari orang Yahudi kepada bangsa-bangsa lain (Rm. 1:16).

“Dari mulanya pekabaran Kristus diperuntukan bagi setiap orang di mana saja. Pada mulanya injil telah disampaikan ke seluruh dunia, karena injil itu berlaku secara universil…Yesus, Kerinduan Bangsa-bangsa itu, tidak terbatas hanya untuk satu kelompok. Keselamatan bisa saja dari orang Yahudi, tetapi itu untuk semua orang. Pengikut-pengikut Kristus akan melampaui batas-batas nasional, konflik-konflik internasional, perbedaan-perbedaan bahasa dan kesulitan-kesulitan lain, karena Ia Sendiri yang sudah menetapkan pola penginjilan lintas budaya” [alinea pertama: dua kalimat pertama dan tiga kalimat terakhir].

1. JANJI YANG DIGENAPI (Nubuatan Para Nabi)

Menjadi berkat bagi bangsa lain. Israel (purba) adalah umat pilihan Tuhan atas perjanjian dengan Abraham, tetapi bukan berarti hanya mereka saja yang hendak diselamatkan. Janji Allah kepada Abraham ialah, “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; danengkau akan menjadi berkat” (Kej. 12:2; huruf miring ditambahkan). Allah memilih Israel dalam rangka menyelamatkan umat manusia, dengan demikian keturunan Abraham itu dapat “menjadi berkat” bagi dunia. Janji-janji ini diulangi kembali setelah Abraham lulus dalam ujian paling berat, yaitu ketika dia diminta untuk mengorbankan Ishak, anak perjanjian itu. “Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat,karena engkau mendengarkan firman-Ku” (Kej. 22:18; huruf miring ditambahkan). Berkat apa?

Dalam tulisan nabi Yesaya kita menemukan petunjuk tentang rencana Allah atas bangsa Israel yang akan menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain, yaitu “orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada Tuhan untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama Tuhan dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya” (Yes. 56:6). Israel akan menjadi bagaikan gunung Tuhan di mana “bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana” untuk mendengar Tuhan yang akan mengajarkan tentang jalan-jalan-Nya “sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman Tuhan dari Yerusalem” (Mi. 4:1-2). Bahkan, Tuhan juga mengirim hamba-hambaNya untuk mempertobatkan dan menyelamatkan bangsa kafir, misalnya nabi Yunus yang menjadi missionaris ke Niniwe (Yun. 3:7-10).
“Nabi-nabi zaman purba menubuatkan pertobatan bangsa-bangsa bukan Yahudi (Kafir) kepada iman yang didasarkan pada Kitabsuci. Dewa-dewa kafir, penyembahan berhala, dan gaya hidup yang merusak akan ditumbangkan oleh penyerahan kuat dan iman kepada Tuhan. Musuh-musuh Israel akan berdatangan ke Yerusalem memohon untuk masuk, karena haus akan pengetahuan rohani. Tugas Israel ialah untuk memashurkan undangan Allah yang universal kepada bangsa-bangsa sekitar” [alinea pertama].

Tantangan orang Kristen.

Sesudah Yesus naik ke surga murid-murid-Nya yang pertama dan rasul-rasul memenuhi tugas untuk menyampaikan Kabar Baik tentang keselamatan kepada bangsa-bangsa kafir, khususnya melalui Paulus yang memang telah dipilih Allah untuk menjadi penginjil kepada orang kafir (Rm. 11:13). Dalam suatu audiensi dengan raja Agripa, rasul Paulus bersaksi mengenai missi khususnya kepada orang-orang kafir, yaitu “untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka…memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan” (Kis. 26:18). Di awal suratnya kepada jemaat di Roma sang rasul juga mengidentifikasikan dirinya sebagai pemberita injil dengan menulis, “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci” (Rm. 1:1-2).

Selain Paulus, kita juga membaca tentang Filipus yang menginjil kepada menteri keuangan Etiopia yang namanya tak disebutkan (Kis. 8:26-39). Petrus menjadi missionaris ke Babel (1Ptr. 5:13) dan mungkin Turki di sebelah timur, tetapi tidak ada indikasi bahwa dia pernah pergi ke Roma di sebelah barat seperti yang diklaim oleh gereja Katolik Roma. Andreas juga pergi ke Turki (Asia Kecil) terus ke Masedonia melalui Korintus dan terakhir mendarat di Patros di mana dia mati sebagai syuhada. Yakobus menginjil sampai ke Spanyol, sedangkan Yohanes menginjil dan menggembalakan jemaat-jemaat di Efesus dan sekitarnya. Matius menginjil sampai ke Iran (Persia), sementara Bartolomeus bersama Filipus juga berangkat ke Asia Kecil bahkan sampai ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai Azerbaijan dan mati di sana. Matias, murid yang dipilih oleh para murid untuk menggantikan tempat Yudas Iskariot yang berkhianat (Kis. 1:23-26), pergi sampai ke Armenia.
“Sayangnya, secara umum bukan seperti itulah yang terjadi, sementara Israel menjadi sangat terfokus kepada diri sendiri sehingga kehilangan pandangan akan tujuannya yang lebih besar, dan seringkali kehilangan pandangan akan Allah yang telah memberikan kepada mereka begitu banyak…Orang-orang Kristen zaman moderen menghadapi tantangan serupa. Akankah mereka berkorban untuk memajukan injil, atau akankah mereka menjadi terfokus kepada diri sendiri dan melupakan tujuan mereka yang lebih besar? Itu adalah perangkap ke dalam mana kita lebih mudah terperosok daripada yang kita sadari” [alinea keempat dan kelima].

Apa yang kita pelajari tentang nubuatan para nabi perihal Israel sebagai sumber Kabar Baik?

1. Allah berniat menyelamatkan semua bangsa, untuk itu Ia memilih keturunan Abraham sebagai saluran berkat keselamatan. Rencana ini gagal karena bangsa Israel yang terlalu egois lebih fokus pada diri sendiri. Bahkan nabi Yunus, missionaris yang berhasil, marah karena bangsa Niniwe bertobat dan selamat (Yun. 4:1).

2. Meskipun secara umum bangsa Israel gagal menjadi saluran berkat bagi bangsa lain, Kabar Baik tentang keselamatan dapat menjangkau bangsa-bangsa lain melalui penginjilan secara orang per orang, terutama melalui murid-murid Yesus dan para rasul yang mula-mula. Bagaimana pun Kekristenan berhutang budi pada orang Yahudi dalam hal ini.

3. Sebagai orang Kristen kita mengemban tugas yang sama dengan para rasul, yaitu menjangkau semua bangsa dan menjadikan mereka murid-murid Yesus. Kita dapat melakukan itu tanpa harus menjadi missionaris yang dikirim ke luar negeri, selama kita menjaga terang kebenaran Kristus terus menyala dalam hidup kita dan di mana kita berada.

2. TANGGUNGJAWAB DAN KEUNTUNGAN (Celakalah Kamu!)

Tanggungjawab sebagai orang Kristen.

Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum adalah tiga kota di mana Yesus tercatat paling banyak mengajar dan mengadakan mujizat. Ketiga kota ini sering dijuluki “Evangelical Triangle” (Segitiga Penginjilan). Ketiganya adalah kota-kota Israel yang terdapat di wilayah Galilea, yang dalam keadaan sekarang lebih tepat disebut desa atau kampung, tapi pada abad pertama dapat dianggap sebagai kota karena jumlah penduduknya yang lebih banyak dan lebih padat dibandingkan tempat-tempat lain. Khorazim yang terkenal dengan tanahnya yang subur karena dekat dengan gunung berapi terletak sekitar 3 Km sebelah utara Kapernaum, sedangkan Betsaida adalah kota nelayan di pesisir danau Galilea yang juga berjarak sekitar 3 Km sebelah timur Kapernaum. Betsaida adalah kampung asal dari Filipus, Petrus dan Andreas (Yoh. 1:43-45).

Pada kesempatan lain Yesus menegaskan, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut” (Luk. 12:48). Di sini Yesus sedang menjawab pertanyaan Petrus setelah Guru mereka itu berbicara mengenai kewaspadaan yang dituntut dari para pengikut-Nya dalam menantikan kedatangan-Nya. Setiap terang kebenaran ilahi yang kita peroleh itu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Tuntutan yang logis dan cukup adil.

“Kristus ingin agar umat-Nya sendiri, yaitu mereka yang memiliki begitu banyak keuntungan, supaya bangun sesuai dengan panggilan dan maksud mereka yang sebenarnya sebagai satu umat. Ia ingin agar mereka melihat bahwa keselamatan, sekalipun itu untuk bangsa pilihan, bukanlah sesuatu yang dibawa lahir. Keselamatan tidak diturunkan melalui gen atau hak kelahiran. Itu adalah sesuatu yang menuntut pilihan secara sadar untuk menerimanya, sebuah pilihan yang meski bukan orang Israel pun bisa buat seperti yang telah mereka lakukan” [alinea pertama].

Keuntungan sebagai orang Kristen.

Yesus berkata, “Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala”(Yoh. 10:16; huruf miring ditambahkan). Apakah yang Yesus maksudkan di sini ialah bahwa yang bakal masuk surga nanti bukan hanya orang Kristen saja, tapi juga orang-orang lain yang bukan Kristen? Kalau begitu, apa gunanya menjadi orang Kristen? Kalau tuntutan tanggungjawab “lebih berat” pada orang Kristen, khususnya dalam hal penurutan dan kehidupan yang menyerupai Kristus, lalu apa untungnya menjadi orang Kristen?

Petrus mempunyai kepedulian yang sama ketika dia berkata kepada Tuhan Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” (Mrk. 10:28). Mungkin kalau dilanjutkan dia akan bertanya, “Sekarang apa untungnya bagi kami?” Atas pernyataan itu Yesus menanggapi bahwa bagi seseorang yang telah meninggalkan semuanya “karena Aku dan dan karena injil” (ay. 29) maka orang itu “sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat” (ay. 30; huruf miring ditambahkan). Tentu saja perkataan Yesus ini tidak harus dipahami secara harfiah. Dalam Roma 8 rasul Paulus menyebut beberapa keuntungan menjadi orang Kristen: Kebebasan dari hukuman dan kemerdekaan dari maut (ay. 1-2); tidak diperbudak oleh keinginan daging, tapi dikuasai oleh keinginan Roh (ay. 6, 9); dibangkitkan dengan tubuh yang fana untuk diubahkan (ay. 11); disebut sebagai anak-anak Allah (ay. 14-16); menjadi pewaris janji-janji Allah (ay. 17); memperoleh kemuliaan sebagai anak-anak Allah yang membuat penderitaan hidup sekarang ini menjadi tidak berarti (ay. 18, 21); Roh akan menyempurnakan doa-doa kita (ay. 26-27); dipanggil, dibenarkan, dan dimuliakan (ay. 30); tidak takut terhadap apapun dan siapapun karena Allah di pihak kita (ay. 31); tidak ada kuasa apapun yang mampu memisahkan dari kasih Kristus (ay. 35-39).

“Sebagian orang mungkin memiliki banyak keuntungan rohani yang orang lain tidak miliki, tetapi orang-orang yang mempunyai keuntungan-keuntungan ini harus sadar bahwa apapun yang telah diberikan kepada mereka itu semua adalah pemberian dari Allah untuk digunakan demi kemuliaan-Nya dan bukan milik mereka sendiri” [alinea terakhir].

Apa yang kita pelajari tentang tanggungjawab dan keuntungan sebagai orang Kristen?

1. Menjadi orang Kristen adalah suatu kesempatan istimewa oleh sebab pengalaman-pengalaman hidup kerohanian yang tidak bakal dialami oleh mereka yang bukan pengikut Kristus. Tidak ada orang yang memiliki pergumulan hidup seberat yang dialami oleh orang Kristen yang taat dan setia, lalu menang.

2. Sementara menjadi pengikut Kristus harus melalui ujian hidup bagaikan emas yang dimurnikan di dalam api, pada waktu yang bersamaan orang Kristen juga memperoleh terang kebenaran ilahi yang membuatnya lebih paham akan rencana dan maksud Allah pada nasib manusia dan apa yang akan terjadi atas bumi ini kelak.

3. Orang dunia cenderung mengaitkan segala sesuatu dengan keuntungan pribadi, tetapi orang Kristen sejati selalu melihat dari sudut pandang pengorbanan. Seperti Paulus, orang Kristen akan berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp. 1:21), dan “apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus” (Flp. 3:7).

3. KEHIDUPAN YANG MENAMPILKAN YESUS (“Kami Ingin Bertemu Dengan Yesus”)

Kerinduan beberapa orang Yunani.

Sambutan massa yang mengelu-elukan Yesus saat memasuki kota Yerusalem hari itu sungguh di luar dugaan siapapun. Sesungguhnya, kedatangan Yesus ke Yerusalem yang gemilang itu sebelumnya sudah dinubuatkan oleh nabi Zakharia (baca Za. 9:9). Sementara orang banyak menyambut Yesus dengan teriakan “Hosana!” (artinya: Selamatlah sekarang), orang-orang Farisi menggerutu dan menyaksikannya dengan resah. “Kamu lihat sendiri, bahwa kamu sama sekali tidak berhasil, lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti Dia” (Yoh. 12:19; huruf miring ditambahkan). Kegelisahan mereka dapat dimengerti, sebab selain penduduk kota Yerusalem terdapat juga wisatawan-wisatawan mancanegara yang menunjukkan kerinduan mereka untuk melihat Yesus. Kerinduan orang-orang asing itu untuk melihat Yesus mengingatkan kita pada orang-orang Majus dari timur yang sengaja datang jauh-jauh untuk melihat Yesus ketika Raja atas segala raja itu baru lahir (Mat. 2:1-7), sementara penduduk setempat tidur lelap dalam ketidaktahuan dan ketidakpedulian mereka.

Setelah Filipus bersama Andreas menyampaikan hal itu kepada Yesus, Guru mereka itu menanggapinya dengan berkata, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan” (Yoh. 12:23). Sebelumnya, ketika saudara-saudara-Nya mendorong Dia untuk pergi ke Yudea dan menunjukkan kepada masyarakat luas apa yang telah dilakukan-Nya di kampung halaman-Nya, Yesus mengatakan, “Waktu-Ku belum tiba” (Yoh. 7:6). Sekarang, Yesus menggunakan momentum tersebut sebagai saat yang tepat, dan menjadikan kerinduan orang-orang Yunani itu sebagai tanda bahwa pengorbanan penebusan-Nya yang segera dijalani-Nya itu akan diterima oleh dunia.

“Di antara orang banyak yang berkumpul untuk hari raya Paskah terdapat jemaah orang Yunani. Perhatikan perkataan mereka kepada Filipus, ‘Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.’ Dalam perkataan lain, mereka ingin melihat Yesus. Mereka ingin bersama-sama dengan Dia. Mereka ingin belajar dari Dia. Betapa sebuah kesaksian kepada dunia perihal tabiat Kristus dan pekabaran-Nya! Tapi juga alangkah menyedihkan bahwa orang-orang yang seharusnya mengatakan hal yang sama adalah mereka yang ingin menghindari-Nya” [alinea kedua].
Mengikut Yesus dengan pengorbanan.

Perhatikan kata-kata Yesus kemudian, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yoh. 12:24-25; huruf miring ditambahkan). Pada ayat 24 Yesus menggunakan pengibaratan dari dunia tumbuhan, yaitu proses metabolisme perkecambahan benih yang meliputi perubahan-perubahan morfologi, fisiologi, dan biokimia. Jadi, harus terjadi dulu “perubahan-perubahan” dalam diri seorang pengikut Yesus baru dia bisa bertumbuh dan nantinya menjadi banyak dengan menghasilkan buah-buah, dan perubahan itu disebut-Nya “mati.” Pada ayat 25, Yesus beralih kepada manusia yang harus bersedia “kehilangan nyawa” demi untuk mendapatkan hidup kekal. Artinya, mengikut Yesus harus disertai dengan kesediaan untuk berkorban, kalau perlu mengorbankan nyawa sekalipun.

Perkecembahan benih dipengaruhi oleh faktor internal (benih itu sendiri) dan eksternal (lingkungan sekitar). Tidak semua benih secara otomatis berkecambah lalu bertumbuh dan berbuah, walaupun benih itu kelihatannya baik dan sehat. Dalam biologi kondisi di mana benih yang sehat serta hidup (viable) dan ditempatkan pada lingkungan yang memenuhi syarat tetapi tidak bertumbuh disebut “dormansi benih.” Seorang pengikut Kristus yang tidak mau berubah dengan cara membiarkan dirinya “mati” juga akan mengalami dormansi, dan bisa kita sebut sebagai “orang Kristen dorman” (orang Kristen yang dari luar kelihatannya setia dan saleh tapi tidak bertumbuh). Yesus berkata lagi, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa” (ay. 26).

Pena inspirasi menulis: “Kristus melihat bahwa tanah yang belum digarap harus dibajak, tanah diolah dengan baik, benih yang baik ditabur dan dikerjakan dengan teliti. Tidak menyenangkan bagi murid-murid untuk pasrah kepada hal ini. Banyak pengaruh yang berlawanan telah berusaha membingungkan dan mengaburkan pikiran mereka. Tetapi dengan hikmat yang Kristus sampaikan tentang masa depan-Nya, dengan ilustrasi dari benda-benda alam, maka murid-murid bisa mengerti bahwa missi-Nya harus digenapi oleh kematian-Nya…Apabila benih gandum jatuh ke tanah dan mati ia akan bertumbuh dan menghasilkan buah. Demikianlah kematian Kristus akan menghasilkan buah bagi kerajaan Allah. Kehidupan harus menjadi hasil dari kematian-Nya, persis seperti halnya hukum dunia tumbuhan” (Ellen G. White, Signs of the Times, 1 Juli 1897).

Apa yang kita pelajari tentang maksud kematian Yesus demi keselamatan dunia?

1. Selain penduduk kota Yerusalem terdapat pula pendatang-pendatang asing ingin menyambut Kristus karena sudah mendengar perihal pengajaran dan perbuatan-Nya, maka mereka pun ingin bertemu dengan Dia. Kebaikan tidak selamanya tersembunyi dan ditutup-tutupi.

2. Sementara anda dan saya beraktivitas sehari-hari dan bergaul di tengah masyarakat, kesan apa yang orang-orang lain dapatkan tentang Kekristenan melalui hidup kita? Apakah mereka menjadi tertarik untuk “bertemu dengan Yesus” karena sangat terkesan dengan tingkah laku dan gaya hidup kita?

3. Kekristenan adalah jubah yang kita kenakan, baik di ruang tertutup maupun di depan umum. Kekristenan sesungguhnya adalah manifestasi dari perubahan hati, mati bagi diri sendiri untuk hidup bagi Yesus. Kekristenan adalah kehidupan penuh pengorbanan supaya bertumbuh dan berbuah.

4. “SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA?” (Meruntuhkan Penghalang)

Israel sebagai anak manja.

Bangsa Israel mungkin terlalu terbuai dengan keistimewaan mereka yang terus bergaung dari generasi ke generasi. “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya” (Ul. 7:6; huruf miring ditambahkan). Status yang istimewa ini adalah sebuah keuntungan yang jika dimanfaatkan dengan maksud yang sebenarnya akan membuat mereka menjadi saluran berkat Tuhan, tetapi di sisi lain itu dapat menjadi jerat yang menjerumuskan bilamana mereka menjadikannya sebagai alasan untuk kesombongan dan keunggulan. Israel adalah ibarat anak manja yang egoistis, merasa diri selalu benar, tidak dewasa, dan berpikiran picik.

Mentalitas yang merasa diri lebih unggul itu tercermin dari ucapan seorang ahli Taurat yang hendak mencobai Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” (Luk. 10:29). Terhadap pertanyaan itu Yesus kemudian mengutarakan sebuah perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati yang tanpa pamrih bersedia menolong orang Yahudi yang dirampok itu, seorang dari bangsa yang selalu menganggap orang Samaria itu lebih rendah. Seseorang yang memiliki sikap mental seperti orang Farisi yang sombong itu senantiasa kegerahan ketika berhadapan dengan Yesus yang rendah hati dan tulus, itulah sebabnya mereka menolak Dia. Sifat Yesus yang lemah lembut dan rendah hati itu tidak terdapat dalam kamus kehidupan orang Yahudi, dan ketika Yesus berkata kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (ay. 37), dia merasa tersinggung dan berlalu.

“Kembali, ironi yang mengerikan ialah bahwa mereka yang seharusnya berdiri di garis depan untuk menerima Dia dan pekabaran-Nya ternyata adalah orang-orang yang menentang Dia paling keras. Imam-imam Israel mencaci Putra Allah ketika bukan orang-orang Israel yang menerima Dia sebagai Mesias. Betapa sebuah pelajaran yang dahsyat dan bijaksana di sini bagi orang-orang yang menganggap diri mereka (mungkin disertai pembenaran) diuntungkan secara rohani!” [alinea pertama: tiga kalimat terakhir].

Kasih mengalahkan pertimbangan.

Seperti juga imam dan orang Lewi dalam perumpamaan Yesus tersebut, orang Samaria itu pun mempunyai alasan-alasan yang sama untuk tidak berhenti dan menolong korban perampokan yang terkapar di pinggir jalan itu. Takut menjadi korban berikutnya, sedang terburu-buru dan tidak ada waktu, harus mengeluarkan biaya untuk pertolongan, dan sebagainya. Bahkan, orang Samaria itu mempunyai alasan lebih kuat lagi yang tidak dimiliki imam dan orang Lewi itu: korban mungkin adalah orang Yahudi yang memusuhi orang Samaria! Tetapi rasa kasih terhadap sesama manusia di dalam hati orang Samaria itu lebih besar daripada pertimbangan-pertimbangan pribadi yang egoistis.

“Orang asing yang dianggap rendah itu, seorang Samaria, dengan bersungguh-sungguh telah menentang prasangka etnis dan menyelamatkan hidup orang yang tak dikenal. Sungguh sebuah teguran pedas terhadap semua orang yang meremehkan dan mencibir seseorang yang memerlukan pertolongan hanya karena orang itu bukan berasal dari latar belakang etnis, sosial, dan budaya mereka” [alinea terakhir: dua kalimat terakhir].

Pena inspirasi menulis: “Pemimpin-pemimpin Yahudi itu dipenuhi dengan kesombongan rohani. Kerinduan mereka akan pemujaan diri dimanifestasikan bahkan dalam upacara-upacara di Bait Suci. Mereka suka akan kedudukan-kedudukan yang paling tinggi di sinagog-sinagog serta pujian manusia. Mereka menyukai sapaan-sapaan di pasar, dan puas dengan sebutan gelar-gelar mereka di bibir manusia. Sementara kesalehan yang sebenarnya merosot, mereka menjadi lebih cemburu akan tradisi-tradisi dan upacara-upacara mereka. Bukankah kita melihat kebusukan yang sama dalam gereja Kristen sekarang ini?” (Ellen G. White, Review and Herald, 7 Februari 1888).

Apa yang kita pelajari tentang mentalitas para pemimpin agama Yahudi purba?

1. Bangsa Israel purba, utamanya para pemimpin agama mereka, membanggakan status mereka sebagai “bangsa pilihan” dan “umat kesayangan” Tuhan sehingga meremehkan bangsa-bangsa lain. Bukankah sikap mental yang sama terkadang muncul dari sebagian kita, karena merasa sebagai “umat pilihan”?

2. Yesus lahir di tengah bangsa Israel, sebagai bagian dari mereka, tetapi Dia ditolak karena Yesus menampilkan sifat dan sikap yang rendah hati hal mana sangat berbeda dari kebanyakan mereka. Prasangka-prasangka pribadi bisa lebih tajam daripada prasangka-prasangka etnis dan perbedaan latar belakang sosial.

3. Kekristenan adalah kasih, dan kasih adalah kekristenan. Orang Kristen tanpa kasih bukanlah orang Kristen. Tapi seringkali kasih itu hanya sekadar pengetahuan teoretis seperti ditunjukkan oleh orang Farisi itu yang hanya fasih menghafalkannya (Luk. 10:27), tapi kemudian berkelit saat dituntut untuk mempraktikannya (ay. 28-29).

5. KEWAJIBAN MURID-MURID MASA KINI (Perintah Agung)

Pekabaran yang dinubuatkan.

Saya selalu mengatakan bahwa bagi orang Kristen peribadatan dan penginjilan adalah bagaikan dua sisi dari satu mata uang, menyatu dan tak dapat dipisahkan. Bagi setiap orang Kristen penginjilan bersifat wajib serta pribadi, itu bukan pilihan dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain. Penginjilan ialah memberitakan Injil, yaitu Kabar Baik, bahwa Yesus Kristus sudah mati untuk menebus dosa umat manusia demi menyediakan keselamatan bagi setiap orang yang percaya (Yoh. 3:16). Yesus adalah “Taruk dari pangkal Isai” (BIMK: “Raja dari keturunan Daud”) yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya (Rm. 15:12; bd. Yes. 11:10). Dalam melaksanakan penginjilan kita tidak bergantung pada kemampuan diri sendiri, melainkan oleh kuasa Roh Kudus (Kis. 1:7-8).
Adalah menarik bahwa imam besar Kayafas saat berbicara di hadapan Mahkamah Agama yang membahas laporan tentang Yesus Kristus telah berkata begini: “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa” (Yoh. 11:49-50; huruf miring ditambahkan). Kalau tidak ada penjelasan tentang latar belakang pernyataan ini, bahwa perkataan itu bukan pendapat pribadi melainkan dia sedang “bernubuat” tentang Yesus yang akan “mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja” (ay. 51-52), barangkali orang bisa menyangka bahwa Kayafas berniat mengorbankan Yesus sebagai tumbal demi menyelamatkan mereka semua dari kemungkinan dijarah oleh orang-orang Roma (baca ay. 48). Namun penjelasan Yohanes mempertegas bahwa ucapan itu merupakan “nubuatan yang tak disadari” (unconscious prophecy), itu bukan dari diri Kayafas sebagai pribadi melainkan dia sebagai Imam Besar. Ini mengingatkan kita akan Bileam yang disewa raja Moab untuk mengutuki bangsa Israel, tapi oleh pengendalian Allah gantinya mengutuk dia malah memberkati Israel (Yos. 24:9-10; Neh. 13:2).

“Pekerjaan Allah yang terakhir belum lengkap sampai injil kekal yang dinyatakan dalam pekabaran tiga malaikat yang terdapat dalam Wahyu 14 itu sudah melintasi setiap perbatasan ras, etnis, bangsa, dan batas negara. Tanpa menyingkapkan waktunya yang tepat, Kitabsuci dengan tegas menyatakan bahwa injil ini akan menjangkau seantero dunia. Kemenangan Allah dan pengumandangannya dipastikan” [alinea pertama].

Pekabaran segala zaman.

Ketika Yesus memerintahkan kepada murid-murid untuk pergi “jadikanlah semua bangsa murid-Ku…dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan” (Mat. 28:19-20), sebuah perintah yang dikenal sebagai “Perintah Agung” yang diucapkan-Nya 2000 tahun silam, penduduk dunia belum sepadat sekarang dan jumlah bangsa-bangsa yang ada waktu itu jauh lebih sedikit. Namun Yesus tentu telah melihat jauh ke depan bahwa jumlah manusia akan terus meningkat dan bangsa-bangsa akan bertambah banyak. Sudah tentu penginjilan semesta tidak mungkin hanya dilakukan oleh murid-murid-Nya pada waktu itu, jadi perintah Yesus itu ditujukan juga kepada semua murid-murid-Nya dari zaman ke zaman hingga saat ini.

Pena inspirasi menulis: “Perintah yang diberikan kepada murid-murid pertama itu diberikan kepada mereka yang pada zaman akhir ini telah menerima terang yang lebih besar dari surga. Adalah kehendak Allah bahwa semua bangsa dibangunkan kepada pertobatan dan penurutan oleh pekerjaan Roh Kudus. Pekabaran kasih karunia yang menyelamatkan harus dikhotbahkan kepada segala bangsa dan kaum dan bahasa dan masyarakat. Biarlah setiap jiwa sekarang menuruti gerakan-gerakan Roh Allah; biarlah kebenaran maju bagaikan sebuah lampu yang menyala” (Ellen G. White, Review and Herald, 11 Maret 1909).

“Apa yang sedang kita lakukan untuk menjangkau orang-orang lain, siapa pun dan di mana pun mereka? Sangat disayangkan bahwa sebagian umat percaya membiarkan perilaku rasial, prasangka kultural, dan penghalang-penghalang sosial rancangan setan untuk menghalangi mereka mengumandangkan injil dengan bersemangat ketika sesama umat percaya lainnya tersebar di seluruh dunia, rela mengorbankan hidup mereka supaya injil itu bisa dikhotbahkan” [alinea kedua: dua kalimat terakhir].
Apa yang kita pelajari tentang “perintah agung” Yesus?

1. Kematian Yesus Kristus sebagai kurban tebusan dosa manusia adalah kehendak Allah dan dinubuatkan oleh nabi-nabi. Imam besar Kayafas mengulangi nubuatan itu atas dorongan Roh Kudus di luar kehendaknya sendiri. Allah berkuasa mengendalikan pikiran dan mulut manusia untuk melaksanakan maksud-Nya.

2. Nubuatan tentang “pekabaran tiga malaikat” dalam Wahyu 14 adalah nubuatan yang menopang “Perintah Agung” Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya sepanjang zaman. Pekabaran Tiga Malaikat adalah missi dari Gereja MAHK, dan seharusnya itu adalah sukma (ruh) dari setiap anggota jemaatnya.

3. Pekabaran Injil tidak pernah menjadi usang atau ketinggalan zaman, dan selalu relevan bagi semua orang dari masa ke masa. Itulah sebabnya, sebagaimana murid-murid Yesus yang pertama telah menginjil dengan penuh semangat dan pengorbanan, demikianlah hendaknya murid-murid Yesus pada zaman ini.

PENUTUP

Sesama kita manusia.

Kebiasaan untuk membeda-bedakan orang adalah suatu kebiasaan yang bertentangan dengan gagasan penginjilan, dan dengan demikian berlawanan dengan maksud dari Perintah Agung yang Yesus amanatkan itu. Orang Kristen tidak selayaknya memiliki atau memelihara sikap dikotomi dalam pelaksanaan penginjilan.

“Kristus sudah tunjukkan bahwa sesama kita manusia bukan berarti hanyalah seseorang dari gereja kita atau iman yang sama dengan kita. Tidak ada acuan perbedaan ras, warna kulit, atau golongan. Sesama kita manusia ialah setiap orang yang memerlukan pertolongan kita. Sesama kita manusia ialah setiap jiwa yang terluka dan disakiti oleh musuh. Sesama kita manusia ialah setiap orang yang merupakan milik Allah” [alinea kedua: lima kalimat terakhir].

Ketika menjawab pertanyaan menjebak dari seorang ahli Taurat, perihal hukum mana yang terbesar, Yesus menyebutkan tentang hukum kembar, dua tapi satu: kasih vertikal terhadap Tuhan dan kasih horisontal terhadap sesama manusia (baca Mat. 22:35-40). Kata Grika yang diterjemahkan dengan “sesama manusia” di sini adalah plēsion yang dapat diartikan sebagai tetangga (neighbour) seperti yang digunakan dalam Alkitab versi King James. Dalam tradisi Yahudi “sesama manusia” (Ibrani: rā’-ah) itu adalah “orang-orang sebangsamu” yang dalam hal ini adalah sesama orang Israel (baca Im. 19:18). Tetapi perintah Yesus melampaui batas-batas kebangsaan yang sempit seperti itu, dengan menerapkan makna baru tentang “sesama manusia” yang meliputi setiap orang dari segala bangsa.

“Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja ? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!” (Rm. 3:29).

DAFTAR PUSTAKA:

 

1. Dan Solis, PEMURIDAN -Pedoman PendalamanAlkitab SSD, Indonesia Publishing House, Januari – Maret 2014.

2. Loddy Lintong, California, U.S.A-Face Book.
Diposkan oleh Hidup Yang Terbaik      

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: