TIDAK ADA SUKACITA YANG LEBIH BESAR

Pikiran Seorang Ayah Dalam Menjadi orang tua Kristen (4)

MENGAMANKAN MASA DEPAN MEREKA

“Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” (3 Yoh 1: 4).

32217_438645600080_4823619_n

MENGAMANKAN MASA DEPAN MEREKA

Sebagai orang tua, kita harus berusaha untuk memberikan lingkungan yang baik untuk anak-anak kita dan menjadi penasehat mereka. Ketika Abraham telah tua dan lanjut umurnya, ia mengatur untuk menikahkan Ishak dengan membuat hambanya yang sudah tua bersumpah pada Tuhan bahwa ia tidak akan mengambil istri bagi Ishak dari anak perempuan orang Kanaan (Kej 24:1-4). Ini adalah untuk memastikan bahwa iman Ishak tidak akan rusak atau dikompromikan oleh praktek-praktek keagamaan bangsa asing di tanah mereka.

Ketika Daud tahu bahwa waktunya sudah habis, ia mendesak Salomo untuk berjalan dalam jalan Tuhan dan mematuhi perintah-perintah-Nya. Dia memperingatkan Salomo tentang Yoab dan Simei, dan memerintahkan dia untuk menunjukkan kebaikan kepada Barzilai (1 Raj 2:1-10). Ini meningkatkan kewaspadaan Salomo dan memungkinkan dia untuk melihat dan mempersiapkan diri untuk bahaya depan.

Kita harus melakukan bagian kita untuk menciptakan lingkungan spiritual yang baik bagi anak-anak kita. Persiapan untuk masa depan anak-anak kita harus disertai dengan doa kita sehari-hari bagi mereka:

Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa. (Ayub 1:5)

Ayub bangun pagi hari demi membuat korban bakaran atas anak-anaknya. Melakukan hal tersebut mencontohkan kedisiplinan diri, pengabdian dan dedikasi terhadap putra-putrinya. Seperti Ayub, kita harus terus-menerus khawatir tentang pendirian anak-anak kita di hadapan Allah, sebuah masalah yang dapat kita bawa kepada Allah untuk kepentingan mereka.

REFLEKSI AKHIR

Menjadi Ayah adalah pengalaman yang berharga. Bagi beberapa orang, imbalannya mungkin adalah kebanggaan menyaksikan keberhasilan dan prestasi mereka dalam dunia atau melihat anak-anak mereka menjalani kehidupan bahagia dalam memulai keluarga mereka sendiri. Bagi yang lain, mungkin menerima cinta dan rasa terima kasih anak-anak mereka sebagai balasannya.

Untuk saya, hadiah utama menjadi ayah diringkas dalam kata-kata ini :

“Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.” (3 Yoh 1: 4).

  1. Philip Shee-Dubai, Uni Emirat Arab (Gereja Yesus Sejati Indonesia)
Apakah Anda diberkati oleh artikel di atas? Anda ingin mengalaminya? Ikuti doa di bawah ini :

Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin! 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: