THE SOUL WINNER’S REWARD

 

PEMENANG JIWA

(THE SOUL WINNER)

Oleh Dr. W.A. Criswell

Diterjemahkan Made Sutomo, MA

http://www.rlhymersjr.com/Online_Sermons_Indonesian/2011/082811PM_HeavenlyRewardsForWinningSouls.html

“Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal. Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya” (Daniel 12:2-3).

Image

 

Amsal 11:30

Anda yang mendengarkan radio dan yang menonton televisi, saat ini Anda sedang beribadah dengan kami di First Baptis Church di Dallas.  Judul khotbah yang saya akhan khotbahkan hari ini adalah: Pemenang Jiwa. Ini merupakan eksposisi dari ayat yang sangat indah sekali, yakni satu ayat yang paling indah dalam kitab Amsal 11:30.  Ayat itu berbunyi sebagai berikut: “Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapa bijak mengambil hati orang.” 

Dalam terjemahan King James ayat ini berbunyi: “The fruit of righteous is a tree of life and he that winneth souls is wise.”  Kemudian dalam terjemahan American Revised Version tahun 1901 ada perubahan sedikit.  Mereka merubahnya karena bentuk dari syair Ibrani.  Bila kita berpikir tentang syair, kita berpikir tentang kata-kata sajak.  Tetapi bila penulis Ibrani menulis syair, mereka menulisnya dalam bentuk paralel.  Jadi untuk membuat paralel akan dibaca seperti berikut: “The fruit of the righteous is a tree of life and he that is wise winneth souls” (Proverbs 11:30, ASV).  Ini merupakan satu gagasan yang indah – “buah orang benar adalah pohon kehidupan.”

Dalam Kitab Mazmur pasal pertama dikatakan tentang orang percaya atau orang Kristen yang diberkati Allah: “Ia seperti pohon, yang ditanam ditepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:3).  Dalam Kitab Wahyu pasal duapuluh dua, pada ayatnya yang kedua, kata-kata Yohanes yang memberi inspirasi itu tertulis sebagai berikut: “Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu diseberang menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah duabelas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun-daun pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa” (Wahyu 22:2).  Apakah Anda berpikir ada penghargaan yang lebih bagus dari itu yang dapat memberi insprasi kepada orang Kristen di mana sebagai orang percaya buah dari kehidupannya adalah pohon kehidupan?  Bahkan bayangan dari daunnya dikatakan menyegarkan, memberi kesembuhan dan memberi kehidupan.

Kemudian, paralelnya dikatakan, “dan ia yang memenangkan jiwa-jiwa adalah bijak” (terjemahan King James).  Anda bisa melihat bahwa arti dasar dari ayat ini adalah tentang kehidupan dari orang percaya yang memenangkan jiwa-jiwa, yang menarik jiwa-jiwa bagi Tuhan.  Itu seperti api pada semak belukar di Gunung Horeb yang memancarkan kemuliaan Allah.  Anda tidak dapat menatapnya.  Kemuliaan yang bersinar itu keluar dari dirinya sendiri.  Seorang penulis yang memberi inspirasi berkata: “Seorang yang saleh, seorang Kristen, seorang percaya, menarik jiwa-jiwa kepada Tuhan.”  Ya, seperti itulah seharusnya kehidupan orang Kristen.  Kehidupannya menarik orang untuk datang; ia tidak perlu mengada-ada untuk menarik orang lian.

Kadang-kadang saya berpikir bahwa hal itu seperti matahari.  Ketika matahari terbit pada pagi hari, ia tidak datang menggedor pintu rumah lalu berkata: “Bangunlah. Pergilah berangkat kerja sekarang.”  Tetapi, yang kita ketahui adalah bahwa matahari itu terbit pada pagi hari tanpa bersuara.  Hanya terbit dan mengeluarkan sinar dari dirinya sendiri.  Ia melapisi jendela kaca, ia menyentuh pipi bayi dengan lembut, ia memenuhi rumah dengan sinar kemuliaannya, ia akan mencari setiap sudut rumah yang tersedia.  Ia Juga menerangi seluruh dunia, dan bunga-bunga mengangkat wajahnya untuk menatapnya.  Apakah Anda pernah memperhatikan bunga matahari pada pagi hari?  Bunga matahari akan mengikuti jalan matahari dari sejak terbitnya.  Dan bila matahari terbenam, ia pun akan menghadap ke barat.  Jadi sepanjang hari, hanya mengikuti pancaran sinar matahari.  Matahari menarik dengan sendirinya.  Dan seluruh bumi dibangunkan.  Manusia Allah seperti itu.  Dia yang bijak, dia yang percaya, dia yang adalah anak Allah, menarik jiwa-jiwa; mengambil jiwa-jiwa, memenangkan jiwa-jiwa. Ia akan melakukan seperti itu.

Saya teringat ketika saya masih kuliah, salah satu dari teman sekolah kami sangat suka mencela dan mengeritik; dan memang begitu mudah bagi seorang mahasiswa seperti itu; suka mengeritik Tuhan, mengeritik Alkitab, mengeritik gereja, mengeritik kebaktian, mengeritik orang-orang, pendek kata ia suka sekali mengeritik.  Ia senang berbicara seperti itu, seperti seorang agnostis dan kafir. Demikianlah, ketika satu grup dari kami pergi menghadiri kebaktian kebangunan rohani di sebuah gereja kecil dan sederhana.  Dan terjadilah hari itu ada seorang skeptis duduk di sana.  Dan salah satu dari kebaktian pada malam itu benar-benar diberkati oleh Tuhan dan keluarga-keluarga diselamatkan dan dipersatukan di dalam Tuhan.  Setelah undangan untuk maju ke depan di adakan, sebagai mahasiswa kami hanya duduk di sana dan hanya melihat para istri, para suami, para ayah dan para ibu bersukacita  dengan anak-anak mereka.  Peristiwa seperti ini hanya bisa kami saksikan sekali-sekali dalam hidup bagaimana Roh Allah berkarya.  Dan teman saya yang skeptis yang sedang duduk disamping saya, ketika melihat hal itu, ia berpaling kepada saya dan berkata, “Kamu tahu ada sesuatu tentang iman Kristen, ia muncul dan ia memukul di wajah kita”  Apa yang ia katakan mungkin seperti suatu penghinaan, tidak menghargainya, tetapi ia melihat ada sesuatu tentang iman Kristen, sesuatu yang memancar dalam kehidupan Kristen, gerakan Roh Allah yang tidak dapat disangkal.  Anda tidak dapat menolong tetapi Anda melihatnya dan dapat mengerti; dan itulah yang dimaksudkan dalam ayat di sini.  “Buah orang benar adalah pohon kehidupan. Dan ia yang bijak, orang yang percaya kepada Allah, memenangkan jiwa-jiwa.”  Ia menarik mereka kepadanya.

Sekarang, ayat ini memberikan satu perkiraan, yakni, jiwa-jiwa perlu dimenangkan, dan dapat dimenangkan.  Ayat ini berkata, “ia yang bijak memenangkan jiwa-jiwa.”  Ini bukan sesuatu yang tidak mungkin, atau karena hati manusia dibuat dari baja, atau kacau dan tidak dapat diperbaiki, sehingga manusia tidak dapat dimenangkan.  Sama sekali tidak.  Hati manusia, bagaimanapun juga masih dapat digugah.  Roh Kudus dapat merubahnya, dan dengan demikian jiwa-jiwa dapat dimenangkan bagi Tuhan.

Sekarang mari kita memperhatikan kata “memenangkan.”  Kita membaca, “siapa bijak, mengambil (memenangkan) hati orang.”   Kita dapat menggunakan kata itu dalam berbagai bidang kehidupan.  Kadang-kadang kita menggunakan kata-kata itu dalam berpacaran, untuk bermain cinta.  Misalnya, seorang pemuda dapat mengambil hati / memenangkan hati seorang gadis. Bila kita gunakan dalam dunia militer, maka kita akan berkata, jenderal kita memenangkan pertempuran.  Kadang-kadang kita gunakan dalam bidang hukum.  Misalnya, seorang pengacara akan memenangkan perkaranya dalam pengadilan. Kita juga bisa memakai kata itu untuk suatu keberuntungan. Ia adalah seseorang yang memenangkan hadiah.  Kadang-kadang dalam dunia atletik.  Ia memenangkan pertandingan.

Sekarang, jika kita memperhatikan bagaimana kata “mengambil hati atau memenangkan”, maka kita menemukan dua faktor tentang hal itu: pertama, dalam permainan cinta atau dalam percintaan, seseorang memenangkan hati, jiwa, kasih seseorang.  Tetapi perlu diperhatikan bahwa ia tidak melakaukannya dengan cara menegur atau dengan paksaan atau dengan perintah.  Anda bisa memaksa tubuh manusia, anda bisa mengurung, memasukkan dalam penjara, meringkuknya dalam terali besi dengan tembok batu, tetapi roh manusia, hatinya selalu bebas.  Ia tidak bisa dipaksa, tetapi ia dapat dimenangkan dengan cara membujuk, dengan cara manis.  Bila saya berpikir tentang hal itu, saya sering berpikir tentang anak-anak kita, tentang gereja kita, di mana saja mereka berada, mereka seharusnya tanpak mengagumkan.

Saya memiliki keragu-raguan yang dalam, khususnya hal-hal yang berkenaan dengan gereja yang tampak suram, membosankan, menjemukan dan tidak menarik, yang membuat anak-anak tidak mau datang malaupun disuruh oleh orang tua mereka.  Kadang-kadang mereka merasa lebih baik melakukan hal-hal lain daripada pergi ke gereja. Jadi, beberapa anak-anak harus dipaksa oleh orang tua mereka untuk pergi, dan biasanya dengan kata-kata, “Selama kamu tinggal di rumah ini kamu harus pergi ke gereja.”   Saya kira cara seperti itu tidak akan berhasil.  Akan tetapi, bila Allah merangkai kebaktian atau ibadah gereja, Sekolah Minggu, tempat pelatihan, organisasi misi, maka saya percaya anak-anak akan berkata: “Aku akan pergi.  Ayo ayah dan ibu, mari kita pergi ke gereja; ayo cepat, saya mau pergi.”  Itu adalah hal yang indah.  Saya menyukai beribadah di rumah Tuhan seperti itu.  Gereja seperti itu akan kelihatan menawan, memikat, mengagumkan, mempunyai gaya tarik, membujuk, dan menarik jiwa-jiwa.  Ia akan membuat kita suka melakukan sesuatu.

Bila tidak demikian, hal itu membuat hati saya sedih dan sakit.  Pernah terjadi bahwa ada satu pasang suami istri, satu keluarga yang baik, datang ke gereja ini mengunjungi kami, tetapi mereka tidak datang kembali lagi.  Setelah diselidiki mengapa mereka tidak datang, suaminya berkata, “Kami tidak suka pergi.  Kami tidak menyukai pengkhotbah.  Ia berkhotbah terlalu keras.  Ia menyampaikan Injil dengan suara keras dan kami tidak menyukai dia.”   Untuk saya, dengan segenap hati saya akan memberikan segala-galanya dalam dunia untuk dapat menyampaikan berita Injil dengan cara tegas dan menarik, memikat dan mengagumkan. Bila saya tidak melakukan dengan cara itu, dan bila respon orang-orang kebalikannya, maka saya akan merasa sedih, dan kadang-kadang saya merasa kecil hati.  Untuk ibadah kita kepada Allah seharusnya merefleksikan kemuliaan Tuhan.  Seperti lagu koor yang dinyanyikan oleh paduan suara, “Dan kemuliaan Tuhan akan disingkapkan dan sinarnya akan tampak bersama-sama.  Seperti halnya matahari dalam kekuatannya, demikianlah kemuliaan Allah.”  Betapa indahnya bila saya dapat melakukan hal itu; itu akan luarbiasa indahnya, mengangkat dan penuh arti.”  Tetapi bila saya tidak melakukan hal itu, saya akan merasa sangat sedih dan kecewa. Demikianlah maksud kata “memenangkan” itu.  Kata itu mempunyai arti membujuk.  Jadi, permohonan atau undangan itu dibuat untuk memikat hati.

Tadi saya sudah menyinggung beberapa cara penggunaan dari kata “memenangkan” itu.  Misalnya, dalam dunia militer,  seseorang memenangkan pertempuran.  Dalam bidang atletik, seseorang memenangkan perlombaan. Dalam bidang hukum, seorang pengacara memenangkan perkaranya.  Inilah arti dibalik tuntutan yang mengendalikan, yang mendorong, yang membuat seseorang harus merencanakannya, di mana ia bisa merasakan satu perjuangan.  Apakah seseorang pernah secara serakah memenangkan perkaranya di pengadilan melalui suatu pertandingan?  Tentu saja tidak.  Ia harus memikirkan hal itu secara cermat. Ia harus merencanakannya.  Dalam sebuah gedung pengadilan, di situ ada hakim yang duduk di kursi kehakiman; ada pengacara; seluruhnya diatur berdasarkan proses hukum.  Jadi orang yang menuntut perkaranya harus merencanakannya.  Demikian juga dengan pertandingan atau perlombaan lainnya.  Anda tidak bisa ke sana lalu memenangkan perkara itu begitu saja.  Ada sesuatu yang harus Anda perjuangkan dan kadang-kadang Anda menderita karenanya.  Seluruh aturan untuk kata memenangkan itu, bagaimanapun Anda harus menerapkannya, dan harus merencanakan sedemikian rupa.  Jadi, demikian juga maksud dari kata memenangkan di sini dalam usaha memenangkan jiwa.  Untuk memenangkan jiwa diperlukan hikmat, dalam tuntunan dari hikmat Allah, dan harus ada persiapan dan perencanaan, dan satu dedikasi terhadap hal itu.

Sekarang kita tiba pada bagian mandat dari teks dalam ayat tersebut.  Berdasarkan inspirasi ilahi, mandat kita adalah memenangkan jiwa-jiwa, membawa orang-orang terhilang kapada Yesus.  Itulah tugas kita dan itulah yang kita harus lakukan.  Memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus  adalah mandat dasar yang dinamis dari umat Allah.  Ini adalah gol utama kita.  Kita memang mempunyai tugas-tugas lainnya, tetapi itu bukanlah kedinamisan jantung dari pada gereja.  Ambil contoh tentang gereja kita (The First Baptist di Dallas).  Gereja ini memberikan dirinya untuk melakukan berbagai program dalam usaha memenangkan keluarga-keluarga dan orang-orang bagi Kristus.

Misalnya program rekreasi.  Tadi malam, ada sesuatu yang lucu yang dilakukan di dalam gereja ini.  Setiap orang membayar satu dolar untuk bisa melihat hal-hal yang membuat mereka seperti orang bodoh.  Itu tidak apa-apa.  Memang kita akan melakukan kebodohan demi Kristus, sebagaimana Paulus sendiri juga mau melakukan yang demikian.  Tetapi sebagaimana Anda melihat ada satu permainan tadi malam, hal tersebut membuat saya berpikir bahwa gereja harus selalu seperti itu.  Mereka melakukan sesuatu untuk mendukung misi gereja, untuk melakukan pelayanan memenangkan jiwa di Tailand, membantu satu pasangan misionari dari gerja kita. Saya sungguh menyukai hal itu.
            Program apa saja yang kita adakan dalam gereja ini, tujuan akhirnya adalah untuk memperkenalkan seseorang kepada Yesus Kristus.  Mulai dari rekreasi, persekutuan kaum bapak dalam gereja, dan lain-lainnya semuanya bertujuan mendukung program membawa orang-orang lain kepada Yesus.  Dan bahkan, saya suka berpikir bahwa seluruh usaha kantor gereja harus bertujuan membawa jiwa-jiwa kepada Yesus. Orang-orang kita dalam gereja mempunyai rasa keyakinan besar dalam usaha di kantor gereja.  Dalam setahun mereka telah menyerahkan sebesar lima juta dolar kepada gereja ini karena keyakinan yang mereka miliki itu.  Saya menyukai hal itu. Kami telah memiliki prosedur bisnis adminstratif yang baik dalam gereja ini.  Hati saya sangat senang ketika komite personel membawa Bapak John Shank, seorang yang mereka pilih sebagai administrator gereja kami.  Ketika mereka membawa beliau kepada saya, mereka berkata, “Pak Pendeta, ia seorang pendeta yang telah ditahbiskan.”  Saya sangat senang sekali karena ia seorang hamba Tuhan yang akan bertugas mengawasi seluruh usaha administrasi di rumah Allah.  Hal ini mengingatkan saya akan nubuatan mesianis yang begitu indah dan mulia dalam kitab Zakharia, di mana ia menggambarkan tentang rumah Tuhan sebagai berikut: “Pada waktu itu akan tertulis pada kerincingan-kerincingan kuda: “Kudus bagi TUHAN!” (Zakharia 14:20).  Bukankah hal itu sesuatu yang luar biasa?   Semuanya itu, dan segala sesuatu yang kami lakukan didedikasikan untuk usaha memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus.

Saya ingin menunjukkan kepada Anda apa yang terjadi untuk gereja bila fokusnya diarahkan kepada mandat sorgawi.  Kita harus ketahui bahwa begitu mudah bagi gereja mengalihkan pandangannya kepada hal-hal lain.  Bila usaha pencarian jiwa-jiwa, usaha penginjilan menjadi hilang, ada satu atau dua hal akan terjadi dalam gereja:

Pertama, bila gereja berpaling dari usaha menjalankan misinya untuk memenangkan jiwa-jiwa, maka hal yang pertama yang akan terjadi adalah bahwa gereja itu akan menjadi gereja duniawi.  Gereja tidak akan memenangkan dunia tapi sebaliknya dunia akan memenangkan gereja.  Gereja itu akan dikuasai oleh roh dunia.  Sebagai akibatnya, segala bentuk praktek-praktek pelayanan, kebiasaan-kebiasaan dalam gereja akan sering bersifat duniawi.  Segala sesuatu yang nampak baik dalam hidup kita sebagai orang percaya, baik sebagai gereja secara keseluruhan, akan kelihatan duniawi karena roh dunia telah menguasai gereja.  Dengan demikjian gol kita, visi kita, program-program kita dan perencanaan kita akan salah, akan menjadi duniawi, karena berasal dari dunia dan bukan dari Tuhan.

Kadang-kadang saya berpikir tentang gereja-gereja yang membanggakan diri. Mereka bangga akan hal-hal tertentu tentang diri mereka.  Anda harus berhati-hati tentang hal itu.  Karena hal itu berasal dari kedagingan, merupakan roh kesombongan, dan itu bukan dari Allah.  Kita harus berhati-hati karena gereja bisa melakukan hal-hal duniawi dalam banyak hal, banyak bidang dalam kehidupannya. Orang-orang kita bisa menjadi duniawi karena mereka tertarik akan hal-hal duniawi. Mereka ada di bawah sana dan bukan di atas sana.  Kita harus mengarahkan pandangan kepada perkara-perkara yang di atas dan bukan hal-hal yang di bawah, yang ada di dunia.  Bila kita berpaling dari tugas memenangkan jiwa-jiwa, dari mandat penginjilan sorgawi, gereja dengan jelas akan menjadi duniawi.  Mereka menjadi milik dunia dan ia tidak ada bedanya dengan klub dunia.  Dengan demikian, bergabung dengan gereja akan seperti bergabung dengan klub dunia. 

Kedua, bila gereja berpaling dari mandat penginjilan maka secara utuh ia akan menjadi ortodoks / kolot.  Pendeta, jemaat, pejabat organisasi gereja dan keluarga, mereka percaya akan setiap suku kata dari iman, setiap penglihatan, setiap bagian dari pohon.  Sebagaimana Anda benar dalam semua kepercayaan, walaupun para serafim dari sorga secara berulang-ulang mengingatkan apa yang Allah telah singkapkan kepada kita; tetapi pada waktu yang sama, tanpa kasih, tanpa bergerak, maka gereja seperti itu akan menjadi perkumpulan keagamaan.

Saya teringat satu cerita beberapa tahun lalu, ada seorang wanita muda tinggal di rumah kami; ia menolong kami untuk menjaga anak perempuan kami yang masih kecil.  Dan sebagai anggota dari keluarga kami, ia tinggal dan bekerja dalam rumah kami.  Akan tetapi yang aneh adalah mengapa ia pergi ke gereja yang tidak membuat dia senang.  Namun demikian, ia telah memutuskan untuk pergi ke gereja seperti itu. Pada satu hari Minggu ketika kami makan malam, saya menanyakan dia tentang kebaktian gereja.  Pertanyaan saya adalah sebagai berikut: “Apakah pendetamu pernah memberi undangan ke depan?”  Ia menjawab, “Tidak, sama sekali tidak.”  Kemudian saya lenjut bertanya, “Kalau begitu apa yang kamu lakukan bika kamu ke gereja?  Apa yang kamu dengar dan apa yang dikatakan oleh pengkhotbah ketika ia berkhotbah?”  Ia menjawab, “Ia berkhotbah tentang nubuatan dan kami tertarik mendengarkan tentang nubuatan.”  Memberi tanggapan kepadanya saya berkata, “Itu hal yang indah sekali dan mulia.  Karena begitu banyak dalam Alkitab tentang kehendak anugerah Allah yang disingkapkan dalam sejarah manusia dan dalam kehidupan manusia.”  Akan tetapi, saya bertanya kembali kepadanya, “Ketika ia selesai mengkhotbahkan tentang nubuatan, lalu apa yang dilakukan sesuadah itu?”  Ia berkata, “Kami menerima doa berkat.”  Lalu saya berkata, “Apakah ia tidak pernah memberikan undangan?”  “Tidak, sama sekali ia tidak pernah memberi undangan.”

Anda tahu apa yang saya pikirkan?  Saya berpikir hal itu persis seperti seorang penjual nasabah ansuransi.  Katakan ia pergi ke satu keluarga dan berkata kepada sang ayah dalam keluarga itu: “Ini untuk istri Anda, dan ini untuk anak-anak Anda yang manis dan Anda mempunyai hutang rumah.”  Tetapi bagaimana kalau ia tidak menawarkan ansuransi kepada sang suami?  Bagaimana kalau ia kena kecelakaan dan meninggal, lalu apa yang terjadi dengan keluarganya?  Apa yang terjadi dengan rumahnya dan hutangnya di bank? Apakah yang terjadi dengan istri dan anak-anaknya? Sebagai seorang penjual ansuransi yang benar ia seharusnya akan menawarkan kepada sang suami dengan berkata, “Anda memerlukan ansuransi untuk melindungi mereka.”  Sehingga bila kecelakaan menimpa sang suami, maka pegawai ansuransi tidak akan berkata, maaf dan kemudian membela diri.   Pegawai ansuransi mungkin akan menggambarkan betapa bagusnya kebijakan ansuransi itu.  Ia mungkin menjelaskan batapa bagusnya peraturan-peraturan yang ditulis; satu gambaran tentang perusahaan dan hal-hal lain tentang ansuransi, tetapi, bila ia meninggalkan mereka tanpa memberikan anjuran kepada sang suami tadi untuk melakukan sesuatu, tidak memberikan kepastian bagaimana seandainya bia ia sungguh kehilangan rumah, bagaimana tentang istrinya yang akan menjadi janda dan akan anak-anaknya yang akan menjadi yatim, maka sang suami itu akan kehilangan segalanya.  Bila saya mengatakan hal itu, Anda akan berkata, “Pak Pendeta, itu di luar bayangan, itu di luar pikiran. Tidak ada seseorang dalam penilaian kami akan melakukan hal itu.    Dalam hal ini, kita harus tahu bahwa tujuan dari ansuransi adalah memberi kepastian, memberi jaminan bahwa ia akan mengganti kerugian setiap yang masuk dalam daftar hal-hal yang diansuransikan. Ini merupakan gambaran yang tepat dari pengkhotbah itu.  Ia berdiri di mimbar dan mengkhotbahkan firman Tuhan tapi tidak pernah memberi undangan, dan itu sesuatu yang tidak masuk akal.  Kalau saya bisa katakan, di sini diperlukan satu tindakan, yakni perlu ada tindak lanjut.  Pendeta itu harus mengundang jemaat untuk memberi respon akan apa yang ia khotbahkan.

Banyak orang berkata kepada saya tentang Saudara Jimmy Draper, di mana ia diundang undang menjadi gembala pembantu di gereja kami.  Ia akan datang untuk menjadi pendamping saya dan juga berja dengan staf dalam melayani di gereja kami, The First Baptist di Dallas. Dengan demikian ia akan meringankan beban saya dalam pelayanan.  Di samping itu, ia juga akan memimpin kami dalam program penjangkauan, untuk mengimplementasikan tugas kita dari sorga, untuk menuntun anggota jemaat ke dalam program memenangkan jiwa.  Betapa kami merasa hal itu sangat perlu, bukan hanya sekedar mengatakannya, bukan saja hanya mempromosikan dengan kata-kata secara tertulis, tapi benar-benar melakukan sesuatu, yakni menjangkau orang-orang bagi Kristus.

Saya pernah membaca tentang kasus pengadilan di Inggris. Itu merupakan kasus yang paling menarik yang pernah Anda dapat baca.  Kisahnya adalah sebagai berikut:  Ratusan tahun yang lalu ada kapal yang terkapar di atas batu karang di pantai Inggris.  Kapal itu akhirnya tenggelam, dan semua penumpang dalam kapal itu juga ikut tenggelam dan lenyap.  Tetapi ada sesuatu yang aneh dari cerita yang sudah dua ratus tahun dari stasiun penyelamat di pantai itu.  Kapten dari stasiun penyelamat itu dielu-elukan dalam sidang pengadilan karena dituduh mengabaikan tugasnya.  Ia berdiri sebagai saksi dan diintrogasi oleh seorang pengacara dan dia ditanyai beberapa pertanyaan.  Sang pengacara penuntut hukum berkata, baiklah bapak hakim, ini adalah pertanyaan saya.  Sidang perkara itu berlangsung sebagai berikut:

Penuntut hukum:  Kepada kapten dari stasiun penyelamat ia bertanya, “Apakah Anda melihat kapal tersebut di sana terkapar di batu karang, lalu tenggelam dan  para penumpang juga tenggelam?” 

Kapten Satisiun Penyelamat:  “Ya, saya ada di sana.  Saya melihatnya.”

Penuntut hukum: “Kalau begitu, apakah Anda mengirim perahu untuk menyelamatkan?”

Kapten Stasiun Penyelamat: “Tidak, karena ombaknya terlalu tinggi sekali.”

Penuntut hukum: “Tuan, apakah Anda membuang tali untuk mencoba menjangkau para penumpang?”

Kapten Stasiun Penyelamat: “Tidak, karena saya merasa terlalu jauh.”

Penuntut hukum: “Apakah Anda berusaha memakai pelampung untuk bisa menyelamatkan para penumpang yang sedang tenggelam?”

Kapten Stasiun Penyelamat: “Tidak tuan, karena terlalu sulit untuk dicoba.”

Penuntut hukum: Dan setelah semua pertanyaan-pertanyaan itu diajukan, maka dengan kemarahan hakim itu berkata, “Kalau begitu, katakan kepada saya dalam sidang pengadilan sorga yang tinggi, apa yang seharusnya Anda coba untuk lakukan demi menyelamatkan para penumpang yang sedang tenggelam itu?”

Kapten Stasiun Penyelamat: Sebagai jawaban terakhir, ini adalah jawaban kapten tersebut.  “Tuan, saya telah melakukan segala sesuatu yang saya bisa untuk menolong mereka melalui bunyi-bunyi terompet / pengeras suara.”

 

Sekarang, dalam bahasa kita, kita akan menyebut panggilan dengan memakai pengeras suara itu adalah telepon besar (magaphone).  Dengan berdiri di pantai pada jarak dua ratus yar dari kapal yang sedang tenggelam beserta dengan para penumpangnya, kapten itu mencoba untuk menolong mereka dengan berbicara melalui pengeras suara / megaphone.  Untuk saya, seandainya, walaupun pelampung penyelamat itu sudah kempes, seharusnya ia tetap meluncurkannya.  Kalau pun tali itu terlalu pendek, seharusnya ia tetap harus melemparkannya kepada para penumpang yang sedang tenggelam.  Ketika saya membaca hal itu, saya berpikir tentang keadaan kita.  Apa yang perlu kita lakukan adalah mencoba memakai pelampung dan tali tersebut, dan bukan memakai pengeras suara.  Ini adalah tugas dari sorga yang diberikan kepada kita.

 

Kesimpulan.  Sekarang saya akan menutup dengan membacakan kembali ayat dalam kitab Amsal 11:30: “Hasil orang benar adalah pohon kehidupan, dan siapa bijak, mengambil hati orang.” (“The fruit of the righteous is a tree of life and he that is wise winneth souls”). Memang benar bahwa dalam hidup orang benar ada hikmat, yakni Allah sendiri.  Hikmat Tuhan adalah memenangkan jiwa-jiwa. Ada berkat yang tidak dapat dibandingkan di dalamnya.

            Izinkan saya menyampaikan satu kejadian.  Ketika kami datang ke Dallas tiga puluh tahun lalu, saya bertanya kepada salah satu dari diakon di gereja ini, salah satu dari panitia mimbar, tentang dokter gigi yang dipakai oleh Dr. Truet.  Karena saya juga ingin merawat gigi saya.  Saya memiliki gigi yang baik karena saya mewarisinya dari ayah saya. Ayah saya seorang yang aneh dan ia tidak pernah pergi ke dokter dalam hidupnya.  Bukankah itu sesuatu yang aneh?  Namun demikian, dengan mewarisi gigi yang baik dari ayah saya, tidak berarti bahwa saya tidak akan pergi ke dokter gigi.  Saya senantiasa pergi ke dokter gigi secara teratur.  Dan itulah seharusnya yang Anda lakukan secara teratur.  Jadi, diakon itu berkata kepada saya, “Dokter gigi dari Dr. Truett adalah Dr. Snowden.”  Kemudian saya menelpon dia dan membuat janji dengan beliau.  Ketika ada di sana, sementara saya duduk, ia mulai berbicara kepada saya tentang Dr. Truett.  Sementara dia berbicara tiba-tiba ia menangis.  Sesudah tenang, ia mohon maaf kepada saya dengan berkata “maafkan saya. Saya tidak bermaksud untuk menangis.”  Tetapi selanjutnya ia berkata, “Dr. Truett mengajarkan saya jalan kehidupan dan saya sangat mengasihinya.” 

Bila Dr. Truett telah melakukan hal itu, maka saya tidak heran mengapa Dr. Snowden menangis.  Saya sendiri pernah melihat Dr. Truett dan istrinya yang manis.  Ia telah meninggal hampir duapuluh delapan tahun lalu.  Saya bertanya kepada Dr. Sowden, “Bapak Mamie Snowden, apakah Anda tahu beliau telah meninggal?”  Ia menjawab, ya saya tahu hal itu.”

            Itulah satu kenangan yang saya ingat tentang seorang pengkhotbah besar.  Saya mengambil waktu untuk pergi bertemu dengan dokter gigi dan menyaksikan dia menangis.  Ia berkata : Anda tahu, ia telah mengajar saya jalan kehidupan dan saya sangat mengasihi dia.”  Bukankah itu satu komentar tentang keindahan dan kemuliaan seorang gembala sidang?”  Itulah yang dikatakan dalam ayat renungan kita hari ini, “Hasil orang benar adalah pohon kehidupan dan siapa yang bijak mengambil hati orang.”  Ini tepat seperti yang dikatakan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika: “Sebab siapakah pengharapan kami atau sukacita kami atau mahkota kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatanganNya, kalau bukan kamu?” (1 Tesalonika 2:19).  Paulus mengatakan itu untuk masa akhir segala sesuatu … mahkota kita … berkat dari raja kita.  “Siapa yang bijak mengambil / memenangkan jiwa-jiwa.” 

Ya Allah kami yang di sorga, dengan belas kasihan Engkau telah memberkati anggota jemaat di sini dan staf serta gembala sidang, dan kami telah memberikan hidup kami untuk melakukan tugas penginjilan, memanggil dan membujuk mereka untuk datang kepada Yesus Kristus, agar mereka mereka menerima keselamatan dariNya.  Ya Tuhan, datanglah, datanglah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: