Hukum Taurat Vs Iman Dalam Kristus

Kebenaran Melalui Hukum Taurat – Bagian 1

oleh Mary Rita

Peace With The WorldKarena semakin banyak orang Kristen menyadari adanya sebuah revolusi di bumi bagi gereja untuk dibebaskan dari penawanan legalisme dan hukum Taurat, orang-orang yang masih memberitakan hukum Taurat juga menjadi lebih ganas dari sebelumnya! Dengan membaca situs-situs pelayanan ini di internet jelas bahwa mereka menjadi semakin bersifat memecah belah, lebih bertekad untuk mencuri dari orang-orang percaya kebebasan yang Yesus telah bayar dengan harga yang sedemikian tinggi dan juga semakin pandai dalam argumen-argumen mereka, bahkan mencoba untuk merayu dan merebut kembali mereka yang telah lama terbang dalam aliran-aliran rahmat ini.

Gereja-gereja yang “memperingatkan” umat mereka agar tidak “tertipu” oleh pengkhotbah kasih karunia, memperingatkan mereka bahwa kasih karunia tidak bisa diberitakan sendirian saja, tetapi harus dipahami dalam konteks seluruh Alkitab. Mereka mengkhotbahkan bahwa kasih karunia sendirian saja rupanya dapat menyebabkan pemahaman yang keliru tentang apa yang Tuhan maksudkan dengan salib; bahwa yang benar untuk dilakukan adalah mencampur suatu dosis hukum Taurat yang sehat juga di sana untuk “menyeimbangkan” pesan itu. Tidak ada yang bisa lebih jauh dari kebenaran!

Ini adalah para pengkhotbah hukum Taurat yang suka mengutip ayat-ayat dari Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes di luar konteks, lupa bahwa orang banyak yang kepadanya Yesus memberitakan Injil adalah orang-orang Yahudi! Orang-orang Yahudi telah tercemar dengan ratusan tahun khotbah-khotbah hukum Taurat Akad Lama, mendengar hari demi hari bahwa ketaatan mereka kepada hukum Taurat akan menyebabkan mereka untuk menjadi orang benar dan bahwa tingkat moralitas dan kinerja baik mereka akan menghasilkan penerimaan dan berkat-berkat Tuhan.

Pada awalnya Tuhan tidak pernah memaksudkan kita untuk mencoba berhubungan dengan-Nya dengan cara ini! Persis setelah perintah-perintah Allah ditulis di atas batu dan Dia menetapkan pilihan kutukan (untuk ketidaktaatan) atau berkat (karena ketaatan) kepada Israel, Dia mengatakan ini kepada Musa:

TUHAN berfirman kepada Musa: “Ketahuilah, engkau akan mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu dan bangsa ini akan bangkit dan berzinah dengan mengikuti allah asing yang ada di negeri, ke mana mereka akan masuk; mereka akan meninggalkan Aku dan mengingkari akad-Ku yang Kuikat dengan mereka. (Ula 31:16)

Allah tahu bahwa Israel tidak akan mampu menaati hukum Taurat dan perintah-perintah-Nya, tetapi karena Israel menolak untuk memiliki hubungan pribadi dengan Allah (selalu meminta Musa berbicara kepada Allah atas nama mereka) dan tidak peduli semua mujizat-mujizat yang Tuhan lakukan ketika memimpin mereka keluar dari Mesir (menunjukkan kesabaran yang besar terhadap Israel meskipun semua mereka terus mengeluh dan bersungut-sungut di padang gurun), mereka tetap dalam ketidakpercayaan mereka kepada Tuhan, tidak percaya bahwa Dia bisa dan akan menuntun mereka ke Tanah Perjanjian. Mereka penuh dengan kebenaran diri sendiri dan “tegar tengkuk” sebagaimana Allah menyebut mereka:

…yakni ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu. Sebab Aku tidak akan berjalan di tengah-tengahmu, karena engkau ini bangsa yang tegar tengkuk, supaya Aku jangan membinasakan engkau di jalan.” (Kel 33:3)

Musa juga berkata kepada mereka, ketika mereka akan menyeberangi Sungai Yordan:

Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu (NKJV: kebenaranmu) TUHAN, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk!” (Ula 9:6, penjelasan penerjemahan ditambahkan) ≈ Yakinlah bahwa TUHAN Allahmu tidak menyerahkan tanah subur itu kepadamu oleh karena kamu pantas menerimanya. Tidak! Kamu ini bangsa yang keras kepala. (Ula 9:6, BIS)

Sekarang bayangkanlah berabad-abad “ketegar-tengkukan” kemudian, dan kita akan memiliki wawasan tentang orang banyak yang Yesus khotbahi.

Fakta lain yang menarik adalah bahwa Allah tidak pernah menunjuk satupun orang Farisi, Saduki atau ahli-ahli Taurat di mana pun di Alkitab, melainkan hanya imam untuk melayani di bait suci. Kerajaan Babel dengan raja Nebukadnezar menggulingkan kerajaan Yahudi pada tahun 586 SM dan ribuan Israel ditawan ke Babel. Setelah Babel digulingkan oleh Kekaisaran Persia, penguasa Persia (Koresh Agung) memberi izin kepada orang-orang Yahudi untuk kembali ke tanah air mereka pada tahun 538 SM dan membangun kembali bait suci.

Golongan-golongan orang Farisi dan lawan-lawan mereka, orang-orang Saduki, adalah dua dari sekte awal yang muncul pharisee_thumb_1pada Periode Bait Suci Kedua. Secara umum, sementara golongan Saduki adalah monarki aristokrat dan konservatif, golongan Farisi bersifat eklektik (memilih dari berbagai sumber), populer dan lebih demokratis.

Sekte-sekte ini juga mengabaikan banyak titah hukum-hukum Allah dan menggantinya dengan aturan-aturan dan kode-kode buatan manusia yang menghasilkan apa yang secara tradisional dikenal hari ini sebagai Yudaisme¹. Yesus menegur mereka berkali-kali karena mengganti perintah-perintah Allah dengan tradisi buatan manusia. Tengok misalnya bagaimana mereka mencoba menyudutkan Yesus, mengatakan bahwa murid-murid-Nya melanggar tradisi para tua-tua:

law-fulfillerKemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: “Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.” Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri. Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.” (Mat 15:1-9)

Orang-orang Yahudi selama berabad-abad telah mengurangi hukum Allah yang sempurna menjadi suatu standar yang bisa “ditaati”, tetapi Yesus ingin menunjukkan kepada mereka bahwa semua orang gagal. Bahkan jika beberapa orang mengklaim bahwa mereka telah menaati hukum seumur hidup mereka, Yesus menunjukkan bahwa mereka masih kekurangan di beberapa bidang lain. Dia ingin orang-orang mengerti bahwa hanya dengan menempatkan iman kita kepada seorang Juruselamat (Dia), kita bisa dipulihkan kepada Allah dan dengan iman memperoleh kasih karunia, belas kasihan dan pembenaran. Paulus kemudian menerima pewahyuan dari Tuhan ini dan menulis sebagai berikut:

Tetapi sekarang, tanpa (NKJV: terpisah dari) hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah [tidak peduli betapa baiknya mereka boleh pikir mereka telah menaati hukum Taurat], dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. (Rom 3:21-24, penjelasan dan penekanan ditambahkan)

Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. (Rom 3:28) ≈ Sebab kesimpulannya adalah begini: Orang dinyatakan berbaik kembali dengan Allah, bukan karena ia melakukan apa yang tercantum dalam hukum agama Yahudi, melainkan karena ia percaya kepada Yesus Kristus. (Rom 3:28, BIS)

Ayat 23 di pasal di atas adalah ayat favorit para pengkhotbah hukum, tetapi mereka tidak pernah membacanya bersama-sama dengan ayat berikutnya, yang mengatakan bahwa meskipun semua orang di planet ini telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, mereka dibenarkan secara cuma-cuma oleh iman mereka kepada Kristus. Kita akan melihat ayat ini lagi pada bab berikutnya.

Konteks Perkataan-perkataan Yesus

Jika kita membaca ajaran Yesus melalui perspektif ini (yaitu bahwa Ia berusaha untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa mereka tidak akan pernah bisa mencapai standar dari hukum dengan upaya mereka sendiri) kita dapat melihat mengapa Dia selalu begitu marah pada orang-orang Farisi yang berpikir bahwa Allah akan menerima mereka dengan kehidupan “kudus” mereka dan mengapa Ia juga menunjukkan rahmat dan kasih yang sedemikian kepada mereka yang hanya percaya kepada-Nya dan tahu mereka tidak bisa berhasil tanpa Dia.

Hukum akan selalu menunjukkan kesalahan-kesalahan kita, membuat kita merasa bersalah dan menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak melakukan cukup. Ketika orang muda yang kaya itu membual dalam moralitasnya sendiri, mengklaim dia telah mematuhi seluruh hukum Taurat sejak dia masih sangat muda, Yesus menunjukkan kepadanya bahwa ia masih gagal: dia lebih menghargai uang dari harta surgawi.

Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu.” Kata orang itu: “Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: “Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya. (Luk 18:18-23)

Tapi sekarang “para pengkhotbah hukum” zaman modern akan mengambil ayat-ayat ini dan memberitahukan anak-anak Allah yang berharga (yang telah dibebaskan dari hukum Taurat) bahwa adalah salah bagi orang Kristen untuk memiliki banyak uang dan Anda tidak bisa pergi ke surga jika Anda kaya.

Hati-hati terhadap mereka yang menuntut suatu standar hidup suci untuk mendapatkan persetujuan Allah atau yang menyangkal berkat-berkat Tuhan. Kita hidup di bawah Akad Baru, dan hukum Taurat (dengan segala tuntutan-tuntutan “hidup benar”nya) telah disalibkan dengan Kristus:

Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: (Kol 2:13-14)

…dan membatalkan surat hutang terhadap kita, yang mengancam kita dengan syarat-syarat yang berat. Dengan menyalibkan surat itu pada kayu salib, Allah menghapuskan semua dakwaan terhadap kita. (Kol 2:14, BIS)

Ingat ke-10 Perintah yang diukir di loh-loh batu?

Pelayanan yang memimpin kepada kematian (NKJV: pelayanan maut) terukir dengan huruf pada loh-loh batu… (2 Kor 3:7a)

Ke-10 Perintah itu disebut pelayanan maut!

…kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu akad baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan. (2 Kor 3:5b,6) ≈ Kami tidak punya sesuatu alasan apa pun untuk menyatakan bahwa kami sanggup melakukan pekerjaan ini, tetapi Allah yang memberi kemampuan itu kepada kami. Ialah yang membuat kami sanggup menjadi pelayan untuk suatu akad yang baru; akad yang bergantung pada Roh Allah, bukan pada hukum yang tertulis. Sebab yang tertulis itu membawa kematian, sedangkan Roh Allah itu memberi hidup. (2 Kor 3:5,6 BIS)

Ayat ini mengatakan bahwa huruf-huruf (hukum Taurat) mematikan (membunuh)!
Oleh karena itu marilah kita terus berjuang untuk kebebasan yang kedalamnya kita telah dipanggil: kebebasan mulia Akad Baru! Mari kita waspada terhadap orang-orang Farisi modern yang dengan bentuk kesalehan mereka (yang tanpa kuasa) mencoba untuk menjerat kita menjadi orang-orang yang dikendalikan oleh kinerja, legalistik dan terus menerus di bawah tekanan untuk mencoba hidup mencapai standar yang sudah kadaluarsa.

Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dalam kemerdekaan itu dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Gal 5:1, terjemahan dari NKJV)

Catatan:

Tulisan ini adalah bab kesembilan dari buku Kasih Karunia, Injil Terlarang” (“GRACE, The Forbidden Gospel”) yang ditulis oleh Andrè van der Merwe. Anda bisa mendapatkan seluruh buku asli dalam bahasa Inggris di Grace Book – New Covenant Grace.

Sumber:  Kebenaran Melalui Hukum Taurat Bagian 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: