RELATIONSHIP (HUBUNGAN)

Posted in Jesus and the Bride of Christ, Leadership, Ministries, Mission on 06/29/2015 by Ribka Christ

RELATIONSHIP (HUBUNGAN)

“Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atasBarnes_Prince_of_Peace ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” (Kejadian 1:26-27)

Penting sekali kita memahami bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah Tritunggal, maksudnya tiga pribadi dalam satu kesatuan. Allah kita adalah Allah yang berkomunitas, berhubungan satu dengan lainnya. Pada saat Allah mau menciptakan manusia, Allah melakukan perundingan ilahi. “Baiklah Kita”, “Kita” disini adalah jamak; itulah Tritunggal. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya; salah satunya tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk berkomunitas. Allah merencanakan kita tidak hidup sendirian tetapi berkomunitas.

“TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”” (Kejadian 2:18)

Allah menciptakan manusia tidak hidup sendirian, maka Allah memberikan Hawa sebagai pendamping. Manusia yang tidak mau bersosialisasi dan berkomunitas adalah manusia yang mengingkari kodratnya. Orang yang tidak mau bergaul ada beberapa alasan; misalnya karena minder, sombong, sensitif (mudah tersinggung), punya pengalaman buruk dalam pergaulan, dll. Membangun hubungan sangat penting bukan sekedar karena kodrat kita, tetapi membangun hubungan sangat menentukan keberhasilan kita. Matthew Henry, seorang pengkhotbah besar. Matthew bukanlah seorang yang pandai berbicara tetapi dia adalah orang yang pandai bergaul. Bukan hanya Hamba Tuhan, tetapi juga seorang businessmen, ibu rumah tangga, dll; kesuskesan kita tergantung dari bagaimana kita membangun hubungan.~Pdt. Josia Abdisaputera, M.Th

6 JENIS PANGGILAN

  1. MEMPELAI
  2. RAJA
  3. TENTARA  / PRAJURIT
  4. PEKERJA / PENUAI
  5. IMAM
  6. PILAR / SOKOGURU

Introduksi
f5aa5177a81b98ed5c3f56acb680c38cKeenam jenis panggilan adalah cara Tuhan bagi Gereja untuk mempermudah kita semua mencapai garis akhir dan memenuhi destiny dengan kuat dan tepat sesuai dengan kehendak-Nya yang sempurna. Menentukan jenis panggilan dengan pribadi orang yang bersangkutan, biasanya ditentukan oleh beberapa faktor yaitu karakter positif maupun karakter negatifnya;passion, minat & kesukaannya; juga kebiasaan cara Tuhan bergaul dengannya serta cara orang tersebut meresponi Tuhan, baik itu disadari ataupun tidak disadarinya.

Tulisan ini diharapkan dapat membantu Gereja dan orang-orang percaya untuk lebih mengenal Tuhan, dirinya sendiri serta panggilan yang telah Tuhan tetapkan dalam dirinya sejak semula. Dengan mengetahui panggilannya yang benar serta mengerjakan panggilan tersebut dengan sikap hati yang penuh ketaatan dan kesetiaan, maka Gereja akan berjalan dalam ketepatan yang sempurna, memperoleh berkat-berkat rohani dan jasmani dan menjadi berkat, pembawa damai, memberi dampak dan pengaruh besar – garam & terang – bagi duniasesuai dengan kehendak Tuhan yang sempurna yaitu, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” – Kejadian 1:26

  1. MEMPELAI

“Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau 11108861_1439230099730600_7481481832959202320_nakan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelaimelihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu.” – Yesaya 62:5

“Tiap-tiap kali seorang gadis mendapat giliran untuk masuk menghadap raja Ahasyweros, dan sebelumnya ia dirawat menurut peraturan bagi para perempuan selama dua belas bulan, sebab seluruh waktu itu digunakan untuk pemakaian wangi-wangian: enam bulan untuk memakai minyak mur dan enam bulan lagi untuk memakai minyak kasai serta lain-lain wangi-wangian perempuan.” – Ester 2:12

“Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti.” – Ester 2:17″Jikalau hamba mendapat kasih raja, dan jikalau baik pada pemandangan raja mengabulkan permintaan serta memenuhi keinginan hamba … ” – Ester 5:8a”Jikalau baik pada pemandangan raja dan jikalau hamba mendapat kasih raja, dan hal ini kiranya dipandang benar oleh raja dan raja berkenan kepada hamba, maka hendaklah … ” – Ester 8:5a

Definisi Singkat

B82BCAC1-BE84-493B-A9B5-3B6FEED74AA0Panggilan Mempelai adalah cara dan ketetapan Tuhan terhadap seseorang untuk menjadi Mempelai atau Kekasih dalam sebuah komunitas pelayanan. Ia dituntut mampu memikat hati Tuhan dan memperoleh perkenanan Tuhan dengan kekudusan dan keindahan yang bahkan bisa ditampilkan di atas panggung dunia.

Tokoh Dalam Sejarah Alkitab

Ratu Ester, Maria – Saudari dari Marta dan Lazarus, Rasul Yohanes, Gereja – Umat Tuhan secara korporat.

Ciri-Ciri & Kekuatan

Gambaran umum seorang Mempelai adalah seorang yang mengejar hati Tuhan dengan kekudusan, menantikan kehendak dan keputusan dengan setia, memperlakukan Tuhan dengan keintiman yang penuh keindahan, romansa, afeksi dan gairah. Seorang Mempelai memiliki kesukaan untuk diam di bawah kaki Tuhan dan piawai dalam melayani sisi keallahan Tuhan Yesus, sementara Pekerja piawai dalam melayani sisi kemanusiaan Tuhan Yesus. Dalam hal kekudusan dan hidup kudus, seorang Mempelai dikenal tidak berkompromi. Hal ini berbeda dengan seorang Raja yang karena kebijaksanaan dan kayanya pertimbangan dalam dirinya sehingga terkesan lebih berkompromi.

Mempelai sepertinya sejak awal dirancang untuk hidup kudus di atas rata-rata, menyukai keindahan dan seni juga di atas rata-rata, dan memahami dengan sepenuhnya hak dan kewajibannya sehingga dapat memperoleh perkenanan dengan legalitas yang sah.

Cara Mempelai Memperoleh Perkenan Tuhan
Seorang Mempelai memperoleh perkenan Tuhan dengan persekutan dalam Firman, Roh Kudus, mengejar hati Tuhan 10475590_677483585638004_2258854541501007992_ndengan kekudusan dan keintiman yang lebih dari rata-rata. Perkenanan Tuhan adalah segalanya bagi Mempelai, setiap tindakan yang dilakukannya bagi Tuhan semata-mata untuk memikat hati Raja di atas segala raja, persis seperti seorang kekasih atau seorang isteri yang hendak menyukakan hati suaminya. “Ambisi” seorang Mempelai adalah memperoleh perkenanan Tuhan secara utuh dan memikat hati Tuhan dengan penampilannya yang indah sempurna sehingga dapat dianggap pantas menjadi kebanggaan Tuhan sendiri.

  1. RAJA

“Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu.” – Amsal 25:2

“Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.” – Amsal 21:1

“Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.” – 1 Petrus 5:3

“Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.”

 – Wahyu 3:21 “Karena aku (hikmat) para raja memerintah, dan para pembesar menetapkan keadilan.” – Amsal 8:15

“Dalam besarnya jumlah rakyat terletak kemegahan raja, tetapi tanpa rakyat runtuhlah pemerintah.” – Amsal 14:28

“Orang yang mencintai kesucian hati dan yang manis bicaranya menjadi sahabat raja.” – Amsal 22:11

“Keputusan dari Allah ada di bibir raja, kalau ia mengadili mulutnya tidak berbuat salah.” – Amsal 16:10

“Wajah raja yang bercahaya memberi hidup dan kebaikannya seperti awan hujan musim semi.” – Amsal 16:15

“Karena titah raja berkuasa; siapakah yang akan mengatakan kepadanya: ‘Apakah yang baginda buat?'” – Pengkotbah 8:4

Definisi Singkat

Panggilan Raja adalah cara dan ketetapan Tuhan terhadap seseorang untuk menjadi Raja dan Teladan dalam sebuah komunitas pelayanan. Panggilan dengan kandungan hikmat, pengertian, dan nasihat yang terkaya, melebihi kelima jenis panggilan lainnya. Menggambarkan secara lengkap kemuliaan dari tujuan Tuhan yang semula.

Tokoh Dalam Sejarah Alkitab

Salomo bin Daud; raja-raja Yehuda, raja-raja Israel

Ciri-Ciri & Kekuatan

Gambaran umum seorang Raja adalah seorang yang kharismatis, visioner – mampu mengenali sebuah potensi yang bahkan masih tersembunyi bagi kebanyakan orang namun terlihat jelas baginya – entah itu dalam diri seseorang maupun atas suatu perkara lainnya (potensi alam, potensi bisnis, dan sebagainya), strategik & terencana, hati & pikirannya bijaksana, berwawasan luas dan sangat siap atas berbagai kemungkinan dalam berbagai perkara. Karena tipe Raja yang gemar menyelidiki segala sesuatu maka tidak ada sesuatu yang mengherankan maupun sesuatu yang baru baginya.
Kharisma dan segala kekayaan batiniah bawaannya menyebabkan Raja secara natural mulai memimpin orang-orang di sekitarnya, mulai dari komunitas yang kecil hingga komunitas yang lebih besar. Hikmat dan pengertian sudah seperti tertanam di dalam dirinya sejak lahir.

Cara Raja Memperoleh Perkenanan Tuhan
Seorang Raja memperoleh perkenan Tuhan dengan persekutan dalam Firman, Roh Kudus, hati hamba (Hineni), rendah hati, murah hati, mudah mengampuni, menghargai dengan benar hal-hal yang bahkan kelihatan remeh atau kecil, memiliki kepedulian di atas rata-rata, memiliki kewaspadaan di atas rata-rata. Raja adalah panggilan yang pada destiny-nya akan memiliki segalanya dan jatahnya yang terbesar dibanding kelima panggilan lainnya, itulah sebabnya tuntutannya juga paling besar. Kuasa & kuasa perkataan Raja, pada level tertentu, sangat menetukan segala sesuatunya. Ketika Tentara harus tampil di garis depan, maka Raja tampil di atas dan juga di bawah. Raja adalah perencana yang terlaksana, sementara Tentara adalah pelaksana yang terencana.

Panggilan Raja ini sebenarnya sangat menjebak, harus dibedakan antara Panggilan Raja dengan Level Raja. Orang yang memiliki panggilan Raja belum tentu seorang Raja, namun orang yang mencapai Level Raja – apapun panggilannya – dialah yang dapat disebut Raja-Raja muda-Nya. Jadi sangat diharapkan bahwa Gereja dan orang-orang percaya tidak salah dalam panggilannya. Sebagai gambaran umum, komposisi masing-masing panggilan dalam suatu komunitas pelayan adalah sebagai berikut, Pilar 1-3%, Imam 4-6%, Pekerja 48-52%, Tentara 30-35%, Raja 4-6%, dan Mempelai 4-6%. Dengan demikian mayoritas tugas gereja adalah bekerja dan berperang sedangkan tugas keimaman, kepemimpinan dan yang lainnya adalah minoritas yang harus dikerjakan sesuai dengan kehendak Tuhan yang sempurna.

“Ambisi” seorang Raja adalah menguasai sebanyak dan seluas mungkin segala sesuatunya untuk dikelola secara benar sesuai dengan kehendak Kristus, membawa kedamaian dan kesejahteraan sebesar-besarnya bagi rakyat yang dipercayakan kepadanya untuk dipimpin olehnya.

  1. TENTARA / PRAJURIT

“Tetapi hamba-Ku Kaleb, karena lain jiwa yang ada padanya dan ia mengikut Aku dengan sepenuhnya, akan Kubawa masuk ke negeri yang telah dimasukinya itu, dan keturunannya akan memilikinya.” – Bilangan 14:24

“Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” – Kisah Para Rasul 13:22

“Dan TUHAN memperdengarkan suara-Nya di depan tentara-Nya. Pasukan-Nya sangat banyakdan pelaksana firman-Nya kuat. Betapa hebat dan sangat dahsyat hari TUHAN! Siapakah yang dapat menahannya?” – Yoel 2:11

“Seperti pahlawan mereka berlari, seperti prajurit mereka naik tembok; dan mereka masing-masing berjalan terus dengan tidak membelok dari jalannya.” – Yoel 2:7

“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” – 2 Timotius 2:3-4

Definisi Singkat

Panggilan Tentara adalah cara dan ketetapan Tuhan terhadap seseorang untuk menjadi Tentara atau Prajurit dalam sebuah komunitas pelayanan. Dirancang untuk berdiri di garis depan dari seluruh bala tentara-Nya, bergerak maju menerobos pertahanan musuh, menduduki daerah musuh dan menjarah seluruh kekayaan musuh.

Tokoh Dalam Sejarah Alkitab

Yosua bin Nun, Kaleb bin Yefune, Yefta – Orang Gilead, Raja Daud, Yonatan bin Saul bin Kish, Rasul Paulus

Ciri-Ciri & Kekuatan

Gambaran umum seorang Tentara adalah bahwa ia mengabdi secara total (sepenuhnya), berani mati, berani ambil resiko, suka berkonfrontasi (secara terbuka) dan tahan menderita. Memiliki mental kepahlawanan dan jiwa yang sama sekali berbeda dari kebanyakan orang. Dalam hal karunia-karunia roh, kelompok Tentara biasanya lebih mengenal dan lebih akrab dengan fenomena-fenomena alam roh (gaib) seperti penglihatan-penglihatan, mimpi-mimpi bahkan efek sensasi secara fisik dari berbagai manifestasi alam roh.

Tentara pada level awal cenderung bernalar rendah, hal ini baik karena ia dituntut untuk taat secara total tanpa memikirkan resiko yang akan maupun sedang dihadapi. Namun semakin tinggi levelnya, maka strategi dan ketangkasannya berperang akan semakin hebat.

Sejak awal pertobatannya, Tentara menyadari bahwa hidupnya bukanlah dirinya lagi melainkan untuk Kristus. Ia percaya bahwa kehidupan setelah keselamatan adalah kesempatan kedua yang mungkin tidak akan terulang lagi, seperti orang yang dihidupkan dari kematian (jasmani). Itu sebabnya bahwa kematian tidaklah menjadi halangan baginya untuk terus maju dalam kegerakan bersama Allah.

Cara Tentara Memperoleh Perkenanan Tuhan

Seorang Tentara memperoleh perkenan Tuhan dengan persekutan dalam Firman, Roh Kudus, mengejar hati Tuhan dengan lebih gigih daripada kelima panggilan lainnya, serta mengikuti dan berjuang dengan sepenuhnya tanpa memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya. Gelora (passion) adalah segalanya bagi Tentara, setiap tindakan yang dilakukannya bagi Tuhan tidak boleh tidak disertai dengan gelora cinta di hatinya. Tentara adalah pelaksana yang terencana, sementara Raja adalah perencana yang terlaksana. “Ambisi” seorang Tentara adalah memuaskan hati Komandannya.

  1. PEKERJA / PENUAI

“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.” – Kejadian 39:2

“Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya.” –  Kejadian 39:6

“Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” – 2 Timotius 2:15

Definisi Singkat

Panggilan Pekerja adalah cara dan ketetapan Tuhan terhadap seseorang untuk menjadi Pekerja atau Penuai dalam sebuah komunitas pelayanan. Biasanya ia diutus lebih awal daripada keempat panggilan lainnya (Imam, Tentara, Raja & Mempelai) untuk menyiapkan pra-sarana dan sarana dalam melakukan misi Kerajaan Allah yang bersifat praktikal dan lebih banyak di area market place – swasta maupun pemerintahan.

Tokoh Dalam Sejarah Alkitab

Yusuf bin Yakub bin Ishak bin Abraham, Daniel, Hananya, Misael, Azarya, Marta – Saudari Maria & Lazarus, Rasul Markus, Timotius – murid Rasul Paulus.

Ciri-Ciri & Kekuatan

Gambaran umum seorang Pekerja adalah bahwa biasanya ia dipisahkan secara temporer dari keluarga  maupun komunitasnya yang semula. Yusuf diasingkan menjadi budak di Mesir, Daniel dan ketiga rekannya menjadi orang pilihan dan kepercayaan para raja kafir di masa pembuangan. Seorang Pekerja ia sangat tangguh, bekerja keras, sangat rajin, memiliki passion yang besar untuk memberitakan Firman kepada siapapun terutama orang asing yang bahkan belum dikenalinya tanpa merasa malu maupun merasa asing.

Ia sejak awal dirancang untuk mampu melakukan berbagai pekerjaan dalam satu waktu atau biasa disebut multitasking dan cenderung ingin dihargai hasil pekerjaannya. Penghargaan tersebut biasanya bahkan lebih berupa sekedar pengakuan ketimbang bayaran uang. Sikap hatinya cenderung lebih sanguin-koleris.
Cara Pekerja Memperoleh Perkenanan Tuhan
Seorang Pekerja memperoleh perkenan Tuhan dengan persekutan dalam Firman, Roh Kudus, kesetiaan, menjaga kekudusan serta tidak membiarkan dirinya dinajiskan oleh perkara yang tesedia untuk menggodanya. Sebagai contoh, Yusuf tidak menajiskan diri dengan menghindari rayuan istri Potifar. Daniel dan ketiga rekannya tidak menajiskan diri dengan santapan raja dan minuman anggur yang biasa diminum raja. “Ambisi” seorang Pekerja adalah dipercayakan sebanyak mungkin pekerjaan dan tanggung jawab serta melihat kepuasan dari orang-orang yang dilayaninya.

  1. IMAM

Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. – Ibrani 2:17

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. – Ibrani 4:15

Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapiyang sekarang telah beroleh belas kasihan. – 1 Petrus 2:9-10

Definisi Singkat

Panggilan Imam adalah cara dan ketetapan Tuhan terhadap seseorang untuk menjadi Imam atau Juru Damai dalam sebuah komunitas pelayanan. Ia bersedia berlutut di hadapan Allah dan manusia supaya belas kasihan Tuhan diturunkan dan murka Allah dilewatkan.
Tokoh Dalam Sejarah Alkitab

Anak Manusia – Kristus Yesus Tuhan, Imam Besar Harun, Samuel bin Elkana, Nehemia, Ezra, para abdi Allah dan imam-imam lain.

Ciri-Ciri & Kekuatan

Gambaran umum seorang Imam adalah cenderung manusiawi (nilai perikemanusiaan yang lebih dari rata-rata), lebih peduli dan berbelas kasihan terhadap orang lain, paling mudah mengampuni dan rela berkorban di hadapan Allah dan orang lain. Yesus Kristus sebagai Anak Manusia yang akhirnya harus mati di atas kayu salib adalah contoh yang sempurna. Seorang Imam, pada level yang sama, mengenal Hati Bapa lebih daripada kelima panggilan lainnya. Ia juga mampu mengenali penderitaan orang lain melalui sudut pandang Hati Bapa tersebut. Kekuatannya adalah belas kasihan dan roh pengertian yang besar dalam hatinya.

Cara Imam Memperoleh Perkenanan Tuhan

Seorang Imam memperoleh perkenan Tuhan dengan persekutan dalam Firman, Hati Bapa, Roh Kudus dan penderitaan tanpa mempertanyakan apapun yang Tuhan perintahkan setiap kali. Ia mampu memandang kemanusiawian Gereja dari sudut pandang keilahian Tuhan dengan tepat. “Ambisi” seorang Imam adalah mendapati bahwa belas kasihan, pengampunan, pertobatan dan keselamatan yang dari Allah tergenapi atas kaum dan bangsanya sekaligus dijauhkan dari cawan murka Allah.

  1. PILAR / SOKOGURU

“Dengarlah kepada kami, tuanku. Tuanku ini seorang raja agung di tengah-tengah kami; jadi kuburkanlah isterimu yang mati itu dalam kuburan kami yang terpilih, tidak akan ada seorangpun dari kami yang menolak menyediakan kuburannya bagimu untuk menguburkan isterimu yang mati itu.” – Perkataan Bani Het kepada Abraham, 2.000 tahun SM – Kejadian 23:6

“Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru.” – Wahyu 3:12

“Kamilah menjadi saksi. TUHAN kiranya membuat perempuan yang akan masuk ke rumahmu itu sama seperti Rahel dan Lea, yang keduanya telah membangunkan umat Israel. Biarlah engkau menjadi makmur di Efrata dan biarlah namamu termasyhur di Betlehem, keturunanmu kiranya menjadi seperti keturunan Peres yang dilahirkan Tamar bagi Yehuda oleh karena anak-anak yang akan diberikan TUHAN kepadamu dari perempuan muda ini!” – Rut 4:11-12

“Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” – Matius 16:17-19

Definisi Singkat
Panggilan Pilar adalah cara dan ketetapan Tuhan terhadap seseorang untuk menjadi Pilar atau Sokoguru dalam sebuah komunitas pelayanan. Biasanya ia membangun dari awal dan menjadi penopang bagi panggilan-panggilan lainnya dalam mengembangkan Kerajaan Allah di tempat yang telah ditetapkan.

Tokoh Dalam Sejarah Alkitab

Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Rut, Rasul Petrus

Ciri-Ciri & Kekuatan

Gambaran umum seorang Pilar adalah bahwa ia dipisahkan secara permanen dari identitas maupun komunitasnya yang semula. Abraham dipanggil keluar dari Ur-Kasdim, Rut menanggalkan kebangsaan dan allahnya, begitu juga Rasul Petrus. Seorang Pilar sangat tekun mengikut, sangat sabar menantikan (kehendak) Tuhan, sangat tenang – memiliki iman yang di atas rata-rata karena pengalamannya berjalan bersama Tuhan yang begitu nyata; ia juga bisa dipercaya, sangat setia dalam segala situasi dan segala perkara.

Ia sepertinya sejak awal dirancang untuk menanggung lebih banyak tanggung jawab dan penderitaan juga memiliki daya tahan yang di atas rata-rata, itu sebabnya, pada level yang sama, ia memiliki pengenalan akan Tuhan daripada kelima panggilan lainnya. Sikap hatinya cenderung lebih pleghmatis ketimbang kelima panggilan lainnya.
Cara Pilar Memperoleh Perkenanan Tuhan
Seorang Pilar memperoleh perkenan Tuhan dengan persekutan dalam Firman, Roh Kudus dan penderitaan tanpa mempertanyakan apapun yang Tuhan perintahkan setiap kali. Ia mampu berdiam diri berjam-jam tanpa mengeluh untuk menantikan respon Tuhan. Hal ini sudah menjadi kebiasaan yang sudah dibentuk sejak awal bahkan tanpa disadari sebelumnya. “Ambisi” seorang Pilar adalah didapati oleh Tuannya bahwa ia setia sampai akhir.

http://www.lawatan-indonesia.com/2013/01/6-jenis-panggilan.html

Galatia 6:4-5

Konteks
6:4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain. j  6:5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya  sendiri.

6:6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman,MEMBAGI SEGALA SESUATU YANG ADA PADANYA DENGAN ORANG YANG MEMBERIKAN PENGAJARAN ITU.

Galatians 6:4-5

New International Version (NIV)

Each one should test their own actions. Then they can take pride in themselves alone, without comparing themselves to someone else, for each one should carry their own load.6The one who is taught the word is to SHARE ALL GOOD THINGS WITH THE ONE WHO TEACHES HIM.

Lemparkanlah Rotimu Ke Air![Pdt. DR. Benny Santoso, Ph.D.]

Posted in Blessings, BREAD FROM HEAVEN, Daily Bread.., Gift on 06/27/2015 by Ribka Christ

Pdt. DR. Benny Santoso, Ph.D. | Keb. I Minggu, 9 Mei 1999
Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 27/07/08

Melemparkan roti ke air seperti melakukan hal sia-sia. Roti itu akan terbawa arus, hancur menjadi serpihan-serpihan. Apa makna pernyataan Salomo yang kontradiktif seperti yang tertulis di dalam ayat di bawah ini?

PENGKHOTBAH 11 : 1
1 Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.

cybMelemparkan roti ke air memiliki makna memberikan pertolongan. Orang yang memberikan pertolongan, maka suatu saat dia pasti akan menerima pertolonganseperti mendapatkan kembali rotinya yang telah dilemparkannya ke dalam air. Pertolongan yang kita ulurkan kepada orang lain tidak pernah sia-sia atau lenyap tak berbekas begitu saja. Di dalam ilmu biologi, kita mengenal istilah rantai makanan, segala sesuatu tidak hilang begitu saja, namun ada sirkulasi yang membentuk satu lingkaran. Demikian pula pertolongan yang kita berikan kepada orang lain akan kembali dalam bentuk kita menerima pertolongan dari orang lain.

LUKAS 6 : 38
38 Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Memberi dapat diibaratkan dengan menanam. Hasil yang kita panen tentu jauh lebih besar dari pada yang kita tanam. Cast-Your-BreadMisalnya kita menaman satu biji, tentu hasilnya bukan hanya satu, bisa ratusan bahkan ribuan kali lipat banyaknya. Hasil seperti itulah yang kita terima dari memberi. TUHAN tidak saja membalas perbuatan kita, bahkan membalas dengan berlipat ganda. Dan ingatlah, TUHAN tidak pernah mau berhutang. DIA akan membayar, dengan berlebih dan berlimpah, seperti takaran yang dipadatkan, bahkan sampai meluap di pangkuan kita.

LUKAS 6 : 37
37 “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.

Banyak orang menyangka, memberi itu berarti memberi dalam bentuk materi atau pertolongan. Memberi juga mencakup memberi maaf kepada orang yang berbuat salah kepada kita. TUHAN sudah terlebih dahulu mengampuni semua kesalahan kita yang tak terhitung banyaknya. Kita sebagai orang Kristen sudah menerima pengampunan dari TUHAN, tetapi kita sering mendendam terhadap orang yang bersalah sedikit saja kepada kita. Kalau kita mau mengampuni, tentu TUHAN akan lebih banyak lagi memberikan berkat-NYA kepada kita. Melalui sebuah perumpamaan, TUHAN mengajarkan kepada kita untuk mengikuti teladan-NYA dalam memberi pengampunan.

Amanda JoyAda seorang yang berhutang dalam jumlah sangat besar kepada rajanya. Tak mungkin dia dapat membayarnya. Permohonannya untuk dihapuskan dari hutangnya dikabulkan sang raja. Tentu saja dia keluar dari istana dengan gembira. Sesampainya di luar, dia bertemu dengan temannya yang berhutang kepadanya. Hutang temannya itu jumlahnya kecil saja. Kegembiraan yang diterimanya karena hutangnya sudah dibebaskan oleh raja tidak mengubah niatnya untuk menagih temannya yang berhutang kepadanya. Dengan sikap premannya, dia memaksa temannya melunasi hutangnya saat itu juga. Hanya ada dua pilihan: bayar sekarang atau kerangkeng bui. Sang teman yang memohon-mohon diberi tambahan tenggat waktu tidak digubris. Raja sangat geram sewaktu mendengar orang yang sudah dibebaskan dari hutangnya ini tega memasukkan temannya sendiri ke penjara. Akhirnya raja mencabut grasi yang sudah diberikan kepadanya. Dia harus mendekam dalam penjara sampai bisa melunasi hutangnya.

Ini adalah pengalaman saya dalam memberi pinjaman. Saya memang tidak mengharapkan orang yang berhutang kepada saya untuk membayar. Saya rela, sebab TUHAN sudah memberi saya banyak sekali. Terbukti saat saya dengan rela memberi pinjaman kepada seseorang, TUHAN memberi berkat empat kali lipat dari yang saya pinjamkan. Saya tidak pernah menuntut secara hukum orang yang ingkar membayar hutangnya. Apakah dengan membuat orang itu masuk penjara mendatangkan kepuasan? Ataukah uang kita akan kembali kalau kita melemparkannya ke dalam penjara? Berapa banyak uang yang harus kita keluarkan agar dia masuk penjara? Kerugian lainnya, orang itu dendam kepada kita.

TUHAN YESUS mengajarkan, jika ada orang menampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu. Bukan berarti “silahkan tampar terus!” Yang dimaksud TUHAN adalah jangan membalas menampar. Dengan balas menampar, kita sama kualitasnya dengan orang yang menampar kita. Bedanya, dia menampar lebih dulu. Tidak ada gunanya kita beribadah kalau kita membalas kejahatan orang lain. Bukankah TUHAN YESUS mengajarkan agar kita mencintai musuh (orang yang memusuhi) kita?

ULANGAN 24 : 19
19 Apabila engkau menuai di ladangmu, lalu terlupa seberkas di ladang, maka janganlah engkau kembali untuk mengambilnya; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda—supaya TUHAN, ALLAHmu, memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu.

Saat panen, biasanya masih tercecer di sana-sini hasil panen yang tidak tertuai. Ada hukum dalam Perjanjian Lama yang mengatur agar pemilik ladang tidak kembali lagi untuk menyapu habis hasil panennya itu. Sisa panen itu adalah hak orang miskin. Firman TUHAN bermakna, bahwa kita tidak boleh hanya menuntut, tidak boleh memeras habis-habisan baik tenaga ataupun waktu karyawan, juga tidak diperkenankan memberi gaji yang tidak sepadan. Hukum TUHAN ini mungkin kurang dapat diterima jika disandingkan dengan hukum ekonomi yang menganut seminimal mungkin modal dan usaha, semaksimal mungkin hasil yang diperoleh. TUHAN mengajarkan, agar kita tidak egoistis, kita perlu ingat untuk memberi kepada orang miskin.

Ketika saya bersama majelis ke Solo dalam rangka KKR, saya membayar parkir Rp 10.000,- untuk dua mobil (saat itu ongkos di Solo parkir Rp 500,-). Tukang parkir kebingungan mencari uang kembalian. Saya katakan, tidak perlu memberikan uang kembali. Sebagai konfirmasi, dia bertanya “Niki sedoyo?” (ini semua?) dengan mimik wajah yang semakin bingung. Saya katakan, “Ya!” Salah satu tujuan saya memberi lebih dari ongkos parkir yang seharusnya adalah agar tukang parkir itu bisa menikmati sedikit berkat.

Jika kita menjalankan hukum TUHAN ini, saling memberi dan mengikis sikap egois, maka akan mendatangkan keharmonisan. Dalam keluarga, suami tidak hanya memikirkan diri sendiri dengan main golf atau bilyar atau kesenangan lainnya sampai tidak ada waktu bersama keluarga, tetapi juga memiliki quality time bersama anak istri. Di dalam lingkungan masyarakat, kita juga perlu memperhatikan, bergaul dan saling menghargai dengan orang-orang di sekitar kita, kendati mereka bukan orang Kristen. Saya sendiri tidak segan bertegur sapa dengan para satpam dan hansip yang ada di lingkungan tempat tinggal saya. Kadang-kadang saya juga membawakan mereka kopi dan biskuit.

YAKOBUS 2 : 13
13 Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.

Suatu saat kita akan menghadapi penghakiman. Dan yang pasti, setiap orang pernah berbuat salah. Berat ringannya kita menghadapi penghakiman itu tergantung dari seberapa besar belas kasihan yang telah kita ulurkan kepada orang lain. Orang yang memiliki belas kasihan dalam wujud memberi baik berupa materi maupun maaf akan menang atau divonis bebas saat menghadapi penghakiman. Kadang-kadang kita mau enaknya sendiri. Kita percaya, bahwa TUHAN YESUS mengorbankan DIRINYA, mengampuni dosa-dosa kita, tetapi kita tidak mau menjalankan Firman, bahwa kita harus memberi kepada orang lain. Firman TUHAN harus kita terima secara utuh, baik yang berupa hak maupun kewajiban.

Tidak perlu kecewa jika perbuatan baik yang kita lakukan dibalas dengan kejahatan. Kita berbuat baik bukan untuk mendapat balasan dari manusia, tetapi itu merupakan kewajiban. Itu merupakan belas kasihan. Balasan akan kita dapatkan dari ALLAH yang Mahatahu atas segala perbuatan kita.

Amsal 21:13 mengingatkan kita, “Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.” Sebelum mengenal YESUS, orangtua saya sudah “mengenal” ayat ini, dan menerapkan ayat ini di lingkungan keluarga besar. Hampir semua keponakan ibu saya, beliaulah yang membiayai pesta pernikahan, bahkan memberikan modal kepada mereka. Hal ini diajarkannya kepada saya, bahwa orang yang memberi akan diberkati.

Terlebih lagi sesudah beliau mengenal KRISTUS. Setiap pendeta tak ada yang pulang dengan tangan kosong jika bertemu dengan ibu saya. Hal ini menjengkelkan saya yang saat itu belum mengenal KRISTUS. Setelah saya menjadi pendeta, saya sadar, seandainya ibu saya tidak menabur dengan memberi persembahan, mungkin berkat yang saya terima tidak sebesar yang saya dapatkan sekarang ini.

PENGKHOTBAH 11 : 2
2 Berikanlah bahagian kepada tujuh, bahkan kepada delapan orang, karena engkau tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi.

Memberi, memberi dan memberi. Ayat di atas meneguhkan pelajaran tentang memberi. Pernyataan senada juga diutarakan oleh Pemazmur di dalam Mazmur 112:5-9, bahwa orang yang suka memberi dan menaruh belas kasihan kepada orang lain tidak akan goyah, dan tidak akan takut kabar celaka, sebab dia akan dijagai oleh TUHAN. Dunia boleh meneriakkan kabar seburuk apapun, tetapi orang yang melemparkan rotinya ke air akan menerima rotinya kembali, sehingga dia tidak akan pernah kekurangan makanan. Amin.

http://www.tabernakel.org/renungan/?id=07082701

KESETIAAN PADA HAL KECIL

Posted in Testimonies on 06/23/2015 by Ribka Christ

Setia Dalam Perkara Kecil

Sunanto

Mat 25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
 
perumpamaan-tentang-talenta-8Pagi hari ini setelah bersaat teduh, Tuhan memberikan sebuah pemahaman baru kepada saya mengenai kesetiaan. Ternyata kesetiaan itu begitu penting sehingga tanpa ada kesetiaan, Tuhan tidak akan pernah memakai atau mempromosikan seseorang. Yusuf dan Daud merupakan tokoh-tokoh iman dalam Alkitab selain Yesus yang paling memberikan inspirasi dalam hidup saya. Salah satu sifat mereka yang paling saya kagumi adalah kesetiaan mereka kepada Tuhan. Mereka diuji sedemikian rupa oleh Tuhan sebelum diangkat menjadi pemimpin namun mereka berhasil menang dalam menghadapi ujian-ujian tersebut dengan sifat kesetiaanya. Banyak orang yang mempunyai visi yang besar dan juga kemampuan yang besar tetapi hanya sedikit orang yang mempunyai sifat setia.

Saya bersyukur kepada Tuhan karena ketika dulu baru memulai pelayanan dipercayakan hal-hal yang kecil dahulu. Saya memulai pelayanan sebagai tukang cari dana dengan berjualan di stand dan juga sebagai regu kerja. Walaupun saya tahu panggilan saya bukanlah sebagai pencari dana atau regu kerja tetapi saya mengerjakan tugas itu sebaik mungkin. Ketika dulu bekerja sebagai pembersih (kitchen hand) di sebuah kafe, sayapun berusaha mengerjakan tugas-tugas yang kelihatan â??hinaâ?? tersebut dengan sebaik mungkin sebab saya percaya walaupun seringkali saat itu bos sedang tidak ada (melihat) tetapi Tuhan ada dan melihat dari surga. Sampai hari ini saya masih suka melakukan tugas-tugas yang bagi banyak kaum pria tidak layak untuk dilakukan seperti mencuci piring, menyapu, mengepel bahkan kadang memasak. Salah satu cara untuk melatih karakter kerendahan hati adalah dengan melayani orang lain. Ketika dulu bekerja di bagian marketing, saya mempunyai kesempatan untuk berbuat curang (tricky) dengan mencari komisi tambahan dari pelanggan namun saya berusaha sebaik mungkin untuk tetap jujur dalam setiap transaksi bisnis. Saya juga bisa berjualan produk lain dengan memanfaatkan fasilitas kantor tetapi saya tidak melakukannya sebab tahu Tuhan tidak berkenan akan hal itu. Saya bekerja bukan untuk semata-mata mencari uang sebab Tuhanlah sumber berkat yang sebenarnya. Tujuan utama kita bekerja bukan untuk mencari uang melainkan untuk memuliakan Tuhan, walaupun saya tidak munafik bahwa memang kita butuh uang.

Saya percaya bila kita setia dalam perkara kecil maka Tuhan akan mempercayakan perkara yang lebih besar kepada kita. Beberapa waktu silam saya  menerima sebuah surat (e-mail) dari seorang pembaca yang telah diberkati oleh tulisan-tulisan saya. Pembaca tersebut mengatakan Tuhan telah memberikan anugerah yang besar kepada saya sehingga bisa menulis dengan bagus. Saya percaya memang benar semua tulisan-tulisan yang anda pernah baca itu semata-mata merupakan anugerah Tuhan kepada saya tetapi anugerah tersebut tidak datang begitu saja. Percayalah, saya telah setia melakukan banyak hal kecil yang mungkin tidak pernah dilihat manusia namun Tuhan melihatnya sehingga hari ini Dia mempercayakan banyak hal kepada saya. Setiap hamba Tuhan besar yang pernah ada baik itu yang ada di Alkitab atau sepanjang sejarah kekristenan tidaklah langsung dipakai dasyat tanpa terlebih dahulu diproses dan diuji oleh Tuhan. Mereka pasti telah melewati masa-masa pengujian dengan setia sehingga akhirnya Tuhan mempercayai dan memakai mereka dengan luar biasa.

Seperti yang sering saya katakan, saya bertemu dengan banyak anak Tuhan yang mempunyai panggilan besar dalam hidup mereka. Bahkan beberapa diantaranya telah mendapatkan nubuatan untuk menjadi hamba Tuhan besar yang akan dipakai dengan dasyat. Banyak diantara mereka yang percaya bahwa mereka tidak perlu melakukan apa-apa sebab lewat nubuatan tersebut Tuhan pasti akan mempromosikan diri mereka. Bila dipercayakan hal-hal yang kecil maka mereka akan menolaknya sebab merasa itu bukan panggilannya. Saudaraku, saya bukannya tidak percaya bahwa nubuatan itu memang ada sebab saya sendiripun pernah menerima nubuatan. Tetapi saya tidak percaya nubuatan tersebut akan terjadi begitu saja tanpa perlu orang itu melakukan sesuatu. Diperlukan tindakan ketaatan, kesetiaan dan ketekunan bila kita ingin bisa menggenapi panggilan Tuhan dalam hidup kita. Tanpa terlebih dahulu kita setia dalam perkara kecil maka tidak mungkin Tuhan akan mempercayakan perkara besar kepada kita.

Daud dipilih Tuhan menjadi raja Israel bukan karena penampilan luarnya melainkan karena hatinya. Tuhan berkata kepada nabi Samuel agar jangan melihat dari penampilan luar sebab Tuhan melihat hati. Tuhan memilih Daud sebab Daud begitu setia menjaga domba-domba ia gembalakakan meskipun itu hanya dua tiga ekor sehingga ia mau mengorbankan jiwa dengan melawan singa dan beruang demi membela kambing domba yang ia gembalakan. Jika untuk hanya dua tiga ekor kambing domba saja, Daud menggembalakan dengan segenap hati sehingga mau mengorbankan nyawanya maka sudah pasti ia akan setia memimpin bangsa Israel dengan baik. Hal inilah yang menyebabkan Tuhan memilih Daud menjadi raja Israel sebab Daud memiliki sifat yang setia pada perkara kecil sehingga ia pasti setia pada perkara besar. Yusuf dipromosikan oleh Tuhan menjadi pemimpin di  Mesir sebab ia telah setia melayani dengan baik dimanapun Tuhan menempatkannya. Walaupun ia dijual menjadi budak tetapi ia tetap setia melayani dengan baik sehingga tuannya mempercayakan seisi rumahnya. Bahkan meskipun ia dipenjara tanpa pernah berbuat salah, ia tetap setia melayani dengan baik sehingga dipercayakan mengatur seisi penjara. Saya percaya jika Yusuf hanya meratapi dan mengutuki nasib buruk yang ia alami maka ia tidak akan pernah dipromosikan oleh Tuhan menjadi pemimpin.

Hal apapun yang Tuhan percayakan kepada anda untuk kerjakan saat ini kerjakanlah dengan segenap hati seakan-seakan semuanya anda kerjakan untuk Tuhan. Mungkin pekerjaan itu hal kecil dan tidak berarti di mata manusia namun justru kesetiaan pada hal kecil itulah yang Tuhan lihat. Tuhan sedang menguji anda dengan perkara kecil tersebut dan melihat apakah anda setia melakukannya. Jangan berusaha mempromosikan diri anda sebab promosi yang sejati datang dari Allah. Kedudukan yang dicapai seseorang karena mempromosikan diri sendiri tidak akan bertahan lama  sebab satu saat pasti Tuhan sendiri yang akan menurunkannya. Setia, setia dan setialah selalu sehingga satu waktu Tuhan pasti akan mempercayakan perkara besar kepada anda!

http://www.airhidup.com/article/setia-dalam-perkara-kecil

TANDUKNYA MENINGGI DALAM KEMULIAAN

Posted in Blessings, Canaan Land, Gift, Success on 06/21/2015 by Ribka Christ

Danau Galilea atau Laut Mati

Mazmur 112:1-10
Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya (Ayat 5). Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan (Ayat 9).

Di Israel ada dua danau besar, yaitu Danau Galilea dan Laut Mati (sebenarnya danau, namun karena sangat luas disebut 06 Sea of Galileelaut). Dua danau itu mempunyai perbedaan yang sangat kontras. Danau Galilea merupakan sumber penghidupan bagi penduduk sekitarnya karena mempunyai banyak ikan. Sementara di Laut Mati tidak ada satupun makhluk yang bisa hidup di dalamnya, karena mengandung kadar garam yang sangat tinggi. Danau Galilea menerima pasokan air dari bukit Hermon, lalu menyalurkan airnya keluar melalui Sungai Yordan, sedangkan Laut Mati hanya menerima pasokan air tetapi tidak menyalurkannya keluar. Akibatnya kadar garamnya sangat tinggi dan tidak memungkinkan ikan hidup di dalamnya.

Laut mati 1Itu adalah gambaran dari kehidupan kita. Jika kita hanya menerima berkat saja dan tidak menyalurkannya, maka kita akan menjadi seperti Laut Mati. Hidup kita akan menjadi kering dan gersang karena tidak menjadi berkat bagi orang lain. Sedangkan jika kita menerima berkat dan menyalurkannya, maka kita akan menjadi seperti Danau Galilea. Ada kehidupan di dalamnya dan menghidupi banyak orang. Orang yang murah hati akan selalu bergairah dan punya semangat hidup.

Tuhan berjanji untuk orang yang melakukan kebajikan dan kemurahan, bahwa mereka akan mengalami kemujuran (ayat 5). Kemujuran berarti Tuhan akan mendatangkan hal-hal yang baik untuk orang yang bermurah hati. Juga Tuhan akan mengangkat martabat (disimbolkan dengan tanduk) orang yang sukaDanau Pengetahuan berbagi (ayat 9). Di dalam Matius 5:7 juga dikatakan: ”Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Hukum rohani tentang tabur tuai pasti berlaku di dalam hidup ini. Apa yang kita tabur itulah yang kita tuai. Jika kita menabur kemurahan maka kita pun akan menuai kemurahan juga.

Oleh karena itu, jemaat Tuhan, milikilah hati yang suka berbuat kebajikan. Galatia 6:9-10 mengatakan: ”Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Amin.

Oleh: Pdt. Goenawan Susanto

http://renungan-harian.giadrcipto.org/?judul=danau_galilea_atau_laut_mati#selengkapnya

Besi Menajamkan Besi dan Orang Menajamkan Sesama

Posted in Daily Bread.. on 06/20/2015 by Ribka Christ

(Sharing firman oleh Ps. Olga Siahaan)

Hubungan Antara Sesama Manusia!

makalah-motivator-kerajaan-allah-3-638Kedatangan Tuhan Yesus adalah untuk mengenapi hukum taurat bukan meniadakannya (Matius 5:17) dan hukum taurat ini terbagi menjadi dua hukum yaitu Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia.Setiap kita berhubungan dengan manusia lainnya dalam kehidupan ini, mari belajar untuk melakukan prinsip dari hukum yang Tuhan telah ajarkan kepada kita. Mulailah untuk memberkati bukan mengutuki, sudah dikatakan bahwa “BESI MENAJAMKAN BESI dan ORANG MENAJAMKAN SESAMA-Amsal 27:17)” .

Ada suatu tujuan yang mulia lewat PROSES PENAJAMAN ini! Suatu Prinsip/konsep yang tidak benar dalam hubungan manusia maka akan berdampak tidak benar juga (tidak memberkati).

Ingatlah! Kita harus menasehati orang-orang yang salah karena kalau tidak kesalahan orang itu akan diperhitungkan kepada kita!

Proses penajaman ini membutuhkan waktu,kesabaran dan pengetahuan supaya menghasilkan yang diinginkan oleh pemerosesnya, hasil yang baik bukan yang jelek.

Tahapan/konsep pertama dari pemerosesan ini adalah pengesekan yang dilakukan. Pada pemerosesan ini ada bagian yang akan dihaluskan dan ada bagian sebagai penghalus/pengamplasnya. Saat pengamplasan akan menghasilkan panas.

Ada prinsip-prinsip rohani yang Tuhan mau kita tahu dan pahami dalam hidup ini dan salah satunya dalam menghadapi proses hubungan antara sesama manusia. Setiap ada gesekan antara sesama kita pasti ada suatu proses. Hubungan antara sesama manusia ini bisa menghasilkan hasil yang positif atau negatif. Apakah yang kita hasilkan dari setiap hubungan yang kita jalanin? Apakah itu baik atau tidak hasilnya dimata kita sebagai umat Tuhan?

Tuhan Yesus Kristus waktu melakukan mujizatNYA di Kana, membuat air dalam tempayan menjadi anggur yang berkualitas baik bahkan sangat baik. Demikianlah hendaknya kita, sebagai umatNYA ,biarlah anggur yang berkualitas sangat baik,yang diciptakanNYA itu terus mengalir dalam hidup kita dan terus kita alirkan kepada mereka yang berhubungan dengan kita. Pastikanlah setiap hubungan yang kita jalani semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan.

Mari belajarlah lebih lagi untuk melihat hubungan antara sesama kita melalui kaca Tuhan, ya Tuhan Yesus sebagai penyaring dalam setiap hubungan yang kita jalani. Mengapa harus memakai Tuhan sebagai penyaring/kacamata yang harus kita pakai dalam menelaah atau menjalani setiap hubungan ini?

Jika pribadi yang berhubungan dengan kita gagal mencerminkan Tuhan dalam hidupnya maka Tuhan akan memberikan pengertian kepada kita untuk menghadapi keadaan ini.

Kita sudah tahu bahwa kita pasti kecewa kalau berharap kepada manusia tetapi kalau kita berharap kepada Tuhan maka kekurangan-kekurangan dari hubungan yang kita jalani dapat kita hadapi karena kita melihat kuasaNYA yang bekerja kepada kita sehingga kita diberikan hikmatNYA dalam menghadapi keadaan-keadaan yang mengecewakan dari hubungan yang kita jalani.

Roma 8:28 Kita tahu bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala perkara, Tuhan terus mengajarkan kita setiap hari dalam menghadapi setiap situasi di dunia ini. Ada tanggung jawab RohNYA dalam setiap anak-anakNYA, DIA akan menasehatkan,menegur,mendidik dan terkadang menghajar kita supaya kita pada akhirnya memiliki karakter Kristus dalam hidup kita. Lakukanlah bagian kita dengan baik dan benar, kita harus memuliakan DIA melalui kehidupan kita.

Dimuka bumi ini keadilan akan sulit didapati, selain daripada itu, bukan masalah adil atau tidak adilnya tapi pada dasarnya yang harus kita perhatikan adalah bagaimana kita menghadapi ketidak adilan ini. Menggunakan DIA, Yesus Kristus sebagai penyaring/kacamata kita dalam meresponi keadaan ini, menggunakan sudut pandangNYA dalam meresponi keadaan ini akan berdampak jauh lebih baik daripada memakai sudut pandang dunia.

Tahapan/konsep kedua dari pemerosesan ini adalah pembuangan dari hasil pengesekan, ada bagian yang kotor yang terbuang dari hasil pengamplasan. Waktu kita diproses antara sesama kita, apa yang terbuang dari diri kita? Buah Roh atau Manusia lama kita? 2 Korintus 5:17 Ego kita harus berlalu sedangkan manusia baru kita sdh menguasai kita.

1 Korintus 3:12,13,14 Dimana pekerjaan setiap kita akan nampak pada hari Tuhan.

Menjadi anak-anakNYA harus mempunyai konsep pikiran & perilaku yang berkenan kepada DIA.

Pastikan setiap hubungan kita, kita menyunatkan kedagingan kita/hal-hal yang tidak berkenan bagi DIA (manusia lama kita) dan biarkanlah manusia baru kita makin bertumbuh dan menguasai hidup kita.

Mari terus belajar untuk memakai kacamataNYA dalam setiap hubungan yang kita jalani maka pasti manusia lama kita dibuang jauh dari kehidupan kita.

Tahapan/konsep ketiga dari pemerosesan ini adalah hasil yang mengkilap/ cemerlang/ halus/ berkualitas baik setelah kedua tahapan diatas. Wahyu 21:18,21 dikatakan bahwa emas yang paling murni kondisinya akan seperti kaca (cemerlang) menghasilkan refleksi dari yang melihatnya.

Kita diijinkan diproses melalui hubungan sesama ini supaya kita mencerminkan/menyatakan pribadi Tuhan Yesus dalam hidup kita. Kita peka/sensitif akan keinginanNYA dalam kehidupan kita. Menjadi saksi-saksiNYA lewat kesaksian hidup kita dan melalui hubungan antara sesama manusia inilah DIA dinyatakan berkuasa dalam hidup kita.

Pastikanlah diri kita bukan yang menjadi amplas/pengggesek tapi yang menjadi produk yang berkualitas dari hasil pengamplasan/penggesekan/penajaman.

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah:

Jika kita diijinkan untuk diamplas biarkanlah pribadi Yesus Kristus yang keluar/tercermin dalam diri kita. (Konsep pertama).

Ego kita haruslah dibuang, manusia lama kita harus disalibkan dan biarlah manusia baru kita yang menguasai hidup kita. Hati-hati terhadap setiap hubungan yang kita jalani,jangan sampai kita mendukakan Tuhan. Jangan menghakimi,karena secara tidak langsung kita menghakimi DIA. (Konsep kedua).

Akibat dari proses hubungan sesama manusia yang Tuhan ijinkan dalam hidup kita ini membuat kita makin peka/sensitif terhadap Tuhan bukan kepada manusia. (Konsep ketiga).

Pilihan ada ditangan kita! Datanglah kepada DIA dan libatkanlah DIA dalam segala perkara dihidup kita ini supaya kehidupan kita makin berkenan bagi DIA. Kita diciptakan untuk memuliakan DIA, maka biarlah kehendakNYA nyata dalam hidup kita.

Tuhan Yesus memberkati.

http://www.bethanybangkok.com/?p=1156

(sharing firman dirangkum oleh Chrisye

‘Four Blood Moons’

Posted in PROPHETIC END TIMES on 06/15/2015 by Ribka Christ

Sebuah kejadian antariksa langka akan segera terlihat dari bumi, yakni gerhana bulan darah atau Blood Moon. Menariknya, gerhana bulan itu muncul saat hari Paskah, sesuai dengan prediksi Alkitab.Dikutip dari Daily Mail (01/04), di Alkitab versi Raja James (Yoel 2:31), tertulis “Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan yang hebat dan dahsyat itu”. Nah, beranjak dari hal itu lah seorang Pastur dari Amerika, John Hagee, menyatakan bila hal besar akan terjadi pada umat manusia.

Berdasarkan buku berjudul ‘Four Blood Moons’ karya Hagee, gerhana bulan berdarah yang akan terjadi pada hari PaskahBlood-moons nanti adalah tanda kejadian besar terjadi di Timur Tengah yang berhubungan dengan Israel.”Aku percaya kita akan melihat sesuatu yang dramatis terjadi di Timur Tengah yang menyangkut Israel. Dan hal itu akan berdampak besar bagi seluruh dunia,” ujar Pastur Amerika itu.

Entah kebetulan atau tidak, gerhana bulan darah yang akan terjadi di hari Minggu nanti adalah gerhana bulan darah ketiga dalam rentetan empat gerhana bulan darah (tetrad blood moons) dalam kurun waktu tua tahun ini. Oleh sebab itu, banyak pihak yang percaya bila gerhana tersebut sarat akan nuansa religious.Sebelumnya, gerhana bulan darah pertama dan kedua sudah terjadi di tahun 2014. Dan setelah gerhana bulan darah ketiga di malam Paskah nanti, akan ada gerhana bulan darah lagi yang diprediksi terjadi tanggal 28 September 2015.

Blood-Full-Moon---Lunar-Eclipse_smallMenanggapi kemunculan empat gerhana bulan darah dalam dua tahun secara beruntun, Pastur Hagee berpendapat bila ini adalah tanda ‘akhir zaman’.”Alkitab menyatakan ‘bila kita melihat tanda-tanda itu’, dan empat gerhana bulan darah adalah pertanda yang jelas dari akhir era ini,” ujar Hagee.

Di sisi lain, badan antariksa NASA mengatakan bila gerhana bulan darah Paskah adalah sesuatu yang alami dan tidak berbahaya atau berdampak besar bagi manusia.

“Saat gerhana terjadi, bulan sering terlihat berwarna kemerah-merahan karena sinar matahari yang menimpanya melewati atmosfer bumi. Ketika itu, spektrum warna biru di cahaya matahari tersaring, sehingga yang tersisa hanya warna merah saja. Namun, fenomena ini tidak berbahaya bagi manusia,” ungkap NASA.

Menurut Space.com, gerhana bulan darah ini akan terjadi tanggal 4 April mendatang dan bisa dilihat di Amerika Utara, Asia, dan Australia. Di kawasan Asia Tengara sendiri, gerhana bulan darah akan terjadi pada pukul 18.45 WIB selama kurang lebih 12 menit.

Wahyu 6:12 Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah.

Yoel 2:31-32 Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari TUHAN yang hebat dan dahsyat itu.
Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil TUHAN akan termasuk orang-orang yang terlepas.”
Kisah Para Rasul 2:20 Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu

https://en.wikipedia.org/wiki/Blood_Moon_Prophecy

http://www.endtime.com/four-blood-moons/

Kesetiaan

Posted in Jesus and the Bride of Christ on 06/14/2015 by Ribka Christ

beautifulYeremia 2 : 32 “Dapatkah seorang dara melupakan perhiasannyaatau seorang pengantin perempuan melupakan ikat pinggangnya ? Tetapi umat – Ku melupakan Aku, sejak waktu yang tidak terbilang lamanya”.

Salam sejahtera dalam kasih sayang Tuhan kita Yesus Kristus. 
Wahyu 2-3 menunjuk pada 7 kali percikan darah di depan Tabut Perjanjian. Artinya adalah sengsara daging yang harus dialami oleh 7 sidang jemaat bangsa Kafir atau sidang jemaat akhir jaman, supaya sempurna dan tak bercacat cela, untuk layak menyambut kedatangan Tuhan kedua kali. 
Wahyu 2:9-10
2:9 Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu — namun engkau kaya — dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis.

2:10 Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.
Sidang jemaat Smirna mengalami sengsara daging atau pengalaman kematian bersama Yesus.
Sikap dalam menghadapi sengsara daging bersama Yesus:

  1. Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita. Dalam penderitaan, kita harus takut akan Tuhan. 
  2. Hendaklah engkau setia sampai mati, sama dengan setia sampai daging tidak bersuara lagi, sama dengan setia sampai garis akhir. 

Ada 3 macam kesetiaan sampai garis akhir:

  1. Pokok kesetiaan. 2 Korintus 11:2-4
    11:2 Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.
    11:3 Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.
    11:4 Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.
    Pokok kesetiaan adalah kesetiaan yang sejati kepada Kristus, kesetiaan yang sejati kepada firman pengajaran yang benar, sehingga kita bersuasana Firdaus. 

    Firman pengajaran yang benar adalah:

    • Firman pengajaran yang tertulis dalam Alkitab.
    • Firman yang diwahyukan, diilhamkan, dibukakan rahasianya lewat ayat yang satu menerangkan ayat yang lain dalam Alkitab. 

Di Firdaus, Hawa diperdaya, sama dengan dibimbangkan dan disesatkan oleh ular, sehingga kehilangan kesetiaan yang sejati kepada Kristus dan diusir dari Firdaus. Mereka mengalami suasana kutukan di dalam dunia. 
Kejadian 2:16-17
2:16 Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,
2:17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Kejadian 3:1-3
3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”
3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”

Hawa mengurangi kata ‘bebas’ dan menambah kata ‘raba’.
Hawa menambah dan mengurangi firman, sama dengan kehilangan kesetiaan yang sejati kepada Kristus. 
Hawa adalah ibu, gambaran seorang gembala. Hati-hati, banyak gembala yang menambah dan mengurangi firman. 
Wahyu 22:18-19
22:18 Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.
22:19 Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”

Di jaman akhir, tragedi di Firdaus akan terjadi lagi. 

Gereja Tuhan diperdaya, sama dengan dibimbangkan dan disesatkan oleh naga merah padam (bukan lagi ular). Ini menunjuk pada kekuatan penyesatan yang berlipat kali ganda. Hanya oleh kasih karunia Tuhan maka kita bisa bertahan. 

Kata ‘bebas’ menunjuk pada Roh Kudus. Mengurangi kata ‘bebas’ berarti pemberitaan firman Allah tidak bergantung lagi pada Roh Kudus, tetapi bergantung pada kepandaian, dll. Pemberitaan firman tidak lagi bebas melainkan dibatasi oleh waktu, dan isi pemberitaan firman juga dibatasi. Akibatnya sidang jemaat terikat oleh waktu dan dosa-dosa sampai puncaknya dosa. 

Menambah kata ‘raba’ berarti menambah firman Allah dengan suara daging, yaitu lawakan, ilmu pengetahuan, ilustrasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Akibatnya adalah sidang jemaat tidak pernah merasakan jamahan tangan Tuhan di hatinya. 

Akibat menambah dan mengurangi firman adalah gereja akhir jaman juga hidup dalam suasana kutukan, susah payah, kepedihan, sampai kebinasaan selamanya di neraka.  

Wahyu 22:20-21
22:20 Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus!
22:21 Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin.

Hanya hamba Tuhan/ pelayan Tuhan/ anak Tuhan yang mendapat kasih karunia dari Tuhan yang bisa mempertahankan kesetiaan yang sejati kepada Kristus, kesetiaan yang sejati pada satu firman pengajaran yang benar. Sehingga kita mengalami penyucian demi penyucian sampai sempurna dan tak bercacat cela seperti Yesus. 
Yakobus 3:2
3:2 Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.
Ukuran kesempurnaan adalah tidak berdusta sampai tidak salah dalam perkataan. Jika ‘ya’ katakan ‘ya’, jika ‘tidak’ katakan ‘tidak’. Jika benar katakan benar, jika tidak benar katakan tidak benar. 
Wahyu 19:6-7
19:6 Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.
19:7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

Kita tidak lagi salah dalam perkataan dan hanya menyeru “Haleluya” untuk menyambut kedatangan Yesus kedua kali di awan-awan yang permai. 
Jika gereja Tuhan disesatkan oleh naga sehingga tidak taat dengar-dengaran dan berbuat dosa sampai puncaknya dosa, maka mereka akan ketinggalan saat kedatangan Tuhan kedua kali dan akan terdengar suara erangan yang dahsyat di bumi. 

  1. Kesetiaan dalam ibadah pelayanan, termasuk kesetiaan dalam nikah.  Lukas 12:37,41-46 12:37 Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.
    12:41 Kata Petrus: “Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?”
    12:42 Jawab Tuhan: “Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya?
    12:43 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.
    12:44 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.
    12:45 Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk,
    12:46 maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia.

    Kita harus beribadah melayani Tuhan dengan setia dan bijaksana, setia dan benar, sesuai dengan jabatan pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita sampai garis akhir. 

    Jika tidak setia, maka pasti tidak benar, sama dengan menjadi hamba yang malas dan jahat. Akibatnya adalah memukul hamba Tuhan yang lain. Kalau dibiarkan, akan jatuh dalam dosa makan-minun (merokok, mabuk, narkoba) dan dosa kawin-mengawinkan (dosa seks dengan berbagai ragamnya, penyimpangan seks, sampai nikah yang salah). 

    Hanya hamba Tuhan/ pelayan Tuhan/ anak Tuhan yang mendapat kasih karunia dari Tuhan yang bisa tetap bertahan untuk setia dan bijaksana, setia dan benar dalam beribadah melayani Tuhan sampai garis akhir, juga beribadah melayani dalam nikah. 

    Lukas 12:42-44
    12:42 Jawab Tuhan: “Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya?
    12:43 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.
    12:44 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.

    Gembala yang beribadah melayani Tuhan dengan setia dan benar serta setia dan bijaksana akan diangkat oleh Tuhan menjadi pengawas milik Tuhan di rumah Tuhan, yaitu perpuluhan dan persembahan khusus yang benar, penyembahan yang benar, sampai bisa membawa jemaat menjadi mempelai wanita Tuhan. 

    Demikian juga jika kita beribadah melayani Tuhan dengan setia dan benar serta setia dan bijaksana, maka kita akan diangkat menjadi pengawas milik Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu perpuluhan dan persembahan khusus, penyembahan yang benar, sampai kita menjadi mempelai wanita Tuhan.

    Yesaya 11:5
    11:5 Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.

    Lukas 17:7-8

    17:7 “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
    17:8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.

    Jika kita beribadah melayani Tuhan dengan setia dan benar, sama dengan kita menjadi pelayan Tuhan dan hamba Tuhan yang selalu memakai ikat pinggang. Artinya kita selalu siap sedia untuk melayani Tuhan bagaikan memberi makan minum Tuhan, sama dengan pelayanan yang memuaskan Tuhan. Hasilnya:

    1. Tuhan juga akan memelihara kehidupan kita secara jasmani dan rohani. Urusan makan dan minum adalah urusan Tuhan. Kita juga mengalami kebahagiaan dan kepuasan Surga yang tidak bisa dipengaruhi oleh apa pun di dunia, sehingga kita tidak mencari kepuasan lain di dunia. 
    2. Ikat pinggang juga untuk merapikan, artinya Tuhan sanggup untuk merapikan hidup kita dan menjadikan semua indah pada waktuNya. 
    3. Tuhan sanggup memakai kehidupan kita dalam kegerakan Roh Kudus hujan akhir, asalkan kita setia dan benar.  Wahyu 19:11
      19:11 Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil.
    4. Ikat pinggang adalah perhiasan mempelai, sampai kita menjadi mempelai wanita Tuhan.  Yeremia 2:32
      2:32 Dapatkah seorang dara melupakan perhiasannya, atau seorang pengantin perempuan melupakan ikat pinggangnya? Tetapi umat-Ku melupakan Aku, sejak waktu yang tidak terbilang lamanya.
  2. Kesetiaan dalam penderitaan bersama Yesus sampai garis akhir, yaitu sampai meninggal dunia atau sampai Tuhan datang kedua kali.  Yakobus 1:12 1:12 Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.

    Hanya hamba Tuhan/ pelayan Tuhan/ anak Tuhan yang mendapat kasih karunia dari Tuhan yang bisa bertahan dalam penderitaan bersama Yesus sampai garis akhir. 

    Mengapa kita diijinkan mengalami penderitaan bersama Yesus?

    Sebab di balik salib ada kemuliaan Tuhan.

    2 Korintus 4:16
    4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

    Yaitu kita mengalami pembaharuan dan keubahan hidup dari manusia daging menjadi manusia rohani seperti Yesus, mulai dengan kuat dan teguh hati, artinya:

    • Tidak kecewa, tidak putus asa, tidak tinggalkan Tuhan menghadapi apa pun juga, tetapi tetap percaya dan berharap Tuhan.
    • Tidak mau diombang-ambing oleh ajaran palsu, tetapi tetap berpegang teguh dan taat dengar-dengaran pada firman pengajaran yang benar. 

Kuat dan teguh hati sama dengan mengasihi Tuhan lebih dari semua, mengulurkan tangan kepada Tuhan, berserah kepada Tuhan. Maka Tuhan akan mengulurkan tangan kasihNya kepada kita untuk memberikan mahkota mempelai. 

Matius 14:28-32
14:28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”
14:29 Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.
14:30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!”
14:31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”
14:32 Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah.

Petrus setia dalam ibadah pelayanan, setia dalam menghadapi penderitaan di lautan dunia. Tetapi sayang, saat menghadapi angin ajaran palsu, Petrus menjadi bimbang dan mulai tenggelam. Tenggelam berarti kehilangan semua kesetiaan yang selama ini dilakukan, sampai kehilangan keselamatan. 

Untunglah Petrus masih mendapatkan kesempatan untuk mengulurkan tangan kepada Yesus dan menyerah sepenuh kepada Dia. Kita mengaku tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Tuhan. Kita menyeru nama Tuhan. Maka Tuhan akan mengangkat dan memulihkan kehidupan kita. Sampai saat kedatangan Tuhan kedua kali, kita terangkat ke awan-awan yang permai untuk bertemu Dia selamanya dan masuk Yerusalem Baru.

Tuhan memberkati.

http://www.gptkk.org/transkrip_ibadah+pendalaman+alkitab+malang,+15+januari+2015+(kamis+sore).html

S.P.I.R.I.T Ministries

Inspired by: GOD

valeriu dg barbu

© valeriu barbu

Blog Penting Dede Wijaya

Takut akan YHWH adalah permulaan pengetahuan...

dasimmons31

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

PiCTURiFiC

www.andersonkalang.com

Pastor Arjun

Jesus is the Christ

Rick McCargar's Guitar Licks, Songs and Music Industry News

Legendary Guitar Licks, Original Songs and Music Industry News

Kristiani Australiana

"Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya." (Yohanes 1:5)

Pastor John

Arise & shine

The Gourmand Mom

Good food, seasoned with a dash of life

prophetbrahmarishi

Just another WordPress.com site

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 81 other followers

%d bloggers like this: