Lemparkanlah Rotimu Ke Air![Pdt. DR. Benny Santoso, Ph.D.]

Pdt. DR. Benny Santoso, Ph.D. | Keb. I Minggu, 9 Mei 1999
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 27/07/08

Melemparkan roti ke air seperti melakukan hal sia-sia. Roti itu akan terbawa arus, hancur menjadi serpihan-serpihan. Apa makna pernyataan Salomo yang kontradiktif seperti yang tertulis di dalam ayat di bawah ini?

PENGKHOTBAH 11 : 1
1 Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.

cybMelemparkan roti ke air memiliki makna memberikan pertolongan. Orang yang memberikan pertolongan, maka suatu saat dia pasti akan menerima pertolonganseperti mendapatkan kembali rotinya yang telah dilemparkannya ke dalam air. Pertolongan yang kita ulurkan kepada orang lain tidak pernah sia-sia atau lenyap tak berbekas begitu saja. Di dalam ilmu biologi, kita mengenal istilah rantai makanan, segala sesuatu tidak hilang begitu saja, namun ada sirkulasi yang membentuk satu lingkaran. Demikian pula pertolongan yang kita berikan kepada orang lain akan kembali dalam bentuk kita menerima pertolongan dari orang lain.

LUKAS 6 : 38
38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Memberi dapat diibaratkan dengan menanam. Hasil yang kita panen tentu jauh lebih besar dari pada yang kita tanam. Cast-Your-BreadMisalnya kita menaman satu biji, tentu hasilnya bukan hanya satu, bisa ratusan bahkan ribuan kali lipat banyaknya. Hasil seperti itulah yang kita terima dari memberi. TUHAN tidak saja membalas perbuatan kita, bahkan membalas dengan berlipat ganda. Dan ingatlah, TUHAN tidak pernah mau berhutang. DIA akan membayar, dengan berlebih dan berlimpah, seperti takaran yang dipadatkan, bahkan sampai meluap di pangkuan kita.

LUKAS 6 : 37
37 “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.

Banyak orang menyangka, memberi itu berarti memberi dalam bentuk materi atau pertolongan. Memberi juga mencakup memberi maaf kepada orang yang berbuat salah kepada kita. TUHAN sudah terlebih dahulu mengampuni semua kesalahan kita yang tak terhitung banyaknya. Kita sebagai orang Kristen sudah menerima pengampunan dari TUHAN, tetapi kita sering mendendam terhadap orang yang bersalah sedikit saja kepada kita. Kalau kita mau mengampuni, tentu TUHAN akan lebih banyak lagi memberikan berkat-NYA kepada kita. Melalui sebuah perumpamaan, TUHAN mengajarkan kepada kita untuk mengikuti teladan-NYA dalam memberi pengampunan.

Amanda JoyAda seorang yang berhutang dalam jumlah sangat besar kepada rajanya. Tak mungkin dia dapat membayarnya. Permohonannya untuk dihapuskan dari hutangnya dikabulkan sang raja. Tentu saja dia keluar dari istana dengan gembira. Sesampainya di luar, dia bertemu dengan temannya yang berhutang kepadanya. Hutang temannya itu jumlahnya kecil saja. Kegembiraan yang diterimanya karena hutangnya sudah dibebaskan oleh raja tidak mengubah niatnya untuk menagih temannya yang berhutang kepadanya. Dengan sikap premannya, dia memaksa temannya melunasi hutangnya saat itu juga. Hanya ada dua pilihan: bayar sekarang atau kerangkeng bui. Sang teman yang memohon-mohon diberi tambahan tenggat waktu tidak digubris. Raja sangat geram sewaktu mendengar orang yang sudah dibebaskan dari hutangnya ini tega memasukkan temannya sendiri ke penjara. Akhirnya raja mencabut grasi yang sudah diberikan kepadanya. Dia harus mendekam dalam penjara sampai bisa melunasi hutangnya.

Ini adalah pengalaman saya dalam memberi pinjaman. Saya memang tidak mengharapkan orang yang berhutang kepada saya untuk membayar. Saya rela, sebab TUHAN sudah memberi saya banyak sekali. Terbukti saat saya dengan rela memberi pinjaman kepada seseorang, TUHAN memberi berkat empat kali lipat dari yang saya pinjamkan. Saya tidak pernah menuntut secara hukum orang yang ingkar membayar hutangnya. Apakah dengan membuat orang itu masuk penjara mendatangkan kepuasan? Ataukah uang kita akan kembali kalau kita melemparkannya ke dalam penjara? Berapa banyak uang yang harus kita keluarkan agar dia masuk penjara? Kerugian lainnya, orang itu dendam kepada kita.

TUHAN YESUS mengajarkan, jika ada orang menampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu. Bukan berarti “silahkan tampar terus!” Yang dimaksud TUHAN adalah jangan membalas menampar. Dengan balas menampar, kita sama kualitasnya dengan orang yang menampar kita. Bedanya, dia menampar lebih dulu. Tidak ada gunanya kita beribadah kalau kita membalas kejahatan orang lain. Bukankah TUHAN YESUS mengajarkan agar kita mencintai musuh (orang yang memusuhi) kita?

ULANGAN 24 : 19
19 Apabila engkau menuai di ladangmu, lalu terlupa seberkas di ladang, maka janganlah engkau kembali untuk mengambilnya; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda—supaya TUHAN, ALLAHmu, memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu.

Saat panen, biasanya masih tercecer di sana-sini hasil panen yang tidak tertuai. Ada hukum dalam Perjanjian Lama yang mengatur agar pemilik ladang tidak kembali lagi untuk menyapu habis hasil panennya itu. Sisa panen itu adalah hak orang miskin. Firman TUHAN bermakna, bahwa kita tidak boleh hanya menuntut, tidak boleh memeras habis-habisan baik tenaga ataupun waktu karyawan, juga tidak diperkenankan memberi gaji yang tidak sepadan. Hukum TUHAN ini mungkin kurang dapat diterima jika disandingkan dengan hukum ekonomi yang menganut seminimal mungkin modal dan usaha, semaksimal mungkin hasil yang diperoleh. TUHAN mengajarkan, agar kita tidak egoistis, kita perlu ingat untuk memberi kepada orang miskin.

Ketika saya bersama majelis ke Solo dalam rangka KKR, saya membayar parkir Rp 10.000,- untuk dua mobil (saat itu ongkos di Solo parkir Rp 500,-). Tukang parkir kebingungan mencari uang kembalian. Saya katakan, tidak perlu memberikan uang kembali. Sebagai konfirmasi, dia bertanya “Niki sedoyo?” (ini semua?) dengan mimik wajah yang semakin bingung. Saya katakan, “Ya!” Salah satu tujuan saya memberi lebih dari ongkos parkir yang seharusnya adalah agar tukang parkir itu bisa menikmati sedikit berkat.

Jika kita menjalankan hukum TUHAN ini, saling memberi dan mengikis sikap egois, maka akan mendatangkan keharmonisan. Dalam keluarga, suami tidak hanya memikirkan diri sendiri dengan main golf atau bilyar atau kesenangan lainnya sampai tidak ada waktu bersama keluarga, tetapi juga memiliki quality time bersama anak istri. Di dalam lingkungan masyarakat, kita juga perlu memperhatikan, bergaul dan saling menghargai dengan orang-orang di sekitar kita, kendati mereka bukan orang Kristen. Saya sendiri tidak segan bertegur sapa dengan para satpam dan hansip yang ada di lingkungan tempat tinggal saya. Kadang-kadang saya juga membawakan mereka kopi dan biskuit.

YAKOBUS 2 : 13
13 Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.

Suatu saat kita akan menghadapi penghakiman. Dan yang pasti, setiap orang pernah berbuat salah. Berat ringannya kita menghadapi penghakiman itu tergantung dari seberapa besar belas kasihan yang telah kita ulurkan kepada orang lain. Orang yang memiliki belas kasihan dalam wujud memberi baik berupa materi maupun maaf akan menang atau divonis bebas saat menghadapi penghakiman. Kadang-kadang kita mau enaknya sendiri. Kita percaya, bahwa TUHAN YESUS mengorbankan DIRINYA, mengampuni dosa-dosa kita, tetapi kita tidak mau menjalankan Firman, bahwa kita harus memberi kepada orang lain. Firman TUHAN harus kita terima secara utuh, baik yang berupa hak maupun kewajiban.

Tidak perlu kecewa jika perbuatan baik yang kita lakukan dibalas dengan kejahatan. Kita berbuat baik bukan untuk mendapat balasan dari manusia, tetapi itu merupakan kewajiban. Itu merupakan belas kasihan. Balasan akan kita dapatkan dari ALLAH yang Mahatahu atas segala perbuatan kita.

Amsal 21:13 mengingatkan kita, “Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.” Sebelum mengenal YESUS, orangtua saya sudah “mengenal” ayat ini, dan menerapkan ayat ini di lingkungan keluarga besar. Hampir semua keponakan ibu saya, beliaulah yang membiayai pesta pernikahan, bahkan memberikan modal kepada mereka. Hal ini diajarkannya kepada saya, bahwa orang yang memberi akan diberkati.

Terlebih lagi sesudah beliau mengenal KRISTUS. Setiap pendeta tak ada yang pulang dengan tangan kosong jika bertemu dengan ibu saya. Hal ini menjengkelkan saya yang saat itu belum mengenal KRISTUS. Setelah saya menjadi pendeta, saya sadar, seandainya ibu saya tidak menabur dengan memberi persembahan, mungkin berkat yang saya terima tidak sebesar yang saya dapatkan sekarang ini.

PENGKHOTBAH 11 : 2
2 Berikanlah bahagian kepada tujuh, bahkan kepada delapan orang, karena engkau tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi.

Memberi, memberi dan memberi. Ayat di atas meneguhkan pelajaran tentang memberi. Pernyataan senada juga diutarakan oleh Pemazmur di dalam Mazmur 112:5-9, bahwa orang yang suka memberi dan menaruh belas kasihan kepada orang lain tidak akan goyah, dan tidak akan takut kabar celaka, sebab dia akan dijagai oleh TUHAN. Dunia boleh meneriakkan kabar seburuk apapun, tetapi orang yang melemparkan rotinya ke air akan menerima rotinya kembali, sehingga dia tidak akan pernah kekurangan makanan. Amin.

http://www.tabernakel.org/renungan/?id=07082701

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: