Nasehat Rasul Paulus

Christian Marriage

Pembahasan Rasul Paulus Tentang Perkawinan Dalam Surat 1 Korintus 7:1-9

1 Korintus 7:6-11

marriages

RASUL PAULUS ialah Rasul yang diurapi dalam perjanjian baru.Ada yang berfikir dia sudah bernikah.Ayat di bawah menjelaskan dia seorang yang memusatkan perhatiannya untuk mengikuti Yesus dan tidak bernikah.Saya menyukai teladan kepimpinan Rasul Paulus kerana dia dipenuhi ROH KUDUS.Sebelum bertobat dia sangat disiplin dalam ajaran agamanya.Dia sangat menaati hukum taurat.Dia menganiaya orang kafir yang dianggap musuh Allahnya.Namun,suatu ketika dia mendengar suara TUHAN YESUS/ISA AL MASIH/PERIBADI ALLAH KEDUA itu,dia melihat keberadaan dirinya yang berdosa.Paulus bercerita tanpa iman pada Yesus manusia tidak mungkin diselamatkan.Paulus akhirnya berkata,di antara semua orang yang berdosa dialah yang paling berdosa.Adakah kita seperti Paulus mengakui dosa dan mulai mengikuti Yesus?

Konteks
7:6 Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.   7:7 Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku;  tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.  7:8 Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku. 7:9 Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin.  Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu. 7:10 Kepada orang-orang yang telah kawin aku–tidak, bukan aku, tetapi Tuhan–perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya. 7:11 Dan jikalau ia bercerai, ia harus tetap hidup tanpa suami atau berdamai dengan suaminya.  Dan seorang suami tidak boleh menceraikan isterinya.

Pembahasan Rasul Paulus Tentang Perkawinan
Dalam Surat 1 Korintus 7:1-9

Oleh Pdp. Yohannes Nahuway, S.Th.

  1. PENDAHULUAN

Untuk memahami surat Paulus kepada jemaat di Korintus ini, haruslah kita mengerti latar belakang permasalahan yang menyebabkan reaksi Paulus terhadap permasalahan tersebut sehingga ia menuliskan surat ini. Salah satu permasalahan yang disoroti Paulus adalah adanya kecemaran di dalam jemaat di Korintus.

Jemaat gereja yang berlatarbelakang agama-agama bukan Kristen, bertobat dan telah menerima Yesus berkat pelayanan Paulus di Korintus selama delapan belas bulan (Kis. 18:11). Kira-kira tiga tahun kemudian, Paulus mendapat kabar dan laporan bahwa jemaat gereja masih tidak memisahkan diri secara konsisten dari kebiasaan dan budaya orang-orang Korintus. Dengan kata lain, jemaat gereja di Korintus masih mempraktekkan kecemaran, yaitu kebejadan seksual. Oleh sebab itu, Paulus memberi arahan dan nasihat mengenai perkawinan. Paulus membahas tentang perkawinan karena bahaya percabulan yang ada di dalam jemaat, sebagaimana dikisahkan pada pasal-pasal sebelumnya (pasal 5 dan 6).

Surat 1 Korintus 7:1-9 ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, yaitu ayat 1 sampai ayat 2, adalah bagian yang diperuntukkan bagi jemaat Korintus yang belum menikah. Bagian kedua, yaitu ayat 3 sampai ayat 6, diperuntukkan bagi jemaat Korintus yang telah menikah. Dan bagian ketiga, yaitu ayat 7 sampai ayat 9, diperuntukkan bagi yang tidak menikah.

  1. JEMAAT YANG BELUM MENIKAH (Ayat 1 – Ayat 2)

Ayat 1. Pada ayat 1, rasul Paulus mengatakan, “Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin.” Dalam Alkitab berbahasa Inggris King James Version, kalimat ini berbunyi, “It is good for a man not to touch a woman.” Kata “not to touch” dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani, berarti “terus-menerus menyentuh atas kehendak sendiri.” Bagi bangsa Yahudi, kata “sentuh” merupakan bentuk halus dari kata “hubungan seksual.” Kamus Besar Bahasa Indonesia juga memberi salah satu definisi terhadap kata “sentuh” dengan kata “bersetubuh.” Dengan demikian, pada ayat 1 ini Paulus berpesan kepada jemaat di Korintus pada saat itu, khususnya laki-laki, agar mereka lebih baik tidak terus-menerus melakukan persetubuhan, artinya lebih baik tidak menikah atau selibat.

Di ayat ini rasul Paulus tidak mengharuskan semua jemaat Korintus pada saat itu untuk tidak menikah, tetapi ia menyarankan untuk tidak menikah bagi orang-orang yang belum menikah karena ia percaya bahwa kedatangan Yesus sudah dekat. Oleh sebab itu Rasul Paulus ingin agar setiap orang Kristen fokus kepada Tuhan dan pelayanan karena bila seseorang telah menikah, maka perhatiannya akan terbagi-bagi (baca ayat 32-35).

Aplikasi ayat 1 pada masa kini. Saran rasul Paulus pada ayat 1 ini juga masih berlaku untuk kita semua karena apabila kita sungguh-sungguh ingin fokus melayani Tuhan dan memiliki kemampuan untuk mengontrol nafsu badan kita (ayat 37), maka memang lebih baik kita tidak usah menikah supaya perhatian kita bisa terfokus kepada melayani Tuhan saja.

Ayat 2. Kemudian pada ayat 2 Paulus menuliskan, ”tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.” Di sini terlihat bahwa Paulus mengetahui adanya percabulan yang terjadi di jemaat Korintus pada saat itu (baca pasal 5:1). Oleh sebab itu, Paulus memberi arahan kepada setiap jemaat Korintus untuk mempunyai suami dan isterinya sendiri. Dengan demikian, jemaat hanya diperbolehkan untuk melakukan hubungan badan hanya dengan suami atau isterinya sendiri.

Aplikasi ayat 2 pada masa kini. Ayat 2 masih berlaku terus hingga masa kini dan masa-masa yang akan datang, karena inilah inti dari pernikahan kudus Kristen, yaitu menjaga kesetiaan dengan pasangannya sendiri. Setiap suami atau isteri wajib menjaga ikrar pernikahannya untuk tetap setia kepada pasangan yang telah dihikahinya itu.

III. JEMAAT YANG TELAH MENIKAH (Ayat 3 – Ayat 6)

Ayat 3. Ayat 3 hingga ayat 6 merupakan bagian yang diperuntukkan kepada jemaat Korintus yang telah menikah. Pada ayat 3, Paulus memberi arahan kepada jemaat Korintus supaya setiap suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya. Menurut bahasa asli dan tata bahasa Yunani, maksud rasul Paulus pada ayat 3 ini bila diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa Indonesia menjadi, “Hendaklah suami terus memberikan kebaikan yang menjadi hak isterinya sebagaimana yang telah dilakukan.” Oleh sebab itu, pada ayat 3 ini Paulus mengarahkan para suami dari jemaat Korintus untuk terus memberikan kebaikan yang menjadi hak dari para isteri. Demikian juga para isteri diarahkan untuk terus memberi kebaikan yang menjadi hak dari para suami.

Aplikasi ayat 3 pada masa kini. Saran rasul Paulus pada ayat 3 ini jelas masih berlaku untuk zaman sekarang. Suami wajib memberikan kebaikan kepada isterinya. Bahkan rasul Paulus mengatakan bahwa isteri berhak mendapat kebaikan dari suaminya. Sebaliknya juga demikian bahwa isteri wajib memberikan kebaikan kepada suaminya. Inilah kewajiban dari pernikahan Kristen, yaitu suami dan isteri saling memberikan kebaikan yang adalah hak dari pasangannya.

Ayat 4. Pada ayat 4, Paulus mengatakan bahwa para isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, melainkan suaminya. Demikian juga sebaliknya, suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, melainkan isterinya. Kata “berkuasa” yang dipakai Paulus adalah to have power. Dengan demikian, pada ayat ini Paulus memberi pengajaran kepada jamaat Korintus bahwa tubuh suami berada di bawah kuasa isterinya, demikian tubuh isteri berada di bawah kuasa suaminya. Hal ini dimungkinkan karena suami dan isteri terikat oleh perjanjian yang diperoleh dari pernikahan, di mana setiap pasangan diberi kuasa atas tubuh pasangannya guna memenuhi segala kebutuhannya.

Aplikasi ayat 4 pada masa kini. Sebagaimana rasul Paulus katakan kepada jemaat di Korintus, demikian juga perkataannya berlaku bagi suami-isteri Kristen pada masa kini. Setiap masing-masing pribadi harus berusaha untuk saling memberi kebahagiaan bagi pasangannya. Ini adalah kewajiban dari pernikahan Kristen.

Ayat 5. Pada ayat 5 Paulus mengatakan, “Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa.” Kata “menjauh” dalam teks aslinya berarti to deprive, deny, withhold. Maksud Paulus pada ayat ini adalah memberi perintah kepada jemaat Korintus untuk menghentikan menahan apa yang menjadi hak pasangannya.

Melalui kalimat Paulus pada ayat 5 ini, ada indikasi bahwa ada beberapa suami dan isteri yang menjauhkan diri dari hubungan seksual dengan alasan karena sebelum menjadi umat Kristen, mereka melakukan percabulan sehingga pada saat mereka menjadi Kristen, mereka menghentikan hubungan seksual antara suami dengan isteri karena mereka beranggapan bahwa hubungan seksual adalah suatu kejijikan. Ada juga jemaat Korintus yang menghentikan hubungan seksual antara suami dengan isteri agar mereka dapat hidup lebih rohani.

Di sinilah Paulus memberi arahan bahwa bagi suami dan isteri adalah baik apabila mereka tetap melakukan hubungan seksual, karena ini merupakan hak mereka karena status pernikahan mereka. Akan tetapi Paulus tidak melarang suami dan isteri untuk menghentikan aktivitas seksual mereka apabila hal itu dilakukan agar mereka mendapat kesempatan untuk berdoa. Dengan demikian dapat dilihat bahwa Paulus memberi arahan bahwa pasangan suami dan isteri dari jemaat Korintus diperbolehkan untuk tidak melakukan hubungan seksual atas kesepakatan bersama agar mereka dapat berdoa kepada Tuhan.

Walaupun demikian, Paulus menganjurkan suami-isteri, yang ada di jemaat Korintus, agar tidak “berpuasa” hubungan seks dalam jangka waktu yang lama, karena Paulus tahu bahwa keinginan terhadap hubungan seks akan meningkat. Apabila suami-isteri tidak berhubungan seks dalam waktu yang lama, maka hasrat seksual mereka akan terus menggebu-gebu sehingga membuka celah untuk melakukan percabulan dengan orang lain selain pasangannya.

Aplikasi ayat 5 pada masa kini. Saran rasul Paulus pada ayat 5 ini jelas masih terus berlaku hingga zaman sekarang. Sepasang suami-isteri diperbolehkan untuk tidak melakukan hubungan seks untuk sementara waktu, asal tujuannya adalah agar mereka dapat berkonsentrasi penuh kepada Tuhan, misalnya untuk berdoa dan berpuasa. Namun “berpuasa” hubungan seks itu dianjurkan tidak dalam waktu lama, karena hal ini dapat membuka celah bagi percabulan. Rasul Paulus juga tidak mau suami-isteri menempatkan diri mereka ke dalam bentuk “penyiksaan diri” yang melebihi apa yang Tuhan tuntut, karena seks itu sendiri diciptakan Tuhan untuk dinikmati oleh suami-isteri. Oleh sebab itu, ayat 5 ini rasul Paulus memberi arahan kepada suami-isteri Kristen untuk tetap melakukan hubungan seks dengan pasangannya karena itu adalah karunia Tuhan.

Ayat 6. Ayat 6 menjelaskan arahan Paulus pada ayat 5. Paulus memberi arahan kepada jemaat sebagai suatu kelonggaran, yaitu tidak berlama-lama untuk tidak melakukan hubungan seks antara suami-isteri walaupun mereka sedang berada pada masa puasa dan doa kepada Tuhan. Dengan kata lain, rasul Paulus mengijinkan setiap suami-isteri di jemaat Korintus untuk tetap melakukan hubungan seks dengan pasangannya walaupun mereka sedang dalam keadaan berpuasa. Maksud Paulus adalah jelas, yaitu untuk mencegah bahaya percabulan karena Paulus tahu bahwa manusia tidak bisa bertahan untuk tidak melakukan hubungan seks. Maka dari itu, Paulus mempertegasnya dengan mengatakan bahwa ini bukan sebuah perintah, melainkan sebagai suatu kelonggaran.

Aplikasi ayat 6 pada masa kini. Pada zaman sekarang kita menemukan berita-berita tentang perzinahan dan perselingkuhan. Kasus yang menyedot perhatian media olahraga pada akhir tahun 2009 hingga sekarang adalah kasus perselingkuhan pegolf nomor satu dunia bernama Tiger Woods, di mana ia berselingkuh dengan lebih dari dua belas perempuan. Inilah bukti bahwa manusia itu memang tidak tahan untuk tidak melakukan hubungan seks. Seks itu bisa membuat ketagihan. Dengan demikian, nasihat rasul Paulus kepada jemaat di Korintus juga berlaku untuk jemaat gereja di masa kini, yaitu supaya setiap suami-isteri jangan berlama-lama untuk tidak melakukan hubungan seks dengan pasangannya sebab bahaya percabulan itu sangat menggoda manusia.

  1. JEMAAT YANG TIDAK MENIKAH (Ayat 7 – Ayat 9)

Ayat 7. Ayat 7 sampai ayat 9 merupakan bagian ketiga, yang diperuntukkan bagi jemaat yang tidak menikah. Pada ayat 7, rasul Paulus mengatakan, “Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku.” Untuk memahami kalimat rasul Paulus ini, maka ayat 7 tidak dapat dipisahkan dengan ayat 8, karena ayat 8 memuat maksud dari kalimatnya ini, di mana dapat dilihat bahwa ia tidak mempunyai isteri. Bagi jemaat Korintus, kalimat ini mungkin tidak terlalu membingungkan karena mereka sudah mengetahui status pernikahan rasul Paulus. Akan tetapi kalimat ini dapat membuat bingung pembaca yang tidak memahami status pernikahan rasul Paulus.

Mengenai status pernikahan rasul Paulus tidak terdapat data-data yang cukup untuk mengetahuinya. Dugaan mengatakan bahwa rasul Paulus adalah seorang bujangan yang tidak menikah. Ada ahli-ahli tafsir berpendapat bahwa rasul Paulus memang tidak menikah, atau bisa saja seorang duda, atau mungkin juga seorang yang telah resmi bercerai dengan isterinya. Walaupun demikian, dugaan ini tidaklah begitu penting karena ini bukanlah ini dari pemberitaan rasul Paulus pada ayat 7. Yang menjadi penekanannya adalah bahwa Paulus tidak memiliki isteri.

Kemudian pada ayat 7, rasul Paulus melanjutkan tulisannya dengan kalimat, “tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.” Di sini rasul Paulus mengatakan kepada jemaat Korintus bahwa setiap orang menerima karunia yang khas dari Tuhan. Dalam konteks ini rasul Paulus sedang berbicara mengenai karunia untuk tidak menikah dan karunia untuk menikah. Kedua karunia ini merupakan karunia yang khas dari Tuhan. Ada orang diberi karunia untuk menikah dan ada juga orang yang diberi karunia untuk tidak menikah seperti Paulus.

Aplikasi ayat 7 pada masa kini. Pada ayat 7 ini, rasul Paulus jelas memberi penegasan bahwa untuk tidak menikah itu adalah sebuah karunia dari Tuhan. Ada orang yang dikaruniai untuk menikah dan ada yang dikaruniai untuk tidak menikah. Sebagaimana telah dijelaskan dalam artikel edisi sebelumnya, bahwa rasul Paulus menegaskan bahwa apabila kita ingin melayani Tuhan, memang ia menganjurkan untuk tidak menikah agar kita dapat melayani Tuhan tanpa beban harus melayani pasangan (suami atau isteri) kita. Oleh sebab itu, melalui ayat 7 ini, kita memahami bahwa menikah atau tidak menikah, kita memang wajib melayani Tuhan, karena menikah atau tidak menikah adalah sama-sama karunia dari Tuhan.

Ayat 8. Sebagaimana telah dikatakan pada panjelasan mengenai ayat 7, ayat 8 merupakan kelanjutan dari ayat 7. Pada ayat 8, rasul Paulus memberi penekanan bahwa ia adalah seorang yang tidak memiliki isteri. Ayat 8 juga merupakan jawaban Paulus atas pertanyaan yang jemaat Korintus berikan kepadanya, sebagaimana terlihat dengan kalimat “aku anjurkan.” Dengan demikian, pada ayat 8 terlihat bahwa Paulus sedang memberi jawaban atas pertanyaan jemaat Korintus tentang pernikahan. Jemaat Korintus yang tidak menikah atau yang sudah menjanda ingin tahu apakah mereka sebagai orang Kristen harus menikah atau tidak.

Aplikasi ayat 8 pada masa kini. Ayat 8 ini merupakan jawaban kepada jemaat Korintus yang tidak menikah dan jemaat yang sudah menjadi janda. Akan tetapi ayat ini masih berlaku di semua jemaat gereja zaman sekarang, yaitu agar orang-orang yang tidak menikah dan para janda bisa tetap berada dalam keadaan seperti rasul Paulus, yaitu tidak menikah. Hal ini dianjurkan rasul Paulus karena ia ingin agar semua orang yang tidak menikah dan para janda tidak usah direpotkan lagi dengan melayani pasangannya (suami atau isteri) sehingga dapat fokus melayani Tuhan.

Ayat 9. Pada ayat ini rasul Paulus mengatakan, “Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin.” Di sini rasul Paulus memberi kelonggaran bagi mereka yang tidak dapat menguasai diri diperbolehkan untuk menikah. Dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani, kata “tidak dapat menguasai diri” berarti they can not control themselves (mereka tidak dapat mengontrol diri).

Pada ayat 9, Paulus memberi ijin bagi jemaat Korintus yang tidak dapat mangontrol diri mereka untuk menikah. Dalam hal ini rasul Paulus berbicara tentang keinginan seksual. Di sini rasul Paulus memberi pilihan kepada orang-orang yang tidak menikah dan kepada para janda di jemaat Korintus untuk tetap tidak menikah atau mengambil keputusan untuk menikah. Walaupun rasul Paulus lebih menganjurkan jemaat untuk tidak menikah tetapi bagi mereka yang tidak dapat mengontrol keinginan seksualnya maka mereka diperbolehkan untuk menikah dengan tujuan agar mereka tidak melakukan perzinahan.

Aplikasi ayat 9 pada masa kini. Nasehat rasul Paulus pada ayat 9 ini masih terus berlaku pada zaman sekarang, karena sejak zaman dahulu hingga zaman sekarang, hasrat seksual manusia tetap sama. Oleh sebab itu, bagi orang Kristen yang mampu mengontrol nafsu seksualnya, khususnya para janda, dianjurkan rasul Paulus untuk tidak menikah. Dengan tidak menikah, maka para janda dapat fokus melayani Tuhan tanpa dibebankan tugas-tugas untuk melayani pasangannya (suami atau isteri). Namun rasul Paulus juga tidak melarang semua umat Tuhan untuk tidak menikah, karena ia tidak ingin semua umat Tuhan jatuh ke dalam dosa perzinahan. Maka dari itu setiap jemaat yang tidak dapat mengontrol keinginan seksualnya, maka rasul Paulus menanjurkannya untuk menikah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: